
Hari berganti begitu sangat cepat, malam seketika berganti menjadi pagi yang begitu cerah, tentunya secerah hati Bian hari ini. Percayakah? Lihat saja, pria itu sejak tadi tak lepas mengembangkan senyumannya. Bagaimana tidak, hari dimana yang Bian tunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Impiannya kini telah menjadi kenyataan. Tepat pagi ini ia dapat membawa pulang anak dan istrinya menuju tempat yang akan menjadi saksi perjalanan hidup mereka yang baru saja akan dimulai.
Bian tak lepas menggenggam tangan Kiana yang saling bertaut degannya, menunggu tumpangan datang di tepi jalan dengan Al yang tengah tertidur di dalam gendongannya.
"Nggak apa-apa kan kalau kita menunggu di sini?" tanya Bian pada Kiana yang tertunduk sejak tadi menyembunyikan wajahnya. "Sayang, kamu kenapa?" tanyanya lagi melihat Kiana yang bergeming tak mengindahkan kalimatnya.
"Mas," ucap Kiana menatap Bian.
"Ya sayang?"
"Aku--" suara Kiana tercekat seolah tak mampu melanjutkan kalimatnya untuk memberitahu sesuatu pada Bian.
"Apa? Kamu ingin sesuatu? Apa kamu haus? Atau--"
"Bukan," Kiana menggelengkan kepalanya. "Aku takut," ungkapnya lirih dengan ketakutan yang mendalam tersirat dari raut wajahnya yang memang terlihat tegang. Sebenarnya semalaman tadi Kiana tak dapat tidur dengan nyenyak. Rasa gelisah terus menghantuinya kala ia membayangkan bagaimana saat-saat akan bertemu dengan keluarga baik yang ia tinggalkan begitu saja. Dan kini, ia akan kembali ke rumah itu. Membawa sejuta kisah yang akan mengubah pandangan semua orang terhadapnya. Dia tak mau sampai hal yang menyakitkan kembali terulang ketika ia pulang membawa seorang makhluk kecil yang mungkin saja akan membuat semua orang memandangnya hina. Dia tak mau sampai hal itu terjadi pada Al, putra kecil tercintanya.
"Ki, percaya sama Mas ya. Mas yakin semua akan baik-baik aja." yakin Bian pada Kiana yang dapat dia rasakan tangannya begitu sangat dingin.
"Aku takut kalau semua nggak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Aku takut kalau bapak dan ibu Mas sampai--" ungkap Kiana dengan ketakutan yang semakin menjadi-jadi.
"Ki, Mas mohon sama kamu untuk percaya sama Mas oke? Demi kita Ki, kamu juga harus memikirkan Al yang masih kecil. Dia membutuhkan ruang lingkup keluarganya untuk proses tumbuh kembangnya."
"Tapi--"
"Kamu harus menenangkan diri. Buang semua ketakutan yang membuat kamu semakin gelisah dan takut pada apa yang belum terjadi. Mas akan selalu ada di samping kamu dan Al apapun yang terjadi nanti." tenang pria itu yang semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Kiana.
Kiana lagi dan lagi hanya mampu mengangguk pelan, mencoba percaya pada pria itu meski jauh dalam lubuk hatinya ia merasakan kegelisahan yang membuatnya tak tenang.
"Kamu sabar ya, sebentar lagi Dimas akan sampai untuk segera membawa kita pulang ke rumah." ucap Bian lagi pada istrinya. Kiana mengangguk pelan.
Sampai tak lama kemudian terlihat sebuah mobil mewah menepi di tepi jalan yang memperlihatkan seorang pria berjas rapi keluar dari kendaraan roda empat tersebut, dan menghampiri Bian dan Kiana yang berada di tempatnya.
"Pagi Pak Bian, Kia-- Eh, Bu," sapanya dengan kikuk saat melihat Kiana yang ada di samping Bian. "Maaf Pak saya terlambat datang karena ada sesuatu hal yang membuat perjalanan menuju kesini sedikit terhambat." ucap Dimas dengan senyum ketirnya.
