Secret Love

Secret Love
Aku Sayang Kamu



"Ki?" ucapnya saat melihat Kiana terduduk dengan deraian air mata di wajahnya. "K-kamu kenapa?" Bian cukup keheranan pada apa yang terjadi dengan istrinya itu. Melihat Kiana yang menangis dalam diamnya semakin membuatnya merasa bersalah meski ia tak tahu apa yang sudah terjadi.


"Al..." ucap Kiana lirih sampai tangisnya semakin pecah saat melihat bayinya dalam pangkuan Bian. "Al..." Kiana semakin tergugu dalam tangisannya.


Bian mencoba menelan salivanya yang terasa berat. Dia dapat menduga karena setelah ini ia akan menjadi sasaran amarah karena telah membawa Al pergi tanpa sepengetahuan Kiana.


Cepat-cepat Bian menghampiri Kiana yang terlihat semakin tergugu dalam tangisnya seolah tengah merasakan sakit dalam dirinya.


"Kiana," ucap Bian saat mencoba meraih raga lemah yang tengah bergetar hebat karena isak tangisnya. "Maafkan saya yang membawa Al pergi keluar tanpa seizin dari kamu." ungkapnya seraya menenangkan Al yang mulai menangis karena mendengar ibunya menangis juga.


Kiana bergeming dalam tangisnya yang lirih. Ia menatap Al kemudian meraih putranya itu untuk ia dekap ke dalam pelukannya.


"Anak ibu, jangan tinggalin ibu, Nak. Ibu nggak akan sanggup jika kamu pergi tinggalkan ibu sendirian di sini." ucapnya yang takut akan kehilangan Al dalam hidupnya.


"Ibu takut kehilangan kamu. Kamu adalah satu-satunya harta berharga yang ibu miliki. Kamu adalah lentera hidup ibu yang sanggup memberikan ibu kekuatan untuk bertahan dalam dunia yang kejam ini."


"Ibu sayang Al..." lanjutnya lirih seraya menciumi wajah bayinya yang mulai memerah.


"Ki, maafin saya, maaf..." Bian menunduk lesu merasa bersalah karena telah membuat Kiana bersedih seperti itu.


"Jangan pernah lakukan itu lagi, saya nggak suka!" ucap Kiana ketus pada Bian.


"Maaf,"


"Bapak tahu Al sangat berharga bagi saya?"


Bian mengangguk pasrah. Ia tahu apa yang dilakukannya itu salah dan tak membela dirinya sama sekali.


"Begitu pun dengan saya, Al sangat berharga bagi saya," balas Bian mengungkapkan isi hatinya yang terdalam dengan setulus hati.


"Maka jangan buat saya marah dan semakin benci pada apa yang Bapak lakukan."


Bian mendongak untuk melihat wajah Kiana yang dapat ia lihat menyiratkan air muka kesedihan yang mendalam, jauh berbeda dari tutur kata yang keluar dari mulut manisnya.


"Al menangis sewaktu dia terbangun dari tidurnya. Saya bingung harus berbuat apa karena saya melihat kamu sedang kesusahan dengan pekerjaan itu." ungkapnya seraya menatap Al yang mulai tenang dalam pangkuan Kiana.


"Saya bawa dia keluar sebentar untuk menghirup udara segar dan dia menyukainya." Bian tersenyum miris mengingat kembali pada apa yang dia lakukan bersama putra kecilnya berkeliling kampung menyapa para warga sembari memperkenalkan dirinya sebagai ayah dari bayinya.


"Tapi saya lupa membawa Al tanpa sepengetahuan kamu itu salah. Maaf sudah membuat kamu begitu khawatir pada keadaan Al." ucapnya sendu.


"Saya nggak bisa jauh dari Al," lirih Kiana kembali dengan raut sendunya.


