Secret Love

Secret Love
Berkilah



Bian tidak dapat menyembunyikan senyumannya di setiap berjalan melangkah memasuki rumah di pagi itu. Senyumannya terus mengembang dikala ia mengingat bagaimana dapat menghabiskan malam panjang bersama Kiana dengan suasana berbeda dari malam-malam sebelumnya.


Bukan hanya membuatnya bahagia dan senang bukan kepalang dalam satu waktu yang bersamaan. Akan tetapi Bian rasa itu sesuatu hal yang sangat memabukkan baginya. Membuat semangat adrenalinnya terpacu kembali. Ia bahkan kini merasa lebih siap untuk menghadapi tantangan hidup yang telah menunggunya di depan sana. Meski banyak sekali permasalahan pelik yang harus ia lalui.


Sungguh, Kiana adalah sumber energi yang baru dia temukan dalam hidupnya. Bian saat ini merasa jauh lebih baik dengan adanya gadis itu.


"Dari mana kamu, Bi?" tanya Bu Ajeng saat melihat anak laki-lakinya berjalan memasuki ruang keluarga dengan senyum merekah seperti sudah mendapatkan undian lotre saja.


"Mama?" Bian menghentikan langkahnya, mematung tak percaya saat melihat ibunya ada di depan mata tengah duduk di sofa bersama ayah dan juga adiknya.


'Kapan mereka balik? Wah, gawat ini...' gumam Bian dalam hati. 'Kiana?' Saat itu pun juga ia ingat dengan Kiana. Semoga saja gadis itu cepat bergegas ke dalam rumah dan beraktifitas seperti biasanya. Bisa-bisa semua orang di rumah itu akan menaruh curiga pada mereka berdua.


"Apa? Kamu kaget Mama udah pulang, hem?" lanjut Bu Ajeng menelisik keadaan putranya di pagi itu. "Dari mana?" tanya lagi Bu Ajeng yang tak sabar mendengar jawaban dari Bian.


"Mama Papa ngapain di sini? Pulang Kok nggak ngasih kabar Bian? Sejak kapan kalian pulang? Kok Bian sampai nggak tahu?" sederet pertanyaan keluar begitu saja dari mulut Bian sejurus dengan keterkejutannya pada keberadaan kedua orang tuanya yang tiba-tiba sudah ada di rumah saja.


"Ra, kamu nggak kasih tahu Kakak Mama Papa pulang?" tanya Bian pada adiknya yang langsung di jawab dengan kendikan kedua bahu adiknya.


"Kenapa? Nggak suka liat Mama pulang?"


"B-b ukan gitu Ma, Bian cuma kaget kok Mama udah nyampe rumah aja. Mama kan bisa ngasih tahu Bian kalau udah mau pulang. Biar bisa Bian jemput gitu."


"Halah, dari kemarin di telponin kemana aja?"


"Bian sibuk, Ma..." elak Bian, menghindar dari ibunya.


"Sibuk apa kamu? Sibuk nongkrong sama dua temen kamu itu? Bisa-bisanya sampai nelantarin adiknya sendirian di rumah."


Seketika Bian salah tingkah saat Bu Ajeng terus mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk Bian jawab saat itu. Bian menyipitkan matanya ke arah Fira yang mana adiknya itu malah menjulurkan lidah padanya.


"Awas kamu!" ucapnya tanpa bersuara pada adiknya.


"Wew... bodo amat!" balas Fira yang semakin membuat Bian keki.


"Ma, suruh Bian duduk dulu." sahut Pak Hardi menengahi. "Duduk Bi, kamu nggak kangen sama Mama Papa? Ayo sini, Mama Papa mau ngomong dulu." ajaknya lebih lembut menepuk-nepuk sofa kosong yang ada di sampingnya. Mau tak mau Bian menurut pada ayahnya.


"Dari mana?" tanya lagi Bu Ajeng ketika Bian sudah mengambil duduk di samping ayahnya. "Mobil ada di garasi, berarti kamu nggak kemana-mana?" Bu Ajeng menyipit penuh curiga. Apalagi melihat penampilan anaknya itu yang berantakan seperti habis bangun tidur dengan pakaian yang kusut dan sedikit basah.


"Bian--" nampak bingung harus menjawab apa. Lidahnya serasa kelu kali ini sulit sekali untuk berkelit. "Itu, Bian dari teras belakang habis bangun tidur." elaknya.


"Ngapain? Kamu tidur pake baju beginian, Bi? Udah basah, nggak ganti baju, Bian-Bian..." Bu Ajeng geleng-geleng kepala. "Sakit baru tahu rasa kamu. Awas aja kalau lagi-lagi nyusahin semua orang,"


"Nggak sengaja pulang malem ketiduran," jawab Bian sekenanya.


"Ini baju bisa basah. Abis ngapain kamu?"


"Kehujanan waktu pulang dari rumah Elang. Anaknya ulang tahun yang kesatu tahun. Ya Bian dateng lah, nggak enak juga kalau nggak dateng. Mama kalau nggak percaya bisa tanya Daniel. Atau lebih yakin bisa tanya sama istrinya Elang sekalian." kelakarnya. Kali ini Bian lebih lancar untuk berkilah.


"Pak, Bu... Maaf, ini teh nya." ucap Kiana yang tiba-tiba datang membawa nampan berisi cangkir teh panas.


