
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Karena penasaran aku pun menyusul adik ku satu ini ke kamarnya. Ternyata dia malah tengah duduk manis di ranjang sambil menonton TV.
"Al......." Teriak ku.
"Apa sih kak, berisik."
Dengan santainya dia malah mengabaikan aku.
"Sini cerita sama kakak,"
"Cerita apaan sih kak?"
"Ya itu, kenapa kamu bisa ngomong kayak gitu tadi. Kalau enggak kamu emang udah pernah pacaran atau bisa saja sekarang ini kamu lagi menjalin hubungan.''
"Ya ampun kak, bisa-bisanya kakak berpikiran seperti itu."
"Aku ngomong kayak gitu tuh, cuma iseng aja."
"Namanya aku punya banyak teman, aku dengar cerita-cerita dari mereka aja. Lagian aku ini masih anak SMP, aku belum mau pacaran." Jelasnya
Mendengar penjelasan Al barusan, aku pun langsung terdiam.
"Ya maaf, kalau kakak udah salah paham sama kamu. Habisnya kata-kata kamu itu loh, yang buat aku penasaran."
Saat itu juga, bibi tiba-tiba saja masuk ke kamar.
"Non,"
"Iya bi, kenapa?"
"Barusan ibu telpon, katanya beliau tidak bisa pulang hari ini. Beliau akan menginap, besok baru pulang."
"Ibu bilang supaya non, bisa menjaga mas Al." Lanjut bibi.
Mendengar berita yang baru di sampaikan bibi barusan, aku merasa lega. Untuk hari ini aku masih aman,tidak bakalan kena sidang ibu.
"Oh iya bi, makasih ya udah kasih tahu aku."
"Baik non,"
Sepeninggal bibi, aku pun langsung beranjak dari duduk ku.
"Untuk hari ini kakak aman, tapi belum tentu dengan hari esok."
"Lagian kenapa nggak jujur aja sih kak? Dari awal gitu cerita sama ibu,jadinya nggak harus main kucing-kucingan sama ibu sendiri."
"Ya kamu gampang ngomong kayak gitu,"
"Bayangin aja, gimana terkejutnya mereka nanti. Setelah tahu kakak dan kak Daffa pacaran sekarang ini, kan mereka itu tahunya kita cuma temenan."
"Emang apa salahnya? Emangnya ada yang larang gitu, antara teman gak boleh pacaran pada akhirnya?"
Pertanyaan Al langsung membungkam ku, apa yang di katakan nya emang ada benar juga.
"Menurut aku, itu hanya ketakutan kakak saja. Kalau pun nantinya bakalan menimbulkan pendapat yang nggak sesuai dengan keinginan kita, anggap saja itu sebagai pelajaran buat kita."
"Mau sampai kapan kakak dan kak Daffa,terus menyembunyikan hubungan kalian. Gimana kalau nanti salah satu di antara kalian goyah dan memilih untuk pergi. Atau bisa saja, karena kalian merahasiakan hubungan kalian ini, ada orang ketiga lagi." Lanjutnya.
Mendengar hal itu, aku di buat takut olehnya. Ternyata adik ku ini, cara berpikirnya sudah cukup dewasa juga. Kenapa aku bisa kalah dengan anak kelas SMP?
"Udah ah kak, aku mau nonton. Sebaiknya kakak buatkan aku makanan, aku lapar nih." Pintanya.
"Ih adek, kan bisa minta tolong sama bibi buat bikin makanan."
"Iya maksud aku itu, sekalian kakak balik ke kamar. Tolong kasih tahu bibi," timpalnya.
"Iya......."
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Malamnya aku tidak fokus untuk baca buku dan hanya rebahan saja di atas kasur. Aku masih terngiang-ngiang dengan ucapan Al tadi sore.
"Apa sebaiknya aku mempublish hubungan aku dengan Daffa yah? Gimana kalau perkataan Al tadi itu terjadi. Apa aku bisa melihat Al jadian dengan wanita lain selain aku?" Gumam ku.
*Tok.....Tok.....Tok.....
