
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Assalamu'alaikum, hampura ya untuk novel ini teteh loncat karna memang kisah pernikahan mereka sudah teteh ceritakan di rumah yang lain, yang alhamdulillah sebagian dari kalian sudah tahu dan ikut kesana.. karna disana gak ada cerita tentang habis Qia lahiran, makanya teteh akan ceritain disini.. MashaAllah banget pokoknya pas baca komen kalian.. sehat selalu ya buat buat kalian para kesayangannya teteh.
☘☘☘☘
Menikah, hamil dan punya anak adalah kehidupan Qia dan Skala sekarang. Hadirnya Shaka dan Sky membuat rumah tangga mereka kini jauh lebih berwarna meski harus berjuang demi kesembuhan si bungsu yang mengidap penyakit paru paru.
Jangan tanya bagimana sibuknya mereka sekarang karna nyatanya ibu pun kerap membantu untuk hal mengatuh para jagoan cilik.
"Udah tidur, belum?" tanya Skala saat masuk kedalam kamar anak-anaknya, mereka yang tinggal di Apartemen usai mengikrarkan janji sehidup semati sama sekali tak memakai jasa pengasuh kecuali ART yang hanya sekedar membantu.
"Kasian loh, aku gak tega mereka tidur sendiri kaya gini, Mas." jawab Qia sedih.
Sudah dua malam ini mereka tak tidur satu kamar lagi, melainkan Si kembar sudah meninggali kamarnya sendiri yang memang sudah di siapkan sejak awal.
Bukan hanya demi membuat Shaka dan Sky mandiri tapi Skala tak ingin ritual malamnya menganggu mimpi indah kedua putranya, sebab ia tak kalah mesum dari semua sepupu dan para suhunya. Skala yang semakin dewasa semakin sering menggelar wisata malam kadang tak leluasa saat merasakan kenikmatan di ujung pistol airnya yang siap menembak saat berperang.
"Gak apa-apa, kan masih kita pantau dari kamar, yuk ah nanti mereka bangun," ajak Skala yang takut jika dua anaknya itu mengerjap karna ia sudah punya rencana lain untuk menghabiskan waktu di malam ini.
Keduanya pun keluar sambil menutup pintu dengan sangat pelan. Qia bisa melakukan itu karna kedua anaknya tak meminum ASI darinya, dan Skala adalah satu-satunya pria keturunan Rahardian yang bisa bersorak senang karna mak Othor yang baik hati ini hanya memberinya puasa Apem 40 hari saja.
"Lusa kita ke rumah utama mau nginep, Mas?" tanya Qia saat mereka sudah ada di ruang tengah, waktu masih terasa sore jika harus bersiap untuk tidur.
"Hem, terserah, kalau rame ya nginep tapi kalau pulang ya kita ikutan pulang," sahut Skala yang tak bisa menjanjikan apapun tentang hal tersebut.
Ya, bangunan mewah itu memang selalu nampak ramai apalagi setelah ada trio kwek kwek hasil keringat buaya betina dan kadal jantan, jadi untuk tak menginap rasanya tak mungkin terjadi.
Skala mulai fokus pada film yang ia tonton, sedangkan Qia bertukar pesan dengan Rindu yang ada di luar negeri. Ia memang lebih dekat dengan wanita itu karna bagai senasib sepenanggungan.
"Mas, mau kubuat kan sesuatu?" tawar Qia.
"Enggak, kopiku masih ada," tolak Skala yang hanya menoleh sekilas sambil tersenyum. Dan sumpah demi apapun itu, Qia begitu senang melihatnya sampai ia malah berhambur memeluk suaminya itu.
"Sayang--," seru Skala yang sebenarnya kaget.
"Peluk aku sampai kamu bosan, Mas."
Skala pun tergelak saat mendengar permintaan istrinya barusan, manjanya Qia tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
.
.
.
"Siap, Sayang. Karna dulu, jangankan mau peluk belum ketemu aja udah mules duluan."