Secret Love

Secret Love
Terpesona



Kiana memandangi pantulan dirinya pada cermin yang ada di hadapannya. Saat ini, ia tak bisa lagi berkata-berkata atau sekedar bertanya untuk apalagi ia berada di tempat yang sangat asing baginya.


Sekelebatan rasa takut terus menghinggapinya sejak saat pertama kali ia menginjakkan kakinya di tempat itu. Kewaspadaan pun muncul begitu saja kala ia mengetahui bahwa tuan mudanya itu tak kunjung juga menampakkan batang hidungnya.


Kemana laki-laki itu? Bukankah wanita tadi mengatakan jika Bian sudah menungguinya lama untuk kedatangannya?


Tapi yang ada malah Kiana yang sudah menunggui Bian selama hampir 2 jam lamanya, dengan rasa ketakutan dan penasaran sekaligus berpikiran untuk apa ia bisa berada di tempat itu.


Kiana terus memandangi salah satu wanita yang sejak tadi menemaninya tanpa membuka suara sama sekali. Ingin bertanya lagi, tapi Kiana urungkan karena ragu-ragu dan segan.


Ia kembali memperhatikan pantulan dirinya pada cermin yang menghadap langsung padanya. Kiana tidak mempercayai jika apa yang dilihatnya sekarang itu benar-benar adalah dirinya.


"Cantik, Mbak." ucap seorang wanita yang menunggui Kiana sejak kedatangannya di tempat itu yang tak lain berprofesi sebagai jasa MUA.


Kiana menoleh pada wanita tersebut yang tengah melayangkan senyuman ramah seperti sebelumnya.


Wanita itu kembali mengambil alat tempur make up nya berupa brush berukuran sedang, kemudian tangannya menyapukan kembali brush tersebut dengan lembut dan telaten ke wajah Kiana yang terlihat begitu pangling dari pada biasanya karena sentuhan make up natural dari MUA tersebut.


"Pangling sekali Mbaknya. Saya baru pertama kali lho merias seorang perempuan muda yang setelah selesai di make up, wajahnya sangat cantik bercahaya." ucapnya sembari tangannya meng-touch up kembali bagian-bagian sentuhan make up-nya yang di rasa masih kurang.


"Sebenarnya saya nggak terlalu banyak kesusahan dan memerlukan banyak waktu juga untuk merias Mbaknya, karena pada dasarnya Mbaknya juga udah cantik gini kok. Cukup pakai yang natural aja, udah pas. Tapi saya mau klien merasa puas dengan kerjaan saya, apalagi ini merupakan hari terpenting buat Mbaknya. Jadi harus terlihat maksimal dan Mbaknya terlihat lebih cantik." jelasnya lagi setelah mengangkat tangannya dari wajah Kiana, dan menutup salah satu Compact powder yang sedang ia pegang.


"Hari penting? Memangnya sekarang hari apa Mbak?" tanya Kiana dengan polosnya.


Wanita itu terlihat kembali tersenyum berusaha menahan tawa. Gadis muda di depannya itu sangatlah terlihat menggemaskan dengan tingkah kepolosannya. Jika ia tidak ingat dengan salah satu pesan yang diucapkan oleh asisten kliennya itu, ingin rasanya ia menggoda Kiana. Namun sayang, dia harus menutup mulutnya agar Kiana tidak terlalu dini untuk mengetahui alasan apa gadis itu berada di tempat tersebut.


"Iya, Mbak. Setiap orang pasti memiliki hari terpenting dalam hidupnya. Dan pasti akan menjadi sebuah kenangan yang dapat di ingat selalu." tuturnya berkilah sebisanya.


"Memangnya saya mau kemana ya, Mbak? Kenapa menunggu Pak Bian saja harus berdandan seperti ini?" tunjuk Kiana pada dirinya sendiri. Ia kembali memperhatikan penampilannya yang sungguh sangat berbeda. Sampai-sampai ia terheran seperti tidak mengenali dirinya sendiri pada pantulan kaca yang memperlihatkan gambaran dirinya.


"Nanti Mbaknya bisa tahu sendiri kalau Pak Bian sudah datang. Sebentar lagi pasti akan tiba. Jadi sabar ya Mbak. Karena bukan ranah saya untuk memberitahu."


Kiana masih diliputi rasa penasaran yang amat sangat besar. Terlebih, Bian sampai saat ini belum juga datang. Ia bingung untuk apa tuan mudanya itu melakukan semua ini. Yang pasti, Kiana merasa kurang nyaman saat ini dengan pakaian dan riasan yang belum pernah ia pakai sama sekali. Sangat risih. Apalagi kalau sampai nanti benar-benar bertemu dengan Bian. Kiana tidak dapat membayangkan rasa malunya nanti. Ingin rasanya ia beranjak pergi dari tempat itu, dan pulang segera ke rumah karena debaran di dadanya semakin tidak bisa dia ajak berkompromi.


***


Bian melangkahkan kakinya panjang-panjang saat memasuki sebuah lobi apartemen mewah di salah satu bilangan pusat kota.


Ia dengan sigap memasuki sarana lift yang tersedia di gedung tersebut untuk naik ke lantai atas menuju unit miliknya, yang di ikuti oleh Dimas dan salah seorang laki-laki paruh baya berseragam dinas yang mengekorinya dari belakang.


Sebuah apartemen yang terbilang masih baru ia miliki sendiri kurang dari waktu 1 tahun dari hasil kerja kerasnya membangun bisnis yang baru saja berkembang sangat pesat. Hasil keringatnya sendiri tanpa embel-embel mendapatkan fasilitas mumpuni dari kedua orang tuanya, apalagi ia sekarang menjabat sebagai salah satu pimpinan di perusahaan keluarganya. Bian sangat berbangga hati, karena mendapatkan semua itu karena kerja kerasnya.


