
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
"Aku tidak tahu, tadi aku tidak sempat memperhatikan kemana perginya dia." Jelas Dio.
Mendengar hal itu, karena khawatir aku pun langsung beranjak dari duduk ku dan langsung mencari keberadaan Daffa.
Terakhir aku lihat dia berjalan mengarah ke belakang gedung kelas XI, di sana memang ada taman yang biasa di gunakan oleh siswa lain untuk bersantai juga saat istirahat. Namun karena posisinya berada di belakang, jadinya tidak banyak siswa yang ke sana dan hanya ada beberapa saja.
Setelah berjalan beberapa meter, akhirnya aku sampai dan langsung mencari keberadaan nya.
"Mana dia," gumam ku sambil melihat ke sekeliling taman itu.
Sampai akhirnya aku bisa lihat dia berada di balik pohon manggis dan tengah duduk sendirian. Melihat hal itu, perasaan ku langsung lega dan berlari untuk menghampirinya.
"Daf......." Panggil ku.
Dia tampak terkejut melihat kehadiran ku,mungkin di pikirnya aku tidak tahu kalau dia kabur ke sini.
"Ran, bagaimana kamu tahu....."
"Ya tahu lah, tadi aku lihat kamu lari ke arah sini."
"Maaf yah, karena keegoisan ku. Jadinya kamu harus ikut menanggung kesulitan ini."
"Maksud kamu apa sih, janganlah bicara seperti itu. Ini bukan hanya salah kamu saja, aku pun salah karen tidak punya keberanian untuk speak up." Balasnya.
Aku pun ikut duduk di samping dia dan memegang tangannya. Mungkin ini udah saat nya untuk kami mengungkapkan hubungan yang tengah kami jalin saat ini.
Aku tidak lagi merasa takut akan kecaman dan pandangan orang nanti, saat mereka mengetahui aku dan Daffa saat ini tengah berpacaran.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Sekitar jam 10 an, kami pun di ijinkan untuk pulang lebih awal oleh wali kelas kami. Karena memang sudah tidak ada lagi kegiatan yang harus kami ikuti juga.
Dio pun menyarankan untuk pergi ke salah satu cafe yang biasanya kami kunjungi berempat saat ada waktu senggang.
Selama perjalanan menuju cafe nya, aku bertekad untuk mngakui hubungan kami pada Agnes dan Dio lebih dulu.
"Daf....."
"Iya kenapa?"
"Ini mungkin kesempatan untuk kita, buat kasih tau Agnes dan Dio prihal hubungan kita ini." Jelas ku.
"Apa kamu yakin?" Tanyanya meyakinkan.
"Tentu saja, aku yakin."
"Baiklah, kalau itu sudah jadi keputusan kamu."
Tanpa terasa kami pun sampai di cafenya,setelah menempuh perjalanan sekitar 10 menitan.
Setibanya di sana Dio lah yang tampaj semangat dan langsung memesan beberapa makanan untuk kami makan siang.
"Kalian kenapa sih, dari tadi aku perhatikan kalian berdua seperti kebingungan kayak gitu." Ucap Agnes.
"Iya....."
"Kenapa?" Sambung Dio.
"Ada yang ingin aku katakan sama kalian," sahut Daffa langsung.
"Hah, apa itu? Enggak biasanya kamu." Timpal Dio.
"Jadi gini, sebenarnya aku bukan bermaksud untuk menyembunyikan semua ini dari kalian berdua. Hanya saja aku merasa belum punya waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini pada kalian."
"Apa sih, kok aku merasa tegang lihat kamu bicara seperti itu." Ucap Dio.
"Iya," sambung Agnes.
"Jadi sebenarnya aku dan Rania tengah berpacaran saat ini. Lebih tepatnya saat acara study tour kemarin, kami mulai menjalin hubungan ini." Lanjut Daffa.
"Hah......."
Mereka berdua tampaj terkejut,terlihat dari reaksi yang di tunjukan oleh mereka bersua saat ini.
"Tidak, apa yang di katakan Daffa itu semuanya benar." Sambung ku.
