
Bian berlari masuk ke dalam sebuah taman kota yang dimana sebelumnya dia mendapat pesan aplikasi jika Linda dan Kiana berada di sana. Tak memperdulikan tatapan orang lain yang tengah memperhatikannya, Bian berlari secepat mungkin seolah seperti sedang berkejar dengan waktu.
Dalam benaknya hanya ada bayangan Kiana. Kekhawatiran tampak jelas dari diri Bian. Ia takut jika sampai terjadi sesuatu dengan gadisnya. Bahkan yang lebih menakutkan lagi jika Linda akan menyakiti Kiana dengan cara apapun yang wanita itu lakukan.
Bian tahu betul watak Linda yang keras kepala dan teguh dengan pendiriannya. Wanita itu akan menghalalkan segala cara untuk mewujudkan keinginannya, meski harus bertindak diluar nalar oleh kedua tangannya sendiri. Bian takut jika itu terjadi pada Kiana. Bian takut jika mantan kekasihnya itu akan menyakiti Kiana dan bayi yang ada di kandungannya.
Bian terus berlari dengan langkah lebar-lebar untuk masuk lebih dalam lagi mencari keberadaan mereka. Sempat terhenti beberapa kali, Bian mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru tempat untuk memastikan dimana keberadaan Kiana bersama wanita itu. Napasnya nampak naik turun, dengan buliran anak keringat yang mulai membasahi dahinya.
"Kiana?" ucap Bian.
Netra matanya memicing saat menangkap sosok samar tak dapat dia kenali meski masih jauh mata memandang. Perlahan Bian mendekat untuk memastikan jika memang penglihatannya itu tak salah.
Masih dengan napas yang tersengal karena habis berlari, Bian mengerutkan dahinya kala ia berhasil mendekat pada sosok yang tengah tersenyum padanya dengan mata yang berbinar.
"Kamu?" panggil Bian saat mendapati hanya Linda yang berada di sana. Kemana Kiana? Mengapa gadisnya itu tak ada di sana?
"Bi, akhirnya kamu datang juga, sayang." balas Linda masih dengan senyum yang merekah karena kehadiran Bian.
Manik mata Bian bergerak kesana-kemari mencari satu sosok yang sejak tadi dia khawatirkan. Kiana, gadis itu tak ada di sana. Terus berusaha mengedarkan pandangan matanya untuk mencari sosok Kiana di tengah pencahayaan yang sedikit remang. Kenapa tak ada Kiana di sana?
"Aku senang sekali kamu datang malam ini, Bi. Ternyata kamu masih peduli denganku. Aku tahu, kamu masih sangat mencintaiku, dan kamu nggak bisa berpaling dariku, honey..." tutur Linda seraya mendekat pada Bian dan memeluk kekasih hatinya yang selalu dia dambakan setiap saat.
"Dimana Kiana?" tanya Bian sembari berusaha melepaskan tangan Linda di tubuhnya.
"Sssttt... Tenang dulu," balas Linda menyimpan telunjuk jarinya di bibir Bian. "Aku nggak sabar menunggu hari dimana cinta kita akan terikat abadi. Aku bahagia bisa menikah denganmu, Bi."
Bian mencoba melepaskan pelukan Linda yang mengerat di tubuhnya. Sebisa mungkin menjauhkan diri dari wanita itu. Tetapi belitan tangan Linda begitu kuat hingga Bian melepaskannya dengan paksa dan sedikit kasar.
"Menikah?" dahi Bian mengkerut dalam.
Linda mengangguk antusias, "Ya, kita akan menikah dengan pesta besar seperti yang kita mimpikan bersama." ungkapnya dengan pancaran mata yang terus berbinar.
"Lepas!" bentak Bian menggeram, dengan menghempaskan tangan Linda hingga wanita itu sedikit terhuyung. "Hanya dalam mimpimu! Bahkan akan aku pastikan dalam mimpi pun kamu nggak bakalan bisa membayangkannya!" sentaknya.
"Aww!" Linda memekik kesakitan, "Bi, kamu nyakitin aku!" tukasnya dengan wajah sedih yang sengaja dibuat-buat.
Bian tak peduli dengan rengekan manja Linda yang merasakan kesakitan, bahkan kini Bian muak dengan semua tingkah wanita itu.
"Dimana Kiana?" tanya Bian akhirnya.
