Secret Love

Secret Love
Penolakan calon mertua.



🍂🍂🍂🍂🍂


Fathan yang sedang senang hatinya karna bisa membawa Qia ke rumahnya terus mengembangkan senyum, jika pacar dan orang tuanya itu sudah bisa saling menerima, ia akan berniat mendatangi ibu di kampung akhir bulan depan nanti. Pria tinggi dengan kulit hitam manis itu tak akan menunda rencana baiknya tersebut.


"Kamu yakin, aku gak akan di marahin mamamu?" tanya Qia saat motor sudah berhenti di depan pagar yang tertutup.


"Memang kamu buat salah apa?" Fathan balik bertanya dengan nada godaan.


Qia hanya menyunggingkan senyum kecilnya, meski sebenarnya ia tak mau berada di depan bangunan satu lantai tersebut.


Fathan langsung menarik tangan Qia, ia bawa masuk gadis kesayangannya itu setelah memberi salam.


"Aku--, aku pulang lagi deh," ujar Qia mencoba menarik lagi tangannya padahal, jelas mereka sudah didepan pintu.


"Kali ini jangan ya, cukup kemarin kamu pulang lagi," mohon Fathan.


Qia yang pasrah tak bisa melakukan apapun lagi, ia menurut dengan pandangan menunduk.


Fathan membuka pintu, masuklah mereka kendalam rumah yang terlihat sepi karna hanya ada ayah yang sedang duduk di sofa ruang tengah.


Fathan dan Qia pun segera menyalami pria baya itu yang terlihat santai karna ada secangkir kopi dan sepiring kue bolu diatas meja.


Hanya ada basa basi biasa diantara mereka karna Fathan langsung membawa Qia ke dapur, tempat dimana ada mamanya kini berada.


Ada perasaan tak enak saat Qia bertemu untuk pertama kalinya saat ini, tak ada senyum hangat dari wanita tersebut saat Qia menyapa dengan sopan dan ramah.


"Aku tinggal ke kamar sebentar ya," bisik Fathan yang hanya dijawab anggukan kepala pelan oleh Qia karna hatinya kini sedang berdebar.


"Sudah lama pacaran?" tanya Mama Fathan.


"Sudah, Bu. hampir 6 bulan," jawab Qia.


"Kamu tahu, gara-gara kamu anak saya banyak menolak gadis lain, entah itu yang memang suka padanya dan juga yang sengaja saya kenalkan. Apa hebatnya kamu? Anak yatim yang merantau seorang diri ibu kota, saking tak adanya saudara kamu dengan seenaknya memanfaatkan anak saya untuk memenuhi kebutuhanmu, kamu baru pacar, bukan istrinya," tegas wanita tersebut yang membuat Qia lemas, ia bagai di tanpar secara tak langsung oleh surga kekasihnya kini.


"Maafkan saya, Bu."


Hanya kata itu yang bisa Qia ucapkan, ia memang merasa bersalah dan malu karena yang di katakan wanita itu benar adanya, Qia seringkali memanfaatkan Fathan dalam urusan perut, tapi sumpah demi apapun, ia hanya melakukan itu. Qia justru seringkali menolak bantuan berupa uang dari Fathan, ia lebih rela meminjam uang di aplikasi online meski bunganya terasa mencekik.


"Bisa tinggalkan anak saya? saya sudah mempunyai calon menantu yang pastinya jauh lebih baik darimu. Ia baik dan seorang calon bidan."


Qia menelan salivanya dengan sangat sulit, ia begitu sakit di mohon seperti tadi, karna terpaksa meninggalkan itu bukan hal yang mudah. Ia yang seorang anak yatim kenapa begitu di rendahkan, padahal jelas disini ia seorang anak tulang punggung, harusnya ia di banggakan bukan dari remehka.


.


.


.


Bisa, asal ibu juga doakan saya untuk mendapat calon imam yang jauh lebih baik dari putra ibu, bagaimana?