
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Meski sudah sampai dirumah Skala tetap saja memikirkan tentang maksud kedatangan Qia di dekat ruangannya sampai harus bertemu dengan Chiko.
Rasa iri pun dirasakan pria itu manakala justru sahabatnya lah yang bisa berhadapan langsung dengan Si gadis bawah pohon, berbicara bahkan menikmati setiap ekspresi di wajahnya.
Cek lek
Skala menoleh saat mendengar pintu kamarnya terbuka, ada ibu yang datang seorang diri menghampiri nya yang sedang duduk santai di sofa.
"Ada apa, Bu?" tanya Skala sebab wanita bercandar itu tak langsung bicara padahal sudah duduk di sampingnya.
"Ayah dan ibu harus bagaimana?"
"Maksud ibu apa?" Skala yang tak paham dan bingung sampai membenarkan posisi duduknya.
"Orangtua Nara akan datang untuk melamarmu, ini sudah kesekian kalinya kita menolak, tapi gadis itu tetap kekeuh ingin denganmu, Nara benar-benar mencintaimu, Nak," ujar Ibu yang tak di jawab apapun oleh Skala.
kepalanya langsung pusing saat mendengar apa yang ibu katakan barusan, entah cinta atau sekedar obsesi, Skala pun tak paham, yang ia tahu gadis itu begitu menganggunya.
"Lalu ibu ingin aku apa?" tanya Skala.
"Terima Nara ya, sebenarnya dia baik, dari keluarga baik baik juga. Ia tetap bertahan padamu meski berulang kali kamu kecewakan, cinta mungkin akan tumbuh secara perlahan jika sudah terbiasa," jawab Ibu yang juga serba salah.
"Ibu ingin aku menikahinya, padahal ibu tahu aku punya pilihan lain," balas Skala kesal.
"Iya, kamu harus nikahi Nara."
.
.
.
.
Kabar pernikahan pun mulai tersebar di kantor dan keluarga. Banyak yang patah hati akan hal tersebut karna selama ini Skala di kenal sebagai pria single meski nana Nara tak asing di perusahaan.
"Lembur lagi?" tanya Chiko pelan, ia bukan lelah tapi hanya sesak dalam dadanya.
"Masih ada kerjaan kan?" Skala malah balik bertanya dengan mata tetap fokus pada layar laptop.
"Kerjaan mana ada abisnya, kecuali lo buang," sahut Chiko sambil menyodorkan beberapa berkas untuk di cek kembali dan di tanda tangani juga.
Skala tak menanggapi, otaknya sudah penuh dengan rencana pernikahannya yang akan di adakan lusa dengan Nara, bahkan untuk berkhayal bersama Qia saja di waktu senggang sudah tak pria itu lakukan.
Hidupnya berantakan usai acara lamaran berlangsung di rumahnya, ia dan orangtuanya di datangi secara terang terangan oleh pihak wanita dengan hanya alasan cinta dan tak bisa melupakan padahal jika Nara berniat tentu mudah melupakan Skala yang tak banyak kenangan di antara mereka apalagi saat pria itu sibuk bekerja.
"Apa iya gue kabur aja?" gumam Skala yang ternyata bisa terdengar oleh Chiko.
"Mau kabur kemana?" tanya Chiko.
"Kemana aja, yang penting gak jadi nikah," sahut Skala, jika niat itu ada bayangan ibu pun juga ada.
"Jangan macem-macem, inget nama baik keluarga lo!" cetus Chiko mengingatkan.
.
.
.
.
Tapi yang gue inget cuma Qia..