Linda tertawa sumbang, seraya kembali mendekat pada Bian.
"Bian sayang, untuk apa kamu menanyakan wanita sialan itu? Ada aku disini yang siap menemanimu sepanjang malam," ucap Linda
"Diam! Jangan pernah memanggil Kiana seperti itu dengan mulutmu yang kotor!" deramnya tak terima jika ada yang merendahkan Kiana.
Linda kembali tertawa, "Oh ayolah sayang, bukankah kamu yang muak dengan pembantumu itu? Dia beban untukmu, dan dia memanfaatkan keadaan untuk menjerat kamu, Bi."
"Tutup mulutmu!" bentak Bian menggeram sembari menunjuk wajah Linda dengan telunjuk tangannya, "Kiana tidak seperti itu. Dia wanita baik-baik. Jauh lebih baik dari wanita manapun, bahkan jauh lebih dari pada kamu, Linda!" geramnya.
"Benarkah? Bukankah dia sudah menjebakmu sampai merelakan tubuhnya untuk kamu nikmati?" ucap Linda dengan satu alisnya yang terangkat ke atas.
"Dan itu semua itu gara-gara kamu, Linda. Kiana harus menanggung semua beban yang tidak seharusnya aku lakukan, dan itu semua karena kamu!" bentak Bian yang mulai hilang kesabaran. "Tapi aku cukup berterima kasih padamu, dengan adanya peristiwa itu aku bisa mengenal sosok wanita baik seperti Kiana. Dan satu hal yang patut aku syukuri, kamu tahu?" Bian menjeda kalimatnya, "Aku dapat membongkar kebusukanmu selama ini." bisiknya datar, langsung menghujam perasaan Linda.
Linda mengatupkan bibir, rahang wajahnya mengeras, menahan amarah hingga terlihat memerah di wajahnya.
"Jadi kamu bela pembantu itu, Bi? Demi apa kamu membela ****** seperti dia!" pekik Linda tak terima jika Bian lebih memilih Kiana dibanding dirinya.
"Cukup! Aku bilang cukup! Jangan pernah sebut Kiana dengan panggilan hina itu lagi! Apa kamu sadar, siapa yang lebih cocok untuk menyandang sebutan itu? Kamu Linda, kamu!" sergahnya menunjuk-nunjuk wajah Linda.
Linda terisak-isak menangis mendapat perlakuan jahat dari pria yang dia cintai. Begitu tega Bian mengatakan itu semua demi membela seorang pembantu yang dia benci keberadaanya.
"Kamu berubah Bi, kamu lebih membela pembantu sialan itu!" ucapnya dengan deraian air mata. "Kamu udah melupakan kenangan kita, melupakan kisah cinta yang kita bangun selama ini. Kamu berjanji akan memperjuangkan hubungan kita. Tapi apa? Apa yang aku dapat saat ini? Kamu tega berbuat seperti ini sama aku, Bian. Kamu tega!"
Linda mendongak dengan mata sembab, penuh pengharapan. "Bi, kamu cinta aku? A-aku bisa berubah, a-aku akan tinggalkan semuanya untuk bisa bersama kamu. Kamu mau memberi aku kesempatan demi kita bisa bersama lagi, Bi?"
Bian membuang muka, seraya mengesah pelan sebelum ia kembali bersuara, "Aku nggak bisa, semua sudah terlanjur hancur. Kamu sudah menodai kepercayaan aku, Linda. Lebih baik kamu kembali pada pria itu, pria yang sangat membutuhkanmu di ranjangnya seperti selama ini kamu lakukan untuk mendapatkan kehidupan mewahmu."
"Bi..." Linda menggelengkan kepalanya, "Aku cuma mau kamu Bian, aku mau kamu..." isaknya lagi memohon pada Bian.
"Linda," Bian mengatur napas untuk menenangkan dirinya sebelum ia bisa hilang kendali dan meluapkan semua amarah yang dia pendam pada seorang wanita, meski Linda memang patut mendapatkan semua itu, tapi tidak dengan cara kekerasan. Dan bukan dengan tangannya sendiri.
"Cukup membuat masalah yang akan membuat semua ini menjadi rumit. Atau... kamu tahu apa yang aku lakukan jika kamu masih nekad dan berani berbuat lebih jauh lagi," tenangnya tanpa emosi.
