
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Sayang--," panggil Fathan saat Qia mengajak pulang dan keluar lebih dulu dari rumahnya.
"Sayang, kamu kenapa sih?" tanya pria tersebut yang bingung dan merasa heran dengan sikap kekasihnya yang seperti sedang menahan kesal.
"Aku cuma mau pulang, aku capek dan ngantuk," jawab gadis cantik tersebut.
Fathan yang mendengar ucapan Qia malah mengernyitkan dahi, ia merasa ada sesuatu yang sedang di sembunyikan Qia dan itu pasti tentang ibunya, karna setelah dua wanita itu mengobrol raut wajah Qia langsung berubah, ada gurat kecewa mendalam dari mata Si cantik bawah pohon Bos besar mereka.
Mau tak mau karna tak mau berdebat juga di pinggir jalan, Fathan pun akhirnya mengantar Qia pulang ke kosannya. Tak ada pelukan yang Fathan rasakan selama perjalanan, sedih dirasakan pria itu karna tangan Qia di sembunyikan didalam jaketnya sendiri.
.
.
"Hati-hati di jalan ya," pesan Qia saat ia turun dari motor kekasihnya.
"Sayang--," panggil Fathan lagi yang bingung harus bagaimana, ditambah tak ada penawaran untuk sekedar mampir dari gadis itu, padahal begitu banyak yang ingin ia bahas.
"Aku lelah, ini juga sidah malam," ucap Qia lagi.
"Ya sudah, aku pulang ya, kamu cepat istirahat, besok siang kita makan sama-sama ya," balas Fathan yang tak mendapat jawaban apapun termasuk anggukan kepala dari Qia yang sudah berdiri di depan pintu kamar kosannya.
Biasanya, Fathan akan mengelus pipi mulus putih Qia sebelum ia pulang, atau sekedar pelukan singkat karna untuk melakukan lebih dari itu tentu Fathan tak berani, karna ia ingin menjaga Qia bukan justru merusak gadis itu.
.
.
.
Semua semakin berat di rasakan oleh Qia, jika sudah begini tentu ia bisa menebak jika tak ada restu di antara hubungan mereka. Sebab, ibunya dengan jelas meminta Qia untuk meninggalkan anaknya yang ternyata sudah di jodohkan.
"Huft, kapan aku bisa beruntung sih? hutang banyak, belum bayar cicilan eh sekarang malah gak di restuin, makan malamku gimana? bisa makan seharu cuma dua kali ini sih," gumam Qia sambil mengelap meja seorang diri karna teman satu teamnya belum ada yang datang.
Semua di kerjakan oleh Qia meski hatinya begitu gelisah tak menentu, semua gadis dimana pun akan merasa sama sepertinya jika mengalami hal seperti ini. Di rendahkan lalu berujung dengan ketidakpastian karna tak adanya restu.
"Qia, kenapa? belum bayar motor ya," ledek seorang temannya yang tahun Qia sering telat dari jatuh tempo seharusnya.
"Udah kok," sahut Qia yang tak ingin membahas hal itu.
"Hem, atau belum bayar utang pinjol ya," timpal yang satunya lagi, jadilah mereka kini tertawa bersama di atas luka hati Qia.
Tak seperti yang lain, Qia memang tak memiliki teman dekat karna semenjak gadis itu bekerja, Perusahaan Rahardian Group di buat geger karna adanya Office Gril cantik di Kantor mereka, begitu banyak yang mendekat tapi Qia yang memang masih polos akhirnya hanya jatuh ke dalam pelukan seorang Security Lobby karna hanya pria itu yang dekat denganya dari awal hingga rasa nyaman dan aman tumbuh begitu saja.
Braaak
Qia yang kesal reflek mengebrak meja hingga dua temannya terlonjak kaget sampai mengusap dadanya masing-masing.
"Hey, mau kemana kamu?!"
.
.
.
Ngadu ke DiRut!!!