Secret Love

Secret Love
Chapter 40



...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Saat jam pulang sekolah tiba, aku dan Daffa sengaja pulang paling belakangan. Katanya dia malas untuk bertemu dengan Ratu, pastinya anak itu bakalan sudah menunggunya di parkiran.


Sambil menunggu anak-anak yang lain pulang, aku dan Daffa pun memilih untuk berdiam diri dulu di depan kelas. Sambil menikmati cemilan yang di kasih Deon tadi sebelum dia pulang.


Daffa hanya diam saja sambil menikmati cemilannya.


"Daf,"


"Apa yang tengah kamu pikirkan?" Tanya ku.


"Aku hanya memikirkan masalah ibu kamu. Aku bingung mulanya harus bicara seperti apa,"


"Kalau ibu kamu udah tahu,pastinya ibu ku pun bakalan tahu."


"Iya juga yah,"


"Aku pikir kamu lagi mikirin masalah Rachel,"


"Yang keduanya itu,"


"Kamu bayangkan saja, hari-hari ku sekarang ini akan terus di bayanginya."


"Aku rasa, dulu Nizi tidak separah Rachel sekarang ini." Lanjutnya.


"Ya kan Rachel emang masih bocah juga kan, lagian cara berpikir Nizi itu udah dewasa juga." Balas ku.


"Menurut ku, akan lebih baik jika nantinya hubungan kita ini harus secepatnya di umumkan. Aku cukup tersiksa kalau seperti ini terus,"


"Aku akan pikirkan dulu, aku pun sempat berpikir seperti itu tadi."


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Setelah di rasa suasananya lenggang, Daffa pun lebih dulu mengajak ku untuk turun ke lantai bawah.


"Nah sepertinya sekarang sudah aman,"


"Sepertinya....."


Baru saja kami berdua melangkahkan kaki kami beberapa langkah, Rachel sudah berdiri tepat di lorong menuju lobi depan.


"Ya ampun," ucap Daffa kaget.


"Bisa-bisanya dia masih ada di sini."


"Kak Daf," Teriaknya manja.


"Kamu lihat kan, gimana menyeramkannya anak ini." Gumamnya pelan.


Dengan langkah yang terpaksa, kami pun meneruskan langkah kami. Sampai akhirnya Rachel langsung menarik tangannya Daffa.


"Kak Daf, mau pulang kan?"


"Ya iya, masa aku mau nginap di sini."


"Ya udah kalau gitu, bareng yah."


"Nggak bisa, soalnya aku pulang bareng Rania." Balas Daffa.


"Ya kan, kak Rania bisa aja pesan ojeg online atau apa gitu."


"Lah kok kamu yang ngatur sih,"


"Mungkin lain kali aja yah, soalnya aku sama Rania harus cepat-cepat pulang juga." Daffa berusaha menjelaskan.


"Ayo Ran," ajaknya.


Aku yang sempat kebingungan pun, langsung mengiyakan ajakannya.


"Maaf ya, kita duluan."


Daffa langsung menarik ku dengan memegang tas ku.


"Bisa-bisanya anak sekecil dia,punya kemauan sepeti itu. Benar-benar, aku di buat pusing oleh dia sekarang." Gerutu Daffa.


Sesampainya di parkiran pun, Daffa langsung meminta ku untuk cepat-cepat naik. Belum juga aku selesai memakai helmnya, dia sudah ngebut keluar dari area parkiran.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Setibanya di depan rumah ku, awalnya tampak ragu untuk ikut turun bersama ku. Namun Al sudah lebih dulu keluar dari dalam rumah dan langsung menghampiri kami berdua.


"Tenang kak, ibu lagi pergi." Ucapnya langsung.


"Pergi?" Tanya Daffa meyakinkan.


"Iya kak, tadi siang ibu di telpon sama paman. Katanya minta bantuin apa gitu, aku pun tidak jelas dengarnya.''


Mendengar hal itu, aku dan Daffa sama-sama merasa lega dan langsung memegang dada kami masing-masing.


"Oh iya, tapi kok adek bisa tahu? Maksud kakak......"


"Tahu lah kak, soalnya tadi bunda cerita sama tante Sonia. Aku nggak sengaja dengar,"


"Ibu kak Daf,maksudnya?" Tanya Daffa tak kalah terkejutnya.


"Ya iya......."


