
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Plaaaak
"Ibuuuuuuuuuuu!" teriak Skala saat lengannya di pukul oleh tutup toples.
Ya, Skala memang sering kali mendapat penganiayaan dari wanita bercadar itu jika sudah membuatnya pusing tujuh keliling.
Ada saja sahutan dari pria itu yang membuatnya kesal hingga mengeluarkan tanduk diatas hijab panjangnya.
"Calon mantu yang mana?" tanya Ibu dengan kedua tangan berada di pinggang.
Jangan harap bisa melihat seorang Aurora yang pendiam, cantik dan anggun jika sudah di hadapan putra semata wayangnya. Bahkan suaminya saja hanya bisa menjadi penonton jika istri dan anak satu-satunya itu sedang berdebat.
"Emang anak Ibu ada berapa?" Skala balik bertanya.
"Satu," sahut Ibu dengan polosnya.
"Nah iya, berarti calon Mantu dari aku dong," balas Skala sambil berpamitan pada Ayah dan Ibu.
"Jangan marah-marah terus ya, kalau udah saatnya aku nikah, aku pasti nikah kok, Ibu yang sabar ya, dia pasti datang dengan sendirinya." Skala menangkup wajah Ibu kemudian memeluknya.
"Kamu itu laki-laki, jangan nunggu dia datang. Tapi justru kamu yang membawanya," kata Ibu yang yang bingung dengan ucapan anaknya barusan.
Gak ah, MALES!!!
Skala berangkat ke kantor dengan mobilnya sendiri, kali ini ia tak meminta Chiko untuk menjemput karna ada orang-tuanya yang datang dari luar kota.
Dengan langkah santai ia masuk kedalam perusahaan yang sudah dua tahun ini jatuh ke dalam pimpinannya
Kemana tuh si Item? pasti lagi pacaran sama calon bini gue!!
Ya, Skala Barata Rahardian Wijaya hanya bisa mengumpat dalam hatinya tanpa berniat mendekat kearah Si gadis bawah pohon yang sudah menodai dada perawannya itu.
Ia akan mengembangkan senyum sepanjang hari jika sudah melihat Qia, tapi justru sebaliknya ia akan uring-uringan tak jelas jika sudah melihat Qia bersama Fathan meski hanya sekedar makan siang di kantin.
Dan, satu yang paling di hindari Skala terjadi lagi. Ia yang baru saja keluar dari Lift mau tak mau harus berhadapan dengan pemilik hatinya.
"Hem, pagi." jawab Skala angkuh khas Direktur Utama yang melekat padanya.
Tanpa menoleh sama sekali ia melewati Qia begitu saja yang menundukkan kepalanya tanda sopan sebagaimana karyawan dan bos besarnya.
Skala yang tak kuat buru-buru masuk kedalam ruangan, dadanya berdetak ribuan kali lipat dari sebelum ia bertemu dengan Qia.
"Gila! lewat doang udah bikin gue lemes!" gumam Skala sambi memegangi dadanya sendiri.
"Belom makan kali, makanya lemes," ledek Chiko yang baru saja datang.
"Sialan lo! tau aja," sahut Skala sambil meninju lengan Sahabat yang merangkap asisten pribadinya juga.
"Nih, mama bawain makanan buat lo," ujar Chiko sambil menyerahkan satu paparbag untuk Skala.
"Alhamdulillah, enak ya punya emak banyak," kekeh Skala yang terlihat sangat senang.
Ia meraihnya dan langsung menyantap makanan yang di masak langsung oleh Mama Chiko yang sudah di anggap nya sama seperti Ibu dan Ibunnya.
"Rasanya gak pernah berubah ya, Chik."
"Iya, gue kalo punya bini mau yang pinter masak," sahut Chiko sambil terkekeh.
"Pacaran sono sama Chef, " balas Skala sambil mencibir kearah sahabatnya.
"Haha, lo mau cari bini kaya apa?" tanya Chiko.
.
.
.
Kaya Qia dong...