Secret Love

Secret Love
Kejujuran



***


Bian membelai lembut wajah Kiana seolah membingkai wajah cantik itu dengan menyalurkan sejuta penuh perasaan mendalam yang bersarang di dalam hatinya.


Sekali lagi, Bian mengecup bibir ranum milik Kiana dengan mata saling terpejam menikmati kehangatan berakar rindu yang terpendam.


Ia rengkuh raga ringkih berbalut rapuh itu ke dalam dekapan dada bidangnya. Meraih raga mungil yang tengah menangis ke dalam pangkuannya. Menenangkan putra kecilnya itu seolah ia tahu keadaan pilu dari kedua orang tuanya.


Bian mencoba berusaha menjadi sesosok imam bagi keluarga kecilnya. Sosok pelindung bagi kedua hatinya yang selama ini hidup terlunta penuh dengan kesakitan. Berkali-kali ia menciumi pucuk kepala Kiana yang masih terisak dalam tangisnya yang ia dapat rasakan belitan tangan gadis itu semakin erat di tubuhnya.


"Maaf..." satu kata yang keluar dari mulut Kiana dalam mendefinisikan isi hatinya. Kiana semakin memeluk erat tubuh besar pria itu seolah ia takut semua ini hilang seolah hanya sebuah mimpi belaka.


"Ssst... Kamu nggak pantas menyebut kata itu, Ki. Aku yang seharusnya berkata banyak untuk meminta pengampunan darimu."


"Cukup, aku mohon cukup untuk menyalahkan diri sendiri yang dapat semakin menyakiti hatimu. Banyak kalimat yang harus kamu dengar untuk mengampuni semua dosa-dosaku."


"Jangan membawa Al pergi..." lirihnya lagi dengan segudang luka yang masih menganga nan belum sembuh sama sekali.


"Nggak akan, kita akan selalu bersama. Selamanya..." Bian mengusap air matanya sendiri yang lolos begitu saja tanpa ia minta.


"Aku janji akan selalu ada di sampingmu dalam suka dan duka mulai saat ini. Aku janji setelah ini hanya akan ada air mata kebahagiaan yang mengelilingi keluarga kecil kita." kejujuran yang ia ucap tulus dalam hatinya.


Kiana semakin memperdalam belitan tangannya seraya menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik Bian. Pria yang begitu nyaris sempurna dengan segala kelebihan pesona yang dimilikinya. Tak berbayang olehnya jika saat-saat yang dia idamkan dan harapkan akan datang tak terduga seperti halnya hari ini.


Patutkah dia untuk bersyukur?


Bian semakin intens mengecupi pucuk kepala Kiana dan berseling dengan wajah putra kecil tersayangnya. Mencurahkan segala kebahagiaan yang telah nampak menghiasi gerbang kehidupannya.


'Oh Tuhan... ucap syukur hamba lantunkan. Terima kasih karena Engkau telah mengembalikan keluarga kecilku. Terima kasih karena Engkau telah membuka hati istri hamba sehingga ia luluh dan sudi menerima diri ini.' batinnya berucap syukur pada sang pencipta.


***


Di sudut kota lainnya, di sebuah rumah megah milik keluarga Halim. Nampak suasana hangat terjalin begitu harmonis diantara para penghuninya.


Aaric duduk satu meja bersama kedua orang tuanya yang lama tak pernah ia rasakan dalam beberapa waktu terakhir ini karena kesibukannya.


"Mama senang karena bisa merasakan saat-saat kebersamaan kita seperti ini. Sudah lama sekali rasanya. Sarapan pagi dalam satu meja yang sama. Ada Papa, Aaric, dan--"


"Ma," interupsi Pak Halim pada istrinya-Sofia. Memperingatkan agar tak memulai untuk mengulik masa lalu yang sangat menyakitkan bagi keluarga tersebut.


"Dan Mama senang sekali, Pa. Itu yang ingin Mama katakan. Karena di sini ada Aaric yang menemani kita. Rasanya rumah ini kembali hangat karena putra kita kembali pulang." ungkapnya seraya menatap Aaric yang tengah terhenti dari aktifitas sarapannya untuk mendengarkan kalimat dari ibunya.


Aaric menghela napas sekilas, "Mama jangan khawatir, Aaric akan lebih sering pulang biar Mama nggak sedih lagi ya."


"Apa lebih baik kamu menetap dan tinggal di sini aja, Ar?"


"Untuk sekarang Aaric belum bisa Ma, karena pekerjaan Aaric yang mengharuskan untuk stay beberapa bulan di sana. Jadi ya mau nggak mau Aaric harus jauh dulu dari rumah. Lagian bakalan repot kalau pulang-pergi dari sini ke tempat kerja. Memakan waktu yang banyak. Yang ada nanti kerjaan Aaric bakal lama selesainya." jelasnya pada sang Ibu.


