Secret Love

Secret Love
Siapa dia?



πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Akhirnya Skala jadi Sarjana juga ya, Yah," ucap Ibu dengan sangat bangganya saat memegang foto putra semata wayangnya itu.


"Memang ada yang berani tidak meluluskan anakmu itu?" kekeh Ayah yang tahu siapa keluarga istrinya tersebut.


"Aku terima kok kalo gak di lulusin, memang anakku nakal bikin aku stress dari kecil," keluhnya pada Sang suami.


"Masih wajar, Bu. Kamunya saja yang terlalu menuntut Skala sempurna. Ingat, jaman mereka tak sama dengan kita. Dunia semakin canggih dan otak Mak othor makin gesrek untuk menulis idenya," jawab Ayah sambil meraih bahu istri keduanya itu.


"Hem, minggu depan ia resmi menjadi Direktur Utama di kantor, maafkan aku, Yah."


Ayah mencium kening Ibu dari anak semata wayangnya itu dengan dalam dan lama.


"Tak apa, aku sangat mengerti," balas Ayah.


Ibu memang merasa sangat tak enak hati saat meminta putra mereka yang meneruskan perusahaan Rahardian Group di banding Resto milik suaminya. Andai dari pernikahannya bersama Si istri pertama juga melahirkan seorang keturunan mungkin tak begini jadinya. Skala tak akan menjadi seorang pewaris utama diantara kedua orangtuanya yang kaya raya.


.


.


.


"Laper gue, Chik," bisik Skala pada sahabatnya, Chiko. Chiko lah yang nanti akan menjadi asisten pribadinya saat resmi menyandang status Direktur Utama Rahardian Group.


"Sama, nih meeting apa nge dongeng sih, lama amat!" sahutnya yang sama berbisik juga. keduanya bersahabat sejak lama jadi tak salah jika mereka memiliki sifat yang tak jauh berbeda, termasuk tentang kemesuman saat memiliki pawang yang cocok.


"Padahal, gue gak kerja juga duit gak abis-abis. Males banget gue begini," ocehnya lagi mulai bosan.


"SOMBONG dipiara!" cetus Chiko sambil mencibir kearah calon bos besarnya tersebut.


Skala hanya terkekeh meski sebenarnya apa yang ia katakannya itu memang benar. Harta yang melimpah bukan hanya dari orangtuanya saja tapi dari Abi Bumi dan Appa Gajah kesayangannya. Skala sudah diberikan beberapa Saham, properti, hingga tabungan yang fantastis dari dua pria tersebut sejak ia masih di dalam rahim Sang Ibu.


Sudah tiga hari ini Skala memang mulai beradaptasi dengan lingkungan kantor, mengerjakan apa yang bisa ia kerjakan sebelum akhirnya resmi duduk di kursi kebesarannya kelak. Semua harus siap sebelum acara itu tiba.


Sampai meeting selesai, Semuanya pun bubar ke ruangan masing-masing begitu juga dengan Skala dan Chiko. Dua pria tampan yang bagaikan tutup dan panci tersebut.


"Pesen makan, Chik. Perut gue laper mulu denger yang ngomong barusan," titahnya pada Chiko yang selalu menuruti apa mau Si Tuan Muda.


Tak perlu bertanya apa maunya Skala, ia sudah paham apa yang di sukai oleh pria tersebut. Skala hanya tinggal menunggu makanan memenuhi perutnya yang kosong saat ini.


Dan hanya dalam hitungan menit, ruangannya di ketuk oleh seseorang yang mungkin seorang Office boy yang mengantarkan makanan.


"Terimakasih," ucap Chiko di ambang pintu ruangan DiRut.


"Wih, mantep."


Keduanya segera menikmati aneka macam makanan yang tersaji di atas meja sambil diselingi obrolan ringan tentang apa saja hingga semua tandas tak bersisa.


"Pulang yuk," ajak Skala kemudian.


"Sopan amat lo, abis makan pulang!" sindir Chiko sambil mencibir kearah Skala yang tertawa.


"Gue ngantuk."


Setelah Chiko membereskan sisa makanan, ia langsung berjalan satu langkah di belakang Skala menuju lobby kantor.


"Selamat sore, Tuan," sapa seorang pria berseragam keamanan saat Skala lewat didepannya.


"Sore."


Skala dan Chiko masuk kedalam mobil menuju kediaman Rahardian dengan Chiko lah yang mengendari kereta besi mewah milik Skala.


.


.


.


"Tadi siapa, Chik? item amat!"



Iya tauuuuuu.... cicitnya Gajah emang paling ganteng🀧


Item begitu juga cinta pertama bini lo Mpeeeeeet 🀣🀣