Secret Love

Secret Love
Team Hore..



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Lusa yang sangat di hindari oleh Skala akhirnya datang juga, mau tak mau ia harus pergi ke kota A untuk mengurus pekerjaannya yang tak bisa atau lebih tepatnya tak ada yang mau menggantikankannya.


Wajah tampannnya terus merengut tak ada senyum karna Chiko yang menjemputnya dari rumah langsung kearah bandara padahal Skala ingin mampir sebentar saja ke kantor demi bertemu dengan Qia meski dari jauh seperti biasanya.


"Udah sampe, mau turun gak lo?" ajak Chiko yang sudah bangun lebih dulu. Selama perjalanan ia begitu sibuk dengan laptop untuk bahan meetingnya nanti, berbeda dengan bosnya yang malah sibuk melamun memikirkan Si gadis bawah pohon.


"Lo aja deh, gue balik lagi. Sumpah gue kangen Qia, Chik," jawabnya memohon agar bisa kembali ke ibu kota.


Chiko tak menjawab, ia hanya menarik tangan Skala untuk cepat turun dari pesawat pribadi milik Rahardian Group.


"Gak usah macem-macem, gak usah banyak tingkah. Lo gak punya alesan buat balik, jangankan alesan gak bisa jauh dari istri, pacar aja kaga punya!" omel Chiko saat sampai di di mobil mewah yang sudah menunggu mereka selama 25 menit tadi.


"Gue punya Qia," bela Skala pada asisten kurang ajarnya itu.


"Siapa lo?"


"Calon bini gue lah," sahut Skala dengan percaya dirinya.


Entah apa yang membuatnya berani mematenkan gadis itu padahal selama ini hanya kata Pagi, siang, sore yang terlontar dari bibir Skala saat menjawab sapaan Qia itupun saat ia apes tak lagi bisa menghindar atau putar arah. Kejadian itupun tak pernah lebih dari seminggu sekali bahkan bisa satu bulan sekali.


"Kalo ngehayal jangan tinggi-tinggi nanti keserempet helikopter!" sindir Chiko.


.


.


.


Senyumnya pun melebar, bayangan gadis itu menari lagi di pelupuk matanya yang terpejam agar lebih bisa menghayati wajah cantik Si gadis bawah pohon. Skala yang tak punya foto Qia atau lebih tepatnya tak berminat memilikinya hanya menyimpan gadis itu dalam hatinya saja, mengukir senyumnya di dalam ingatannya dan memperjuangkan perasaannya dalam sepertiga malamnya.


"Kapan ya, kira kira bakal ketemu? momen kaya apa yang bisa bikin kita saling berhadapan?" tanya Skala pada dirinya sendiri, begitu indah rasanya membayangkan hal tersebut meski nyatanya ia selalu lemas jika habis lewat di depan Qia yang menunduk hormat padanya.


Rencana Tuhan akan selalu indah dan ia yakin akan hal itu. Penantiannya akan berakhir dengan sebuah lantunan Ijab Qabul didepan penghulu dan saksi. Mimpi yang sebenarnya sangat sederhana jika ia dan Qia memang memiliki status yang jelas.


Tapi, masalahnya adalah Qia memiliki kekasih yang selalu ada untuknya, berkorban banyak hal serta waktu juga materi dan tentu Skala tahu semua itu, tak jarang ia menyuruh Si Item lembur agar ada uang lebih untuk pria itu memanjakan jodohnya yang sedang di jaga beberapa bulan ini.


"Yang semangat ya, Tem. Di jaga bae bae, tapi kalo mau di ajakin ribut mulu juga gak apa-apa, gue akan jadi team hore paling setia dan paling di depan sambil teriak--,"


.


.


.


Putus... putus... putus....



Cie,,, yang lagi ngehayal 🤣🤣🤣🤣


Kawin kaga, Gila iya 🤭🤭🤭


Sini Cium Mpet, anggap aja gue Qia 😝😝