
Waktu yang berlalu tak mungkin untuk kita lalui kembali. Kita hanya bisa mengingat setiap kenangan yang tercipta di masa lalu. Waktu akan menjadi pengingat terbaik untuk segala kesempatan dan mimpi yang akan kita raih. Dan hanya waktu yang bisa menyadarkan betapa pentingnya menghargai kesempatan yang ada.
Perjalanan hidup adalah sebuah proses perjuangan tanpa henti, ditaburi mimpi, diisi dengan tekad bulat dalam diri kita. Jangan pernah bandingkan hidupmu dengan orang lain. Karena kita tidak pernah tahu perjalanan apa yang telah mereka lalui.
Hidup ini adalah perjalanan yang panjang di dalam waktu yang sempit. Kebahagiaan harus terus dirasakan dalam perjalanan hidup, bukan hanya menjadi tujuan hidup.
Jika tidak ada perjuangan maka jalan hidup tidak akan pernah ada kemajuan. Semakin sulit sebuah perjuangan, semakin indah saat-saat mencapai kemenangan.
Semua akan mulai dan berlalu. Hidup terjadi di antara kedua hal tersebut. Pastikan itu perjalanan yang bermakna dan indah. Bangun ketika saat terjatuh untuk mewujudkan mimpi meski hidup terkadang sulit untuk dijalani. Namun saat mampu berserah dalam doa dan mensyukuri setiap usaha, itulah hakikatnya menikmati hidup. Bukan penyesalan yang mengukung dalam relung hati.
Waktu yang panjang telah ia lalui. Meski terasa pedih dan pahit untuk menjalani setiap proses hingga ia dapat kembali bersyukur akan atas apa yang telah dirahmatkan kepadanya.
Doa dalam setiap sujud selalu ia lantunkan dalam keadaan apapun. Meminta perlindungan pada sang maha kuasa yang telah memberikannya kesempatan untuk lebih memanusiakan dirinya sendiri.
Hari-hari perih itu terus membayanginya. Silih datang dan pergi seolah mengingatkan pada apa yang telah terjadi kepadanya.
Dalam balutan kesedihan yang tak kunjung mereda, Kiana terus selalu di hadapkan dengan tantangan hidup yang tak pernah kunjung usai juga. Kesedihan seolah berkawan baik dengan dirinya. Tak akan pernah lepas, jika tak ada tangan yang bersuka cita untuk menggapai erat dirinya.
Dalam buaian malam itu, Kiana memandangi sepasang mata hazle yang tengah terlelap dalam balutan selimut bayi tipisnya. Bayinya baru saja terlelap tenang setelah berjam-jam terus menangis tanpa henti. Ia pandangi wajah kecil mungil itu yang selalu mengingatkannya pada seseorang yang sudah lamanya tak pernah ia lihat kembali.
Bian.
Bagaimana dengan keadaan pria itu? Apa pria itu tengah mencarinya? Atau justru pria itu tengah berbahagia dengan kekasih sempurna pilihannya?
Hatinya membatin.
Ya, tentu saja mereka pasti sedang berbahagia dengan pernikahan yang mereka rencanakan selama ini. Siapalah dirinya yang berharap jika Bian akan mencari keberadaannya. Sangat tidak tahu malu sekali dirinya sampai berharap pada pria yang sudah menjadi milik wanita lain. Dia harus tahu diri pada tentang siapa dirinya.
Kiana berwajah sendu. Seketika rasa sakit yang menggerogoti hatinya kembali ia rasakan kala mengingat itu semua. Begitu sangat pedih menyakitkan.
Hingga peristiwa naas yang terjadi padanya berbulan-bulan yang lalu kembali berkelebat dalam bayangan matanya. Tak akan pernah ia lupakan, bahkan akan selalu ia ingat dan tersimpan dalam memori yang terus menghantuinya hingga saat ini.
Pada saat itu...
Keadaannya begitu lemah tak berdaya. Kiana hanya dapat terdiam tak bisa melakukan hal apapun dalam mengarungi hari demi harinya. Bahkan, ia tak dapat lagi menghitung menit demi menit, dan terus berputar hingga berubah menjadi bulan demi bulan yang terus ia jalani tanpa kepastian. Ia seolah terperangkap dalam mesin waktu yang rusak. Tidak ada yang dapat dia perbuat selain berpasrah pada nasib yang akan menuntunnya kelak.
Hidupnya sungguh hampa. Dia merasa seperti berada di tepi jurang yang kapan saja dapat membawanya terjatuh ke dalam dasar kenestapaan. Begitu miris, dan amat sangat menyedihkan hidupnya kini.
Pandangan matanya kosong mengarah lurus ke depan. Kiana duduk terkulai lemah di atas lantai dengan kaki memanjang lurus untuk menopang beban berat yang berada dalam raganya.