"Pagi Dim, untunglah kamu cepat datang. Kalau tidak saya akan mempertimbangkan kamu untuk mutasi ke perusahaan di Surabaya itu." sungut Bian saat sang asisten membuatnya kesal setengah mati.
"Maaf, Pak..." ucap Dimas menundukkan kepalanya.
"Tidak lihat kamu sudah membuat anak dan istri saya menunggu begitu lama? Jika terjadi sesuatu pada mereka bagaimana?" ucap Bian mengada-ngada. Dimas yang penasaran pun pada akhirnya melongokkan kepalanya untuk dapat melihat baby Al yang tengah tertidur dalam gendongan Bian.
"Hey-hey, kamu mau ngapain, Dim?" sergah pria itu melihat tingkah aneh si asisten yang sangat menyebalkan itu.
"Itu bayi Bapak?" tanya Dimas tanpa mengedipkan matanya saat melihat baby Al yang tertidur pulas. "Wih... bayi ganteng sih ini namanya. Cakep banget, putih, hidungnya mancung kayak--"
"Ya kayak saya, dong! Kamu Nggak lihat dia tampan menurun dari siapa?" seloroh Bian membanggakan dirinya sendiri.
"Ya itu yang mau saya bilang,"
"Ngomong macam-macam lagi awas ya kamu, Dim! Nggak lihat apa kamu kalau Al itu mirip banget sama saya?"
"Sepintas sih mirip banget sama Pak Bian. Tapi kalau diperhatiin lagi... ya tetap mirip banget juga sama Bapak, ditambah ada manis-manisnya gitu juga kayak ibunya."
Bian berdecak kesal, "Ck! Udah nggak usah banyak memuji saya kamu. Mendingan kamu bantuin saya buat angkat barang-barang itu ke dalam mobil. Nggak lihat apa kalau saya lagi gendong Al." ucap Bian dengan nada memerintahnya. "Ayo sayang kita masuk. Kamu dan Al pasti capek karena udah nunggu lama sejak tadi." tuntunnya membawa Kiana dan Al untuk masuk ke dalam mobil.
"Iya-iya... Tanpa Bapak nyuruh pun saya bakalan bantu kok, cerewet banget sih." Dimas mencebikkan bibirnya yang tak ayal menurut untuk mengangkat barang-barang milik Kiana dan Al.
Dimas menghela napas setelah berhasil memasukkan barang-barang tersebut ke dalam bagasi mobil, yang sejurus kemudian masuk dan duduk di kursi kemudi seraya mengibaskan sebelah telapak tangannya untuk mengipas udara ke arah wajahnya.
"Perasaan masih pagi tapi kenapa udara udah kerasa panas ya?" monolognya seraya memasang seat-belt sembari melirik ke arah kaca spion dalam untuk melihat aktifitas yang ada di belakang kemudinya.
"Bapak?" Dimas mengernyitkan dahinya. "Nggak salah dengar kan ini telinga?" gumamnya sembari terus memperhatikan sepasang insan manusia yang tengah menenangkan bayi kecilnya itu.
"Sama aku aja Mas, kayaknya Al rewel karena belum ada minum sejak tadi."
"Nggak apa-apa sayang, kamu duduk manis saja yang nyaman di samping Mas, Biar Masmu ini yang mengurus bayi kita yang lucu dan menggemaskan ini," ucapnya seraya menciumi wajah Al yang mulai merengek hendak menangis.
"Ya sudah, ini botol minumnya, Mas. Kayaknya Al udah kehausan banget."
"Iya sayang, makasih." ucapnya seraya menatap penuh dengan cinta pada Kiana. Dimas hanya memutar matanya malas. Ia sudah seperti kambing conge yang terjebak dalam situasi yang tak menyenangkan. "Apa kamu lihat-lihat?!" katanya saat mendapati Dimas yang diam-diam mengintip kemesraan dirinya dan juga sang istri.