Disepanjang jalan, Bian terlihat begitu tegang kentara sangat terlihat sekali di raut wajahnya. Berulang kali ia membuang napasnya kasar untuk menenangkan dirinya sendiri.


Dimas yang melihat itu semua hanya tersenyum tipis. Ternyata, atasannya yang arogan, keras kepala, dan sangat menyebalkan itu bisa juga terlihat gugup untuk menghadapi sesuatu hal seperti saat ini.


Tangan Bian kembali merapihkan letak dasi yang melingkari kerah kemejanya yang dia rasa semakin mencekik lehernya. Serasa aliran napasnya tercekat, hingga ia merasakan sesak napas sampai beberapa kali menghirup udara untuk mengisi pasokan oksigen yang berkurang di paru-parunya.


Kini mereka berada di depan pintu sebuah unit milik Bian. Tetiba Bian terdiam. Tak bergerak sama sekali saat berdiri tepat di depan pintu tersebut.


"Saya gugup, Dim." ucap Bian seraya berbalik menghadap asistennya itu. Ia memperlihatkan telapak tangannya yang terasa basah oleh keringat yang membanjiri. Sungguh saat ini Bian terlihat sangat tegang.


"Bapak pasti bisa. Ayo masuk, orang di dalam pasti sudah menunggu sejak tadi." Dimas mengingatkan seraya memberi dukungan untuk Bian.


Bian masih terdiam. Kakinya semakin berat saja untuk sekedar bergerak.


"Pak, ayo masuk! Bapak mau lanjutin atau batalin aja acaranya? Kita terlambat ini. Bapak mau sampai orang yang nunggu Bapak di dalam itu kesal? Mau kalau sampai di tolak?" ujar Dimas.


Bian mendelik kesal mengarah pada Dimas. Bibirnya mencibir tanpa bersuara untuk asistennya itu.


Setelah beberapa kali menarik napas atas intruksi Dimas dan laki-laki paruh baya yang berada bersama mereka, akhirnya Bian masuk ke dalam unit dengan langkah lemas tak bertenaga.


"Selamat siang Pak Bian, selamat datang. Saya Ferry, yang sebelumnya asisten Dimas yang Bapak percayakan untuk mengurus acara hari ini. Semuanya sudah siap, Pak." ucap seorang laki-laki yang menyambut Bian saat memasuki unitnya.


Bian mengangguk, kemudian ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. Matanya seolah memindai mencari sesuatu yang seharusnya ada di ruangan itu. Tapi nyatanya ia tak mendapati apa yang diharapkannya itu ada saat berada di sana.


"Dimana dia?" tanya Bian pada pria tersebut.


"Di kamar, menunggu kedatangan Bapak sejak tadi. Saya panggilkan sekarang, Pak?"


"Hem,"


"Baik, Pak." ucap pria tersebut lalu pergi dari hadapan Bian.


"Apa acaranya bisa langsung di mulai, Pak?" tanya Bian pada pria paruh baya di sampingnya itu.


"Lebih cepat lebih baik, Pak Bian. Karena sesuatu yang menuju untuk kebaikan dalam diri kita, itu harus di segerakan. Saya salut dengan Pak Bian. Semoga langkah yang Bapak ambil saat ini, di ridhai oleh yang maha kuasa." terang pria paruh baya tersebut.


"Amin, semoga Pak." anggukan kepala Bian menunjukkan keseriusannya saat ini. Ia sungguh tidak sabar menanti acara akan segera berlangsung. Karena dapat dipastikan kegugupannya semakin saja bertambah.


"Dua orang cukup untuk menjadi saksi, saya siapkan dulu berkas-berkasnya."


Bian tak menjawab, ia tak lagi dapat berpikir apa-apa. Pikirannya melayang pada sosok yang sesaat lagi akan dia temui tak lama lagi. Telapak tangannya semakin banyak mengeluarkan keringat. Terasa basah dan licin, sampai-sampai Bian mengusapkan kedua telapak tangannya itu agar kering ke celananya.


Hingga suara derapan langkah dari beberapa orang menggema di telinganya membuat ia mendongakkan kepala untuk melihat siapa gerangan yang menampakkan diri di balik sekat dinding yang perlahan semakin mendekat ke arahnya berada.


Untuk sesaat Bian terdiam. Mematung saat melihat pada sosok yang ia lihat secara langsung oleh tangkapan kedua netra matanya.


Bian terpesona. Hingga kedua matanya lupa untuk tergerak untuk berkedip. Serasa berat, dan enggan rasanya untuk menutup mata hanya untuk berkedip walau sesaat saja.


Ia terpesona pada sosok Kiana yang datang menghampiri di dampingi oleh seorang wanita di sampingnya, menggandeng lengan Kiana dengan penuh kehati-hatian.


Senyuman tipis tertarik di bibir Bian. Melihat sosok seorang gadis yang saat ini dapat mengalihkan dunianya. Bian bergumam pelan, saat Kiana semakin mendekat, dan lebih dekat lagi padanya, dengan tatapan yang tidak dapat Bian artikan yang terpancar dari wajah gadis itu.


'Cantik, kamu sangat cantik Kiana...' gumam Bian dalam hati. Bian semakin terpesona kala membayangkan senyuman terukir di bibir ranum Kiana yang semakin menghujam jantungnya berkali-kali.


*****