
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Hidup rukun sejahtera adalah impian bagi semua orang dalam berumah tangga. Apalagi saat kebutuhan lahir dan bathin sudah terpenuhi secara baik, tentu seharusnya tak ada yang harus di perdebatkan lagi. Tapi, namanya ujian pasti akan selalu ada dalam perjalanan takdir semua orang entah itu perselisihan, salah paham, pengkhianatan atau mungkin rasa cemburu.
Dan anggap saja semua itu adalah bumbu agar apa yang sudah di jalani lebih terasa manis pahitnya.
Begitu pun yang di alami oleh pasangan bahagia Skala dan Qia, meski sudah memiliki Si kembar dalam pernikahan mereka tapi bukan berarti keduanya lurus lurus saja selama ini, ada kalanya mereka bertemu kerikil kecil hingga salah satunya tersandung, untungnya saja pegangan tangan mereka begitu kuat hingga bisa terus berjalan hingga akhir.
"Hari ini pulang telat lagi?" tanya Qia sambil membuatkan susu untuk Shaka.
"Hem, iya, Sayang. Tapi gak semalem kemarin, jangan kangen ya," bisik Skala, mau tak mau ia menghampiri wanita halalnya itu, ia peluk dari belakang lalu di ciumi seluruh tengkuk dan lehernya hingga Qia merasa geli sendiri.
"Janji?" tanya Qia lagi memastikan.
"Tentu, kalau aku bohong kamu boleh iris kuping ayam," kata Skala meyakinkan.
"Emang ayam punya kuping?"
"Punya kali," sahutnya sambil tertawa.
"Lagian, kenapa harus kuping ayam? kenapa gak kuping kamu yang aku iris? kan kamu yang bohong!" cetus Qia.
"Emang kamu mau, suami kamu yang gantengnya luar biasa ini gak ada kupingnya?" tanya Skala yang langsung membuat Qia menggeleng kan Kepalanya.
"Nah, jadi kuping ayam aja, Ok."
"Kalau kuping gajah gimana?" tanya Starla.
"Jangan macem macem, aku masih pengen di akui sama Mak Othor, Sayang."
.
.
.
.
"Gue janji, besok pagi SELESAI, Ok." kata Skala memohon dengan menangkupkan kedua tangannya.
"Ogah, yang ada lo dateng kaya orang gak punya dosa, sambil bilang "Oh, iya, gue ketiduran" basi banget 'kan!" sindir Chiko yang tahu betul bagaiamana kelakuan Sang Direktur Utama Rahardian Group.
Skala hanya tertawa, baginya Chiko tak hanya seorang Asisten pribadi atau juga sahabat melainkan Saudara yang beda asal usul.
Keduanya bernegosiasi hingga akhirnya Chiko luluh dan membiarkan Skala pulang lebih dulu.
Dalam hati pria tampan itu tentu kini sedang bersorak senang, tak lupa ia pun banyak mengucapkan terimakasih.
Sebelum pulang, Skala mampir lebih dulu ke sebuah toko bunga, membeli beberapa yang terlihat cantik dan pastinya di sukai oleh sang istri. Hari ini ia akan memberikan kejutan untuk wanita halalnya yang sudah sangat setia menunggu di rumah bersama dua jagoannya.
Langkah kaki panjangnya kini sudah sampai di depan Unit Apartemen miliknya. Dengan senyum yang terukir di ujung bibir, ia pun langsung menarik pinggang Qia hingga ibu dari Si kembar kaget bukan kepalang.
"Loh, kok? udah pulang, kenapa?" tanya Qia bingung.
"Takut istriku kangen kalau lama-lama di tinggal," bisik Skala yang langsung mencium kening dan memberikan apa yang sudah ia bawa juga.
.
.
.
Bagiku, mencintai adalah sebuah kewajiban. Karna rasa ini adalah titipan dari Tuhan yang harus ku sampaikan padamu.