Secret Love

Secret Love
Kedua Kalinya



"Dapat, Ki?" tanya Arif yang tengah berjaga di malam itu mendapati Kiana yang sudah pulang dari luar satu jam yang lalu membawa tentengan kantong plastik makanan di tangannya.


"Sudah. Ini buat Bang Arif, di makan ya," Kiana memberikan satu kantong plastik makanan yang sengaja ia bawa untuk penjaga di rumah mereka.


"Wah, kamu kok repot-repot beliin buat saya juga. Jadi gak enak saya, Ki. Makasih ya, pasti saya makan. Dari wanginya aja udah keliatan enak ini." balas Arif menciumi wangi makanan yang menguarkan aroma lezat yang menggugah selera.


"Iya, rezeki nggak boleh di tolak. Saya bawa buat Bang Arif biar semangat kerjanya."


"Makin semangat kalau gitu saya kerjanya."


Mereka terkekeh dalam pembicaraan kecil sebelum pada akhirnya Kiana pamit untuk masuk ke dalam.


"Tuan muda udah pulang," ujarnya saat sedang menyeruput kopi hitam yang sudah agak dingin, kemudian ia bergegas berlari kecil untuk segera membukakan gerbang dan mempersilahkan mobil mewah yang terlihat asing di matanya.


"Thanks, bro udah anterin gue." ucap Bian saat melongok kembali ke dalam kaca jendela mobil setelah sebelumnya turun, terlihat dimana Daniel masih duduk di kursi kemudinya.


"Gue langsung pulang, Bi." balas Daniel.


"Ya, iya dong. Udah malem juga ini. Memangnya lo mau kemana lagi. Open BO lo sama cabe-cabean?" seloroh Bian tanpa menyaring perkataannya.


Daniel berdecak pelan. Temannya ini selalu saja bisa seketika membuatnya badmood. Apa Bian masih kesal dengannya. Dasar sahabatnya itu, masih saja seperti kekanak-kananakan. Mau percaya bagaimana kalau dia saja selalu bertingkah jahil dan bercanda suka kelewatan.


"Pulang ke rumahlah, Bi. Daddy terus-terusan nyuruh gue buat pulang."


"Iya, gue lupa. Lo kan anak kesayangan Daddy sama Mommy lo. Cepetan pulang sana, Om Alex, tante Mira pasti khawatir karena anaknya belum pulang."


Daniel masih berdecak pelan. Wajah masamnya menekuk kentara terlihat sekali.


"Yang ada itu lo anak Mama banget, bukan gue." gumamnya pelan dengan cemberut.


Bian terkikik geli semakin senang menggoda sahabatnya itu. Lumayan, tambahan moodbooster untuk malam ini sebelum ia akan kembali menemui Kiana.


"Gue pulang." ucap Daniel.


"Hem, hati-hati, Bro." sahut Bian. Ia masih setia di tempatnya melihat kuda besi yang dikendarai oleh Daniel melenggang pergi sampai menghilang dari pandangan matanya.


Bian menghela napas pelan. Perhatiannya teralih pada Arif yang menghampirinya setelah menutup sekaligus mengunci gerbang sesuai keamanan yang berlaku.


"Ada yang datang ke rumah malam ini?" tanya Bian pada Arif saat berada di depannya.


"Tidak ada, Pak. Tapi--"


"Tapi apa?" potong Bian penasaran.


"Cuma Kiana yang baru pulang dari luar, Pak. Tidak lama sebelum Pak Bian datang."


"Dari mana? Ngapain dia malam-malam keluar rumah?" sergah Bian semakin penasaran apa yang dilakukan oleh Kiana. Jangan sampai praduga buruknya terjadi karena Bian benar-benar sangat tidak menyukainya.


"Habis beli makanan, Pak. Katanya pengen banget beli sate. Penjualnya mangkal tidak jauh dari gerbang komplek."


Dahi Bian mengernyit. Kekhawatiran mulai menyergapnya. Apa malam ini Kiana kembali pergi bersama dengan laki-laki si tukang supir itu? Pikiran buruk terus memenuhi kepalanya yang menduga-duga apa yang belum tentu menjadi kebenarannya.


"Sama siapa dia?"


"Berangkat sendiri, pulangnya juga sendiri juga, Pak."


Bian manggut-manggut menghela napas lega. "Oh... saya pikir. Bagus deh kalau begitu. Ya udah, balik lagi jaga sana." titahnya pada Arif kemudian melenggang pergi begitu saja.


***


Kiana nampak tengah menikmati angin malam sembari duduk di bangku dekat kolam renang, dengan memandangi indahnya langit malam melukiskan gugusan bintang dan rembulan yang bercahaya terang.