"Saya tahu, Ki. Bukan maksud saya membuat kamu sedih karena Al saya bawa pergi begitu saja dari sisi kamu. Saya cuma ingin membantu mengurusinya sebagaimana seorang ayah yang peduli pada anaknya. Saya begitu sangat menyayanginya. Saya ingin sekali menebus semua dosa-dosa yang telah lalu karena melalaikan kalian. Saya ingin sekali menemaninya tumbuh besar sebagaimana saya tidak bisa menemaninya selama ini. Saya ingin selalu ada di sampingnya di setiap waktu karena saya ingin menjadi seorang ayah yang baik untuknya."


"Saya mohon, Kiana, beri saya kesempatan itu. Saya janji nggak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan itu jika kamu berkenan berikan. Saya mau melihat Al tumbuh sehat dengan segala kelimpahan yang saya berikan. Kebahagiaan yang saya janjikan padanya di setiap bisikan di telinganya. Janji seorang ayah yang di berikan untuk putra tercintanya. Al, dia berhak mendapatkan itu semua, Ki. Cukup sudah dia menderita selama ini karena saya. Beri saya kesempatan itu." melasnya memohon pada Kiana.


"Dengan membawa Al dari hidup saya, begitu?"


Bian menggeleng keras, "Nggak, bukan seperti itu. Saya nggak akan pernah membawa Al pergi dari sisi kamu. Saya janji, Ki."


"Lantas dengan cara seperti apa yang akan Bapak lakukan?" mata Kiana menatap sendu wajah Bian dengan penuh rasa iba dan kasihan pada kemungkinan yang telah terjadi selama ini pada pria itu. Meski bibirnya berkata tidak, tapi entah mengapa hatinya selalu mengatakan iya.


"Kia..." ucap Bian tercekat. Dia tak dapat lagi menahan perasaannya kali ini. Cukup sudah ia menderita karena jauh dari anak dan istrinya. Dia tidak dapat hidup tanpa mereka. Dia tidak mau kehilangan untuk kembali bersama dengan kedua orang yang dia sayangi.


"Kamu, kita, kita bertiga, Ki. Saya mau kita bertiga bersama. Saya sangat menginginkan kita bersama-bersama. Saya nggak mau masa sulit dan keterpurukan itu kembali jika kamu dan Al pergi lagi dari hidup saya. Saya nggak mau itu kembali terjadi."


Dahi Bian melipat. Ia mengikuti arah tatapan mata Kiana yang berujung pada benda pipih miliknya yang menyala.


"Mama?" gumam Bian terpaku. Dengan cepat dia meraih benda tersebut dan menjawab panggilan dari ibunya yang ternyata sudah terhubung cukup lama.


"Ma? I-iya ini Bian. Iya, Bian minta maaf karena baru bisa menjawab panggilan Mama. Bian sibuk, Ma, maaf... Bian pasti pulang tapi nggak sekarang. Bian masih banyak urusan yang harus Bian selesaikan dulu. Maaf udah buat Mama khawatir. Bian sayang Mama, jangan berbicara seperti itu. Bian janji bisa jaga diri kok, nggak bakalan berbuat aneh dan bikin Mama sedih lagi. Mama sabar ya, tunggu Bian pulang." ucapnya menjawab panggilan dari ibunya yang baru saja terputus.


"Kami akan pulang, cucu Mama akan segera pulang..." gumamnya seraya mengusap wajahnya yang lelah.


"Separah apa?" tetiba suara Kiana bergema di ruangan itu.


Bian menoleh pada Kiana dengan Alis yang kembali bertaut. "Maksud kamu apa, Ki?"


"Sakit, separah apa sakit yang Bapak alami selama ini?" ucapnya datar seraya tak lepas menatap mata merah Bian yang salah tingkah ditatap seperti itu oleh Kiana.


"Ki," Bian sungguh tak dapat lagi berkata-kata. Bagaimana Kiana tahu jika ia sakit selama ini? Sakit karena seorang gadis yang pergi meninggalkan dirinya hingga ia terpukul dan jatuh dalam keterpurukan.


"Bapak sakit?" ucapnya lagi dengan suara bergetar. "Kecelakaan itu-- Bapak sakit..."