"Siapa juga yang liatin Pak Bian, Ge-Er banget. Gimana ceritanya saya harus tutup mata kalau mau nyetir? Mata saya kan gak salah kalau ngeliat Bapak sama Ibu lagi mesra-mesraan." elaknya yang cukup terkejut saat Bian membentaknya.
"Udah-udah nggak usah ngomong lagi kamu Dim, bikin saya pusing aja tahu! Lebih baik kamu cepat bawa kami pulang." sungut Bian.
"Iya-iya... sekarang nih?"
"Nggak, tahun depan sekalian! Ya, sekarang dong Dimas... kamu jangan mancing-mancing saya deh!"
"Ya mancing kan bisa di sungai juga, Pak, nggak cuma harus ke laut aja. Di danau juga bisa."
"Dim..." geram Bian yang ingin sekali menendang keluar asistennya itu. Tapi ia tahan, mencoba untuk bersabar. Walau bagaimana pun kini di dekatnya ada anak dan istrinya. Ia harus menjaga sikap di depan dua orang yang dia cintai itu. Bian menghela napas dalam-dalam. Sejurus kemudian ia menampilkan wajah ramah dengan senyum terpaksa ke arah Dimas yang menyebalkan itu.
"Kita jalan sekarang ke apartemen saya ya, Dim." ucapnya dengan lemah lembut.
"Siap laksanakan, Pak." sahut Dimas yang bersemangat segera bergegas untuk melajukan kendaraan yang tengah dikemudikannya.
"Eits... Tapi Pak--" tahan pria itu kembali menghentikan laju kendaraannya.
"Apalagi Dim..." geram Bian dengan kekesalan yang sudah mengubun-ngubun. Kiana yang berada di samping Bian pun ikut meringis seraya menautkan jari-jemarinya pada tangan Bian untuk ikut menenangkan.
"Sepertinya kita harus merubah arah tujuan perjalanan, Pak."
"Kenapa harus begitu? Bukannya saya bilang untuk mengantar saya ke apartemen lebih dulu?"
"Iya sih Pak, tapi masalahnya sekarang ini bapak sama ibu Pak Bian sedang menunggu kepulangan Bapak pagi ini."
"Mama, Papa? Bagaimana mereka bisa sampai tahu?" selidik Bian pada asistennya itu.
"Maafin saya sebelumnya, Pak," ucapnya penuh dengan rasa bersalah.
"Dim, jangan bilang kamu sudah menceritakan semuanya sama mereka?"
"Seperti yang Bapak pikirkan, saya terpaksa menceritakan apa yang saya tahu, karena saya takut di pecat oleh Pak Hardi waktu itu." sesal pria itu dengan apa yang sudah ia ucapkan.
"Serius? Kamu nggak lagi bercanda bukan?" ucap Bian tak percaya. Kini permasalahannya semakin rumit saja. Lalu apa yang harus ia lakukan kalau kedua orang tuanya malah lebih tahu duluan tentang permasalahannya bersama Kiana. Waduh, bisa gawat ini. Rencananya akan berantakan tidak sesuai dengan perencanaan.
Bian menatap Kiana dengan lekat yang mana gadis itu pun tengah menatapnya dengan tatapan penuh kekhawatiran di matanya. "Kamu harus percaya Mas sayang, jika kita mampu melewati ini bersama-sama."
Kini Bian beralih pada Al yang terlihat tengah menyedot minuman favoritnya dengan mata yang tak lepas memperhatikannya juga.
"Doakan Bapakmu ini ya, Nak, agar bisa melewati semuanya. Bapak sayang banget kamu, Al..." ucapnya seraya mencium kening putranya.
"Jadi kita harus bagaimana sekarang, Pak?" tanya Dimas yang ikut resah dan bingung.
"Kita pulang ke rumah untuk bertemu dengan Mama dan Papa." titahnya mantap seraya menggenggam erat tangan Kiana.
*****