Secret Love

Secret Love
Pengakuan Bian



"Duduk Bi, Papa Mama ingin bicara sama kamu." ucap Pak Hardi pada putranya.


Bian terdiam, ia merasakan kebingungan saat melihat ibunya yang tengah menangis tanpa suara. Baru saja ia pulang ke rumah dengan membawa lelah setelah dinas beberapa hari ini yang menguras pikiran dan tenaganya. Dan saat ini, ia disuguhi dengan pemandangan yang membuat hatinya mencelos seketika saat melihat ibunya yang menangis pilu.


"Ma, Mama kenapa?" tanya Bian yang tak mendapat jawaban langsung dari ibunya. "Mama nangis kenapa, Pa? Mama sakit?" cerca Bian yang khawatir melihat ibunya menangis tersedu di seberang sofa yang ia duduki. "Pa?" tak puas ia terus bertanya sebelum mendapatkan jawaban dari rasa cemas pada ibunya.


"Kamu tenang dulu, Mama kamu baik-baik aja." ucap Pak Hardi menenangkan putranya. "Bagaimana dengan hasil pekerjaannya, semua berjalan dengan baik?" Pak Hardi mengalihkan pembicaraan sesaat sebelum masuk ke dalam topik pembicaraan.


Bian menoleh pada ayahnya. Ia menganggukkan kepalanya. "Baik, Pa. Semuanya berjalan dengan baik." jawab sekenanya. Ia kembali memperhatikan ibunya yang masih menangis tanpa mengeluarkan suara. Bahkan sejak kedatangannya, ibunya enggan melihat kearahnya sama sekali. Membuat Bian semakin bingung dan cemas dengan keadaan ibunya.


"Ma, Mama kenapa?" tanya Bian lembut. Ia menghampiri ibunya dan meraih satu tangan Bu Ajeng untuk dia genggam. Pikiran-pikiran buruk mulai bermunculan di kepalanya. Tak pernah ia melihat ibunya menangis tersedu sejak dulu, selain pernah suatu waktu menangisinya karena Bian mengalami kecelakaan lalu lintas saat mengendarai motornya pada masa sekolah. Kaki Bian patah. Dan saat kejadian itulah Bu Ajeng terus menangisinya setiap hari.


"Mama sakit? Sakit apa Ma? Kita ke rumah sakit ya? Bian khawatir Mama kalau sakit kayak gini Ma," Bian menggenggam erat tangan ibunya. Tak tega melihat ibunya kalau sudah begini.


"Bi, ada hal serius yang harus kita bicarakan bersama-sama. Papa minta kamu jawab dengan sejujur-jujurnya. Tanpa harus ada yang kamu tutupi sedikit pun. Ini menyangkut masa depan kamu dan juga keluarga kita. Kamu mau melihat Mama kamu sedih seperti ini sepanjang hari?" tutur Pak Hardi.


Bian mengerutkan keningnya. Debaran dadanya seketika menghentaknya. Maksud dari perkataan ayahnya itu apa? Apa mungkin kedua orang tuanya sudah mengetahui semuanya? Tentang dirinya dan juga Kiana? Apa mungkin?


"B-Bian nggak ngerti apa yang Papa omongin," ucapnya mulai gelisah. Anak keringat membubuhi dahinya yang seketika ia merasakan hawa panas di sekujur tubuhnya. Ia terus menelan salivanya yang terasa amat susah. Sepintas bayangan Kiana melintas di benaknya.


"Sebenarnya Papa udah nggak sanggup untuk memperlihatkan ini semua, Bi. Tapi apa boleh buat, kebenaran harus segera terungkap agar kita tidak terjebak oleh siasat licik orang-orang tersebut."


"Pa, bisa tolong langsung ke inti apa yang ingin kalian sampaikan. Bian nggak ngerti Papa ngomong apa dari tadi." ucap Bian meski ia sendiri tak kalah merasakan kegelisahan yang sangat luar biasa. Ia sedang berada di ujung tanduk. Apa mungkin semua ini sudah saatnya terbongkar. Entahlah, melihat ibunya yang seperti itu dan ayahnya yang terus berbicara serius, Bian beranggapan jika mereka memang sudah mengetahui permasalahan dirinya dan juga Kiana.


"Bisa kamu jelaskan, apa maksud dari semua ini?" tak sampai hati, Pak Hardi memberikan ponsel milik istrinya.


Bian menerima ponsel tersebut dengan kebingungan. Hingga tak lama kemudian ia terhenyak saat menyaksikan sebuah rekaman video yang tengah memutar adegan sepasang kekasih dimana di dalamnya adalah Bian dan juga seorang wanita yang tengah melakukan aktifitas.


Linda. Wanita itu Linda. Mereka tengah bercumbu mesra. Lebih tepatnya Linda yang tengah menguasai Bian dengan sengaja melakukan hal tersebut dalam pengaruh obat beberapa waktu yang lalu.


Napas Bian tercekat, ia seolah kehilangan pasokan udara ke dalam paru-parunya sehingga ia sulit sekali untuk bernapas. Tangannya bergetar saat memegang ponsel milik ibunya itu. Raut gelisah semakin nampak di wajah bersih Bian hingga menggambarkan semburat merah menahan amarah yang siap membludak di dalam dirinya.


"Bisa kamu jelaskan sekarang apa yang udah kamu lakukan Bian? Apa harus dengan seperti ini kamu agar mendapatkan apa yang selama ini kamu inginkan? Apa dengan cara hina ini kamu pikir dapat membawa wanita itu ke dalam rumah ini?"


