Secret Love

Secret Love
Chapter 37



...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Aku pun melihat ka arah yang di maksudkan Daffa.


"Iya emang itu Nizi,"


"Syukurlah, kalau saat ini dia sudah menemukan pasangan yang baik untuknya."


"Selama ini aku mungkin hanya memberikan kenangan yang kurang baik untuk dia." Lanjut Daffa.


"Kok kamu ngomongnya kayak gitu,"


"Kamu kan nggak pernah kasih harapan sama dia selama ini."


"Ya maksud aku, selam ini hanya bisa buat dia kecewa dengan penolakan yang terus aku lakukan."


"Um......"


"Kamu nggak marah kan, aku malah bahas dia?"


"Enggak, kenapa aku harus marah. Masing-masing dari kita kan,punya masa lalu."


"Benar juga,"


Daffa pun balik menatap ku sambil tersenyum. Ada rasa tenang di hati ini, saat Daffa menatap ku seperti itu. Padahal ini bukan kali pertama dia melakukannya, mungkin karena sekarang statusnya yang berbeda.


"Hayo........"


"Kalian berdua lagi pada ngapain,pandang-pandangan seperti itu? Mencurigakan sekali." Ucapan Anhar mengagetkan aku dan Daffa.


"Ya ampun, Har."


"Hobi banget kamu ngagetin orang." Ucap Daffa.


"Lagian kaloan saling tatap kayak gitu, buat orang berpikir aneh aja."


"Ya udah terusin, gue juga numpang lewat dong."


Dia pun berlalu sambil tersenyum masuk ke dalam kelas.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


"Eh kebetulan sekali, itu kan Nathan." Ucap Agnes.


"Terus?" Balas Dio tidak mengerti.


"Ya samperin lah, aku kepo banget."


"Ya ampun Nes, kamu jangan buat reputasi aku jelek yah."


"Udah lah biarin aja. Lagian kan itu bukan urusan kita ini,nanti yang ada mereka takutnya malah nggak nyaman lagi." Jelas Dio.


"Ish padahal aku penasaran banget tahu,"


"Udah mendingan sekarang kita balik ke kelas aja. Lama-lama di sini, kamu makin aneh aja permintaannya."


Dio yang sudah merasa tidak nyaman pun, langsung menarik Agnes berjalan menuju ke arah kelas.


Sesampainya di depan kelas, langkah mereka terhenti karena mendapati Daffa dan Rania tengah berduaan.


"Ya ampun,Dio."


"Ini nih, yang makin buat aku curiga sama mereka berdua."


Mendengar hal itu, Dio malah langsung mundur sambil menarik Agnes.


"Loh kok,"


Agnes kaget karena Dio malah menariknya,kembali turun kebawah. Saat itu pula mereka tidak sengaja menabrak Anhar yang hendak ke kelas.


"Santai dong, kalian lagi ngapain sih? Ada orang nih." Ucapnya.


"Eh Anhar, aduh maaf yah. Kita nggak sengaja,"


"Makanya kalau jalan tuh menghadap ke depan, bukan malah membelakangi."


Dengan memasang raut kesal, Anhar lebih duku pergi meninggalkan mereka.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Setelah menunggu hampir 10 menit, Dio dan Agnes tak kunjung datang. Aku dan Daffa pun memilih untuk ke kelas lebih dulu,karena sebentar lagi jam pelajaran ke tiga akan segera di mulai.


Sesaat aku sudah duduk, Dio dan Agnes pun menyusul dan langsung bersiap.untuk mengikuti pelajaran.


"Kalian katanya mau beli minum tadi,"


"Ah itu, udah habis tadi di jalan."


"Maklum lah, kalau sama Dio yang ada kita malah mampir kesana kemari."


"Oh......"


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Sepulang sekolah seperti biasa, kami berempat berjalan bersamaan menuju tempat parkir motor. Di persimpangan menuju lapang, kami tidak sengaja berpapasan dengan Rachel anak kelas XI.


Setahu aku dia pun salah satu cewek yang menyukai Daffa. Meskipun tidak seintens Nizi waktu itu.


"Eh kak Daffa,"


"Halo....." Ucapnya sumringah.


"Halo juga," balas Daffa dengan wajah datarnya.


"Kak Daffa mau pulang yah?"


"Ya iya lah mau pulang. Masa iya kita menginap di sini, lagi pula kan inj udah waktunya pulang juga." Timpal Dio.


