Secret Love

Secret Love
Promise For Happiness



Bian baru saja datang dan langsung berlari kecil menghampiri Kiana yang ia ketahui tengah berada di dalam kamarnya.


Niat hati akan menyusul kedua gadis yang sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan yang cukup jauh dari cafe tempat ia meeting bersama klien, Bian ujung-ujungnya terkena macet jalanan ibu kota yang padat merayap di sore hari itu.


Masih dengan deru napas yang terengah karena berlari kecil dari pelataran rumah menuju area belakang, Bian akhirnya dapat menemui Kiana yang tengah terduduk di sisian ranjangnya dengan raut muka setengah meringis.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Bian panik seraya mendekat pada Kiana, meraih wajah Kiana yang kemudian ia rangkum dengan kedua tangannya.


Kiana sedikit terkejut mendapati kehadiran Bian yang datang begitu saja. Ia menggeleng cepat, menahan rasa sakit di area perut dan pinggangnya sedari tadi, terlebih dihadapan Bian saat ini. Ia tidak mau jika Bian khawatir dengan keadaannya hingga laki-laki itu akan berbuat berlebihan seperti sebelum-sebelumnya. Karena Kiana sendiri cukup merasa aneh dengan sikap Bian yang semakin hari semakin memperlihatkan perhatian sekecil apapun kepadanya. Kiana tidak mau merasa besar kepala, berharap lebih dari laki-laki itu. Hingga ia sendiri berjanji tidak akan melibatkan perasaannya pada segala sesuatu yang berhubungan dengan Bian. Karena itu tidaklah memungkinkan.


"Wajah kamu pucat Kia, kamu sakit, hem? Bilang sama saya apa yang kamu rasakan sekarang?" ucap Bian masih menelisik keseluruhan wajah Kiana yang memang terlihat pucat pasi dengan mata embunnya.


Kiana tetap menggeleng. Ia mengulas senyuman tipis untuk menenangkan tuan muda yang ada di hadapannya itu, yang kini telah menjadi suaminya.


"Saya nggak apa-apa, Bapak nggak perlu khawatir." terang Kiana.


"Nggak apa-apa bagaimana, wajah kamu pucat, Ki. Saya sudah bilang sama kamu jangan terlalu kecapean. Kalau kamu nurut sama saya dan nggak perlu ikut dengan Fira, kamu nggak bakalan sakit seperti ini. Saya nggak mau terjadi sesuatu sama--"


"Dia baik-baik aja." sela Kiana sebelum Bian menyelesaikan kalimatnya. "Saya pastikan dia baik-baik aja. Bapak nggak perlu sekhawatir itu." lanjutnya lagi.


"Tapi--"


"Saya baik, Pak. Yang bapak cemaskan saat ini, sekarang dia baik-baik saja. Milik Bapak baik-baik saja..."


Kiana tahu, jika Bian begitu sangat mengkhawatirkan bayi yang ada di dalam kandungannya. Maka dari itu, Bian terlihat begitu panik. Selama ini pun Kiana berpikir Bian yang selalu mengkhawatirkannya karena adanya bayinya. Bukan karena mengkhawatirkannya. Karena ia sendiri cukup tahu diri, siapalah dirinya. Hanya seorang pembantu di rumah tersebut, yang begitu malangnya mendapatkan musibah hingga dapat mengandung bayi milik tuan mudanya itu.


Bian terdiam. Dia tidak mengelak dengan ucapan Kiana. Dia memang begitu sangat mengkhawatirkan bayinya. Jika terjadi sesuatu pada Kiana, maka bayinya pun akan menjadi taruhannya. Bian tidak bisa kehilangan sesuatu yang sudah menjadi miliknya. Terlebih, akhir-akhir ini ia merasa memiliki hubungan yang sangat luar biasa pada bayinya. Sebuah ikatan batin antara janin yang ada dalam kandungan Kiana dengan dirinya sebagai seorang ayah. Perasaan haru yang tiba-tiba menyeruak dalam hatinya, tidak dapat ia jelaskan dengan kata-kata. Malah Bian ingin selalu berada dekat dengan Kiana, mungkin karena kehadiran sosok makhluk kecil tersebut. Itu yang dapat ia simpulkan saat ini.


Kedua tangan Bian meraih tubuh Kiana. Membawanya untuk masuk ke dalam pelukannya. Bian memeluk erat Kiana seolah ia takut kehilangan. Sesekali ia mencium pucuk kepala Kiana dengan lembut.


