Secret Love

Secret Love
Kebakaran Jenggot



"Aduh... kenapa bisa begini sih?" sesal Fira saat mengetahui mobil yang mereka tumpangi mogok di tengah jalan ketika hendak menuju rumah sakit yang tak jauh dari kediaman mereka.


Kiana ikut meringis melihat raut muka Fira yang tengah kebingungan dengan keadaan mobil yang tiba-tiba berhenti di tengah perjalanan.


"Perasaan kemarin baik-baik aja, tapi kok bisa mogok kayak gini?" celotehnya sembari mencoba menghidupkan kembali mobilnya.


Mereka berdua memang hanya pergi berdua saja. Dengan Fira yang menyetir mobil membelah jalanan ibu kota membawa Kiana ke tempat tujuan mereka. Meski sudah lama tidak berkendara di jalanan ibu kota, Fira masih mahir dan hapal jalanan yang akan dia lalui.


"Ya ampun, Ki... aku minta maaf. Gara-gara aku, kita jadi terjebak di sini." perasaan bersalah timbul di hati Fira untuk Kiana. " Kamu masih baik-baik aja kan? Emm... Atau kamu semakin ngerasa sakit? Apa kita naik taksi aja biar cepet sampai di rumah sakit?"


"Saya baik-baik aja. Mbak nggak perlu khawatir." jawab Kiana, karena memang dia merasa sangat baik-baik saja saat ini. Tidak ada keluhan apapun selain sedikit merasa mual yang sesekali timbul.


"Beneran?" tanya Fira meyakinkan.


"Iya," balas Kiana dengan diiringi sebuah senyuman.


"Syukurlah..." helaan napas lega nampak terbit di wajah Fira.


"Mbak butuh bantuan?" tanya Kiana menawarkan diri melihat Fira yang kesusahan saat terus mencoba menghidupkan mobilnya.


"Hem? Nggak perlu Ki, sepertinya ini harus dibawa ke bengkel." Fira mendesah pelan. "Tapi yang jadi permasalahan, aku nggak tahu bengkel terdekat di daerah ini. Apalagi memanggil montir untuk datang ke tempat kita biar bisa memperbaiki mobilnya." terus terangnya.


Kiana ikut berpikir untuk mencari jalan keluar agar mereka dapat segera pergi dari tempat itu. Kiana merasa bersyukur pada keadaan ini, helaan napas lega begitu nampak di wajahnya. Akan tetapi di satu sisi lainnya ia merasa khawatir berada di tempat yang cukup ramai dengan lalu lalang kendaraan meski mereka berada di tepi jalan. Belum lagi ia takut dengan kejahatan yang mengintai mereka kapan saja bisa terjadi.


"Apa sebaiknya menghubungi orang rumah, Mbak? Agar Pak Amir atau Pak Joko bisa membantu kita?" Kiana memberikan saran pada Fira.


"Tapi masalahnya aku nggak punya kontak ponsel mereka, Kia." Fira serasa seperti orang bodoh karena kelakuannya sendiri. Tadi saja menolak saat Amir dengan sigap akan mengantar mereka pergi. Tapi dia tolak tawaran Amir-sopir keluarganya itu yang memang itu adalah pekerjaannya.


Kiana nampak berpikir kembali. Ia melihat ke arah jalanan yang dilalui oleh banyak kendaraan. Semilir angin jalanan menerpa wajahnya hingga anak rambut yang terurai diterpa angin begitu saja sampai menghalangi arah pandangannya.


"Pak Bian?" ucap Kiana teringat dengan nama Bian begitu saja saat melintas dibenaknya.


"Sudah berapa kali dihubungi tapi kayaknya lagi sibuk, deh. Dia nggak angkat teleponnya." balas Fira yang kembali menatap pada ponsel yang ada ditangannya. "Taksi pada kemana sih?"


Kiana sepintas mengusap perutnya. Ia merasakan seperti ada desiran halus yang bergerak di sana. Sesaat kemudian ia kembali menajamkan matanya melihat ke arah jalanan, berharap ada seseorang yang berbaik hati membantu mereka yang tengah dalam kesulitan.


"Mobilnya mogok?" ucap seseorang yang tiba-tiba berada di dekat Kiana tanpa gadis itu sadari.


