Secret Love

Secret Love
Menjadi Pilihan



"Kak?" panggil Fira saat melihat Bian melintas melewati ruang keluarga dimana dirinya berada. Bian berjalan gontai dengan wajah muram. Terlihat lesu seperti banyak sekali beban dalam kepalanya. "Kakak baik-baik aja?" tanyanya lagi mengkhawatirkan kakaknya.


Bian menoleh sesaat pada Fira. Ia memasang senyum kecil meski adiknya pasti tahu jika ia sedang tidak baik-baik saja.


"Mama?" Fira kembali bersuara. Dan kini ibunya lah yang menjadi sorotan perhatiannya.


"Mama baik, udah nggak nangis lagi. Kakak udah kasih pengertian. Ada Papa yang lagi nenangin Mama." jawab Bian seraya mengambil duduk di samping adiknya.


Fira mengangguk, "Jadi?"


Bian menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan adiknya.


"Harus bisa lebih meyakinkan." balas Bian lesu.


Fira kembali mengangguk pelan, "Kakak udah ngelakuin yang terbaik. Yakinkan semua orang kalau apa yang mereka pikirin itu nggak benar. Aku selalu percaya sama kakak,"


"Makasih, Ra." seulas senyum ia terbitkan seraya mengusap kepala Fira.


"Lalu Kiana? Apa Kakak udah memberitahu semuanya tentang Kiana?"


Bian terdiam saat mendengar nama Kiana kembali berdengung di telinganya. Apa ia sanggup mengungkap segalanya dalam satu waktu yang bersamaan. Memberitahui keadaan mengenai mereka berdua. Melihat kedua orang tuanya yang bersedih karena ulahnya saja membuat Bian tak berdaya, apalagi sampai menambah beban yang lebih berat lagi. Tak bisa dia bayangkan akan sehancur apa wanita yang telah melahirkannya itu. Bukan saat ini. Ya, Bian membutuhkan waktu yang tepat untuk membicarakan semuanya.


"Kak?"


Bian menggelengkan kepalanya. Sulit sekali rasanya untuk melepas beban tersebut yang bersarang dalam dirinya.


"Bagaimana pun Kak Bian harus memberitahu Mama Papa secepatnya perihal masalah kalian berdua. Kakak nggak bisa membuat Kiana menderita lebih lama. Apa kakak berniat akan menyembunyikan ini selamanya? Melepas tanggung jawab sama Kiana? Kak Bian nggak mikir kalau punya adik perempuan. Gimana kalau apa yang terjadi sama Kiana juga terjadi sama aku? Kakak tega melihat aku akan menderita tanpa ada kepastian selama hidup aku?"


"Nggak, Ra... Bukan seperti itu, kakak hanya membutuhkan waktu yang tepat untuk bisa menjelaskan semuanya. Bukan berarti kakak mengabaikan Kiana begitu aja, tapi kakak butuh waktu," ucap Bian frustasi.


"Tapi kapan? Sekarang atau bahkan nanti akan sama saja, bukan? Aku nggak bisa menyimpan semua rahasia berat ini selama yang kakak mau."


"Tapi nggak sekarang, Ra. Kakak mohon kamu buat ngerti posisi kakak yang serba salah. Terutama Mama, Kakak nggak mau melihat Mama semakin sedih dan kecewa. Kakak takut terjadi sesuatu dengan mereka jika tiba-tiba memberitahui sesuatu hal besar dalam satu waktu. Kakak nggak mau menambah beban pikiran mereka dengan masalah rumit kakak ini."


Fira terdiam mendengar penjelasan dari kakaknya. Seketika ia membenarkan apa yang Bian ucapkan. Mereka harus memikirkan keadaan kedua orang tuanya. Egois memang jika memaksakan kehendaknya untuk menekan kakaknya memberitahu semuanya. Tapi bagaimana dengan Kiana? Dias seorang perempuan. Dia dapat merasakan bagaimana dengan perasaan Kiana untuk menjalani hidup setiap harinya. Kesedihan, kekecewaan, keputusasaan, bahkan kehancuran kerap pasti Kiana rasakan.


"Apa yang bakalan kakak lakuin sekarang?"


"Menemui wanita itu. Menyelesaikan masalah yang dia buat. Kakak udah muak dengan tingkah menyebalkannya. Kakak pastikan, wanita itu akan mendapatkan balasan setimpal karena sudah berani membuat Mama menangis."


Bian mengusap wajah lelahnya dengan frustasi. Ia menangkup dengan kedua tangannya, menekuk badan ke bawah seraya menghembuskan napas kasar yang menyesakkan dadanya.


"Kiana?" tanya Bian yang baru ingat akan keberadaan gadis itu. "Kiana dimana, Ra?"


