
Kedua pasang mata yang ada di hadapan Bian tak henti-hentinya memperhatikan tingkah laku laki-laki itu yang membuat mereka melongo tak percaya.
Mereka benar-benar dibuat heran dengan kelakuan Bian yang diluar kebiasaannya. Dan ini cukup aneh, karena mereka tahu Bian sangat anti dengan hal-hal picisan pada umumnya yang seorang laki-laki lakukan untuk menyenangkan hati bagi orang terdekat dengannya.
"Niel, ini temen lo kan?" tanya Elang yang masih tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini dihadapannya secara langsung.
"Sepertinya ini benar sahabat kita, Lang." jawab Daniel yang bereaksi sama dengan Elang.
"Kayaknya Bian lagi ketempelan ini," ucapnya asal membalas.
Mendengar kedua sahabatnya tengah membicarakannya, Bian menoleh dengan tatapan tajam seperti Elang, mengarah tepat pada kedua pasang netra itu yang langsung terdiam kikuk.
"Apa? Sirik aja lo berdua sama gue!" sungut Bian yang kesal mendapat tatapan menyelidik dari kedua sahabatnya itu.
"Bukan sirik, Bi. Kita cuma ngerasa ada yang aneh aja sama lo." jelas kembali Elang masih dengan kekepoannya.
Bian mendelik kesal pada kedua sahabatnya, ia kembali mengalihkan perhatiannya pada seorang waiters yang sedang mencatat pesanan yang Bian sebutkan sebelumnya.
"Ada yang lain lagi, Kak?"
"Mmm... ada sate nggak?" tanya Bian dengan ponggah membuat Daniel dan Elang terkikik geli dengan pertanyaan Bian yang sungguh sangat diluar dugaan.
Pelayan tersebut meringis, merapatkan bibirnya untuk menahan tawa. "Maaf, Kak. Untuk saat ini belum ada."
"Ck, sayang banget. Padahal saya mau borong banyak kalau ada sate di sini. Ya udah deh, itu aja. Tolong segera ya,"
"Baik, Kak. Saya ulangi lagi ya pesanannya..." ucap pelayan tersebut dengan ramah. "Mohon menunggu sebentar ya, Kak."
"Hem," jawab Bian pendek.
"Gila lo, Bi. Emang tuh perut bakalan muat nampung semua makanan yang lo pesan. Apa kurang kebanyakan lo sekalian pesan tadi?"
"Bawel banget lo pada kayak nyokap gue!" sinis Bian.
"Sensitive amat Bapak Bian belakangan ini, udah kayak betina yang lagi dapet PMS." Elang seketika cemberut setelah mendapat omelan Bian.
"Lo kan udah makan, Bi. Tumben banget pake acara dibungkus segala. Nyokap bokap lo udah pulang?" tanya Daniel.
"Belum, gue lagi pengen aja bawa." jawab Bian santai. "Oh iya, Lang. Waktu dulu bini lo hamil, apa dia sering banget banyak makan gitu? Apa semua cewek hamil kayak gitu ya?" tanya Bian dengan mode seriusnya kali ini. Keingin tahuannya semakin besar setelah ia mengetahui alasan pasti ia dapat bersikap dengan begitu posesifnya selama ini.
"Banget. Nafsu makan istri gue waktu hamil bertambah 3 kali lipat dari porsi normal biasanya malah. Itu pun setelah masuk di tri semester kedua. Untuk awal-awal dia hamil, malah dia susah banget buat makan. Alasannya sih karena mual. Udah pasti itu. Istri gue morning sickness parah. Jadi ya agak susah karena harus lebih ekstra kasih perhatiannya. Manja juga, banyak maunya karena ngidam bawaan orok itu berbeda-beda."
Bian memperhatikan dengan air muka seriusnya. Ia manggut-manggut mendengarkan pengalaman sahabatnya untuk mengahadapi seorang wanita hamil. Tapi anehnya, Bian sedikit agak ragu karena adanya perbedaan yang mencolok antara apa yang dia rasakan dengan cerita Elang mengenai pengalamannya.
"Tapi, nggak semua wanita hamil bisa merasakan hal yang sama seperti yang istri gue alami. Semua gejala kehamilan itu berbeda-beda. Termasuk apa yang lo tanyain tadi." jelas Elang lanjut. "Ngomong-ngomong, ngapain lo nanyain tentang kehamilan istri gue? Lo nggak lagi ngalamin gejala kehamilan kan, Bi?"
"Sialan lo! Mana ada bisa gue hamil. Gue tuh cowok, nyuk. Yang ada gue yang harus bisa ngehamilin cewek!"
Elang berdecak pelan, ia memutar matanya malas.
"Lagian, ngapain juga nanya yang kayak gituan? Mau beranak pinak, lo? Sama siapa? Kayak yang udah ngerasain kawin aja." balas Elang tak kalah sengit. Laki-laki itu benar-benar tak habis pikir dengan tingkah Bian akhir-akhir ini. Semakin aneh dan juga sangat mengkhawatirkan. Dia takut-takut telah terjadi sesuatu pada sahabatnya itu.
"Nikah dulu, Lang." sahut Daniel menimpali untuk meluruskan perkataan Elang.
"Ya maksud gue itu. Lo musti nikah dulu, baru bisa ngerasain kawin, Bi. Jangan enaknya aja lo ngajak anak orang cuman buat dikawinin doang, ajak nikah sekalian. Baru itu namanya lelaki sejati." lanjut Elang.
