Secret Love

Secret Love
Bertemu



Kiana memperhatikan Bian yang tengah sibuk dengan salah satu pramuniaga di salah satu gerai sepatu ternama yang sedang mereka kunjungi. Laki-laki itu memerintah sesuka hatinya yang mana membuat Kiana meringis disaat ia terduduk di salah satu bangku pengunjung yang tak jauh darinya.


"Saya kurang suka warnanya." ungkap Bian pada pramuniaga wanita yang melayaninya. "Ada warna lain? Tapi saya mau model yang seperti ini." tunjuknya pada sepasang sepatu yang sedang dipegangnya.


"Ditunggu sebentar ya, Pak." ucap wanita tersebut.


Bian berdeham pelan untuk menjawab, kemudian ia menghampiri Kiana yang sedang duduk tak jauh darinya.


"Capek?" tanya Bian pada Kiana sesaat setelah menghampirinya.


Kiana menjawab dengan gelengan kepala. Kedua netra matanya masih memperhatikan seisi yang ada di dalam toko tersebut. Baru pertama kali dalam seumur hidupnya ia dapat masuk dan mencoba berbagai macam model sepatu yang ia baru ketahui harga dari sepasang sepatu yang ada di sana setara dengan gaji yang ia dapatkan.


Bahkan Kiana sampai membulatkan matanya saat melihat jajaran sepatu yang memiliki harga sampai jutaan rupiah. Ia tak percaya, tapi itu nyata adanya. Kiana terheran-heran jika sampai ada orang yang berniat membeli sepasang sepatu yang hampir seharga kendaraan beroda dua. Gadis itu berdecak heran dalam hatinya.


Kiana merasa malu dan minder berada di tempat yang sepertinya bukan untuk kalangangan seperti dirinya. Tapi karena paksaan dari Bian, akhirnya Kiana pasrah mengikuti kemana pun tuan mudanya pergi, dan pada akhirnya kembali mencoba satu persatu sepatu yang di sodorkan oleh laki-laki itu padanya.


"Ini Pak sepatunya," ucap pelayan wanita tadi yang kembali dengan sepatu yang Bian inginkan.


Bian menganggukkan kepalanya setelah menerima barang tersebut.


"Coba pakai sekarang, yang ini pasti cocok buat kamu."


Kiana dengan wajah lelahnya kembali pasrah mencoba sepatu yang Bian ulurkan padanya. Tapi Kiana tetiba terkejut saat Bian malah menarik kembali sepatu tersebut, kemudian laki-laki itu berjongkok di hadapannya untuk memasangkan sepasang sepatu itu pada kakinya.


Dan apa pula ini? Apa ada seorang majikan dengan suka rela melayani pembantunya sampai seperti yang dilakukan oleh Bian?


Kiana menatap heran pada laki-laki itu. Hingga tangan Bian benar-benar telah menyentuh permukaan kulit kakinya, ia sedikit terhenyak.


"Nggak perlu Pak, saya aja." tolaknya, saat Bian sudah meraih kaki Kiana untuk dia pakaikan sepatu pilihannya. Kiana benar-benar merasa tak enak hati. Dan juga mungkin akan terlihat kurang ajar.


Bian tak mendengarkan. Ia tetap melanjutkan apa yang hendak dilakukannya. Memasangkan sepasang sepatu berwarna coklat muda dengan motif yang sederhana namun terlihat pas dan juga sangat cocok setelah Kiana kenakan.


Bian menelan salivanya susah payah saat melihat dan merasakan kulit kaki Kiana yang begitu terlihat mulus, putih dan bersih, juga terasa lembut di telapak tangannya. Tak pernah Bian bayangkan jika gadis yang berada di hadapannya ini memiliki sebuah harta karun yang tersembunyi di balik penampilannya yang sederhana. Bahkan saat malam naas yang terjadi pada mereka pun, Bian yang dalam keadaan setengah sadar tak dapat menyadari jika sosok Kiana mampu membuat dirinya terpesona.


Bian secara tak sadar berangsur mengagumi sosok gadis itu secara diam-diam.


"Apa saya bilang, pasti cocok. Saya memang nggak pernah salah dalam memilih." ungkapnya jumawa saat merasa puas dengan pilihannya sendiri. "Cantik," gumamnya pelan seraya mengulas senyum tipis saat terus memperhatikan sepasang sepatu yang melekat sempurna di kaki jenjang putih milik Kiana. Memang benar-benar cantik.


"Suka?" tanyanya yang langsung mendapatkan anggukkan dari Kiana. Bian semakin melebarkan senyumannya. Sangat-sangat puas dan merasa senang. "Saya ambil semuanya, tolong segera di kemas termasuk yang sudah di pakai." perintahnya pada pelayan tersebut.


