
Kiana cemas pada bayinya yang semakin menunjukkan kondisi kian memburuk. Ia takut jika akan terjadi sesuatu menimpa putra kecilnya itu. Sesuatu yang tak diharapkannya diluar kuasanya.
Dengan bekal keberanian dan tekad bulat, ia membawa Al yang tengah merasakan kesakitan ke sebuah klinik yang lumayan jauh dari kediamannya, dengan berjalan kaki disepanjang jalan sembari merapalkan doa-doa dalam hatinya.
"Suster, Sus!" panggil Kiana pada seorang Suster yang tengah berjaga saat memasuki klinik dengan napas yang memburu.
"Sus, tolong bayi saya Suster!" ucap Kiana menghiba dengan buliran air mata yang terus berjatuhan seraya memperlihatkan Al yang berada dalam gendongan tangannya.
"Ibu tenang dulu, Bu." ucap Suster bingung saat melihat Kiana dengan kondisi panik membawa seorang bayi.
"Tolong bayi saya, Sus, saya mohon..."
"Baik, tapi ibu tenang dulu. Kami akan segera membantu ibu dan bayinya." balas Suster tersebut menenangkan Kiana yang sedang panik dan diliputi rasa ketakutan yang amat besar pada bayinya.
"Bayi saya sakit, tolong bayi saya sekarang juga. Saya nggak mau kehilangan anak saya, Sus!" teriak Kiana yang belum tenang sebelum melihat bayinya mendapatkan pertolongan medis.
"Iya, tapi ibu tenang dulu ya. Kami akan segera membantu bayi ibu jika ibu sudah tenang agar kami dapat memeriksa kondisi bayinya."
"Tolong saya, Sus..." lirih Kiana yang mulai agak tenang meski hatinya masih merasakan ketakutan yang mendalam.
"Kalau begitu, silahkan ibu masuk untuk menemui Dokter di dalam." ajak Suster tersebut mempersilahkan Kiana untuk masuk ke dalam sebuah ruang praktik Dokter setelah melihat keadaan bayinya yang memang membutuhkan pertolongan dengan segera.
Kiana berharap-harap cemas saat melihat seorang Dokter wanita muda tengah memeriksa keadaan bayinya dengan jarak yang begitu sangat dekat dengannya.
Hatinya begitu perih, pedih, bahkan rasa sakit pun ia rasakan secara bersamaan. Saat ini perasaannya begitu sangat hancur. Ia merasa dunianya serasa berhenti berputar. Dadanya serasa sesak, bahkan meraup udara untuk bernapas pun ia merasa kesulitan.
Dapat Kiana lihat bayinya itu kembali menangis setelah beberapa saat mendapatkan pemeriksaan. Suara bayinya kembali menggaung di telinganya. Putra kecilnya itu menangis melengking dengan keras. Kulit yang tadi sempat membiru kini mulai memudar setelah bayinya kembali menangis. Napasnya pun sudah kembali normal seperti sebelumnya.
Dokter wanita tersebut meraih bayi Kiana ke dalam pangkuannya, menekan-nekan bagian dada dan perutnya untuk memeriksa memastikan sesuatu sesuai dengan dugaan hasil pemeriksaannya.
"Uh... nggak apa-apa sayang, Ibu Dokter cuma mau periksa Dede aja. Kamu anak yang hebat dan kuat," ucap Dokter tersebut mengusap wajah bayi Kiana dengan lembut seolah menenangkan bayi tersebut yang tengah masih menangis.
"Al..." ucap Kiana lirih dengan deraian air mata, tak tega melihat anaknya dalam kondisi seperti itu.
"Bayinya sangat kuat ya, Bu. Hebat sekali bisa bertahan dalam waktu yang cukup lama untuk menahan sakitnya," selorohnya, seraya menimang bayi Al dengan hati-hati.
"B-bayi saya k-kenapa, Dok?" tanya Kiana terbata-bata. Menatap bayinya yang mulai agak tenang dalam gendongan sang Dokter.
Dokter wanita muda tersebut menatap Kiana dengan senyum tipis.
"Menurut pemeriksaan dan hasil diagnosa sementara dari saya, setelah melihat kondisi dari bayi ibu yang mengalami gangguan pernapasan, hidung yang berair, kulit membiru, bahkan tadi sempat muntah-muntah juga, Bayi ibu sepertinya mengalami alergi susu formula." tuturnya seraya memberikan bayi Al pada Kiana yang sudah tenang meski masih terlihat menangis kecil dengan suara mendengus sesenggukan.
"Pemahaman saya, alergi ini kondisi di mana sistem imunitas tubuh bereaksi berlebihan terhadap kandungan protein di dalam susu. Anak yang mengalami alergi susu sapi biasanya akan menunjukkan gejala berupa gatal, muntah, napas berbunyi atau mengi, bibir bengkak, serta diare setelah mengonsumsi susu sapi."