Netra matanya tak henti memperhatikan bintang-bintang yang berkelap-kelip memantulkan cahaya. Yang begitu sangat indah dan juga, mengagumkan.


Dengan seksama ia terus mengawasi satu diantara ribuan bintang yang menyala terang. Tak pernah lepas dari pengawasan matanya. Terlihat kecil, menyendiri dan jauh dari gugusan bintang yang lainnya, cahayanya kian meredup terkalahkan oleh bintang-bintang yang bersinar terang.


Satu bintang itu seolah menggambarkan dirinya. Menggambarkan kehidupan seorang Kiana di dunia yang fana ini. Hidup sendiri, tanpa orang tua dan sanak saudara, tak ada rangkulan untuk sekedar ia memegang asa dan harapan. Taka ada orang terdekat yang dapat ia jadikan sandaran hidupnya.


Kiana hidup seorang diri. Dan selamanya mungkin ia akan menyendiri. Tak ada yang akan mampu dan merangkulnya dari penderitaan hidup yang tak terbalaskan olehnya. Keadaan membuatnya untuk menjelma menjadi seorang gadis dewasa sebelum waktunya. Dan mulai saat ini, ia pasrah dan ikhlas pada takdir yang akan menuntunnya pada persimpangan jalan yang tidak dapat ia pilih.


"Aku bingung, kenapa kamu begitu rakus memintaku untuk makan setiap saat? Apa kamu tidak kenyang selalu makan dari apa yang aku makan selama ini?"


Kiana mendesah pelan. Ia merasakan semilir angin yang berhembus mesra menerpa permukaan kulit wajahnya.


Sebetulnya ia sengaja pergi keluar untuk mencari pedagang sate yang akhir-akhir ini ia idamkan. Terakhir kali ia memakan saat menginginkannya bersama dengan Andi. Laki-laki itu dengan suka hati mengantarnya kemana pun menuruti keinginannya.


Sebelum pada akhirnya Bian mengacaukan segalanya dengan tiba-tiba. Kiana mendesau kesal mengingat kelakuan tuan mudanya itu. Karena perbuatannyalah sampai saat ini Kiana belum juga kembali bersua dengan Andi untuk meminta maaf. Tidak habis pikir, seorang Bian dapat melakukan hal seperti itu. Untuk apa coba?


Tapi, kali ini ia dapat menikmati lezatnya rasa makanan tersebut. Dengan wajah yang berbinar, ia dengan lahap menghabiskan semuanya tanpa tersisa sedikit pun. Rasa kepuasan terbit di lengkungan senyumannya yang indah.


Ya, walaupun harus sedikit menyesal merogoh kantong pribadinya, karena pada akhir-akhir ini Kiana lebih sering jajan diluar untuk memenuhi segala keinginannya yang datang secara tiba-tiba. Alhasil, tabungan yang ia kumpulkan selama 5 bulan bekerja di sana sedikit demi sedikit berkurang juga.


"Kamu tahu, awalnya aku sangat membenci keberadaanmu karena sudah hadir di dalam sini. Kamu hadir tanpa keinginan hatiku. Datang begitu saja, seperti aku sangat membenci pada ayahmu."


"Namun, sisi lain hatiku berkata berbeda saat ini. Aku merasa akan menjadi orang yang paling tega dan jahat karena sudah menelantarkanmu. Mengabaikanmu, tanpa memberikan rasa kasih sayang yang pantas kamu dapatkan. Seperti halnya aku selama ini."


"Aku tidak mau memberikan kehidupan yang sama kepadamu, seperti apa yang sudah aku dapatkan dari kedua orang tuaku." Kiana menerawang, mengingat kembali masa-masa yang telah ia lewati selama umur hidupnya hingga saat ini. Sangatlah berat, dan Kiana tidak dapat membayangkan jika itu terjadi pada bayinya. Walau bagaimana pun, yang berada di dalam perutnya adalah darah dagingnya sendiri. Kiana tidak akan membiarkan hal itu terjadi dan akan bernasib sama seperti dirinya.


"Hai, perkenalkan. Aku ibumu. Namaku Kiana. Mau tidak mau kamu akan mempunyai ibu seperti diriku. Seorang ibu yang jauh dari kata sempurna yang akan kamu miliki. Karena aku adalah satu-satunya yang kamu miliki. Dan begitu juga denganku yang hanya memilikimu satu-satunya di dunia ini. Tidak ada yang lain, hanya kita berdua. Ya, hanya kita berdua. Jadi aku mohon agar kamu dapat bekerja sama denganku. Jangan terlalu membuatku kesusahan, karena aku harus bekerja untuk memenuhi kebutuhanmu dan kehidupan kita nanti. Jangan katakan dimana ayahmu. Karena aku tidak peduli pada apa yang akan dia lakukan. Karena saat ini aku hanya mempedulikanmu."