"Saya khawatir sama kamu, Kia." ungkap Bian seraya mengeratkan pelukannya. "Jangan buat saya tersiksa lagi dengan terus menerus mencemaskan kamu." terang Bian mengusap surai hitam panjang Kiana.


"Apa saya pantas?" desau Kiana dengan suara bergetar di balik tubuh Bian. "Saya jahat. Saya sudah membuat hati wanita lain tersakiti. Itu semua karena saya."


Bian menggeleng cepat, dia mengeratkan pelukannya jauh lebih erat dari sebelumnya.


"Nggak ada wanita lain yang tersakiti karena kamu."


"Pacar Bapak, marah karena saya."


"Bahkan dia bukan siapa-siapa saya." balas Bian.


"Saya yang menyebabkan semuanya. Pacar Bapak marah. Itu gara-gara saya yang nggak tahu diri."


"Saya udah bilang dia bukan siapa-siapanya saya. Jangan menyalahkan diri kamu, Kia. Semua ini terjadi karena kesalahan saya. Berawal karena kebodohan saya."


"Dan sekarang Bapak terpaksa terjebak dengan orang yang begitu sangat bodoh. Orang yang tidak tahu diri. Dan itu saya..." ungkap Kiana mengeluarkan rasa sakit hatinya karena sedih pada ucapan Linda beberapa waktu yang lalu.


Bian merenggangkan pelukannya, sejurus kemudian ia kembali merangkum wajah Kiana dengan kedua tangannya.


Di tatapnya kedua manik mata Kiana yang berembun memantulkan bayangan dirinya. Ia melihat gurat kesedihan dan kekecewaan pada diri Kiana yang tertahan dari dalam dirinya.


"Jika ada orang yang pantas kamu sebut jahat, maka orang itu adalah saya. Saya yang sudah membuat kamu menderita. Menarik kamu ke dalam kehidupan saya yang nggak sama sekali kamu harapkan. Terjebak bersama seorang laki-laki bejad seperti saya." terang Bian, seraya mengusap buliran air mata yang mulai mengalir di pipi Kiana.


"Maafin saya, Kia... Maafin saya. Izinkan saya untuk menebus dosa-dosa yang selama ini saya perbuat. Beri saya kesempatan agar dapat membuat kamu tersenyum karena kebahagiaan saya, bukan kesedihan karena luka." suara Bian bergetar saat mengucapkan kalimat panjangnya.


Kiana menggelengkan kepalanya. Tangisnya semakin luruh saat menyadari jika apa yang Bian katakan itu sulit untuk ia dapatkan dalam kehidupannya.


"Saya nggak pantas buat mendapatkannya, Pak. Karena seumur hidup saya, kesedihan adalah teman saya. Kebahagiaan seolah enggan berteman baik. Semua menjauh seakan tidak akan pernah bisa saya raih."


Bian terdiam. Matanya menatap lekat-lekat wajah Kiana. Ibu jarinya ia simpan di bibir Kiana, menahan agar gadis itu tidak lagi berbicara yang menurutnya tidak masuk akal itu. Kebahagiaan berhak didapatkan oleh siapapun. Termasuk Kiana. Tapi kenapa gadis itu seolah tidak mempercayai dengan adanya kebahagiaan dalam hidupnya?


Bian mengusap permukaan benda kenyal yang ranum terasa lembut dan hangat itu. Bibirnya bergerak-gerak seolah ingin melahap benda kenyal yang menggoda itu bulat-bulat. Tapi ia tahan. Ia sudah cukup membuat Kiana menangis. Ia akan membuktikan bahwa kebahagiaan itu akan ia jemput seorang diri untuk Kiana. Ia ingin memberikan kebahagiaan tersebut suatu saat nanti padanya. Bian berjanji pada dirinya sendiri.


"Saya akan membuktikan kalau kamu pantas untuk mendapatkan itu semua, Kiana..." Bian kembali mendekap tubuh Kiana dengan membelitkan kedua tangannya pada punggung Kiana.


***


"Dari mana?" tanya Fira saat mendapati Bian yang baru saja memasuki area ruang tengah yang hendak akan menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai atas.


Bian menoleh pada adiknya yang sengaja menghampiri. Fira terburu-buru mendekat saat melihat kakaknya melintas dari arah dapur.


"Belum tidur?" tanya Bian malah balik bertanya.


"Masih sore, belum ngantuk." jawab Fira sekenanya. Matanya menyipit memperhatikan Bian. "Kakak dari mana? Bukannya pulang kerja dari tadi ya? Kenapa masih pakai baju kantor?" heran Fira melihat Bian yang masih berpenampilan sama saat ia lihat terakhir kali saat kakaknya itu pulang tadi sore.