"Kak......!'' Seru Al dari luar.
"Iya kenapa?"
"Itu ada kak Daffa,di bawah lagi nungguin kakak."
Aku pun langsung bangun dan lari menuju pintu kamar ku. Saat aku buka pintunya, adik ku itu sudah pergi entah kemana.
"Kemana dia? Bisa-bisanya dia pergi secepat itu."
Karena penasaran, aku pun melihat ke bawah untuk mencari keberadaan Daffa. Namun aku tidak bisa menemukannya, baik di ruang tamu,ruang tengah atau pun ruang makan.
"Nggak ada, apa si Al cuma becanda aja yah?"
Namun aku melihat bibi yang baru saja kembali dari halaman belakang, sambil menenteng nampan.
"Bi......"
"Eh iya non,"
"Ada tamu emangnya?"
"Itu ada mas Daffa, bibi baru aja kasih minuman dan cemilan untuk mas Daffa barusan."
"Oh gitu,"
Bibi pun berlalu, menuju dapur. Sedangkan aku balik lagi ke kamar untuk mengecek dulu penampilan ku.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Aku pun turun setelah memoles wajah ku degan make up dan mengganti pakaian ku dengan setelan baju tidur.
Ternyata benar, Daffa tengah duduk sendirian di gajebo yang biasa aku gunakan untuk belajar.
"Daf,"
"Kenapa?" Ucap ku pelan.
"Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu. Makanya aku bela-belain ke sini,"
"Ada apa? Sepetinya serius."
Karena penasaran aku pun ikut duduk bersama dia.
"Jadi gini, tadi siang ibu ku menanyaiku. Masalah kamu itu, katanya beliau dengar dari ibu kamu."
"Intinya ibu ku, ingin cari tahu lewat aku." Lanjutnya.
"Ran, apa sebaiknya kita jujur saja sama kedua orang tua kita. Aku merasa tertekan kalau harus menyembunyikan hubungan kita ini dari mereka."
"Apalagi ibu kamu sudah mulai curiga sama kamu,"
"Aku pun sejak tadi memikirkan hal itu, sepertinya memang udah saatnya untuk kita jujur sama kedua orang tua kita." Balas ku.
"Cuma masalahnya, aku merasa takut untuk mengakuinya." Timpalnya.
"Ya sama, aku pun merasakan takut seperti itu. Terus gimana dong,"
"Ya udah lah, gimana pun hasilnya nanti kita harus hadapin bareng-bareng."
"Karena aku yang lebih dulu ingin hubungan kita ini berlanjut seperti sekarang ini." Lanjut Daffa.
"Ya udah, kalau aku sih gimana kamu aja."
Setelah itu kami hanya terdiam masing-masing, sambil melihat suasana malam hari di halaman belakang rumah ku.
Aku hanya merasa takut saja, orang tua kami tidak akan merestui hubungan kami berdua.Karena kami masih baru mau selesai sekolah, apalagi ibu pernah bilang beliau tidak akan mengijinkan aku untuk pacaran terlebih dulu.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Sekitar jam 9 malam, Daffa pun pamit untuk pulang. Sepeninggal dia, aku hanya duduk di kursi yang ada di ruang tengah sambil menonton TV.
"Kenapa kamu kak? Kok habis di apelin malah lemes kayak gitu."
"Aduh dek, tolong jangan ganggu kakak kali ini. Kakak lagi pusing," timpal ku.
"Ih lagian siapa yang mau ganggu juga. Itu sih, pusing di bikin sendiri." Lanjutnya berlalu meninggalkan aku.
"Ya ampun, punya adik gitu banget ngomongnya."
"Udah mah lagi pusing, di tambah kelakuan adik ku itu. Makin tambah pusing aja ini kepala," ucap ku sambil memijit kepala ku.
Baru saja aku merasa tenang, Al udah balik lagi sambil membawa mangkuk di tangannya. Dia pun kemudian duduk tepat di samping aku, sambil menikmati mie yang dia bawa.
" Apa lagi? Kamu mau buat kakak makin pusing lagi." Bentak ku.