
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Sabtu yang di nanti pun tiba, pasangan kekasih itu pun baru saja keluar dari salah satu Dealer sepeda motor yang cukup ternama. Qia yang tak tahu apa-apa merasa terbantu dengan adanya Fathan. Pria yang selama ia di ibukota selalu membantu dalam segala hal.
"Kita makan siang dulu ya, kamu mau makan apa?" tanya Fathan saat memakaikan helm di kepala gadis kesayangannya.
"Bakmi aja, tapi yang ada pangsit basahnya ya," jawab Qia yang justru seakan makanan itu kini ada dihadapannya.
"Siap, Sayang."
Qia tersenyum simpul, ia yang baru pertama kali pacaran dan jatuh cinta di perlakukan begitu saja tentu sudah berbunga-bunga hatinya, tanpa ia tahu jika jodoh yang sebenarnya nanti akan jauh lebih membuatnya lemas di setiap detik dengan jutaan kata cinta yang terlontar.
Tangan yang meringkar di perut Fathan pun di pegang olehnya sambil sesekali di usap lembut saat berhenti di lampu merah atau saat Fathan menurun laju kecepatannya. Ia yang hanya memiliki sepeda motor matic biasa tentu hanya bisa membawa Sang kekasih kepanasan di bawah terik matahari.
Semoga apa yang selalu ku panjat kan segera bisa terlaksana, bathin Fathan sambil tersenyum kecil di balik kaca helm yang ia gunakan.
Tak pernah ia sangka dalam hidupnya akan memiliki pacar secantik dan sepolos Qia, begitu banyak teman temannya yang salut pada pemuda itu karna bisa menjadi cinta dan belahan hati Qia yang pertama, meski tak di takdirkan untuk yang terakhir.
.
.
.
Sehari berlalu, Skala yang menatap langit-langit kamarnya mencoba terus mengingat kejadian kemarin sore di kantornya saat melihat seorang pria hitam manis memeluk gadis cantik yang memiliki kulit seputih susu.
"Gue yakin itu dia!" gumam Skala yang kini matanya sudah terpejam.
Meski sudah beberapa tahun berlalu, Skala tak akan pernah lupa dengan wajah menarik Gadis SMA yang sedang menangis itu.
"Deketin jangan ya? agresif amat gue?"
Skala malah tertawa, sedang jatuh cinta sejatuh-jatuhnya saja ia masih memikirkan gengsi dan harga diri. Belum saja ia tahu, jika gadis yang di adu kannya pada Tuhan di saat hampir semua penghuni Bumi sedang tertidur itu kini sudah dimiliki oleh pria lain.
Hingga esoknya ketika sudah di kantor, ia meminta data seluruh Office Girl yang bekerja di kantornya.
"Lumayan lama juga," gumam Skala sambil memegang satu lembar kertas berisi data diri Si gadis bawah pohon.
"Yakin itu orangnya?" tanya Chiko yang juga penasaran.
"Hem, gue gak lupa kok sama wajahnya,", sahut Skala yakin, foto kecil yang kini ada di tangannya terus ia pegang sambil tersenyum.
Tak ada yang pernah bisa membahagiakannya kecuali hari ini, rasanya tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Kini, Skala tahu siapa nama dan tempat tinggalnya. Jadi saat malam nanti ia bercerita, tentu Skala akan menanggilnya dengan sangat jelas.
"Terus lo mau gimana sekarang?" tanya Chiko, semenjak bosnya itu datang, tak ada satupun pekerjaan yang di sentuh Skala. Semua masih menumpuk diatas meja kerjanya. Bahkan, Direktur Utama itu seakan tak memberikan tanda akan beranjak dari kursinya padahal 20 menit lagi mereka harus menghadiri rapat.
.
.
.
Dia harus tanggung jawab, karna udah PERAWANIN dada gue!!