Kiana menatap bayinya iba, tak tega saat melihat buliran air mata keluar dari mata jernih bayinya itu. Mulut bayinya rapat mengerucut seolah menahan sesuatu dalam tubuhnya. Tangan mungilnya bergerak-gerak seolah ingin meraih wajah ibunya.
"Untung saja ibu dengan cepat membawa bayinya kemari. Sehingga kami bisa memberikan pertolongan untuk bayinya." lanjut Dokter tersebut.
"Maaf, apa sebelumnya bayi ibu mendapatkan ASI dengan baik pasca melahirkan?" tanya Dokter dengan serius.
Kiana menggeleng lemah, "Tidak, Dok. Saya belum bisa memberikan ASI sejak bayi saya lahir. Bayi saya belum pernah sama sekali meminum ASI sebelumnya." katanya berbicara apa adanya.
Dokter tersebut mengangguk, "Saya paham sekali, Bu. Dalam kasus bayi yang mempunyai alergi terhadap susu formula itu sangat riskan sekali apalagi si bayi sama sekali belum pernah meminum ASI."
"Reaksi yang di tunjukkan oleh tubuh bayi ibu sama persis yang terjadi pada anak yang tidak cocok meminum sufor karena respon imun tubuh terhadap protein susu sapi. Anak alergi susu sapi seringnya merupakan anak yang mengonsumsi susu sapi sejak dini, Bu, terutama bayi di bawah usia enam bulan. Sementara itu, bayi yang mendapatkan ASI eksklusif dalam enam bulan pertama kehidupannya sangat jarang menderita alergi ini saat ia tumbuh besar."
"Jadi dapat saya simpulkan bahwa bayi ibu alergi terhadap susu formula terkhusus jenis susu sapi. Saya sarankan agar ibu dapat mengganti susu bayi ibu dengan susu soya atau almond untuk menghindari hal seperti ini lagi. Atau ada lebih baiknya ibu dapat mengkonsultasikan dengan dokter khusus untuk membantu permasalahan ini."
Kiana mengangguk, "Bagaimana dengan keadaan bayi saya sekarang, Dok?"
"Ibu tenang, bayi ibu sangat kuat ternyata. Keadaannya untuk sekarang sudah membaik. Tapi badan si kecil agak sedikit panas karena juga demam yang dialaminya. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah stress yang dialami seorang bayi. Ini bisa saja sering terjadi pada usia bayi dibawah 12 bulan."
"Bayi biasanya merespons emosi dan lingkungan orangtua mereka. Ini berarti jika orangtua mengalami stres, hal tersebut dapat mempengaruhi bayi. Bayi yang menerima banyak perhatian dan memiliki ikatan yang kuat dengan orangtua memiliki kadar hormon stres yang lebih rendah daripada yang lain. Mungkin ibu dan suami bisa bergantian merawat si kecil, jangan sampai si ibu ikut stress karena itu dapat mempengaruhi perasaan si kecil sehingga dapat memicu sakit seperti demam."
Kiana menatap nanar bayinya yang begitu malang harus merasakan hal yang tidak seharusnya ia rasakan di usia yang masih kecil.
'Al rindu ayah, Nak? Maafin Ibu sayang...' lirihnya dalam hati.
"Saya akan memberikan resep obat agar dapat segera diberikan pada bayinya."
"Terima kasih, Dok." Kiana mengusap lembut pipi merah bayinya yang saat ini terasa hangat.
Kiana menghela napas cukup lega meski ada sedikit perasaan cemas dalam hatinya. Ia kembali membawa bayinya pulang menyusuri jalanan dengan mendekap erat tubuh kecil putranya dari terpaan angin malam yang berhembus dingin.
***
"Apa?" tanya Bian pada Dimas yang membuang pandangan saat kepergok oleh atasannya itu.
Dimas tak menyahut, ia malah melirik pada jam yang ada di pergelangan tangannya.
"Ada apa kamu lihatin saya sejak tadi?" tanya Bian yang mulai kesal pada asistennya.
"Ini sudah malam, Pak." ucap Dimas mengingatkan.
Bian memutar matanya malas, "Siapa yang bilang ini masih siang? Semua orang juga tahu ini sudah malam, Dim!" balasnya sinis.
"Ya, saya kan cuma ngingetin aja. Apalagi Pak Hardi udah mewanti-wanti saya buat jagain Pak Bian." selorohnya.
"Memangnya saya anak kecil harus di jaga?"
"Ya bukan begitu juga,"
"Terus apa?"
"Saya dapat tugas tambahan buat ngawasin Bapak,"
"Memangnya saya mau ngapain harus di awasi segala? Kamu pikir saya bakalan berbuat macam-macam di sini? Kamu takut saya bakalan depresi lagi? Terus mencoba melakukan percobaan bunuh diri karena putus asa akibat permasalahan saya begitu? Saya mati dan akan membuat gempar seluruh Indonesia dan kamu takut akan terseret pada masalah ini?"
'Hem, salah lagi...' batin Dimas mengesah.