Bian menatap Pak Hardi yang terlihat mulai tak bisa mengontrol emosinya. Ia segera menoleh pada ibunya yang semakin terisak dalam tangisnya kala setelah mendengar kalimat dari suaminya.


"Ya, lebih baik kamu jelaskan apa yang akan menjadi pembelaan kamu saat ini. Sebelum Papa habis kesabaran untuk memukuli anak Papa sendiri yang sudah berani berbuat hina dengan wanita murahan yang kamu banggakan itu!"


"Mama salah apa Bi, sehingga kamu melakukan dosa ini..." lirih Bu Ajeng yang sudah tak kuasa melihat anak sulungnya itu.


"Ma... Bian bisa jelasin semuanya, Ma. Percaya sama Bian," ucap Bian mulai berkaca-kaca meminta kepercayaan pada ibunya dengan mencium punggung tangan Bu Ajeng.


Bian terkejut, bahkan tidak menyangka jika hal seperti ini akan terjadi padanya. Alih-alih berharap sudah terbebas dari jerat Linda, justru wanita itu menariknya semakin dalam dengan cara licik yang membuat Bian muak dan semakin benci yang mendarah daging.


"Jelaskan agar kita dapat mengambil keputusan yang terbaik setelah ini. Papa nggak mau wanita itu bertindak lebih nekad lebih dari sekedar saat ini. Bisa saja setelah ini dia memperlihatkan banyak lagi video-video kalian lainnya yang--" Pak Hardi menghela napas pelan. Mencoba mengontrol emosinya agar tak berpengaruh pada kesehatannya. Satu tangannya memegang dadanya untuk menahan rasa nyeri yang tetiba menyerangnya.


"Pa," desau Bu Ajeng khawatir saat melihat suaminya. Pak Hardi tersenyum mengisyaratkan pada istrinya bahwa ia baik-baik saja. Bian tak kalah panik mendapati ayahnya merasakan sakit seperti itu.


"Demi Tuhan, Pa. Bian nggak pernah sama sekali melakukan hal yang Papa pikirkan."


"Lalu dengan ini?" Pak Hardi mengacungkan benda pipih yang menyimpan video tersebut ke arah Bian. "Masih bisa mengelak kamu setelah semuanya dapat di lihat dari ini?"


"Bian akui itu memang Bian Pa. Tapi Bian nggak pernah berniatan untuk ngelakuin itu. Bian di jebak Pa. Bian di jebak oleh Linda malam itu. Dia ngasih minuman yang buat Bian nggak sadarkan diri. Tapi Demi Tuhan, nggak pernah Bian melakukan hal diluar batas karena saat itu Bian langsung pulang karena aku tahu Linda memang sudah menjebak Bian, Pa. Sampai--" Penjelasan panjang Bian terhenti. Ia teringat pada malam naas yang membuat seluruh kehidupannya berubah. Tentang Kiana, ia ingin hati memberi tahu tentang segala apa yang terjadi pada kedua orang tuanya. Tapi, lagi dan lagi ia tak tega membuat luka semakin dalam pada ibunya. Bian tak sanggup melihat ibunya semakin menangis tersedu-sedu saat mengetahui apa yang terjadi selama ini pada dirinya. Bian tidak sanggup menambah luka dengan masalah beruntun yang menimpa ibunya ada saat ini. Bian bimbang di tengah kekemelutannya.


"Tapi itu tidak menjamin, setelah melihat video itu membuat Papa berpikiran buruk pada anak Papa sendiri. Karena kami tidak tahu apa yang sudah kalian lakukan selama menjalin hubungan." Pak Hardi menghela napas untuk menenangkan dirinya sendiri.


Bian menggeleng menepis tuduhan yang tak pasti dari ayahnya itu.


""Nggak Pa... Bian nggak pernah melakukan sesuatu hal yang hina itu. Bian udah nggak ada hubungan apa-apa lagi dengannya setelah tahu semua kebusukannya. Bian nyesel udah nggak pernah mau dengerin Papa Mama. Iya, Bian anak nakal, tapi aku tahu batasan tentang diriku untuk tidak berbuat sejauh apa buat melakukan sesuatu."


Bian beranjak dari duduknya, mendekati ibunya untuk bersimpuh di kaki seorang wanita yang sudah melahirkan dan merawatnya dengan baik hingga sampai detik ini.


"Ma, Bian nggak bisa lihat Mama sedih seperti ini. Bian nggak mau lihat Mama terus sedih karena Bian yang nakal. Bian nyesel nggak pernah mau dengerin Mama, Bian nyesel, Ma. Mama itu kekuatannya aku, dan Mama juga adalah kelemahan aku. Mama percaya sama Bian, Ma. Bian nggak seperti itu." ungkapnya seraya memeluk kedua kaki ibunya dengan tangis yang mulai pecah dari pria itu. Bian tak pernah merasa sesakit hati ini saat kedua orang tuanya sendiri tak tahu untuk mempercayainya mengenai kebenaran yang terasa sulit untuk dia benarkan. Bian terus bersimpuh di kaki ibunya untuk memohon ampunan.


"Maafin Bian Ma, maafin Bian... Bian udah buat Mama kecewa dan sedih seperti ini. Bian minta maaf, Ma..." ucap Bian dengan suara teredam tangis yang semakin pecah. "Bian akan buktikan sama Mama, Bian nggak seburuk apa yang Mama dan Papa pikirkan," ucapnya lagi.


Pak Hardi mendekat kemudian memegang bahu Bian untuk menguatkan putranya itu. Memeluk istri dan anaknya, seolah berbagi kesedihan untuk mereka hadapi bersama.