"Pak, ini berlebihan," ucap Kiana dengan raut tak percayanya. "Satu saja cukup. Yang ini saja, nggak apa saya suka dengan model yang ini." tunjuknya pada sepasang model flat shoes yang sederhana dengan harga yang paling murah di toko itu.


Bian menggeleng tak setuju. Ia tetap bersikeras dengan keinginannya.


"Saya ambil semuanya tolong bantuannya, Mbak."


kemudian Bian memberikan kartu pembayaran miliknya untuk membayar semua total belanjaan di toko tersebut.


Kiana akhirnya pasrah begitu saja pada keinginan keras Bian yang tidak dapat di bantah oleh siapapun, termasuk dirinya. Ternyata sifat dominan laki-laki ini tidak hanya berlaku di rumah saja. Karena Bian anti dan tidak suka dengan namanya sebuah penolakan. Apalagi itu dari seorang wanita.


Bian kembali menarik tangan Kiana untuk berkeliling di pusat perbelanjaan dan hiburan tersebut. Tak pernah ada kata puas rasanya saat melihat Kiana yang berdecak kagum menyambangi setiap tempat yang mereka masuki. Meski Bian sesekali dapat memperhatikan raut kecemasan dari wajah gadis itu, tapi Bian berusaha untuk dapat memberikan kesenangan tersendiri untuk Kiana menurut versi dirinya sendiri.


Bian tetap mengamit tangan Kiana disepanjang mereka melangkah bak seperti seorang ayah yang takut kehilangan anak gadisnya di tengah hilir mudik khalayak orang.


Kiana sendiri sempat termangu kala memperhatikan tangan laki-laki itu yang tanpa risih dan malu membawakan barang-barang belanjaan yang Bian belikan untuknya. Padahal Bian sendiri sebelumnya tak pernah sekali pun melakukan hal seperti itu di saat ia sedang berkencan dengan seorang wanita, bahkan pada para mantan kekasihnya sekalipun.


Tapi kali ini, rasa gengsinya seolah menguap dan tidak peduli pada pandangan orang-orang sekitar padanya.


"Bian?" ucap seorang wanita tepat beberapa langkah di depan mereka, hingga Bian dengan refleknya berhenti mengayunkan langkahnya dengan sedikit terkejut. Ia membulatkan matanya saat melihat wanita yang memanggilnya itu sangat dia kenali dengan baik.


"Bian?" panggil wanita tersebut lagi meyakinkan. "Aku kira orang lain, ternyata ini bener kamu, Bi?"


Wanita itu menghampiri Bian dengan mata yang berbinar dan senyuman yang merekah, berlari kecil seolah tengah mendapatkan sebuah oase di gurun padang pasir yang tandus.


"Bi, akhirnya kita ketemu juga. Kamu kemana aja? Aku susah banget hubungin kamu belakangan ini. Aku kangen sama kamu..." ucapnya dengan nada manja yang dibuat-buatnya. Wanita itu belum menyadari ada seseorang yang berada di samping Bian yang tengah ia pegang erat tangannya.


"Lepasin, Linda." geram Bian menjauhkan diri dari wanita tersebut yang dirasa sudah keterlaluan. Bian risih, apalagi mereka berada di tempat umum.


Hingga Kiana yang berada di samping Bian mencoba melepaskan genggaman tangannya dan sedikit menjauh dari Bian yang tengah digelayuti oleh seorang wanita cantik yang baru pertama kali Kiana lihat.


"Jahat kamu, Bian. Aku tuh kangen sama kamu, sayang..." ujar Linda dengan mengerucutkan bibirnya.


Bian yang melihat tingkah Linda seperti itu sontak merasa kesal dan jijik. Berbeda saat dulu ketika Bian masih menutup mata dengan jeratan wanita itu akan senang dan kadang merasa gemas dengan tingkahnya. Tapi semua itu berubah setelah Bian mengetahui kebusukan yang dilakukan oleh Linda dibelakangnya.


Saat melihat sosok Bian dari kejauhan, Linda baru menyadari jika Bian kekasihnya itu tidaklah seorang diri. Dia mendapati seorang wanita muda yang berada dekat dengan Bian. Wanita itu menatap sinis Kiana yang tengah menundukkan kepalanya seraya berdecih pelan dengan memangku kedua tangan.


"Siapa dia?" tanya Linda masih menatap sinis Kiana seolah merendahkan.


"Bukan urusan kamu." jawab Bian malas. Ia baru menyadari jika Kiana sedikit menjauh darinya sejak kedatangan mantan kekasihnya itu.


"Oh... aku tahu sayang, dia pembantu di rumah kamu? Ya, dilihat dari penampilannya yang sangat kampungannya aku yakin dia pasti pembantu kamu." ejeknya menatap Kiana dari ujung kepala sampai ujung kakinya tanpa ada yang terlewat. Bahkan Linda tertawa menyebalkan, menertawakan Kiana yang menurutnya seperti wanita udik yang datang dari zaman dulu.