"Apaan sih lo, Lang!" ketus Bian serasa tertampar dengan perkataan Elang. Sahabatnya itu memang benar, dia seolah seperti laki-laki pengecut yang mengelak dari rasa tanggung jawab pada apa yang sudah dia lakukan. Bian malu dengan dirinya sendiri. Saat ini, ia belum bisa memutuskan untuk mengambil langkah terbaik kedepannya. Ia masih gamang dan kalut dengan keadaan yang membuatnya takut untuk memutuskan sesuatu hal yang dapat mengubah kehidupannya nanti.
"Bener apa yang Elang omongin, Bi. Gue malah lebih nggak percaya sama cerita lo tempo hari." timpal Daniel yang begitu tiba-tiba berpendapat mengenai pembicaraan empat mata antara dirinya dan juga Bian beberapa hari yang lalu.
"Tunggu-tunggu, kalian ketemuan di belakang gue? Niel, lo ketemuan sama Bian? Tega banget sih lo berdua berkhianat dari gue."
"Maaf, ini pesanannya Kak." ucap pelayan yang datang membawa pesanan Bian sebelumnya.
Bian menerima pesanan dan membayar bill meja yang mereka tempati sejurus kemudian beranjak dari duduknya.
"Gue balik duluan," ujarnya sembari menepuk bahu Elang. "Lo bisa tanya apa aja yang pengen lo tahu sama Daniel, Lang. Gue yakin, untuk sekarang lo pasti orang yang bakalan peka sama apa yang sedang menimpa gue." jelasnya seraya melenggang pergi dari tempat itu.
"Niel, Bian udah cerita apa sama lo? Tega ya lo berdua nggak melibatkan gue!" sungut Elang tak sabaran.
"Lang, pasti lo bakal nggak percaya sama apa yang bakalan gue kasih tau sama lo."
"Apa?"
"Bian bakalan jadi Bapak."
"Maksud lo?"
"Iya, dia bakalan jadi seorang Bapak dari anaknya mulai sekarang."
"What?!" Eleng terkejut bukan kepalang.
***
Belum terlalu malam pikirnya. Baru juga jam 10 malam. Dan biasanya Kiana di waktu seperti ini masih belum tertidur. Gadis itu akan kembali keluar dari kamarnya, dan Bian tahu apa yang akan dilakukan oleh Kiana seperti malam-malam sebelumnya.
"Ki," panggil Bian sambil mengetuk pintu kamar Kiana berulang kali. "Kiana," ketuknya lagi, tapi pintu tersebut tak kunjung juga terbuka menampakkan sosok gadis yang ia harapkan malam untuk bertemu dengannya malam ini.
"Kemana dia, ya? Apa Kiana sudah tidur? Tapi, lampu kamarnya masih menyala. Apa dia sedang keluar?" rasa khawatir mulai menerpa dirinya kalau-kalau Kiana memang benar tidak ada di kamarnya. Tapi Arif tidak memberitahunya apapun. Atau dia salah tidak bertanya tentang keadaan ramahnya pada penjaga rumahnya itu.
Ah... Bian merutuki kebodohannya dirinya sendiri. Bian takut kalau Kiana ternyata pergi bersama laki-laki itu. Sampai kapanpun Bian tidak rela jika si tukang supir itu mendekati Kiana, terlebih berdalih melancarkan balas dendam kepadanya dengan terus mendekati Kiana yang pasti itu akan membuat Bian meradang kekesalan.
Bian berjalan mondar mandir di depan pintu kamar Kiana yang masih tertutup rapat. Laki-laki itu nampak berpikir-pikir. Helaan napas beberapa kali terdengar keluar dari mulutnya dengan kasar.
"Bapak sedang apa di depan kamar saya?" tanya Kiana yang baru saja datang dari arah dalam rumah, dengan membawa secangkir teh panas yang masih mengepul mengeluarkan asap yang harum.
"Kiana?" ucap Bian terkejut dan juga merasakan kelegaan saat melihat Kiana kini berada di hadapannya. Ternyata gadis itu tidak kemana-mana, sangat kontras dengan perkiraannya yang ternyata salah besar.
Terlihat dari cara berpakaiannya malam ini yang memakai baju tidur terusan yang panjangnya hanya selutut dan sendal rumahan yang sering Kiana gunakan setiap hari. Bian semakin yakin jika Kiana memang tak kemana-mana.
Bian mengulas senyum di bibirnya seraya lebih mendekat pada gadis itu.
"Saya pikir kamu kemana,"
Kiana menautkan kedua alisnya tak mengerti pada perkataan Bian.
"Memangnya saya kemana?" tanya balik Kiana.
"Nggak tahu. Saya pikir kamu nggak ada." ucap Bian lagi berputar-putar tak jelas. Membuat Kiana semakin bingung dibuatnya.
"Maksudnya Bapak?" Kiana semakin tak paham apa yang dikatakan oleh Bian padanya.
"Saya lega ternyata kamu ada, nggak pergi kemana-mana." ungkapnya lagi, tersirat raut wajah kelegaan dari Bian saat ini. Untung saja apa yang dia perkirakan itu semua salah dan tidak terjadi. Entah apa yang akan Bian lakukan nantinya jika mendapati Kiana bersama laki-laki lain. Mungkin hal nekad akan dia lakukan selain dari memberi bogem mentah pada laki-laki yang mencoba-coba mendekati Kiana.
"Ayo-ayo, saya punya sesuatu buat kamu. Saya yakin kamu pasti suka apa yang saya bawa." Bian menarik Kiana dan membawanya begitu saja ke dalam kamar gadis itu yang kini terbuka lebar setelah satu tangan Bian berhasil mendorong buka pintu tersebut yang ternyata tidak terkunci.
Mata Kiana melongo saat tangannya di tarik bergitu saja oleh Bian, yang ternyata membawanya masuk ke dalam kamarnya sendiri tanpa ragu dan canggung sekalipun.
*****