Secret Love

Secret Love
Sakit mendadak.



🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Yuk," ajak Chiko yang mulai gemas pada Skala, sudah lebih dari tiga puluh menit ia berdiri disamping sebuah tiang dekat kantin hanya untuk melihat Si gadis bawah pohon kesayangannya.


"Kemana?" tanya Skala tanpa menoleh.


"Samperin tuh cewek, kesel banget sumpah liat lo kaya gini!" omel Chiko yang rasanya ingin sekali memukul kepala Sahabatnya itu.


"Gue? samperin dia? sorry ya!" jawabnya sambil mencibir lalu melengos begitu saja, Chiko yang tadi hanya mengepalkan tangan menahan geram kini tanduknya mulai keluar.


Sedang Skala yang berjalan lebih dulu langsung berlari saat ia tahu Chiko mulai menyusulnya.


Aksi kejar-kejaran sampai keruangan DiRut pun terjadi, untungnya hanya beberapa orang saja yang melihat kelakuan mereka yang seperti bocah Taman kanak-kanak tersebut, dan salah satunya adalah Fathan.


"Apa lo liat-liat, Tem?"


Fathan mengernyitkan dahi, tapi ia tak sempat menjawab karna Bosnya sudah menjauh.


"Tem? apa Tem?" gumam Fathan sambil menggaruk kepalanya sendiri karna tak paham dengan yang di ucapkan Skala saat melewatinya barusan.


"Pacar Qiaaaaaaa," teriak Si cantik pada kekasihnya, tanpa ia sadar di lain tempat justru terjadi sesuatu pada jodohnya.


Gubraaak...


"Ups! napa lo?" tanya Chiko saat tiba-tiba Skala menabrak tempat sempah.


"Hati gue sakit mendadak, Chik!" jawabnya sambil memegang dadanya.


Sudah kurang lebih tiga bulan ini ia sering mengalami hal seperti itu, tiba-tiba sesak dan mencelos tak tahu waktu dan tempat apalagi alasan jelas.


"Ciri-ciri banyak dosa tuh," balas Chiko sambil tertawa juga membantu Skala untuk bangun.


.


.


.


Qia yang sudah sampai di kos'an langsung membersihkan diri setelah makan sepiring nasi dan ayam bakar yang di belikan oleh Fathan, ia tak pernah memikirkan isi perutnya karna selama ini itu semua menjadi urusan Sang kekasih. Uang jatah makannya ia simpan untuk dirinya sendiri karna semua gajinya ia kirim ke Ibu di kampung halaman dan untuk membayar kos ia biasanya mengandalkan uang lemburan atau yang tips yang kadang ia dapatkan dari staf kantor saat ia membersihkan ruangan mereka atau saat membuat makanan dan minuman.


Qia tak seperti gadis lainnya yang setiap akhir bulan akan sibuk keluar masuk Mall atau Cafe saat gajinya sudah masuk kedalam rekening. Otaknya setiap hari harus berpikir keras bagaimana ia mendapat uang tambahan lagi demi menyambung pengobatan Ibu yang sakit.


Sebagai anak tunggal dan yatim, tentu Ibu hanya bisa mengandalkan dirinya saja, meski kadang wanita baya itu sering menangis karna Sang putri sudah harus menjadi tulang punggung di usianya yang masih sangat muda, disaat gadis seusianya sibuk bermain dan mencari jati diri Qia justru harus bekerja dari pagi sampai malam, dan kini di akhir pekan pun ia harus mencari uang tambahan di salah satu resto cepat saji yang cukup jauh dari kos'annya, alasan itulah yang membuat ia nekat ingin memiliki sebuah sepeda motor meski harus dengan cara mencicil bertahun-tahun lamanya.


"Udah malem, kok belum ada kabar ya kapan motorku diantar," gumam Qia yang duduk di tepi kasurnya sambil memeluk lututnya sendiri.


Wajar rasanya jika Qia sudah tak sabar karna ini adalah salah satu impiannya sejak lama, tepatnya saat ia masih sekolah dulu agar tak sering tertidur di angkot saat berangkat dan pulang usai menuntut ilmu.


.


.


.


Sekarang motor dulu ya, mungkin nanti bisa beli mobil yang bonusnya suami..



Bisa kok..


Asal jangan minta bonus Gajah aja ya.. 🤣🤣🤣