
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
"Kakak,"
"Kenapa kamu mendekap wajah adik kamu seperti itu?" Ucapan ayah buat aku kaget dan langsung melepaskan dekapan tangan ku yang menutup sebagian wajahnya Al.
"Eh ayah....."
"Enggak barusan aku sama Al, hanya becanda saja."
"Hem......"
Ayah pun langsung membukakan pintunya, tanpa menunggu lama, aku pun masuk di barengi Al dari belakang.
"Awas ya, kalau kamu bawel dan bilang sama ibu."
"Iya ih, nggak percayaan banget jadi orang." Timpal Al.
"Ya kan takutnya kamu berkhianat sama kakak,"
"Tidak akan, tenang aja. Kan ini kakak udah beliin makanan yang aku minta tadi."
"Aku pasti jaga rahasia kakak ini."
"Baiklah,"
"Ya udah kalau gitu, kakak mau ke kamar langsung. Jangan lupa, itu makanannya kasih ayah sama ibu juga."
"Kakak sengaja beli banyak,soalnya. Supaya ibu pun ikut makan,"
"Iya ih, bawel banget."
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Senin pagi di sekolah saat aku tengah baca buku di kelas, Agnes dan Dio yang baru saja datang langsung menghampiri ku dengan memasang wajah yang serius.
"Ada apa ini? Kok kalian serius banget."
"Coba cerita sama kami," ucap Agnes.
"Cerita apaan?"
"Kalau ngomong tuh yang jelas. Aku enggak ngerti,"
"Tadi di parkiran aku ketemu sama Dikta. Katanya waktu malam minggu dia tidak sengaja bertemu kamu sama Daffa di bioskop. Kok kalian nggak bilang-bilang mau nonton?" Jelas Dio.
"Ah masalah itu,"
"Itu awalnya aku dan Daffa enggak niat buat nonton sebenarnya. Kami awalnya cuma mau cari makan saja di mall itu."
"Tapi saat di depan kami lihat poster,kalau ternyata hari itu ada film baru yang baru released. Ya kami iseng aja nonton, karena lihat antusias pengunjung yang lain." Jelas ku.
Semoga saja kedua teman ku ini percaya dengan alasan yang aku berikan.
"Ah jadi seperti itu ceritanya."
"Ya terus emang kalian beranggapan seperti apa? Jangan berpikir aneh-aneh deh." Lanjut ku.
"Ya enggak, soalnya kan nggak biasanya aja kalian nggak ngajakin kita berdua."
"Ya namanya juga dadakan."
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Saat jam istirahat, aku dan Agnes mampir ke perpustakaan untuk mengembalikan buku yang minggu kemarin kami pinjam. Di sana kami pun tidak sengaja melihat Nizi tengah bersama Nathan. Anak kelas XII IPS C, kalau tidak salah.
"Eh itu Nizi kan?" Bisik Agnes.
"Ya iya, emang siapa lagi."
"Aku kira dia dekat dengan siapa itu, aku lupa namanya. Ternyata sekarang dia tengah dekat dengan Nathan."
"Tapi ya syukurlah, itu berarti dia sudah move on dari Daffa." Lanjut Agnes.
Pantas sekarang Nizi terlihat baik-baik saja, ternyata dia sudah menjalin hubungan dengan Nathan.Ada rasa lega dalam hati aku, itu artinya aku tidak menyakiti siapa pun saat ini.
"Harus kah kita ceritakan ini sama Daffa?" Ucap Agnes.
"Lah buat apa?"
"Ya kan ini berita bagus juga buat dia,karena sekarang ini tidak ada yang akan mengejar-ngejar dia lagi."
"Ish kamu ini,"
"Udah yuk ah, sebaiknya sekarang kita makan siang aja dulu. Pasti mereka berdua udah nungguin kita lama."
"Benar banget,"
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Setibanya di kantin, benar saja Daffa dan Dio sudah menghabiskan setengah makanan mereka.
"Ya ampun, kalian dari mana sih sebenarnya? Lama banget, lihat nih makanan kita pun udah mau habis." Gerutu Dio.