"Aku tahu semua apa yang sudah kamu lakukan bersama pria simpananmu itu, dan aku cukup punya banyak bukti untuk bisa menghancurkan nama dan karirmu saat ini juga jika kamu terus mengganggu keluargaku, mengerti?" lanjutnya lagi dengan nada lembut.
"Nggak Bian... aku nggak mau..." lirih Linda berusaha meraih tangan Bian namun secepat mungkin Bian menepisnya.
"Sekarang jawab aku, dimana Kiana?" ucapnya dingin tak ada lagi raut keramahan.
Linda kembali murka, matanya melotot ketika Bian menyebut kembali nama Kiana di hadapannya. Sumpah demi apapun, Linda begitu benci pada wanita bernama Kiana. Karena Kiana yang sudah membuat semua usahanya untuk mendapatkan Bian hancur berantakan.
"P**s*t*n dengan ****** itu! Aku tidak peduli dimana dia berada!" Linda tertawa puas layaknya seperti orang kehilangan akal saat mengatakannya. "Oh, mungkin saja wanita barumu itu sedang menjajakan tubuhnya untuk laki-laki lain di pinggir jalan!" tawa Linda menguar saat merendahkan Kiana dengan mulut busuknya.
"****! S*t*n!" Bian sungguh murka mendengar kalimat Linda yang membuat kepalanya mendidih, ingin rasanya ia menghabisi wanita gila itu.
Bian berteriak seraya mengacak rambutnya sendiri. Ia tidak dapat meluapkan kekesalannya selain pada dirinya sendiri.
Bian mengepalkan kedua tangannya menahan amarah. Ia hanya mampu meninju udara kosong dengan salah satu tangannya. Dia menggeram untuk meluapkan segala amarah yang ada dalam dirinya. Tak lagi memperdulikan Linda, dengan cepat Bian berlari meninggalkan tempat itu.
Melihat Bian pergi meninggalkannya, Linda berteriak histeris memanggil-manggil nama pria yang dia cintai itu.
"Bian! Bian!" teriak Linda memanggil Bian yang sudah tak terlihat lagi raganya di sana. "Sial!" umpatnya menyesali. Menyesal karena sudah membuat Bian murka karena olehnya.
"Bian! Aaarrrggghhhh...!!!" teriaknya lagi penuh dengan emosional. Tak ayal Linda memukuli dirinya sendiri untuk meluapkan penyesalannya.
Linda tampak terlihat kacau sekali. Ia mengusap lelehan air mata yang membasahi pipinya. Ia menangis menyesali segalanya. Kenapa cinta harus datang terlambat ketika semuanya hancur begitu saja.
Bian. Pria yang dia cintai pergi meninggalkannya. Mengubur segala asa untuk tetap bersama dengan seorang pria yang baru ia sadari tersimpan dalam hatinya.
Linda berusaha menenangkan diri, sejurus kemudian ia kembali menyeka jejak-jejak sisa air matanya.
"Hallo, Mas. Aku mau kamu lakukan semuanya sekarang juga!" titahnya pada seseorang dalam sambungan telepon tersebut dengan suara seraknya.
Terdengar suara tawa di sana. Seolah orang tersebut puas ketika Linda mengambil keputusannya.
"Apa sayangku tidak akan menyesal, hem?" ucap pria tersebut menyunggingkan senyumnya di sana.
Linda tampak ragu untuk menjawab. Ia terlihat menggigiti kuku-kuku jarinya.
"I-iya, lakukan sekarang juga," ucapnya tak yakin.
"As you wish, honey. Apapun akan aku lakukan, Linda." kembali suara tawa terdengar di sana. "Dan malam ini kamu milikku,"
"Ya, apapun itu." ucap Linda menelan salivanya, "Tapi tunggu! Jangan sakiti Bian. Aku mohon, biarkan dia." pintanya memelas.
"Kita tidak pernah tahu bukan? Jika kamu bisa menjaga laki-laki lemah itu, maka semuanya akan berjalan sesuai dengan keinginanmu, sayang." sebelum pada akhirnya sambungan telepon mereka benar-benar terputus.
"Berengsek!" umpatnya kesal.
Linda menghela napas setelah ia kembali menyadari untuk segera mengikuti kemana Bian pergi. Memastikan jika pria yang dia cintai itu akan baik-baik saja.
***