Secret Love

Secret Love
Kekhawatiran Seorang Ibu



Dimas tertawa puas kala berhasil menggoda Puri-sekretaris Bian yang saat ini malah mengerucutkan bibirnya di saat mendapati pria itu masih menertawakannya.


"Nggak lucu ya!" ucap kesal Puri pada Dimas.


"Lo ada aja-aja sih,"


"Lo yang mengada-ngada, Dimas!" elak Puri tak terima.


"Hei, Nona manis tapi tak semanis madu apalagi gula, jauh banget soalnya sih Lo! Haha... Denger ya, mau secantik apapun Lo berdandan biar terlihat mempesona di depan mata para laki-laki, semuanya bakalan sia-sia. Mana ada laki yang mau sama cewek ketus kayak Lo. Gue aja sebagai laki-laki sih ogah buat ngelirik Lo sekalipun. Para laki-laki buaya buntung juga ogah kali. Apalagi apa yang Lo bilang tadi? Pak Bian? Haha... udah jelas-jelas dia nggak tertarik sama Lo, Puri. Mau gue ingetin bagaimana dia nolak Lo mentah-mentah sampai-sampai Lo nangis 7 hari 7 malam?" selorohnya lagi tak berperasaan. Pria itu masih terpingkal-pingkal menahan tawa sembari memegangi perutnya yang terasa geli.


"Sialan Lo, Dim! Namanya juga usaha. Ya siapa tahu dengan usaha maksimal gue cepat atau lambat Pak Bian bisa luluh sama gue. Jodoh nggak ada yang tahu ya. Bisa aja Pak Bian itu jodoh gue yang selama ini gue harapkan."


"Cuma dalam mimpi, Lo Puri... Lo bukan tipe cewek idamannya. Banyak cewek yang jauh lebih cantik dibanding Lo di luaran sana yang Pak Bian tolak. Apalagi wujud kayak Lo ini, "


"Ih... ngeselin Lo Dimas!"


"Why? is that true honey..." ucap Dimas dengan muka menyebalkannya.


"Awas aja kalau benar kejadian, Lo orang pertama yang bakalan gue tendang dari perusahaan ini kalau gue berhasil jadi istrinya!"


"Tidak semudah itu, Ferguso... Mata Pak Bian masih normal dan nggak katarak buat liat Lo! Lihat, Lo udah kayak ondel-ondel beranak satu! Haha..."


"Ih... awas ya Lo!" Puri memukuli lengan Dimas tanpa ada rasa puasnya untuk menyalurkan kekesalannya pada pria itu. "Lo nyebelin, Dimas! Awas ya gue bakalan jadiin Lo perkedel kentang kali ini!"


"Oke-oke, sorry, gue nyerah! Sadis banget sih Lo udah kayak mak lampir aja. Kuat banget tenaga Lo yang udah kayak tenaga kuli proyek."


"Nyebelin!" Puri kembali memukuli lengan Dimas lebih keras lagi. Enak saja wanita secantik dirinya dibandingkan dengan seorang tukang kuli bangunan. Dimas memang nyebelin. Bercandanya suka kebangetan walau ada benarnya juga sih. Selama ini setiap mereka bercanda tak pernah Puri merasa sakit hati lagi karena dia sudah tahu bagaimana sifat usil Dimas pada setiap karyawan. Ralat. Cuma sama dia aja sih. Mana ada dia bisa seusil itu kalau bukan sama dirinya. Puri mencebikkan bibirnya, yang tak lama kemudian mereka saling tertawa hingga karyawan lainnya pun ikut menoleh pada mereka.


"Pak Bos?" ucap Dimas terkejut melihat kedatangan sang pemilik perusahaan yang mendadak berkunjung bersama istrinya di sela jam kerja kantor tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Siku tangannya reflek ikut menyikut-nyikut lengan Puri yang berada di sampingnya.


"Apaan sih, Dim? Gaje tahu nggak!" sahut Puri mengerucutkan bibirnya pada rekan kerjanya itu yang tiba-tiba bersikap aneh.


"Pak, Bu, selamat pagi." sapa Dimas ramah dengan senyuman full pada sepasang suami istri senja tersebut.


"Aneh tau gak Lo!"


"Ssst..." Dimas mendelik. Ekor matanya menuntun Puri untuk memberi tahu gadis itu pada keberadaan Bos besar mereka. "Pak Bos," ucap Dimas hanya dengan gerakan bibirnya tanpa mengeluarkan suara.


"Apa? Pak Bian? Ck," Puri berdecak bingung. "Pak Bian kan gak ada, Dimas... Lo aneh tahu gak!"