"Ya sabar dong, namanya juga pas jam istirahat. Tadi di perpustakaan itu banyak yang ngantri juga." Timpal Agnes.
"Udah sebaiknya kalian makan saja, jangan hiraukan Dio." Sambung Daffa.
"Tau nih, udah kayak cewek yang lagi halangan aja marah-marah terus."
Aku pun langsung menyantap makan siang yang tadi aku ambil, Daffa sepertinya sengaja mengosongkan kursi yang berada tepat di sampingnya itu untuk aku. Awalnya aku sempat ragu untuk duduk di sana, namun sorot matanya mengisyaratkan untuk aku duduk di sana.
Sambil menikmati makan siangnya, aku menyimak obrolan Dio yang merencanakan pendakiannya nanti bersama Heri dan Abdi.
Dia terlihat antusias sekali untuk mengikuti pendakian ke gunung Merbabu kali ini. Aku pun sebenarnya ingin ikut dengannya,namun aku sama sekali belum ada persiapan untuk itu.
Kali ini hanya Dio saja yang pergi untuk mendaki, sedangkan kami sudah punya rencana masing-masing saat nanti libur sekolah tiba.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
"Dio, bentar ada yang ingin aku katakan sama kamu." Bisik Agnes.
"Oh......."
" Eh, kalian duluan aja ke kelasnya. Aku baru ingat, kalau aku dan Dio mau beli minum dulu ke mini market. Enggak apa-apa kan?" Ucap Agnes.
"Oh ya udah,"
Sepeninggal Daffa dan Rania, Agnes pun langsung menarik Dio ke taman.
"Sebenarnya ada apa sih? Sepertinya apa yang ingin kamu sampai kan ini penting. Sampai-sampai kamu merahasiakan ini dari Daffa dan Rania."
"Enggak gitu juga, Rania udah tahu kok."
"Hanya saja ku merasa tidak nyaman aja kalau membicarakan ini di depan Daffa."
"Emang nya kenapa?"
"Ini tentang Nizi, kamu tahu sendiri Daffa suka langsung sensitif kalau kita bahas dia."
"Ah Nizi......"
"Ada apa dengan dia?" Tanya Dio kembali.
"Tadi pas di perpustakaan, aku tidak sengaja lihat Nisi sama Nathan. Sepertinya mereka tengah menjalin hubungan deh,"
"Ah kamu jangan suka langsung berasumsi seperti itu lah. Gimana kalau dugaan kamu itu salah,"
"Enggak aku yakin kali ini,"
"Coba deh ingat-ingat sama kamu. Selama study tour kemarin, tidak ada momen Nizi coba deketin Daffa. Terus udah lama juga Nizi gak nyariin Daffa atau sekedar ngirim makanan seperti dulu." Jelas Agnes.
"Benar juga sih,"
"Ah lagi pula sepertinya Daffa sendiri sudah punya pacar sekarang ini. Kamu ingatkan masalah walpaper di HP nya Daffa waktu itu?"
"Iya,"
"Jadi menurut ku mau Nizi masih tetap ngejar-ngejar dia atau tidak. Daffa tidak akan pernah terpengaruh akan hal itu," Jelas Dio.
"Iya sih, jadi untuk apa juga ya aku takut membicarakan hal ini di depan dia."
"Sekarang masalahnya itu, siapa cewek yang sekarang tengah menjalin hubungan dengan Daffa ini. Kenapa Daffa belum juga mau cerita sama kita, padahal kan kita udah berteman lama sama dia." Lanjut Agnes.
"Entahlah, aku sendiri tidak tahu. Sama sekali tidak ada hilal yang terlihat atau petunjuk siapa cewek itu."
"Aku pun nggak berani untuk langsung menanyakannya langsung sama dia."
"Ish kamu ini, sama aja itu bunuh diri." Timpal Agnes.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Sesampainya di kelas, aku dan Daffa tidak langsung masuk melainkan memilih untuk nongkrong di depan kelas terlebih dulu sambil menunggu Agnes dan Dio datang.
"Bentar deh, bukannya itu Nizi?" Tunjuknya.