"Aku tahu ini pasti buat kalian terkejut, makanya sejak awal kami menjalin hubungan ini. Hal seperti inilah yang buat aku takut untuk mengungkapkan hubungan kami ini," jelas ku.
"Ya ampun, kenapa kalian nggak bicara sejak awal saja. Asal kalian tahu, kami sama sekali tidak keberatan atau menentang hubungan kalian. Yang ada aku sendiri merasa senang kalau pada akhirnya kalian jadian." Balas Agnes.
"Sejujurnya yah, aku dan Agnes sudah menduga-duga juga. Tapi ya syukurlah, kalau pada akhirnya kalian udah jadian sekarang ini." Sambung Dio.
Melihat reaksi mereka bedua, aku sama sekali tidak menyangka. Aku pikir mereka bakalan menentang dan tidak bisa menerima hubungan aku dan Daffa saat ini.
"Selamat yah, meskipun udah telat." Lanjutnya.
"Selama ini kalian pasti kesulitan, karena harus menyembunyikan semua ini bukan hanya dari kami saja tapi dari orang-orang juga."
"Tapi asal kalian tahu, aku dan Dio udah menyadari ada kejanggalan antara kalian berdua." Jelas Agnes.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Sepulang dari cafe, kami langsung di hadapkan oleh ibu ku yang sudah menunggu ku di rumah.
"Kak......!" Seru Al yang langsung menyambut ku di depan rumah.
Melihat raut wajahnya itu, aku sudah tahu pasti saat ini ibu udah pulang.
"Apa sebaiknya aku ikut kamu masuk saja sekarang?" Tanya Daffa.
"Jangan dulu,"
"Biar aku saja yang menjelaskannya sama ibu, sebaiknya kamu pulang saja."
"Kamu yakin? Aku udah siap untuk menghadap ibu kamu kok."
"Bukan seperti itu Daf......"
"Baiklah, aku mengerti maksud kamu."
Daffa pun kemudian ijin untuk pulang,sedangkan aku langsung masuk ke dalam rumah untuk menghadap ibu.
Ternyata ibu tengah duduk di ruang TV sambil merawat bunga yang biasa ibu tata di dalam pot.
"Bu........"
Beliau pun langsung melihat ke arah ku, dari tatapannya aku bisa lihat beliau sudah tidak lagi semarah saat waktu terakir kali aku bersama ibu saat itu.
"Oh kamu udah pulang,"
"Itu ibu udah siapkan makan siang untuk kamu." Ucapnya.
Aku tahu ibu sebenarnya masih kesal pada ku saat ini, hanya saja beliau berusaha untuk tenang dan tidak menunjukannya. Perlahan aku pun mulai mendekati ibu dan duduk di sampingnya.
"Kenapa?"
"Ada yang ingin aku katakan sama ibu,"
Ibunya yang tadinya tengah memotong tangkai bunga pun, langsung berhenti dan meletak kan guntingnya.
"Masalah yang kemarin itu?" Tanya nya kembali.
"Iya bu,"
"Aku tahu ibu pasti marah setelah mendengar hal itu. Harusnya aku kasih tau ibu lebih dulu, dibandingkan orang lain."
"Tapi ini malah ibu dengar dari orang lain, nggak langsung dari aku." Lanjut ku.
"Hem......."
"Ibu awalnya memang merasa kesal saat itu. Tapi setelah ibu pikir lagi, kamu pasti punya alasan kenapa nggak langsung bicara jujur sama ibu dan mengakui hal ini sama ibu sejak awal." Jelas ibu.
"Iya bu, soalnya aku takut."
"Aku pun tidak yakin bakalan mendapat persetujuan dari ibu. Apalagi saat ini aku baru aja mau keluar sekolah,yang harusnya aku fokus untuk menata masa depan aku. Ini aku malah......."
"Nak, ibu tidak akan menentang apa yang kamu kehendaki. Kamu udah dewasa sekaran ini, kamu udah tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik untuk kamu." Jelas ibu.