Kiana pun menoleh pada sang pemilik suara. Ia mendapati wajah seorang laki-laki dengan mata biru dengan rahang yang tegas. Ia cukup terkesima sesaat ketika melihat laki-laki tersebut yang sepertinya seorang berdarah campuran. Sangat kontras di mata Kiana.


"I-iya, Mas. Mobil kami mogok sejak tadi."


Laki-laki itu tampak mangut-mangut kepala. Seraya ekor matanya tak henti memperhatikan wajah Kiana dengan curi-curi pandang.


"Bisa saya bantu? Sepertinya di daerah ini tidak ada bengkel terdekat untuk memperbaiki mobilnya." tawar laki-laki tersebut.


Kiana nampak berpikir. Ia menoleh pada Fira yang kebetulan membelakangi mereka seperti sedang melakukan panggilan di ponselnya.


Kiana nampak ragu. Tak langsung menjawab bantuan laki-laki itu karena ia sendiri cukup takut jika sesuatu hal terjadi pada mereka. Terlebih laki-laki tesebut adalah orang asing yang bisa saja orang jahat yang dapat menyakiti mereka. Siap tahu bukan, ia hanya perlu waspada pada setiap kemungkinan yang dapat saja terjadi.


"Jangan kuatir saya bukan orang jahat." ucapnya lagi dengan senyuman manis yang melengkung di bibirnya. Sekali lagi, Kiana terkesima hanya dengan senyuman kecil yang merekah di bibir laki-laki asing tersebut.


"Mobil saya ada di belakang." tunjuknya pada kendaraan yang terparkir dekat dengan mobil milik Fira. "Saya sedikit bisa membantu jika tidak keberatan." ucapnya menawarkan diri.


"Kak Daniel?" sahut Fira yang baru menyadari ada orang lain diantara mereka. Terlalu fokus pada ponselnya, dan suara bising kendaraan di jalanan membuat Fira tak menyadari mengenali suara laki-laki yang mana itu adalah sahabat kakaknya sendiri.


Laki-laki itu mengernyitkan dahinya saat Fira menghampiri mereka dengan mata berbinar seperti mendapatkan harta Karun di Padang pasir yang luas dan gersang.


Daniel menoleh ke arah Kiana saat Fira menyebutkan nama gadis itu yang seperti tak asing lagi di telinganya.


"Kiana?" ucapnya sembari menatap Kiana yang sama-sama bingung saling melempar pandang dengan kerutan di dahinya masing-masing.


***


Saat ini Bian dan juga Dimas sedang berada di perjalanan pulang menuju perusahaan Adijaya setelah sebelumnya melakukan pertemuan dengan salah satu rekanan bisnis perusahaan kecilnya untuk membahas mengenai mega proyek yang mangkrak.


Akibat ulah Sadewa beberapa waktu yang lalu sehingga berimbas pada kinerja dan perkembangan perusahaan kecil miliknya yang baru saja berdiri untuk mendulang kesuksesan.


"Saya nggak habis pikir, Dim..." ucap Bian dengan arah mata yang menerawang ke arah jalanan sembari memikirkan banyak hal yang menjadi salah satu beban pikirannya itu.


Dimas menoleh pada atasannya itu sekilas. Sejurus kemudian kembali fokus pada jalanan yang ada di depan matanya untuk melajukan kendaraannya.


Sebetulnya Dimas merasa kasihan dengan atasannya itu. Banyak sekali permasalahan yang menimpa Bosnya. Entah masalah pribadi dan dunia percintaannya, sehingga berdampak pada tersendatnya bisnis yang baru Bian bangun. Sangat miris sekali Dimas melihatnya. Oleh karena itu, sebisa mungkin ia akan membantu dengan sekuat tenaganya, walau bagaimana pun ia adalah salah satu orang kepercayaan yang Bian dan keluarganya percayai.


"Semuanya sia-sia." ungkap Bian lirih masih dengan ketidak percayaannya. "Satu tahun saya bekerja keras untuk mengembangkan perusahaan yang baru saja saya rintis. Ketika ada harapan untuk terus berkembang dan lebih maju, semuanya hilang dalam sekejap mata." lanjutnya lagi menyesali pada keadaan yang baru saja terjadi pada dirinya. Dia merutuki dirinya sendiri atas kebodohan yang dia perbuat.