"Pergi,"


"Pergi? Kemana?" raut wajah Bian seketika berubah cemas.


"Keluar." balas Fira pendek. Namun melihat kakaknya malah mengerutkan dahinya, ia tahu jawabannya itu pasti kurang memuaskan. "Mini market depan kompleks."


"Ngapain?"


"Ya mana aku tahu, Kak. Aku nggak bawel kayak Kakak ya yang harus tahu setiap kegiatan orang di rumah ini." dengus Fira sebal.


"Ra?" tekan Bian.


Fira memutar kedua matanya malas. Ia lebih memilih diam menutup mulutnya dari pada harus meladeni kakaknya yang sedang terserang virus kebucinan. Melihat Bian yang duduk gelisah tak tenang, Fira mengerucutkan bibirnya mengalihkan pandangan mata ke arah televisi yang sedang menyala menampilkan tontonan acara televisinya.


"Bucin," gumamnya pelan.


***


"Aduh!" pekik Kiana mengaduh saat seseorang tak sengaja menabraknya dari arah belakang sehingga barang belanjaannya terjatuh begitu saja.


"Maaf, maaf," ucap seseorang yang berada di belakang Kiana dan langsung menghampiri untuk membantunya. "Maaf, saya nggak sengaja." ucap orang tersebut membantu mengambil barang-barang Kiana yang terjatuh.


"Yoan!" panggil seorang wanita pada seorang anak laki-laki yang tengah tertawa melihat kejadian yang ada di depan matanya. "Mama bilang jangan kemana-mana."


"Lucu, Ma... Ahahaha!" anak lelaki tersebut menertawakan dua orang yang sudah berhasil dia jahili dengan mendorong seorang laki-laki ke arah Kiana. Pria kecil itu terkikik puas dengan apa yang sudah ia lakukan.


"Aduh, Maaf Mas, Mbak, anak saya suka jahil." ucap wanita tersebut meringis atas kelakuan anaknya.


"Nggak apa-apa, Mbak." balas Kiana dengan senyuman.


"Yoan, ayo minta maaf sama kakaknya,"


"Nggak mau! Aku nggak mau minta maaf sama mereka! Weww..." anak tersebut menjulurkan lidahnya ke arah Kiana dan seorang laki-laki yang tak sengaja menabraknya tadi.


"Yoan!" panggil lagi wanita tersebut pada anaknya yang berlari meninggalkan mereka. "Astaga anak itu!" lanjutnya. "Saya minta maaf atas kelakuan anak saya, Mas, Mbak. Saya udah nggak habis pikir dengan kenakalan anak saya itu."


"Kamu tidak apa-apa? Ada yang sakit?" tanya laki-laki tersebut pada Kiana memastikan. Kiana pun menggelengkan kepalanya. "Sudah tidak apa, kami baik-baik saja." ucap laki-laki tersebut pada seorang wanita yang merupakan ibu dari anak kecil tadi.


"Oh syukurlah. Sekali lagi saya minta maaf ya, kalau begitu saya permisi." ucap wanita tersebut dengan kesungguhan hati. "Yoan! Jangan lari-lari, sayang..."


Kiana terkekeh melihat tingkah anak dan ibu muda tersebut, begitu pun dengan laki-laki yang berada di sampingnya itu.


"Oh iya, saya minta maaf karena sudah tidak sengaja menabrak kamu tadi. Kamu tahu anak itu yang--"


Kiana tersenyum, "Namanya juga anak kecil Mas, nakal sedikit harus kita maklumi."


"Kamu benar, anak kecil harus kita maklumi kelakuannya, hehe..." ucapnya seraya mengusap tengkuk. " Walaupun terkadang mereka sangat menyebalkan!" gumamnya pelan.


"Ya?"


"Hem? Owh, t-tidak, bukan apa-apa, hehe..." sahutnya salah tingkah. Kemudian laki-laki tersebut memasukkan tangannya ke dalam saku celananya di saat merasai dering ponsel miliknya berbunyi. "Ya Ma? Iya, ini Aaric sebentar lagi selesai kok. Iya Mama... Ya sudah Aaric bayar dulu ke kasir ini. Mama tunggu di mobil aja nggak usah nyusulin aku kesini. Iya Mama sayang,"


Kiana tak sengaja mendengar percakapan laki-laki tersebut pada sambungan teleponnya. Kiana menahan senyumnya dengan mengulum bibir rapat-rapat.


"Mama saya, dia sedang menunggu di mobil. Mmm, yakin kamu tidak apa-apa?"


"Yakin, saya nggak apa-apa kok,"


Laki-laki tersebut menganggukkan kepalanya. "Oke, Saya permisi duluan untuk membayar ini," tunjuknya pada barang belanjaan miliknya sendiri.