Indra pendengarannya awas ketika mendengar suara derap langkah kaki yang saling mengayun semakin mendekatinya.
"Malam ini kita eksekusi aja Bang, gua capek berbulan-bulan ngurusin itu cewek. Nggak ada yang bisa gua manfaatin dari dia, rugi gua!" ujar seorang laki-laki dengan nada kesalnya di balik pintu yang terkunci rapat.
"Cantik sih iya, dulu nafsuin gua banget emang. Sayang lagi bunting, nggak bisa diajak hepi-hepi. Emang sial kita kali ini!" lanjutnya lagi.
"Goblok! Lu nyari mati hah! Otak lu dimana? Kalau sampai tuh cewek kenapa-napa, nyawa kita taruhannya, bego!" sahut laki-laki lainnya.
"Halah, persetan! Bos udah nggak peduli lagi sama tuh cewek. Buktinya sampai sekarang nggak ada perintah apapun dari dia."
"Terus lu ngapain, hah? Mau lu buang? Atau mau paksa dia buat ngelayanin nafsu lu yang gila itu? Tolol! Gua sih oke-oke aja selama Bos nggak lupa buat ngasih duit ke kita. Nggak peduli berapa lama pun tuh cewek diem di dalam sana, yang penting duit tetap ngalir dengan percuma."
"Tapi gua nggak mau lihat itu cewek mati sendirinya di tempat ini. Gua mau kita eksekusi sebelum hal yang gua itu takutkan terjadi. Masalah Bos, gua punya ide buat mengelabuinya."
Kiana beringsut mundur dari pintu dengan bersusah payah. Tangannya memegang erat perut buncitnya untuk menahan agar dapat mengangkat beban tubuhnya yang semakin menyusut meski dalam keadaan hamil besar.
"Nggak nyangka gua lu bisa bertahan lama dalam keadaan lemah kayak gini. Hebat banget lu ya udah kayak punya banyak nyawa yang bisa nyelametin lu dan anak lu ini." lanjutnya lagi sembari berjongkok di hadapan Kiana.
"Sayang banget gua nggak bisa make lu, kalau dulu Bos nggak ngelarang, udah gua pastiin lu nggak bakalan kesepian di dalam sini." ucapnya lagi seraya mengelus wajah Kiana yang pucat dengan menyunggingkan senyuman nakal di bibirnya.
"Beruntung lu masih aman karena Bos nggak nyuruh kita buat ngapa-ngapain lu untuk nurutin kemauan gundik gilanya itu." laki-laki itu menggelengkan kepalanya. "Kalau nggak, udah habis lu dari kemarin-kemarin!"
"Udah, cepetan lu kasih aja tuh makanan sama botol minumnya. Nggak tega gua lihatnya. Gua jadi keinget bini kalau begini jadinya." sahut laki-laki satunya lagi.
"Nih, jangan lupa makan! Persiapkan diri lu karena malam ini adalah hari dimana yang lu tunggu-tunggu bakalan segera datang." ucap laki-laki brewok itu dengan tawa kecilnya.
Kiana hanya terdiam tanpa mengeluarkan suara. Ia sudah tidak dapat lagi berkata-kata dengan keadaan dirinya yang semakin lemah tak bertenaga. Wajahnya meringis menahan sakit yang menjalar di sekitar area perut dan pinggulnya. Tangan kurusnya setia mengusap permukaan perut untuk menenangkan si jabang bayi yang berada dalam kandungannya.
Berbulan-bulan Kiana berada di balik dinding kokoh yang membuatnya tidak dapat kembali untuk melihat dunia luar. Udara pengap yang dia dapatkan dari sekeliling ruangan yang hanya bersekat tembok dengan jendela kecil terkunci rapat. Kiana tak pernah lagi merasakan hangatnya sinar sang mentari. Dirinya terkurung di sebuah ruangan gelap yang hanya menyisakan dirinya saja.
Keadaannya sangat memprihatinkan, bobot tubuhnya menyusut walaupun ia tengah mengandung. Sungguh keajaiban dari sang maha pencipta untuk janin yang berada dalam kandungannya begitu kuat dan dapat bertahan dalam keadaan apapun. Hingga Kiana dapat mempertahankan bayinya hingga detik itu meski dalam keadaan yang sulit.
Malam itu, Kiana pasrah pada apa yang kelak akan terjadi padanya. Saat dua lelaki yang selama ini bertugas menyekap dirinya membawanya keluar dari ruangan yang selama ini Kiana tempati.
Meski dalam keadaan menahan rasa sakit yang semakin menjadi pada dirinya, Kiana nampak jelas sekali dapat melihat jika ia dibawa oleh kedua lelaki sangar itu ke sebuah tempat melewati jalanan yang sepi dan jauh dari pemukiman.