Bian gelapan, bingung harus menjawab apa. Dia pikir Fira berada di kamarnya, tapi ternyata adik perempuannya itu malah tengah menungguinya.


Tahu begini, Bian lebih baik menunggu di kamar Kiana saja meski gadis itu sudah tertidur dalam pelukannya. Bian meninggalkan kamar Kiana setelah tertidur tidak lama karena merasa badannya yang lengket dan merasai tidak nyaman karena masih memakai pakaian kerjanya.


"Kak? Ih malah bengong!" sungut Fira, kesal karena Bian malah melamun.


"Apa?" tanya Balik Bian seraya menggaruk dagunya yang tidak gatal. Bian salah tingkah di hadapan adiknya.


"Ya udah lah nggak penting juga. Lagian susah amat jawab pertanyaan adiknya." ketus Fira sembari bersidekap dada. "Aku sebel sama cewek tadi," terangnya lagi.


"Siapa?" Bian mengerutkan dahinya.


Fira menghela napasnya kasar. Ia siap bersuara lagi untuk mengeluarkan kekesalannya.


"Siapa lagi kalau pacar jadi-jadiannya Kak Bian itu! Mimpi apa semalam aku hari ini bisa ketemu sama dia. Amit-amit deh... Siapa tadi namanya, Lin-da? Iya, namanya Linda. Pacarnya Kakak itu?"


"Pacar apaan sih? Pacar siapa? Ngaco!"


Bian melengos. Ini lagi yang adiknya bahas. Bukannya tadi sore ia sudah cukup mendengar suara cempreng Fira yang bercerita kalau mereka bertemu dengan Linda. Bahkan wanita itu tidak sedikit kembali mencemooh Kiana. Bian merasa geram dan marah hanya mendengar langsung dari mulut adiknya. Maka dari itu, ia langsung menemui Kiana untuk memastikan keadaannya. Bian menyesal karena tidak dapat menyusul Kiana dan Fira di tempat itu.


"Halah, pura-pura nggak diakuin. Udah ketahuan aja skandalnya kayak gimana, sekarang baru mulai sadar gitu. Kemarin kemana aja ngurusin si pacar kakak itu? Apalagi kelakuannya tadi bikin aku emosi. Main dorong Kiana sembarangan lagi,"


"Iya udah denger... Nggak perlu kamu sebut-sebut nama dia lagi."


Fira berdecak pelan. Ia memutar matanya malas.


"Ya habisnya, makin kesel aku."


"Ya udah, nggak usah diinget-inget!" balas Bian tidak mau kalah. Sebenarnya ia sudah malas kalau semalam ini harus membahas tentang Linda.


"Penasaran aku, kok bisa-bisanya kakak sampai dibutakan cinta sama wanita yang namanya Linda itu? Sampai Mama dan Papa aja nggak mau Kak Bian dengerin. Apa sih hebatnya dia? Cantik sih okelah ya, pantes aja kak Bian bisa kesemsem gitu. Tapi berbanding terbalik sama sifat dan kelakuannya, hih... jauh-jauh deh," Fira bergidik ngeri mengingat cerita kelakuan kekasih kakaknya itu dari kedua orang tuanya.


"Giman Kak, kok bisa sih?"


"Nggak perlu tahu kamu urusan orang dewasa. Kamu masih kecil!" sungut Bian mulai jengah pada adiknya.


"Ck, ya kan aku penasaran. Lagian aku tuh udah gede gini kok." Fira mencebikkan bibirnya. "Padahal nih ya, masih banyak cewek cantik diluaran sana yang mau sama Kak Bian. Tapi masih aja menutup mata dan telinga buat cewek yang udah buat Kakak ditipu mentah-mentah. Sebenarnya sih aku kasian, tapi lebih bersyukur karena ucapan Papa itu nggak pernah salah."


"Sok tahu kamu!" Bian menoyor kepala adiknya tidak niat. Bian kemudian melangkah meninggalkan Fira begitu saja.


Fira berdecak kesal.


"Sekarang baru nyesel kan nggak denger omongan Papa? Kak, Kak Bian! Ih... aku kok ditinggalin? Aku kan belum selesai ngomong. Kakak juga belum cerita kronologinya itu kayak gimana? Kak! Kak Bian! Ih..." Fira menggerutu saat Bian menghiraukannya dengan terus berjalan seolah tak mendengarnya.


"Ngomong sana sama tembok!" sahut Bian saat menutup pintu kamarnya, yang mana membuat Fira mendengus kesal.