"Enggak,"


"Mungkin ibu pikir aku nggak tahu apa-apa kalau masalah kayak gituan."


"Sekarang kakak sama kak Daf, mungkin aman. Tapi nggak tahu kalau nanti ibu udah balik, siap-siap aja kakak bakalan di sidang duluan."


"Ih adek, kok kamu malah nakut-nakutin kakak sih."


"Ya itu kenyataannya," timpalnya.


"Ya udah untuk sekarang ini kita masih aman, sampai ibu kamu kembali. Aku pun masih punya waktu untuk memikirkan jalan yang terbaik untuk kita nantinya." Jelas Daffa.


"Aku pun butuh waktu untuk memikirkan hal yang tepat, supaya ibu kamu merestui hubungan kita ini." Lanjutnya.


Setelah itu, Daffa pun ijin untuk pulang lebih dulu. Meskipun sebenarnya, raut wajahnya tidak bisa bohong. Kalau saat ini dia begitu takut atau khawatir untuk menghadapi ibu ku nanti.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


"Eh Daffa," seru ibu yang tengah duduk di ruang TV.


"Bu......." Balas Daffa ragu penuh curiga.


"Untung kamu sudah pulang,"


"Sini duduk dulu,ada yang ingin ibu tanyakan sama kamu."


Mendengar ucapan ibunya, Daffa langsung mati kutu dan kebingungan.


"Aduh gawat, pasti ibu bakalan nanyain masalah Rania." Bisiknya dalam hati.


"Ada apa ya bu?"


"Ini Daffa mau mandi dulu, nanti aja kalau aku udah mandi."


"Sebentar kok,"


"Udah sini." Paksa beliau.


Dengan berat hati, Daffa pun langsung menghampiri ibunya dengan rasa takut.


"Kenapa bu?" Tanyanya berusaha tenang.


"Ini, tadi siang kan ibu main ke rumahnya tante Renata. Beliau cerita, kalau saat ini Rania tengah menjalin hubungan dengan laki-laki."


"Ibu mau tanya sama kamu, kiranya kamu tahu nggak laki-laki itu siapa?"


"Ah kalau masalah itu Daffa nggak tahu bu,"


"Masa sih kamu nggak tahu. Kalian berdua kan cukup dekat selama ini, nggak mungkin kalau kamu nggak tahu. Ibu tidak percaya,"


"Ya kan, meskipun aku dan Rania dekat selama ini. Tapi kan itu bukan ranah aku juga buat ikut campur masalah pribadi dia." Daffa berusaha untuk mengelak.


"Iya ibu paham, cuma kan bisa aja kamu pernah dengar gitu. Atau Rania pernah cerita sama kamu,"


"Enggak ada bu,"


"Lagian aku nggak mau tahu juga, itu kan urusan pribadi dia."


"Kalau itu terjadi sama aku juga, aku pun tidak akan mau menceritakan masalah pribadi ku sama orang-orang." Daffa berusaha menjelaskan.


"Kalau kayak gitu konsepnya ya salah, setidaknya kamu harus cerita atau kasih tahu orang terdekat kamu. Biar bagaimana pun kebahagiaan kamu itu,kebahagiaan orang terdekat kamu juga."


"Ibu nggak mau yah, kalau kamu merahasiakannya dari ibu."


"Ibu mau, ibu lah orang pertama yang mengetahuinya." Lanjutnya.


"Iya........" Balas Daffa tertekan.


"Ya udah, katanya kamu mau mandi tadi. Ibu udah siapkan menu makan siang di meja,"


"Baik bu,"


Daffa pun langsung beranjak dari duduknya. Dengan rasa tertekan dia pun langsung pergi menuju kamarnya.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Sepeninggal Daffa, aku langsung masuk ke rumah bersama Al.


"Sepertinya kak Daf, cukup tertekan." Ucap Al.


"Sok tahu kamu,"


"Ya tahu lah kak, aku kan cowok."


"Biar pun aku masih kecil, aku pun tahu sedikit masalah yang kayak gituan." Balasnya.


"Jangan bilang kamu juga udah punya pacar lagi?"


"Hehe........"


Dia malah terkekeh dan langsung lari menuju ruang makan.


"Mencurigakan sekali kamu,"


"Sini Al, kami mau menghindar. Nggak bisa, kamu harus cerita sama kakak."