Bian yang mendengar hal itu dari mulut Linda yang merendahkan Kiana merasa geram dan mulai emosi. Khawatir sampai tak bisa menahan emosinya, Bian meraih tangan Kiana untuk kembali dia genggam.


Linda sampai melotot tak percaya. Ia seketika meradang emosi kala melihat kekasihnya memegang tangan wanita lain di depan mata kepalanya sendiri.


"Apa-apaan ini? Gila kamu ya, Bi! Ngapain kamu pegang-pegang tangan pembantu kamu segala?!" sentak Linda tak terima. Hal itu justru mengundang perhatian dari orang-orang yang ada di sana.


"Bukan urusan kamu." jawaban yang sama keluar dari mulut Bian yang sudah malas meladeni mantan kekasihnya. "Kita pulang sekarang, kamu pasti capek. Nggak perlu dengerin omongan orang lain." ucapnya mengalihkan perhatian pada Kiana. Ia sudah bersiap membawa pergi Kiana.


"Kamu nggak bisa giniin aku, Bi. Aku itu calon istri kamu. Kita akan segera menikah. Kamu nggak boleh sembarang deket sama cewek lain selain aku. Apalagi seorang pembantu yang nggak tahu diri kayak dia." tunjuknya pada Kiana penuh selidik.


"Heh! Kamu cewek kegatelan. Mau aja kamu dipegang-pegang sama cowok orang. Seneng kamu hah! Bian itu tunanganku, calon suamiku. Berani kamu deketin majikan kamu sendiri!"


Kiana menggelengkan kepalanya.


"Mbak salah paham, semuanya nggak seperti yang Mbak pikirkan. Saya--"


"Halah, dasar pembantu nggak tahu diri. Mana ada maling mau mengaku. Ngaca kamu. Mau jadi pelakor, hah!" Linda menarik paksa lengan Kiana dengan kekerasan hingga gadis itu tersentak dan meringis kesakitan karena ulahnya.


"Kamu apa-apaan sih, Linda! Lepasin Kiana!" sentak Bian melepaskan cekalan tangan Linda pada Kiana. "Gila kamu!"


"Apa? Aku gila?!" Linda tertawa sinis. "Pembantu kamu yang gila, Bian. Dia itu mau merebut kamu dari aku!" sentak Linda tak kalah dari meninggikan suaranya dari Bian. "Kamu bela pembantu itu? Kamu berubah, Bi..." Linda mulai menangis sehingga mendapatkan perhatian dari orang-orang yang sedang melihat pertengkaran mereka.


"Ya ampun ada pelakor jeng..."


"Gila, pelakor makin di depan,"


"Cantik-cantik kok mau jadi pelakor cowok orang."


"Masih muda, tapi udah jadi pelakor. Mana pembantu lagi. Kasihan si Mbaknya diselingkuhin."


"Dasar, semua cowok sama-sama buaya,"


"Nggak tahu diri banget itu pembantu!"


Serangakaian kalimat yang keluar dari beberapa mulut orang-orang menghakimi Kiana tanpa mereka tahu kebenarannya.


Kiana semakin menundukkan kepalanya. Malu dan sedih ia rasakan. Mendapatkan cemoohan dari orang-orang yang tak dikenalnya menganggap dirinya sebagai wanita yang tidak baik, bahkan sangat buruk.


Bian tak kalah geram mendengar itu semua. Ia semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Kiana.


"Nggak ada yang berubah. Kecuali itu semua karena kesalahan kamu sendiri yang buat aku seperti ini." ketus Bian. Ia sesekali melirik Kiana yang terdiam dengan mata yang sudah memerah.


"Kamu kenapa segitunya sama aku, Bi?" ucap wanita itu berkaca-kaca dan semakin deras menjatuhkan air matanya. "Kamu udah nggak sayang lagi sama aku, Bian... Apa maksud kamu nyalahin aku sama hubungan rumit kita selama ini!" sentak Linda tak terima. Wanita itu menangis sesenggukan sejadi-jadinya. Hal itu justru membuatnya mendapatkan simpati dari orang disekitar.


"Bukan menyalahkan, tapi itu karena buah dari apa yang sudah kamu lakukan sendiri Linda. Seharusnya kamu sadar atas apa yang sudah kamu lakukan selama ini." jelas Bian masih berputar-putar tidak jelas. "Kita pulang, semakin lama berada di sini tidak baik untuk kesehatan bayi kita." ajaknya membawa Kiana pergi, tanpa memperdulikan lagi Linda yang terhenyak membekap mulutnya sendiri dengan sebelah tangan mendengar kalimat yang diucapkan oleh Bian barusan.


*****