"Kiana, s-saya,"


"Bapak sakit karena saya?"


"Ki..."


Kiana memutar balik kilas ingatannya tatkala kalimat menyakitkan itu keluar dari mulut wanita jahat itu kembali terngiang-ngiang di telinganya.


'Kamu adalah seorang anak pembawa sial, anak haram yang tidak diinginkan oleh siapapun di dunia ini. Tidak ada yang peduli padamu, Kiana, karena kamu adalah seorang anak haram yang tidak tahu diri!' kalimat menyakitkan yang mampu membuat Kiana semakin rapuh dan hancur kembali berputar dibenaknya.


"Anak haram. Ya, saya hanya seorang anak haram pembawa sial," tuturnya dengan tatapan kosong.


"No..." Bian menggeleng pelan seraya meraih raga ringkih itu untuk ia bawa ke dalam pelukannya. Tubuh Kiana bergetar hebat karena tangis yang kembali pecah karenanya. Lagi dan lagi ia membuat Kiana bersedih dan menelan kekecewaan. Bian mendekap erat Kiana yang sesenggukan dalam dada bidangnya seraya mengecupi kepala Kiana untuk menenangkannya.


"Semua itu karena saya. Saya yang menyebabkan semua itu terjadi. Saya memang pembawa sial. Tak pantas hidup karena saya hanya seorang anak haram yang membawa sial bagi siapapun. Bapak jangan dekat-dekat saya, pergi Pak, pergi! Jangan mendekati seorang sial ini!" Kiana meronta berusaha melepaskan diri dari dekapan erat Bian.


"Nggak, Ki, saya nggak mau. Bukan salah kamu, semua karena saya. Saya yang sudah membuat kamu menderita, hidup kita menderita karena saya. Bukan kamu, jadi please jangan menyalahkan diri kamu seperti ini..." sekuat tenaga Bian menahan raga Kiana agar tak dapat lepas dari belitannya. Dia berusaha menenangkan Kiana yang terus menyalahkan dirinya sendiri seolah trauma kembali menghantui dirinya.


"Saya anak haram, saya anak pembawa sial, saya nggak pantas hidup di dunia ini. Saya seorang sial yang hina..." lirihnya yang mencoba memukuli dirinya sendiri hingga Al yang berada dalam pangkuannya kembali meraung menangis.


"Ki, Kiana, sadar Ki..." Bian menangkup wajah kacau Kiana dengan kedua tangannya seraya menatap kedua irisan bening yang merah penuh dengan ketakutan dan trauma masa lalu.


"Kiana dengar saya oke? Saya mohon Ki, tenang. Ya Tuhan Kiana..." Bian ikut berkaca-kaca pada apa yang terjadi pada istrinya. Suaranya bergetar pilu melihat keadaan Kiana yang begitu rapuh. Gadis itu jauh lebih terpuruk dibandingkan dirinya selama ini.


Kiana nya yang malang, Kiana nya tersayang. Bian merasa pedih melihatnya. Ia memberanikan diri untuk lebih mendekatkan dirinya, meraih benda ranum dan lembut itu untuk ia kecup, mencoba memberikan ketenangan pada Kiana yang tengah putus asa dari hati ke hati berharap jika apa yang dilakukannya itu tepat.


"Tolong jangan siksa aku seperti ini. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu. Nggak peduli kamu terlahir seperti apa dengan segala kekurangan dan kelebihan yang kamu punya, yang terpenting kamu harus tahu kalau aku sayang sama kamu, Ki. Aku sayang banget sama kamu..."


"Jangan..." Kiana menggelengkan kepalanya yang berada dalam rangkuman tangan Bian.


Bian membelai lembut wajah Kiana seolah membingkai wajah cantik itu dengan menyalurkan sejuta penuh perasaan yang mendalam yang bersarang di dalam hatinya.


Sekali lagi, Bian mengecup bibir ranum milik Kiana dengan mata saling terpejam menikmati kehangatan berakar rindu yang terpendam.


***