Dimas menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ada Pak Bos," peringatnya lagi pada Puri yang memang posisinya tengah membelakangi arah dari kedatangan Pak Hardi dan Bu Ajeng.


Puri yang mendengar dehaman suara Pak Hardi seketika menoleh membalikkan badannya dengan raut wajah terkejut, tersenyum kikuk seraya melangkah mundur.


"P-Pak, Bu, selamat pagi." sapanya setengah malu. "Aduh... ternyata ada calon mertua berkunjung lagi. Awas ya Lo Dim telat ngasih tahu gue!" gerutunya dalam hati.


"Pagi," balas sapa Pak Hardi dan Bu Ajeng. "Saya dengar Bian gak ada, itu benar Dimas?"


"Eh, anu Pak. I-iya, Pak Bian sedang tidak ada di kantor." jawab Dimas kelabakan bingung harus menjawab apa.


"Bian keluar kantor? Sejak kapan?" kini giliran Bu Ajeng yang ikut bersuara menanyakan keberadaan anaknya yang selama beberapa hari ini tidak ada pulang ke rumah.


"Ada urusan mendadak bertemu dengan klien, Bu."


"Sendiri? Tumben kamu tidak ikut serta?"


"I-iya, Pak Bian menyuruh saya untuk tinggal. Maka dari itu beliau pergi menemui klien sendiri."


"Sampai kapan?" tanya lagi Bu Ajeng yang membuat Dimas semakin susah untuk sekedar menjawab pertanyaan mudah dari Bu Ajeng tersebut.


"S-saya kurang tahu," balasnya seraya menundukkan kepalanya.


"Ini baru namanya aneh," Bu Ajeng menghela napasnya dalam-dalam.


"Aneh apanya, Ma?" tanya balik Pak Hardi pada istrinya.


"Ya aneh. Bisa-bisanya Dimas sampai nggak tahu jadwal dinas pimpinannya sendiri. Bukannya kamu asisten pribadi yang bertugas merangkap untuk mengurus segala sesuatu tentang Bian?"


"Ma," sela Pak Hardi.


"Lho, apa yang Mama katakan benar bukan? Mama semakin yakin ada yang gak beres dengan Bian. Apalagi sudah dua hari ini Bian nggak pulang ke rumah. Apa-apaan ini?! Apa Bian sesibuk itu hingga semua pekerjaan harus dia yang mengerjakan? Lalu apa gunanya semua karyawan yang bekerja di sini kalau Bian yang bekerja keras banting tulang sendirian!"


Dimas dan Puri hanya terdiam mendengar kalimat monohok dari Bu Ajeng. Sampai sebagian karyawan yang berada di lantai yang sama dengan mereka pun ikut menoleh mencuri dengar apa yang sedang terjadi.


"Ma tenang, jaga emosi Mama. Ingat dengan darah tinggimu itu. Jangan membuat ribut di sini." bisik Pak Hardi pada telinga istrinya.


"Mana ada Mama cari ribut! Mama cuma cari Bian anak Mama."


"Iya, tapi tenang dulu. Kita dengar penjelasan Dimas kemana sebenarnya Bian."


"Tapi Mama khawatir dengan keadaannya, Pa! Bian baru aja sembuh. Mama takut terjadi sesuatu dengan Bian. Mama nggak rela kalau Bian kayak dulu lagi."


"B-baik, Pak." pria tinggi itu mengekor pasrah di belakang sepasang suami istri yang melangkahkan kaki mereka menuju rungan Bian berada. Dimas melirik pada


***


Setelah selesai berjibaku dengan pekerjaannya yang menguras tenaga, Kiana kembali menghampiri kedua pria yang berada di ruang tengah dengan membawa setumpuk pakaian bersih yang baru saja dia cuci dalam sebuah keranjang besar. Terpaksa dia tinggalkan Al yang masih bersama dengan Bian yang tak sedikit pun pria itu beranjak dari tempatnya untuk menemani putranya.


Ada rasa kesal bercampur dengan marah Kiana rasakan. Bagaimana tidak, pria keras kepala itu sama sekali tak mengindahkan kalimatnya. Berulang kali dia meminta pria itu untuk pergi, namun Bian seolah menulikan telinganya. Dia tetap bertahan di sisi Al hingga tak melepaskan sekalipun genggaman tangannya pada bayi mungilnya.


Kiana merasa jengah. Bahkan saat ini ia merasa terasingkan oleh tingkah yang di lakukan oleh Bian pada putranya sendiri. Pria itu terus membersamai dirinya bersama Al yang terakhir ia perhatikan pria itu tengah tertidur berdampingan memeluk erat raga kecil itu. Ada rasa haru saat melihat pemandangan tersebut. Hingga tak terasa lelehan air bening kembali menetes di pipinya.


