Secret Love

Secret Love
Chapter 38



...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Daffa di buat mati kutu seketika dengan ucapan Al barusan.


"Tenang aja bang Daf, nggak usah takut kayak gitu. Tenang aja, Al nggak bakalan bocorin rahasia ini."


"Benar Al?" Tanya Daffa meyakinkan.


"Iya, asal bang Daf mau bayar bakso pesanan Al kali ini."


"Iya deh, bang Daffa bayarin."


Bapak penjual bakso hanya tersenyum mendengar perdebatan Daffa dan Al barusan.


"Nih bakso nya sudah siap mas Al......" Ucap bapaknya.


"Makasih pak,"


"Nanti yang bayar abang aku ya."


Dengan penuh kemenangan Al pun berlalu lebih dulu, sedangkan Daffa masih terdiam karena tingkahnya.


"Enggak apa-apa mas, sekali-kali traktir calon ipar."


"Aduh apaan sih mang, kok malah ikutan ledekin saya.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Setelah selesai ganti pakaian, aku langsung turun untuk buat mie. Ternyata ibu tengah bersantai di sofa yang ada di ruang tengah sambil mendengarkan berita.


"Ran, kamu nggak beli bakso sama Al di depan?" Tanya ibu.


"Tidak ah bu, Rania mau masak mie aja."


"Lagi ingin makan mie, udah kebayang-bayang sejak tadi di sekolah.


Aku pun langsung menuju dapur untuk membuat mie nya. Bibi yang tengah menyetrika pun langsung menghampiri ku.


"Non mau apa, biar saya bantu."


"Aku mau buat mie bi,"


"Udah tidak perlu, aku mau buatnya sendiri saja. Bibi terusin aja kerjaannya, kasihan itu masih banyak."


"Benar non,tidak apa-apa? Saya merasa nggak enak.


"Iya serius bi,"


"Ya sudah kalau begitu, nanti kalau perlu apa-apa panggil bibi saja."


Bibi pun kembali ke ruangan sebelah untuk menyelesaikan kembali kerjaannya. Begitu pun dengan aku yang langsung masak menu kesukaan ku ini.


Setelah bergelut di dapur selama hampir 10 menitan, akhirnya mie rebus buatan ku pun jadi. Tidak lupa aku pun buat es jeruk kesukaan ku, untuk teman makan mienya.


"Bu......"


"Mie nya sudah jadi, ibu mau nggak?"


"Aduh, ibu tadi udah makan siang banyak nak. Kebetulan tante Sonia bawa bandeng presto ke sini tadi." Jelas ibu.


Terdengar suara pintu depan terbuka, sepertinya Al sudah kembali dan benar saja. Dia tampak sumringah berjalan mengarah ke arah ruang tengah.


"Kenapa kamu dek? Sepertinya bahagia banget."


"Kepo," timpalnya.


"Adek, kalau di tanya kakak tuh di jawab dengan benar nak. Nggak boleh kayak gitu,"


"Iya bu......"


"Aku cuma seneng aja, karena habis di traktir sama bang Daf beli bakso."


Karena terdengar aneh, aku curiga sama adik ku satu ini. Setahu aku, Daffa tipe orang yang cukup sulit ngeluarin uang buat traktir atau beli barang buat orang lain.


"Masa sih, bang Daffa traktir kamu?" Tanya ibu.


"Iya,ini buktinya." Balas Al sambil menunjukkan mangkuk baksonya.


"Tumben yah, Daffa mai bayarin jajan."


"Jangan bilang Al, ngancem Daffa lagi." Bisik ku dalam hati.


Karena takut menduga-duga dan takutnya salah juga. Sehabis makan mie, aku langsung menuju kamar untuk menanyakannya pada Daffa.


Dan benar saja dugaan itu, emang benar-benar adik ku yang satu ini. Hobi banget suka manfaatin orang.


Bisa-bisanya dia memanfaatkan rahasia hubungan aku dan Daffa saat ini.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Keesokan paginya,sebelum berangkat sekolah aku ikut bersama ibu ke rumahnya tante Safira yang merupakan tetangga kami. Beliau memang jarang sekali ada di rumah,karena beliau punya usaha rumah makan di Bandung dan hanya pulang sesekali saja.