Kiana menghela napas dalam, lalu ia mendongak ke atas melihat langit hitam malam yang masih setia menemaninya dengan taburan benda-benda angkasa yang berkilauan, begitu cantik dan indah.


Ingin rasanya ia menggapai satu benda itu ke dalam genggamannya. Agar dapat ia jadikan teman pelipur lara di kala saat ia merasakan kesedihan. Namun, hal itu sangatlah mustahil.


Seseorang tiba-tiba ikut duduk di sampingnya tanpa permisi. Memperhatikan apa yang sedang Kiana lakukan, ia menatap lekat-lekat garis wajah gadis itu dengan tatapan teduh dan penuh dengan sorotan memuji.


"Langit malam memang sangat indah, tapi angin malam tidak baik untuk seorang gadis sepertimu." ucap Bian, yang mana membuat Kiana menoleh pada suara yang sangat dekat dengan telinganya.


"Kamu sedang apa di sini?" tanya Bian saat Kiana menatapnya tanpa beralih sedikitpun dari wajahnya. Seketika hati Bian menghangat, desiran aneh pada aliran darahnya memicu debaran cepat di dadanya. Cantik. Satu kata yang Bian ungkapkan dalam hatinya. Bibirnya menyunggingkan senyuman kecil saat mata Kiana bergerak-gerak lucu seolah memindai wajah Bian tanpa segan.


Kiana memalingkan wajahnya. Ia tersipu malu karena telah lancang memandangi pahatan sempurna dari ciptaan sang pencipta. Hal yang sama ia rasakan di dadanya, berdebar-debar. Namun, satu tangan menggapai jari-jemarinya. Mengusapnya dengan kelembutan, menghantarkan desiran-desiaran aneh di dalam aliran darahnya, dan seketika membuatnya sedikit meremang.


"Kata Arif kamu baru pulang dari luar, dari mana?" tanya Bian lagi, dengan masih menumpukan telapak tangannya di atas punggung tangan Kiana.


"Cari makan." jawab Kiana pendek.


"Di rumah banyak makanan, kenapa harus cari di luar?"


"Beda. Rasanya berbeda. Bapak nggak akan pernah bisa merasakan apa yang saya rasakan." balas Kiana tepat menghujam hati Bian yang serasa teriris perih.


'Andaikan aku bisa menggantikan semua rasa sakit yang sedang kamu rasakan, Ki. Aku rela, demi menebus rasa bersalahku selama ini sama kamu.'


"Saya nggak mau lihat kamu pergi ke luar rumah sendirian di malam hari lagi. Apalagi sampai bertemu dengan laki-laki itu."


Kiana mengeringkan dahinya, ia siap bersuara mengutarakan unek-uneknya.


"Apa masalah Bapak dengan Bang Andi? Setahu saya Bang Andi tidak pernah berbuat tidak sopan sama Bapak. Lalu kenapa Bapak seolah-olah sangat membencinya? Apa salahnya, Pak?"


"Lagi pula, saya keluar hanya untuk mencari makan karena saya salalu lapar di malam hari. Bukan melakukan hal yang tidak-tidak, apalagi bertemu dengan Bang Andi seperti yang Bapak tuduhkan."


Bian terdiam. Ia pun bingung dengan ketidak sukaannya pada seseorang itu sangat tidak beralasan. Yang dia tahu, pokoknya ia tidak suka jika Kiana berdekatan dengan laki-laki itu.


"Kalau Bapak datang hanya untuk mem--"


Cup.


Tanpa terduga, Bian mendaratkan bibirnya di bibir Kiana secara tiba-tiba. Membuat gadis itu seketika terdiam dan membulatkan matanya penuh. Hingga rasanya ia menahan napas di saat benda lembut dan hangat milik Bian tersebut bergerak-gerak memberikan kecupan demi kecupan di permukaan bibirnya.


Bian melepaskan tautan bibir mereka setelah sekian lamanya. Ia mengusap bibir basah milik Kiana dengan ibu jarinya.


"Bernapas, Kiana." ucap Bian menyadarkan Kiana saat gadis itu masih terdiam dengan menahan napas. "Hei, sadar Kiana, kamu butuh bernapas!" seloroh Bian hingga pada akhirnya Kiana tersadar dan memalingkan wajahnya yang kini tersipu malu menampakkan semburat merah di pipinya.


'Dua kali, untuk kedua kalinya dia mencuri ciuman pertamaku.' Kiana.


*****