
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Ibu yang termenung sendiri di halaman belakang di hampiri oleh Ayah yang baru datang dari rumah istri pertamanya, pria itu masih bertahan pada dua Surganya hingga di hari tua. Tak ada alasan baginya untuk meninggalkan salah satunya, semua berjalan baik sebagai mana mestinya. Tak lagi memikirkan ego apalagi cemburu.
"Mikirin apa, Bu? punya anak sebiji aja kok kayanya beban banget?" tanya Ayah, ia tahu jika wanita itu selama ini hanya memikirkan putrab tunggal mereka. Padahal Skala bukan lagi seorang anak sekolah atau mahasiswa yang masa nakalnya pun pasti sudah lewat.
"Ibu dapet telepon dari mamanya Nara, beliau bilang kalau Nara sakit." Ibu bicara sambil menoleh dengan mata yang begitu teduh, dan Ayah tahu jika wanita itu tak memberi senyum untuknya.
Hidup berumah tangga selama lebih dari dua puluh lima tahun tentu Ayah hapal dengan ekspresi wajah istrinya meski tertutup cadar dari bawah mata hingga menjuntai sebatas dada.
"Lalu ibu ingin kita menjenguknya?" tanya Ayah.
"Dia butuh Skala, Yah," jawab Ibu yang serba salah, hal. seperti ini biasanya akan memancing keributan antara ia dan Sang putra.
Pasangan suami istri saling menatap lama, mereka bingung harus memutus apa karna perasaan Nara dan Skala sangat jauh bertolak belakang.
"Ibu sudah tahu siapa gadis yang di sukainya?" tanya Ayah. kali ini ia harap wanita itu mengangguk kan kepalanya.
"Entah, anakmu saja tak tahu namanya. Aku bingung, Cinta yang seperti apa yang di pelihara Skala?" ucapnya sambil menghembuskan napas pelan namun berat.
Ayah langsung merangkul bidadari dunianya, ia paham dengan yang dirasakan istrinya tak lebih dari rasa khawatir karena Skala kini semakin dewasa, wanita yang mendekatinya juga bukan dari kalangan biasa.
"Ibu yang sabar ya, anak kita sedang berproses mendapatkan jodohnya," ujar Ayah menenangkan.
"Ibu percaya pada Skala, ia tak akan mengecewakan kita tapi ibu tak percaya dengan orang-orang yang berada di sekelilingnya termasuk para wanita. Kebanyakan dari mereka bukan cinta tapi obsesi, dan Ibu takut Skala akan di perdaya dengan banyak hal agar bisa mendapatkannya" jelas Ibu yang tak bisa lagi memendam rasa takutnya sendiri.
"Jangan berprasangka buruk, Bu. Skala bukan anak bodoh yang bisa di akali oleh siluman Rubah betina," balas Ayah yang sebenarnya sering terbersit hal yang sana
.
.
"Aku ada meeting pagi, Bu. Chiko bisa memenggal kepala ku jika akun telat," ucapnya memohon.
"Gak kebalik?" tanya Ibu dengan nada sindiran.
Bayangkan saja, mana mungkin ada yang berani melakukan hal tersebut pada cicit Sang Gajah. Jika justru Skala yang melakukannya itu baru bukan hal yang aneh.
"Hem, ibu mau ngomong apa sih?"
"Nara sakit," jawab Ibu singkat langsung ke tujuan.
"Aku bukan dokter, ngapain bicara denganku?" tanya Skala bingung.
Ibu membuang napas kasar, ada saja sahutan yang di berikan anak itu jika sudah menyinggung soal wanita.
"Dia ingin kamu menjenguknya."
"Aku sibuk, Bu." Skala yang pusing semakin di hancurkan moodnya dengan pembahasan tentang Nara.
"Sibuk ngapain?" pertanyaan konyol pun terlontar dari Ayah, harusnya pria itu berpikir jika Sang putra bukan seorang pengangguran.
.
.
.
"Sibuk mencintai calon menantu KALIAN!"