"Bagaimana dengan perkembangan kerja sama kita dengan perusahaan Adijaya?" sahut Pak Halim pada putranya.


"Sejauh ini lancar Pa, tapi masih dalam tahap proses pengembangan. Apalagi masih ada beberapa lembar kontrak kerja yang belum final untuk sama-sama kita sepakati bersama."


"Jelas keuntungan dari kerja sama ini harus benar-benar menguntungkan kedua belah pihak. Jangan sampai kita mengecewakan para klien yang bekerja sama dengan perusahaan kita. Mengingat Adijaya adalah salah satu perusahaan multi internasional yang sangat besar di negeri ini. Kita harus memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin. Terlebih Papa ingin membangun kembali hubungan yang baik di antara keluarga kita dengan Adijaya setelah terputus bertahun lamanya akibat peristiwa yang tidak kita inginkan itu terjadi."


"Ya, Aaric akan berusaha sebaik mungkin agar kerja sama ini sukses dan mengantarkan perusahaan kita semakin bersinar seperti sedia kala."


"Papa harap masa-masa keemasan itu akan ada dalam genggaman kamu, Ar."


"Semoga Pa, Aaric ingin seperti Papa sejak dulu." ungkap Pria tampan itu dengan senyuman mengembang yang memperlihatkan garis rahangnya yang tegas.


Pak Halim hanya mampu tersenyum dengan impian terbesar putranya yang tak pernah berubah sejak ia masih kecil. 'Ingin menjadi seperti Papa' itulah impian dan cita-cita seorang Aaric kecil yang ia bangun sampai hari ini. Meneruskan perusahaan keluarga adalah salah satu bakti dirinya pada kedua orang tuanya. Di samping itu ia memiliki misi rahasia yang tak pernah diketahui oleh siapapun. Termasuk kedua orang tuanya sendiri.


Ya, misi yang ingin Aaric tuntaskan demi membahagiakan kedua orang tuanya. Juga untuk mengobati rasa rindu pada satu sosok yang ia yakini masih hidup di dunia ini. Asyilla, adik kecilnya. Ia ingin menemukan Asyilla kecilnya demi kedua orang tuanya yang memendam kerinduan selama bertahun-tahun lamanya. Aaric yakin cepat atau lambat suatu saat nanti ia akan menemukan sosok adiknya itu. Sebelum penyesalan datang menghampiri ia akan terus berusaha sekuat tenaganya.


"Papa dengar Adijaya sudah tak lagi menjabat. Dan sekarang perusahaan itu dipimpin oleh putra pertamanya."


"Apa yang Papa katakan itu betul. Mama pernah bertemu dengan Bian bersama Aaric ketika di rumah sakit." ujar Bu Sofia ikut menimpali. Terlihat Aaric membuang muka kala pembicaraan menjalar pada hal yang tak ingin dia dengar.


"Oh iya, wah kebetulan sekali. Bian, putra pertama Adijaya. Papa ingat dengan anak itu. Anak laki-laki yang sangat aktif dan suka sekali usil."


"Iya, waktu kecil bahkan Bian sering berbuat usil sama Aaric. Dan Mama ingat betul bagaimana Bian suka sekali menggoda Asyilla padahal dia sendiri mempunyai adik bayi yang sama seperti Asyilla."


"Dan Aaric marah karena adiknya sering di dominasi oleh Bian. Papa sangat ingat sekali Aaric akan marah dan merajuk sampai tak mau bermain lagi dengan Bian."


"Ma, Pa, udah deh."


Bu Sofia tertawa melihat muka kusut putranya itu. "Apalagi sampai masuk kuliah mereka dipertemukan lagi di kampus yang sama. Jodoh sebagai teman memang nggak kemana ya, Ar?"


"Tapi walau bagaimana pun dulu atau sekarang kalian kembali dipertemukan sebagai teman."


"Tapi hanya sebatas teman kerja aja, nggak lebih." balas Aaric yang menyudahi acara sarapan paginya. "Aaric berangkat sekarang,"


"Lho, makannya belum habis itu, Ar." peringat Bu Sofia menunjuk pada piring milik Aaric.


"Aaric udah kenyang, Ma. Aku berangkat sekarang ya,"


"Ya udah hati-hati di jalannya. Jangan ngebut. Jangan lupa makan dan shalatnya juga."


"Iya, Mama." balas Aaric yang sudah hapal dengan nasihat ibunya itu. Aaric mencium kening sang ibunda yang kemudian mencium takzim tangan kedua orang tuanya.


"Ada apa dengan Aaric, Ma?" tanya Pak Halim saat melihat punggung kepergian putranya.