"Tidak apa-apa kak, aku sudah terbiasa dengan ocehan kak Dio seperti itu." Balas Rachel.


"Iya kita lagi jalan mau pulang. Kamu sendiri mau kemana? Nggak langsung pulang emangnya?'' Tanya Daffa.


"Enggak kak, aku mau ikut ekstra kulikuler dulu."


"Oh......"


"Ya udah kalau gitu aku duluan yah,"


"Iya kak. Hati-hati di jalan," ucapnya.


Dia pun sempat melihat ke arah ku dengan tatapan yang kurang mengenakan. Namun aku sudah terbiasa dengan perlakuan dia terhadap ku.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Sepanjang perjalanan aku malah asik dengan HP ku, membalas chat dari tante Fania.


"Ran......." Panggil Daffa.


"Hem iya...."


"Kamu kok diam saja dari tadi, kenapa?"


"Enggak kenapa-kenapa."


"Jangan bilang kamu cemburu, lihat tadi aku ngobrol sama Rachel."


"Ya ampun Daf, kepedean banget kamu. Ya enggak lah, ngapain aku cemburu."


"Lagian kan udah jelas, sekarang ini kamu udah jadi pacar aku."


"Lebih jelasnya pacar rahasia." Lanjut ku.


Mendengar hal itu, Daffa pun terkekeh.


"Kenapa? Emang iya kan."


"Iya juga sih,"


"Terus mau sampai kapan kita mau rahasiakan hubungan kita ini dari keluarga dan teman kita. Tidak mungkin untuk selamanya kan?" Lanjutnya.


"Ya tidak lah, nanti kalai aku sudah siap. Aku sendiri yang akan memberitahu mereka." Balas ku.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Setibanya di depan rumah, aku langsung di sambut oleh Al yang tengah mentap kedatangan kami berdua. Aku merasa terganggu dengan sikap adik ku ini.


"Terkecuali dia," bisik ku pada Daffa.


"Maksudnya?" Tanya Daffa heran.


"Dia udah tahu tentang hubungan kita."


"Hah?"


"Jadi sebaiknya kamu langsung pulang saja, kalau tidak mau di sidang oleh adik ku itu. Kamu tau dia itu lebih menyeramkan di bandingkan saat ibu kita marah." Jelas ku.


Mendengar hal itu, yang tadinya Daffa berniat untuk mampir ke rumah. Langsung tancap gas pulang ke rumahnya.


"Kenapa dengan bang Daffa?" Tanya Al.


"Ah itu, dia katanya udah kebelet mau buang air besar."


"Kenapa nggak mampir dulu ke rumah kita?"


"Ya kan rumah dia deket aneh,"


"Udah ah, kamu suka kepo deh."


"Mendingan sekarang kamu ikut kakak ke dalam, kita bikin mie rebus yuk." Ajak ku mengalihkan perhatiannya.


"Enggak ah, aku sengaja nunggu di luar. Soalnya aku mau beli bakso yang biasa lewat di depan rumah kita itu. Udah lama aku nggak memakannya,"


"Ah seperti itu, ya sudah kalau nggak mau. Nanti kalau udah jadi, jangan minta yah."


"Iya ih, bawel banget."


Al pun langsung menuruni tangga untuk menunggu tukang bakso kelilingnya.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Setelah menunggu sekitar 10 menitan, akhirnya tukang bakso yang di mau pun datang.


"Bang beli......." Teriak Al.


"Oh iya, sebentar."


Tukang bakso itu pun langsung menepikan motornya. Tepat saat itu pula Daffa keluar dari dalam rumahnya sambil membawa mangkuk.


"Mang......!" Serunya belum menyadari keberadaan Al.


"Bakso mang, satu porsi."


"Eh bang Daf, mau beli bakso juga?" Ucap Al dari balik gerobak baksonya.


"Al......" Ucap Daffa kaget.


"Kebetulan ada bang Daf, di sini. Bisa dong, bayarin bakso Al juga."


"Hah? Emangnya kamu nggak dinkasih uang sama tante Renata?" Daffa dengan polosnya.


"Kenapa?"


"Bang Daf nggak mau bayarin bakso Al, ya udah gampang Al tinggal bilang ibu aja. Kalau bang Daf sama kak Rania lagi pacaran saat ini." Ucap Al sedikit mengancam.