"Saya kan nggak bilang begitu," Dimas mencebikkan bibirnya. Memang ya, dekat dengan atasannya itu selalu saja membuatnya serba salah. Apalagi jika Bian dalam keadaan bad mood, maka dia akan menjadi sasaran kekesalan dari atasannya itu.
"Udah deh, saya nggak perlu kamu awasi. Saya bukan anak kecil lagi, saya bisa jaga diri sendiri. Lagian saya nggak bakalan macam-macam berbuat sesuatu hal yang bakalan merugikan diri sendiri. Saya masih ingin hidup dengan umur yang panjang, menata masa depan untuk menjadi lebih baik lagi." ungkapnya.
'Terutama untuk segera bertemu dengan kamu, Kia..." batin Bian memelas.
"Maaf Pak, saya cuma menjalankan perintah Pak Hardi. Beliau sangat mengkhawatirkan keadaan Bapak selama ini, apalagi Pak Bian baru pulang dari rumah sakit. Saya khawatir kesehatan Bapak akan terganggu lagi."
"Kamu tenang saja, Dimas. Saya nggak akan depresi lagi, sekarang saya sudah waras dan sehat. Kamu nggak perlu takut kalau saya bakalan menyakiti kamu,"
"Saya nggak mikir seperti itu, Pak." balas Dimas yang pada akhirnya merasa tak enak pada Bian.
"Saya tahu," ucap Bian senarai menghela napas. Sejurus kemudian manik matanya menatap lurus ke arah depan membayangkan wajah Kiana yang selalu hadir setiap saat dalam benaknya. Tengah tersenyum seolah menyapanya, mengisyaratkan agar ia segera mendekat meraih raganya.
"Dim?"
"Iya, Pak?"
"Apa sudah ada kabar?" tanya Bian serius.
"Maaf Pak, kami belum menemukan keberadaannya." jawab Dimas seolah tahu apa yang tengah Bian tanyakan padanya. "Pencarian sempat terhenti saat keadaan Bapak semakin memburuk. Dan kami lebih fokus untuk mengurus perusahaan dibawah perintah Pak Hardi, karena pada saat itu perusahan sedang memiliki beberapa masalah sepeninggal Bapak."
"Lalu bagaimana dengan wanita itu?"
"Bapak tenang saja, Pak Hardi sudah mengurusnya dengan baik. Bu Linda saat ini sudah mendapatkan hukuman yang setimpal karena perbuatannya. Tapi untuk dalang dibalik semua kejadian yang menimpa Bapak, mereka berhasil mengelak dari bukti yang kita tujukan seperti sebelumnya. Karena Bu Linda mengakui semua perbuatannya itu adalah murni tanpa campur tangan siapapun. Dia menyalahkan dirinya sendiri tanpa membawa nama Sadewa seperti yang kita duga." jelas Dimas.
Lagi dan lagi dia gagal membawa Sadewa dan antek-anteknya untuk masuk ke dalam jeruji besi. Meski ia mempunyai banyak bukti yang mengarah pada Sadewa, tapi tetap saja ia akan kalah karena mereka memiliki imun hukum yang cukup kuat. Dia harus waspada, dan lebih berhati-hati lagi, tidak memungkinkan jika suatu hari nanti Sadewa akan kembali menyerangnya.
Bian mengesah kasar. Ia memijit pangkal hidungnya untuk mengurai nyeri pada kepalanya. Hingga ia merasakan perasaan yang tak tenang secara tiba-tiba. Menyeruak di dalam hatinya yang begitu sangat perih ia rasakan.
"Bapak baik-baik aja?" tanya Dimas khawatir.
Bian menggeleng, "Saya baik, cuma sedikit pusing "
"Apa sebaiknya kita pulang, Pak?"
"Nggak usah, saya belum mau pulang." tolak Bian. "Tapi saya terus ngerasa perasaan yang nggak enak secara tiba-tiba," ungkapnya memberi tahu Dimas tentang keadaannya.
"Bapak harus masih banyak istirahat. Jangan terlalu memikirkan dulu hal yang berat, apalagi bekerja sampai malam begini. Saya antar pulang sekarang ya, Pak?" ajak Dimas yang melihat Bian mulai resah sampai duduknya pun tak nyaman.
"Perasaan saya kok makin nggak enak ya, Dim? Apa ada yang salah sama saya?" tanyanya lagi.
"Saya nggak tahu apa yang terjadi sama Pak Bian. Yang paling penting saat ini saya harus bawa Bapak pulang. Saya nggak mau sampai kena omel Pak Hardi dan Bu Ajeng, apalagi kalau sampai di pecat. Ayo Pak!"
"Tapi Dim--"
"Saya akan paksa Bapak buat pulang, nggak peduli kalau Pak Bian nanti akan marah saya nggak peduli. Bapak harus istirahat sekarang juga!" paksa Dimas mencoba membawa pulang Bian sebelum ia yang akan menjadi sasaran amarah dari kedua bos besarnya itu di rumah besar nanti.
*****