"Lu yakin kita tinggalin dia di sini?" tanya salah satu lelaki itu seraya melihat-lihat keadaan sekitar.
"Lumayan cukup jauh Bang, gua yakin kalau kita tinggalin dia di sini orang-orang gak bakalan curiga sama kita." timpal lelaki brewok satunya.
"Kok gua kasian ya." ibanya melihat keadaan Kiana yang tengah meringis dengan wajah pucat merasakan rasa sakit.
"Udahlah Bang, mumpung masih sepi ini kita tinggalin dia. Udah cukup kita buat kasihan sama nih cewek. Masih untung kita buang dalam keadaan hidup, lah kalau si Bos sampai punya niatan buat nyuruh ngebunuh nih cewek?"
Kedua lelaki itu membopong Kiana keluar dari kendaraan, sejurus kemudian meletakkan Kiana di sebuah saung kecil yang berada di sisian jalanan yang sepi jauh dari pemukiman warga.
Setelah berhasil menempatkan Kiana yang terlihat lemah tak berdaya, mereka pergi meninggalkan Kiana seorang diri begitu saja, membuangnya di tempat yang sepi, gelap, dengan kesulitan yang sedang Kiana rasakan.
Setidaknya Kiana bersyukur ia mendapatkan belas kasihan dari dua lelaki itu. Mereka rela membuang dirinya dibandingkan harus membunuhnya tanpa alasan pasti yang Kiana ketahui. Takdir lagi dan lagi kembali tengah mempermainkan jalan hidupnya. Entah apa yang akan terjadi setelah ini, selepas keadaan yang tengah Kiana rasakan seakan ia tengah berjuang diantara hidup dan mati bersama calon bayinya.
Ditengah isak tangis yang Kiana tumpahkan, ia samar melihat seseorang dari kejauhan membawa alat penerangan yang terus semakin mendekatinya. Semakin jelas wajahnya saat orang tersebut menghampirinya dan menyorotkan alat penerangan itu ke arah wajahnya.
"Ya Tuhan..." pekik orang tersebut ketika mendapati Kiana yang terduduk di atas balai saung dengan keadaan yang memprihatinkan. Wajahnya semakin pucat dengan keringat yang membanjiri setiap jengkal tubuhnya. Kiana meringis di selingi tangis yang memilukan, napasnya tersengal-sengal saat menahan rasa sakit di perutnya.
"Ya ampun Neng, ini mau melahirkan? Kenapa bisa sampai ada di sini?" ucap orang tersebut saat melihat darah yang mengalir di kaki Kiana.
"T-to-long, Pak..." ucapnya lirih dengan deraian air mata. Kiana memelas meminta pertolongan dari pria paruh baya yang menemukannya. Semoga saja rasa iba ada pada orang itu dan dengan suka rela dapat membantunya.
"Tunggu-tunggu, Bapak cari bantuan buat bawa Neng dulu ya? Yang sabar ya, Neng." orang tersebut pergi mencari bantuan untuk Kiana yang terlihat semakin parah. Dalam keadaan seperti itu, Kiana meraung kesakitan dan terus memegangi perutnya seolah seperti akan ada sesuatu yang menyakitkan memaksa untuk keluar dari tubuhnya.
Keringat bercucuran di wajahnya. Rasa nyeri membuat tubuhnya semakin lemas ia rasakan seiring dengan pandangan matanya yang semakin lemah dan mulai menggelapkan seluruh penglihatannya.
Oek... oek...
Kiana tersentak dari lamunannya saat mendengar suara tangisan dari si kecil yang terbangun dari tidurnya. Dengan cepat ia mengusap lelehan air mata yang membasahi pipinya. Tangannya terulur untuk mengambil si kecil yang tengah menangis, namun pergerakan tangannya terhenti kala ia kembali teringat masa-masa sulit yang ia lewati.
Kiana ikut menangis. Seluruh badannya bergetar tak kuasa untuk mendekap si kecil yang juga terus menangis sepanjang waktu tanpa henti. Kiana bingung, ia bingung harus berbuat apa untuk membuat bayinya terhenti dari tangisan yang membuat hatinya begitu sakit saat mendengarnya. Segala cara yang ia tahu untuk menenangkan bayinya tak membuat si kecil tenang dan tak menangis lagi di setiap waktu.
Dan kini, bayinya kembali menangis. Ia tak sanggup membawa si kecil ke dalam pelukan hangatnya. Kiana menjadi serba salah dan bingung sendiri hingga ia meluapkan semuanya itu dengan menangisi ketidakberdayaan dirinya sendiri untuk melawan semua ketakutan yang terus membayanginya.