Tak apalah, memang itu yang di butuhkan oleh bayinya selama ini. Bisa merasakan kehangatan dari kasih sayang seorang ayah itu adalah harapannya. Dia tak boleh egois memikirkan perasanya saja. Dia pun harus memikirkan kebutuhan bayinya. Demi putranya, biarlah saat ini dia yang mengalah. Kiana mencoba melapangkan hatinya meski merasa berat tapi ia akan tetap mencoba. Bukan berarti dia berdamai dengan pria itu. Terlalu banyak kesakitan yang diberikan oleh pria itu padanya. Saat ini dia harus menerima kenyataan jika seorang anak tak dapat di pisahkan dari sosok ayahnya. Dia sadar keegoisannya dapat membawa kesedihan bagi putra tercintanya. Semua itu ia tanamkan karena untuk Albio-putranya.


Mata indahnya seketika membulat, betapa terkejutnya saat ia tak mendapati kedua pria berbeda generasi itu tak ada di tempatnya.


"Al!" teriak Kiana memanggil nama bayinya yang hilang bersama dengan Bian. "Al dimana kamu, Nak?" cemasnya saat masih tak mendapati bayinya di sana.


"Ya Tuhan... Dimana kamu sayang, jangan pergi tinggalkan ibu, Nak. Ibu nggak sanggup hidup tanpa kamu, Al..." Kiana meracau sembari memegangi erat selimut bayi milik putranya itu.


"Ibu sayang sama kamu, Al... jangan tinggalin ibu sendirian hidup di dunia ini. Ibu janji, ibu akan menyayangi Al sepenuh hati ibu. Ibu akan melakukan apapun demi kamu, Nak. Ibu mohon jangan tinggalin ibu..." Kiana mengacak benda yang ada di dekatnya bukti ia meluapkan emosinya.


"Bian...!" teriak Kiana kembali meluapkan emosinya.


"Kamu jahat Bian, kamu jahat! Kamu pria jahat yang tidak berperasaan. Kamu tega membawa pergi bayiku! Jahat kamu!" isak tangis lirih Kiana tumpah saat itu juga.


"Aku nggak akan rela kamu membawa pergi Al dari hidupku! Pria pecundang! Brengsek!" rapalnya mengumpati pria yang semakin ia benci itu.


"Jahat kamu Bian..." Kiana menangis sesenggukan sembari meratapi selimut si kecil yang tertinggal satu-satunya. "Tega kamu membawa Al dari hidupku... Kenapa kamu lakukan semua ini padaku..."


"Al... Ibu mohon kembali Nak..." Kiana terus sesenggukan menangisi kepergiaan putra tercintanya. Dadanya serasa sesak dan sakit mendapati kenyataan lentera kecil hidupnya pergi meninggalkannya seorang diri.


Kiana terus terisak dalam kesedihannya saat hatinya semakin hancur pada kenyataan pahit yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.


Hingga kedua matanya yang berembun menangkap sesuatu yang membuat tangisnya seketika terhenti. Sebuah dompet milik pria itu tergeletak di sana. Kiana meraih benda tersebut dan memperhatikannya dengan seksama. Tak hanya itu Kiana juga mendapati sebuah kunci mobil, kemeja dan sepatu milik Bian yang masih tergeletak di ruangan itu.


Kiana mencoba memahami keadaan seiring dengan ia memenangkan dirinya dari tangis kekecewaannya.


"Apa dia tidak pergi? Lalu kemana dia membawa Al?" Kiana menerka-nerka jadinya seraya mengusap air mata yang membasahi wajahnya.


Hingga ia mendengar suara deringan dari sebuah ponsel yang berbunyi membuatnya tersadar dari lamunannya. Dengan cekatan ia mencari suara gawai tersebut yang terus berdering berulang kali.


Kiana mengacak-ngacak untuk mencari keberadaan suara gawai tersebut sampai ia mendapati benda pipih tersebut yang berbunyi seiring dengan kedipan di layarnya memperlihatkan sebuah nama yang tak asing baginya.


"Mama?" gumamnya meraih benda tersebut. Kiana dapat melihat dengan jelas nama panggilan di benda pipih milik Bian.


"Bu Ajeng?" ucapnya dengan suara bergetar. Ya, wanita paruh baya baik hati yang telah menolongnya dari kesusahan. Lama tak bertemu namun tak membuat surut rasa hutang budi pada wanita itu.


Kiana membiarkan deringan ponsel itu hingga terhenti dan kembali bersuara menampilkan nama panggilan yang sama untuk yang kesekian kalinya.