"Bu, kenapa harus ajak aku sih? Kan bisa aja ibu sendiri atau ajak tante Sonia."


"Oh....."


Setelah berjalan sekitar 5 menitan, kami pun akhirnya sampai di rumah tante Safira. Di depan rumah kami langsung di sambut oleh beliau.


"Ayo sini masuk, aduh maaf yah. Saya minta ibu ke sini pagi-pagi, soalnya nanti siangan saya udah harus balik lagi ke Bandung." Jelas beliau.


"Ya ampun tidak apa-apa, lagi pula saya pun lagi senggang."


"Oh iya, ini barangnya. Saya minta tolong ya bu Rena, nanti pas arisan mingguan di bagikan sama yang lainnya."


"Iya bu, pasti."


"Ini Rania?" Tanya beliau menyadari kehadiran ku.


"Iya ini anak sulung saya,kalau yang kecil masih tidur."


"Ngomong-ngomong, Rania mau lanjutin kemana kuliahnya? Apa mau di sini, atau gimana?"


"Belum tahu nih, anaknya masih mikir-mikir. Kalau saya sih,ngikut saja. Apa yang jadi pilihan dia," balas ibu.


"Dengar-dengar Rania udah punya pacar, kemarin saya dengar dari tukang bakso yang biasa lewat."


Ya ampun, ucapan tante Safira barusan di kuar dugaan ku. Mendengar hal itu, ibu langsung melihat ke arah ku keheranan.


"Um, kalau masalah itu. Saya hanya bisa mendukung mengawasinya saja." Balas ibu ragu.


"Ya ampun, maaf ya. Saya malah membicarakan hal ini,takutnya Rania nya tersinggung."


"Tidak apa-apa tante,"


Setelah percakapan yang canggung barusan, ibu pun langsung berpamitan untuk lebih dulu pulang.


Aku sendiri sudah ketakutan lebih dulu, karena takut ibu ngamuk mengetahui hal itu.Sepanjang perjalanan, ibu terus diam sampai kami ke rumah.


"Bu, kenapa wajahnya kok di tekuk kayak gitu?" Tanya ayah yang tengah menyetel mesin mobil.


"Enggak, ini berat aja bawa oleh-oleh yang di kasih bu Safira." Balas ibu langsung menaruh dusnya di atas meja.


"Jangan lah masang wajah kayak gitu, ini masih pagi loh. Enggak enak ayah lihatnya,"


"Enggak enak, emangnya makanan." Timpal ibu.


"Kak, kenapa dengan ibu kamu?" Tanya ayah balik pada ku.


Aku tidak bisa menjawab dan hanya menggelengkan kepala ku saja.


"Oh iya, kamu mau bareng sama ayah atau Daffa ke sekolah hari ini? Kebetulan ayah lewat sekolah kamu hari ini." Jelas ayah.


Baru saja ayah selesai bicara, Daffa udah nongol.


"Pagi om,"


"Pagi juga tante." Sapanya.


"Pagi Daf......" Balas ibu dan ayah bersamaan.


"Ran, hayu....."


"Ah iya,"


"Ya udah, kalau begitu aku pamit dulu ya bu, ayah."


Aku langsung menyalami ayah dan ibu bergantian.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


"Daf....." Ucap ku lemas.


"Kenapa? Kok kamu ngomongnya lemas kayak gitu?"


"Tau nggak, tadi kan aku sama ibu ke rumahnya tante Safira."


"Terus?"


"Ya awalnya sih kita biasa ngomong basa-basi, cuma pas udah mau pulang tante Safira malah ngomong hal yang buat bunda marah."


"Maksudnya?" Tanyanya kembali.


"Ya itu, tante Safira bilang kalau aku udah punya pacar. Beliau tahu kabar itu dari tukang bakso keliling." Jelas ku.


"Hah?"


Daffa langsung menepikan motornya dan langsung turun.


"Kamu gak salah dengar kan?" Tanyanya meyakinkan.


"Tentu saja, aku dengar dengan kedua telinga ku ini."


"Makanya sepulang dari rumah tante Safira tadi, wajah ibu langsung di tekuk kayak gitu. Gimana ini?"