
🍂🍂🍂🍂
"Gimana?" tanya Chiko saat ia datang ke kamar sahabatnya di kediaman Rahardian.
"Gak gimana gimana, emang maunya gimana?" Skala malah balik bertanya di atas ranjang sambil meringkuk memeluk bantal guling.
Ia yang bingung antara cinta dan bakti pada orangtuanya hanya bisa pasrah, bahkan sejak kemarin belum sedetik pun ia terlelap untuk terbuai mimpi. Skala takut, kesal dan marah serta kecewa jika benar ia akan berjodoh dengan Nara mengingat ia akan menikahi gadis itu sore nanti. Dalam hitungan jam kedepan, setatusnya akan berubah menjadi seorang suami dari wanita yang sudah beberapa kali ia tolak sebelumnya.
"Ya udah, gue keluar sebentar ya," pamit Chiko, rumah yang sudah ramai oleh kerabat dan anggota keluarga Rahardian itu membuat ia sedikit penasaran.
Namun, baru juga Chiko keluar dari kamar Skala, ia bertemu dengan ibu yang sama juga menanyakan kondisi putranya tersebut, pasalnya Si terompet kiamat sedang mengadakan protes dengan cara mogok bicara dengan orang tuanya. Skala tak menolak dan mengiyakan, jawabannya hanya terserah saat Ibu dan Ayah minta kepastian pada anak tunggal satu-satunya Barata dan Rahardian tersebut.
"Ibu jadi merasa sangat bersalah, Nak. Semoga cinta akan datang karna terbiasa," ucap wanita bercadar itu dengan sangat merasa bersalah.
Meski rasanya, Ibu seperti egois sekali bila menyamakan perjodohan ini dengan dirinya dulu yang bisa menerima dan mencintai Ayah setelah menikah. Karna baginya wajib untuk belajar mencintai pria yang dengan sah menjadi suaminya. Tapi entah dengan Skala yang memang sejak awal tak punya perasaan apa-apa pada Nara terlebih katanya Sang putra sudah memiliki tambatan hati yang seperti hantu karna tak jelas wujudnya bagi Ayah dan Ibu yang selama ini tak pernah tahu sosok Si gadis bawah pohon.
"Iya, Bu. Lagi pula tak akan sulit untuk dia menerima Nara karna sudah tau bagaimana gadis itu, kenal juga sudah sangat cukup lama," sahut Chiko menenangkan wanita yang juga sudah di anggapnya ibu sendiri padahal dalam hati Chiko ia begitu perih bagai teriris belati.
"Semoga saja ya, Nak. Doakan kebahagiaan untuk Skala dan Nara. Ibu mau cari orang dulu untuk ambil kue," pamit wanita itu yang dengan reflek di cegah oleh Chiko.
"Biar ku bantu, Bu. Nanti aku minta orang kantor untuk ambil kue yang ibu pesan jika semua orang sibuk," kata Chiko mencoba memberi bantuan.
"Tentu, ide yang bagus. Ini alamat tokonya dan kalau bisa segera ya, Nak," pinta Ibu yang langsung di sanggupi oleh Asisten Pribadi putranya tersebut.
Sepeninggal Ibu, Chiko langsung meraih ponsel di saku celananya. Ia langsung menghubungi orang kepercayaannya untuk meminta satu orang bagian Office Boy atu girl datang ke toko kue yang sudah ia sebutkan alamatnya barusan.
.
.
.
Lama Chiko berada di halaman belakang sampai ia akhirnya memilih untuk kembali ke kamar Skala, disana ia masih mencoba merayu Sahabatnya itu. Bukannya tenang, pria tampan kaya raya tersebut justru kembali berdebat dengan kedua orang-tuanya, hingga semua di kagetkan dengan ucapan Skala yang tiba-tiba.
.
.
.
.
Ini... ini dia calon istriku..
Sesuai judul ya, Secret Love. Mereka gak ketemu sama sekali kecuali di hari pernikahan 😍😍
Yang udah mampir di MENDADAK HALAL pasti udah tahu kan ya abis ini gimana ☺..
Kawin... kawin.. kawin..
Eh disana Cucunya Mpet udah otewe di adon loh 🤣🤣