Semua para investor yang mempercayakan menanam modalnya pada perusahaan baru Bian yang di klaim oleh banyak pemilik perusahaan besar akan mampu bersaing di dunia perbisnisan yang keras itu, kini semuanya menarik diri satu persatu karena sudah hilangnya rasa kepercayaan mereka akibat proyek yang tengah mereka jalankan gagal total akibat ulah Sadewa yang tidak bertanggung jawab. Bian mengalami kerugian besar, dengan harus membayar pinalti pada semua investor karena kegagalan proyek yang tidak sesuai dengan kesepakatan kontrak.


"Bapak harus banyak bersabar. Ini ujian yang Tuhan sedang berikan pada hambanya yang mampu melaluinya dengan baik, ikhlas, dan tidak pernah putus asa. Saya yakin Bapak dapat melalui dengan baik Pak. Masih banyak kesempatan di depan sana agar perusahaan dapat terselamatkan. Bapak harus yakin itu." tutur Dimas, menenangkan hati Bian agar lebih bersabar dalam menjalani ujian hidup yang terasa berat.


"Thanks, Dim. Tanpa kamu, dan orang-orang hebat di balik ini semua, mungkin saya akan terpuruk sendirian." Bian terlihat sangat menyedihkan dan memelas.


"Sama-sama, Pak. Kita harus saling menguatkan agar perusahaan dapat kembali pada posisinya semula."


Bian menganggukkan kepalanya. Ia merasa lesu tak bersemangat untuk melanjutkan harinya itu. Perusahan kecil miliknya adalah bukti nyata bahwa dia bisa berdikari sendiri tanpa harus terbayang-bayang oleh nama besar keluarganya. Terutama kesuksesan yang diraih oleh ayahnya selama ini.


Sekilas ia memeriksa ponselnya yang beberapa saat lalu ia alihkan pada mode silent. Hingga kemungkinan akan banyak sekali pesan dan panggilan masuk di ponselnya.


"Fira?" ucapnya dengan kening mengkerut.


"Ada apa dengan Fira, Pak?" sahut Dimas.


"Dia banyak melakukan panggilan sejak beberapa menit yang lalu." ucap Bian masih dengan rasa penasarannya. "Ada apa anak itu menelpon saya sampai sebanyak ini?"


"Mungkin ada hal yang penting ingin disampaikan, Pak." tenang Dimas.


"Ya, mungkin." Bian balik menghubungi adiknya itu khawatir jika ada sesuatu hal yang terjadi seperti apa yang dikatakan Dimas. Namun tak lama dari itu, Bian berdecak kesal karena giliran adiknya itu yang tidak menjawab panggilannya.


"Ck, aneh!" Bian kembali mencoba menghubungi adiknya itu hingga beberapa kali. Tapi tetap saja sang adik tidak menjawab panggilannya yang membuat Bian akhirnya menggerutu kesal.


"Awas aja kalau dia berani nelpon lagi! Sok sibuk bener," umpatnya karena kekesalan pada adik semata wayangnya itu.


Dimas hanya mengulum bibirnya menahan tawa yang hampir saja menguar tidak tertahan. Atasannya itu sepertinya sudah kembali pada watak aslinya. Sekilas ia menoleh pada Bian yang berada di samping kemudinya seketika membulatkan matanya dengan tatapan tidak percaya.


"Apa-apaan ini!" teriak Bian tidak terima saat melihat sesuatu yang ada dilayar ponselnya.


Memangnya apa sih yang bosnya itu lihat? Sampai-sampai bulatan matanya hampir penuh keluar semua. Dimas pun ikut penasaran apa penyebab Bian berubah raut muka dalam sekejap saja.


"Dim, kita ke Cafe Esco sekarang juga. Cepetan!" titahnya pada asistennya yang mana Dimas langsung gelapan mendengar Bian yang seperti diliputi emosi tingkat dewa.


Bian nampak seperti kebakaran jenggot saja. Ia duduk tidak tenang, sembari terus melakukan panggilan yang diselingi dengan umpatan kecil yang sudah biasa Dimas dengar jika atasnya itu sedang meluapkan kekesalannya.


"Mulai lagi..." gumam Dimas menggelengkan kepalanya.