"Masalah semasa waktu kuliah."


"Masih berlanjut?"


"Seperti yang Papa lihat. Bahkan Aaric terlihat malas membicarakan Bian."


"Ada-ada saja anak kita itu, Ma. Gengsinya masih terlalu besar untuk sekedar memaafkan. Padahal itu cuma salah paham yang terus berlarut-larut."


"Sama kayak Papanya," ucap Bu Sofia pada suaminya. Pak Halim hanya membulatkan kedua matanya seraya memperlihatkan deretan gigi putihnya.


***


Adijaya Corporation.


Dimas nampak berulang kali menelan salivanya tatkala kedua pasang mata yang ada di hadapannya itu tengah menatapnya dengan tatapan penuh selidik.


"Bisa kamu jelaskan, Dimas?" ucap Pak Hardi menunggu jawaban dari asisten putranya itu.


"S-saya," lidah Dimas kelu seolah berat untuk berucap sekalipun.


"Jadi apa kamu akan terus bungkam dan tidak akan pernah memberitahu kami apa yang sedang dilakukan Bian beberapa hari terakhir ini?"


"Maaf Pak, bukan maksud saya menyembunyikan kebenarannya. Tapi--"


"Tapi apa? Kamu pasti tahu apa yang sedang Bian sembunyikan selama ini?" sahut Bu Ajeng yang mulai jengah pada pria muda sebaya putranya itu.


"Dim, kami meminta kamu untuk jujur sejujurnya. Ini demi kesembuhan Bian. Kami tidak mau anak kami kembali seperti dulu yang bisa kamu lihat bagaimana kondisinya. Terlebih kami sudah mendapatkan laporan jika Bian beberapa hari ini tidak masuk ke kantor. Lalu kemana dia? Tidak mungkin bukan bertemu dengan klien membahas pekerjaan sampai lupa pulang dan berlarut tak masuk kerja?" Pak Hardi mencoba untuk lebih tenang saat mencari informasi tentang keadaan Bian.


"Kamu bisa denger sendiri bukan, ada seseorang bersama dengan Bian saat sambungan telepon masih terhubung. Siapa dia Dimas, dimana sebenarnya Bian?" ucap Bu Ajeng.


"Maafkan saya Pak, Bu. Benar Pak Bian beberapa hari ini tidak masuk ke kantor karena ada sesuatu hal yang harus beliau selesaikan. Tapi saya tidak tahu menahu urusan apa yang sedang Pak Bian selesaikan. Pak Bian hanya menyuruh saya untuk menghandle perusahaan selama beliau tidak ada."


Pak Hardi terlihat menghela napasnya berulang kali. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa untuk mengontrol detakan jantungnya yang terasa mulai tidak teratur.


"Kamu bisa berkata lebih jujur lagi, Dimas?" ucap Pak Hardi dengan suara pelan.


"Maaf Pak, saya--"


"Kamu tidak ingin bukan sampai ikut menggiring saya dibawa ke rumah sakit dengan brangkar dan alat medis yang menempel di tubuh saya?" ucapnya mengingatkan.


"Pa..."


"Tenang Ma, Papa baik-baik aja. Papa hanya ingin melihat kejujuran dari Dimas sebagai asisten Bian yang Papa percayakan selama ini." ungkapnya menenangkan sang istri yang terlihat cemas.


Pak Hardi kembali beralih pada Dimas dengan tatapan menghunus tajam bak seperti elang.


"Sebetulnya kami sudah tahu apa yang sedang terjadi pada Bian selama ini. Kebenaran apa yang sudah ia sembunyikan dari kami dengan rahasia besar yang menimpanya. Bagaimana Dim, bisa kamu berkata yang sebenarnya dengan jujur? Karena bukan hanya Bian saja, tapi ada 2 nyawa lainnya yang harus kami selamatkan dari ketidak tahuan kami."


Dimas menelan salivanya dengan susah payah. Dia bingung harus berkata apa untuk membuka suara tentang rahasia dari atasannya itu. Apa ini waktunya dia harus berterus terang? Mengatakan dengan sejujur-jujurnya yang dia ketahui masalah pelik yang menimpa Bian.


'Maafin saya, Pak. Bukan maksud saya berkhianat sama Bapak. Sama cuma mau menyelamatkan diri saya agar tidak di pecat dari perusahaan ini.' batinnya dalam hati.


"Dim?"


"Sebenarnya..." Dimas pada akhirnya menceritakan semua apa yang dia ketahui mengenai Bian yang tentu saja menjadi beban bagi dirinya juga karena harus ikut andil menyembunyikan masalah besar atasannya itu.


Bu Ajeng tergugu menangis mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Dimas saat mendapati kenyataan pahit yang terjadi pada putranya.


*****