"Silahkan," balas Kiana pada laki-laki tersebut yang mulai meninggalkannya setelah sebelumnya melemparkan sebuah senyuman ramah padanya.


"Oh ya," ucap laki-laki tersebut kembali membalikan badannya menghadap Kiana. "Apa tidak sebaiknya sekalian saja?"


Kiana mengerutkan dahinya tak mengerti dengan ucapan laki-laki tersebut. "Maksudnya?"


Tak membalas, laki-laki tersebut mengambil keranjang milik Kiana begitu saja, lalu membawanya ke arah kasir bersamaan dengan barang miliknya.


"Mbak, tolong di hitung semuanya ya." pintanya pada salah satu kasir.


"Mas, itu belanjaan saya." ucap Kiana tak habis pikir dengan apa yang dilakukan laki-laki tersebut.


"Iya, saya tahu." jawabnya santai.


"Mas ambil belanjaan saya begitu aja, saya--"


"Sekalian saya yang bayar,"


"Tapi,"


"Sudah tidak apa, ini bentuk permintaan maaf saya sama kamu."


"Tapi saya udah bilang nggak apa-apa, Mas. Mbak, keranjang yang ini biar saya yang bayar saja."


"Udah Mbak, hitung saja semuanya." tak mau kalah laki-laki tersebut tetap kukuh dengan pendiriannya seraya memberikan kartu pembayaran miliknya. "Ini," ucapnya lagi memberikan barang belanjaan milik Kiana.


"Mas, saya ganti ya?"


"Tidak perlu, saya ikhlas dan senang bisa membantu."


"Tapi saya masih punya uang,"


"Saya tahu, dan bisa kamu gunakan untuk membeli keperluan kamu yang lain."


"Tapi--"


"Ya sudah, saya duluan kalau begitu. Mama saya suka ngambek kalau ditinggal lama-lama." ujarnya dengan menerbitkan senyuman manis yang membuat Kiana melongo saat laki-laki tersebut pergi begitu saja.


Laki-laki yang bernama Aaric tersebut dengan gesitnya melangkah berjalan untuk menghampiri ibunya yang sedang menungguinya di dalam mobil yang terparkir lama sejak tadi.


"Nah, Mama anteng banget di tinggal sendiri di mobil," ucap Laki-laki tersebut terkekeh saat masuk mendapati ibunya yang sedang asik memainkan gadgetnya.


"Lama kamu Ar, dari mana aja?" balas ibunya menatap anaknya dengan seksama.


"Dari dalam lah Ma, ya terus dari mana lagi."


"Mama kira kamu ngeluyur ke tempat lain," balas ibunya membalas kekehan Aaric.


"Mana ada, yang ada itu Mama bakalan ngomelin aku." ujar Aaric bercanda, mereka tertawa menertawakan tingkah laku mereka sendiri.


"Mama tanya serius ini, kok lama? Kamu ngapain aja di dalam? Jangan bilang kamu ketemu gebetan baru di sana,"


"Astaga, Ma..." Aaric geleng-geleng mendengar kalimat ibunya. "Ya nggak dong, emangnya cari gebetan itu gampang kayak beli permen. Tadi aku tuh nggak sengaja nabrak cewek gitu, ya gara-gara anak kecil rese sih."


"Terus?"


"Ya nggak terus-terusan." jawab santai Aaric sembari mulai menghidupkan mobilnya.


"Nggak percaya Mama," timpal ibunya menyipitkan mata.


Aaric berdecak pelan, sejurus kemudian ia kembali terkekeh melihat ibunya. "Iya ya udah, terusnya mirip kayak Mama."


"Mirip Mama?" ibunya tak percaya.


"Heem, mirip kayak Mama, Cantiknya." Aaric terkekeh melihat raut muka ibunya yang menekuk karena ulahnya.


"Kamu ini ada-ada aja, Mama ini udah tua."


"Serius Aaric. Lagian masih kecil Ma, perkiraan kalau ada sih seumuran adek kayaknya, iya kayak adek. Cocoknya ya jadi adik Kakak, bukan jadi calon istri." tuturnya tanpa ada yang dilebih-lebihkan. Namun Aaric tetiba terdiam saat tak sadar ia mengucapkan sesuatu. Ia pun menoleh pada sang ibu yang berada di sampingnya. Dapat dilihat oleh kedua matanya, ibunya kembali bersedih saat ia mengucapkan satu kata yang selama ini tak pernah lagi ia sebut sejak ia kecil.


"Ma..." lirih Aaric menatap ibunya yang berkaca-kaca menahan tangis.


"No Ar, it's okey. Mama baik-baik aja, bukan salah kamu, sayang..." ungkapnya seraya menghapus setitik air mata yang meniti di ekor matanya.