Dengan ragu-ragu ia kembali meraih benda tersebut sampai tak sengaja olehnya menekan tombol untuk menerima panggilan tersebut. Hingga terdengar suara wanita lembut yang sudah lama tak pernah ia dengar kini kembali berdengung di telinganya.


"Ya Tuhan Bian... Akhirnya kamu jawab telpon Mama juga, Nak. Berulang kali Mama coba hubungi kamu tapi selalu kamu abaikan." ucap Bu Ajeng pada sambungan telepon sampai Kiana terkejut menjatuhkan benda pipih tersebut dengan menatap nanar layar yang masih tersambung dalam panggilannya.


"Kamu kemana aja Bi beberapa hari ini nggak pulang? Mama khawatir banget sama keadaan kamu,"


"Pulang ya Bi, pulang Nak. Kami di sini khawatir sama kamu. Mama takut terjadi sesuatu yang bakalan buat kamu sakit lagi. Mama nggak mau kamu sakit kayak dulu lagi. Udah cukup Bi jangan buat Mama sedih karena kamu seperti ini. Mama tahu apa yang kamu rasakan selama ini. Tapi Mama mohon, pulang Nak. Jangan menyiksa diri kamu seperti ini lagi."


Kiana menajamkan pendengarannya untuk mendengar kalimat demi kalimat yang dikatakan oleh Bu Ajeng mengenai keadaan Bian.


Sakit? Bian sakit? Apa tak salah mendengar dirinya saat Bu Ajeng mengatakan jika Bian sedang sakit? Sakit apa pria itu hingga Bu Ajeng begitu mengkhawatirkannya? Apa sakit pria itu sangat parah? Tapi dapat Kiana lihat Bian baik-baik saja dan tak pernah menunjukkan gejala seperti orang sakit.


"Mama paham kamu melakukan semua ini karena kamu kecewa dengan keadaan yang membuatmu seperti ini. Nggak perlu kamu pikirkan lagi orang-orang yang sudah menyakiti kamu sampai membuat kamu terpuruk. Mereka sudah mendapatkan balasannya. Linda, wanita itu dan orang-orang suruhannya mereka pantas mendapatkannya untuk mendekam di balik penjara karena telah mencelakakan kamu. Kita bisa membicarakan bersama-sama untuk mencari jalan keluarnya. Jangan siksa diri kamu dengan terus bekerja yang bisa buat kamu sakit lagi, Bi. Jangan sia-siakan perjuangan kamu untuk bangkit kembali sembuh itu percuma. Kamu harus buktikan jika kamu pantas memperjuangkannya. Mama mohon pulang ya, Bi. Mama khawatir sama kamu. Mama tahu kamu menghindari Mama dan nggak mau berbicara sama Mama karena kamu pasti sedang kecewa. Tapi Mama mohon, pulang ya Bi..." terdengar suara isak tangis lirih wanita paruh baya tersebut dalam sambungan teleponnya.


Kiana seketika menutup mulutnya sendiri seraya menggelengkan kepalanya tak percaya pada apa yang sudah dia dengar.


Benarkah semua apa yang dikatakan oleh Bu Ajeng? Mengapa hatinya tetiba merasakan sakit yang luar biasa? Bian, pria itu...


Ceklek,


Kiana mendengar suara pintu terbuka hingga ia pun menoleh pada sosok yang baru saja masuk membawa seorang bayi mungil dalam gendongannya dengan wajah yang berseri-seri.


"Yeay... kita sudah pulang. Al pasti rindu dengan ibu, iya? Al juga pasti udah lapar ini sejak tadi merengek terus karena capek. Kasihan anak Bapak ini keringatan karena kepanasan." ucap Bian sembari membawa masuk Al yang merengek hampir saja menangis.


"Cup-cup, sabar ya, Nak. Kita tunggu ibu selesai dulu." lanjutnya lagi. Bian tak sadar tengah di perhatikan oleh Kiana di depan sana dengan air muka yang tak dapat ia artikan sendiri.


"Ki?" ucapnya saat melihat Kiana terduduk dengan deraian air mata di wajahnya. "K-kamu kenapa?" Bian cukup keheranan pada apa yang terjadi dengan istrinya itu.


"Al..." ucap Kiana lirih sampai tangisnya semakin pecah saat melihat bayinya dalam pangkuan Bian. "Al..." Kiana semakin tergugu dalam tangisannya.


Bian mencoba menelan salivanya yang terasa berat. Dia dapat menduga karena setelah ini ia akan menjadi sasaran amarah karena telah membawa Al pergi tanpa sepengetahuan Kiana.