"Kue kesukaan saya ini," sahut Pak Hardi menimpali. "Pas sekali temannya sama teh hangat. Makasih ya, Ki."


"Sama-sama Pak, Bu. Silahkan,"


"Kabar kamu bagaimana, Ki?" Bu Ajeng seolah lupa tengah menyidang anak sulungnya itu dengan kehadiran Kiana yang berada di tengah-tengah mereka.


"Alhamdulillah baik, Bu. Bapak Ibu sehat?" tanya balik Kiana pada sepasang suami istri tersebut.


"Alhamdulillah kami sehat. Senang akhirnya bisa pulang lagi ke rumah. Apalagi sekarang ada Fira. Makin lengkap sekarang kumpul di rumah."


"Iya dong Ma, Kiana yang nemenin aku sejak pulang kemarin. Kak Bian Mah boro-boro." timpal Fira seraya mencebikkan bibirnya.


"Wah, bagus itu. Jadi udah akrab nih ceritanya?" Bu Ajeng menanggapi anak gadisnya. Sesuai dengan perkiraannya, Fira pasti akan lebih bisa gampang akrab dengan orang baru di sekitarnya. Apalagi usia Fira dan Kiana tidak lah terpaut jauh. Dengan kepribadian Fira yang ceriwis dan Kiana yang pendiam, sudah dipastikan mereka akan cepat sekali akrab. Berbeda dengan Bian.


"Iya, Ma. Kiana sering banget loh anter aku buat keluar rumah. Aku seneng banget ada Kiana sekarang. Aku tuh serasa jadi punya kakak perempuan yang bisa aku ajak jalan, ngobrol sama curhat selain Mama jadinya."


"Seru tuh kayaknya kalau Mama ikut jalan sama kalian."


"Harus, pokoknya aku mau ajak Kiana jalan bareng Mama juga. Pasti lebih seru," ujarnya lebih bersemangat.


"Iya, besok-besok kita jalan sama-sama." jawab Bu Ajeng. "Gimana, kamu baik-baik aja di rumah? Bian nggak gangguin kamu terus kan, Ki? Bilang aja kalau dia masih usil sama kamu. Biar sekalian saya marahin ini, kesel saya sama anak satu ini."


Kiana hanya tersenyum mendengar kalimat panjang dari Bu Ajeng. Sepintas ia menyimak percakapan ibu dan anak dihadapannya itu. Kiana selalu merasa terharu dengan momen seperti ini. Ia seolah iri dengan apa yang tak pernah ia dapatkan. Kiana tersenyum, ia meletakkan cangkir di meja sesuai dengan posisi duduk dari penghuni rumah itu.


Bian yang mendengar kalimat ibunya hanya mendengus kesal, apalagi saat ini adiknya malah menertawainya di seberang sana.


"Nggak Bu, Pak Bian baik."


"Baik apanya? Anak satu ini kalau udah kumat usilnya kamu tahu sendiri kan, Ki?"


Kiana semakin tersenyum simpul mendengar kalimat menohok tentang anaknya sendiri.


"Baru aja Pak Bian bantu buat benerin selang keran halaman belakang yang bocor waktu saya lagi siram tanaman." kilah Kiana pada Bu Ajeng. Terpaksa ia berbohong berkata seperti itu. Apalagi saat memerhatikan Bian yang kebingungan saat menjawab pertanyaan ibunya.


"Makasih, Pak Bian." ucap Kiana lagi pada Bian kali ini.


"Eh, i-iya. Sama-sama. Saya suka bantu kamu kok."


Bian tertegun sesaat mendengar penuturan Kiana yang membela dirinya. Ia termenung saat Kiana berusaha menutupi semua apa yang terjadi diantara mereka. Sekelebat ia semakin merasa bersalah pada Kiana. Gadis sebaik Kiana telah ia sakiti dengan perlakuannya yang tidak dapat termaafkan.


Bian meringis pilu, apalagi saat ini ketika ia sedang menatap wajah Kiana, gadis itu memasang senyuman terbaiknya di hadapan kedua orang tuanya. Dia tahu jika dibalik senyuman itu, Kiana tengah terluka. Dia yakin Kiana tidak mau jika sampai membuat kedua orang tuanya kecewa pada gadis itu. Begitu juga dengan dirinya. Ia tidak mau sampai kedua orang tuanya kecewa padanya. Apalagi sampai melihat ibunya akan menangis menelan pahitnya kekecewaan pada anak laki-lakinya atas perbuatan yang telah ia lakukan pada Kiana.


"Ngedip Kak, ngedip. Awas matanya copot. Ngeliatin kok sampai segitunya." sindir Fira melihat kelakuan kakaknya.


Sejak tadi ia tak luput memperhatikan tingkah kakaknya itu. Lebih tepat, sejak semalam saat kepulangannya dan mencari keberadaan kakaknya, Fira menaruh kecurigaan bertambah semakin besar pada Bian. Ia bahkan terkejut tak menyangka dengan apa yang ia lihat oleh mata kepalanya sendiri.


Bian tak menghiraukan. Atau mungkin pria itu tak mendengar apa yang Fira katakan. Ia tetap masih menatap Kiana dengan tatapan sendunya. Rasa-rasanya ingin sekali ia memeluk Kiana pada saat itu juga.