"Maafin Aaric Ma, Aaric bukan Kakak yang baik buat adek, Aaric nggak bisa jaga adek buat Mama, maafin Aaric Ma..." ucapnya langsung memeluk sang ibu yang mana pasti merasakan kerinduan yang sangat membuncah di hatinya selama ini. Sama seperti dirinya.


"It's okey, it's okey, Ar. Kita sudah berusaha sebaik mungkin sejauh ini. Mama bangga sama kamu, Mama bangga,"


Aaric tetap masih memeluk ibunya. Saling menguatkan satu sama lain saat menahan kerinduan di dalam diri mereka selama ini. Seperti inilah yang dirasakan oleh mereka setiap hari, setiap minggu, bulan, bahkan bertahun-tahun memendam kerinduan pada satu sosok yang tak akan pernah mereka lupakan. Karena satu sosok itu akan selalu berada senantiasa hadir di dalam hati dan pikiran mereka. Hidup kuat mengakar di dalam jiwa mereka.


"Papa pasti nunggu kita, Ar. Bisa kita pergi sekarang? Mama yakin Papamu itu terus uring-uringan di tinggal lama sendiri di rumah sakit."


"Iya, Ma." Aaric menganggukkan kepalanya setelah sebelumnya mencium kening ibunya. "Kita berangkat, aku udah nggak sabar bikin rusuh kalau ketemu Papa." kekehnya mengurai kesedihan diantara mereka.


"Ar..." peringat ibunya.


"Iya-iya, Mama..."


***


Berjalan di waktu senja tak membuat Kiana merasakan lelah dan panas karena terik sinar matahari. Keadaan mulai menggelap, tapi ia tetap menyusuri jalanan perumahan yang mulai terlihat sepi. Kiana tak merasa takut sedikitpun. Hanya ada sedikit kecemasan kalau-kalau orang rumah mencarinya meski sebelumnya ia sudah meminta izin untuk keluar.


Sesaat ia teringat dengan seorang laki-laki yang tak sengaja ia temui. Kiana bersyukur hari ini ia mendapatkan rizki dari seorang yang baik padanya. Semoga apa yang sudah diberikan kepadanya dapat di balas oleh kemurahan Tuhan untuk laki-laki baik tersebut.


Setia bersama langkahnya, Kiana sungguh terkejut saat mendengar klakson mobil yang tiba-tiba saja berhenti tepat di samping jalannya. Ia mengerungkan dahinya seraya memperhatikan saat kaca jendela mobil tersebut terbuka memperlihatkan seorang wanita di dalamnya.


"Bukan kebetulan semata kalau kamu pikir kita bisa bertemu di sini. Sorry, gue nggak pernah ada niatan buat ketemu sama Lo atau bahkan berurusan sama pembantu kampungan kayak Lo," ucapnya sesumbar hati dengan tawa yang pecah, puas karena bisa mengatai Kiana.


"Mbak Linda?" Kiana memastikan jika ia tak salah melihat seorang wanita yang berada di balik kemudi tersebut.


"Ya, gue Linda. Kenapa? Kaget bisa lihat gue di sini?"


Kiana menggelengkan kepalanya. Tentu saja ia terkejut, untuk apa wanita tersebut ada di sana? Sudah dipastikan karena Bian, wanita itu pasti hendak menemui tuan mudanya.


Kiana merapatkan bibirnya. Tak menjawab karena tak mau berlarut hingga wanita itu akan kembali mengeluarkan kalimat-kalimat dari mulutnya yang membuat ia merasa sakit hati.


"Masuk," titah Linda pada Kiana untuk segera masuk ke dalam mobil mewahnya. Linda berdecak kesal karena Kiana hanya terdiam berdiri seperti keledai bodoh. Sungguh berhadapan dengan seorang gadis lugu dan dungu seperti Kiana membuat moodnya semakin jelek saja. Jika bukan karena tujuannya, sudah malas sekali berurusan dengan pembantu kampung yang bukan selevel dirinya itu.


"Lo bener-bener budeg ya, gue bilang masuk!"


"Tapi--"


"Ini berhubungan dengan keluarga Adijaya. Nama baik keluarga itu terancam tercoreng nama baiknya. Semua keputusan ada di tangan lo, masuk atau abaikan perintah gue, sekarang! Tapi gue ingatkan, kalau Lo menolak untuk ikut sama gue, gue pastikan Lo akan menyesal dan merasa bersalah karena sudah membuat nama baik mereka tercoreng. Jadi?" Linda tersenyum sinis dengan rencana liciknya. Mudah sekali ternyata mengelabui gadis bodoh seperti Kiana.


Kiana nampak berpikir menimbang untuk mengambil keputusan. Ia mendekat dengan ragu ke arah Linda. Wanita itu menyeringai puas saat Kiana membuka pintu dan masuk ke dalam mobil yang sama dengan dirinya.