Secret Love

Secret Love
Kartu As Terbuka



Bian mengetuk-ngetuk jari telunjuk tangannya di atas meja seraya berpikir dalam-dalam mengingat sekelebat rekaman suara yang tertanam di kepalanya.


Itu suara Fira-adik perempuannya. Sebuah pembicaraan singkat yang terjadi diantara mereka, yang mana membuat Bian tak dapat lagi berkata-kata untuk hanya sekedar membela dirinya sendiri.


"Apa lagi sih, Ra?" tanya Bian saat Fira menahannya begitu saja yang membuat ia kesal pada adiknya itu.


"Aku kan bilang cuma mau ngomong sebentar doang sama Kakak,"


"Iya, apa?" Bian berusaha menahan kesabarannya menghadapi Fira.


Terkadang ya, adiknya itu selalu membuatnya jengkel. Sudah tahu pagi ini Bian ada rapat penting bersama jajaran direksi yang tidak dapat ditinggalkan, malah kini adiknya menahan-nahannya untuk pergi. Sudah telat karena pagi ini Bian harus memastikan Kiana baik-baik saja setelah kembali muntah-muntah. Semakin telat saja Bian untuk sampai ke kantornya karena ulah adiknya yang tidak jelas itu.


"Yakin Kakak nggak mau denger aku mau ngomong apa?"


"Ya Tuhan Fira..." geram Bian semakin kesal. Bagaimana tidak, adiknya itu sedari tadi berbicara hanya berputar-putar saja. "Mama!" panggil Bian yang sudah habis kesabaran pada Fira, memintai pertolongan pada ibunya.


"Ih... Kak Bian diem dulu. Jangan berisik! Kakak mau kalau Mama Papa atau bahkan semua orang di rumah ini tahu?"


"Maksud kamu?" Bian mengerutkan keningnya tidak mengerti pada apa yang diucapkan oleh adiknya.


"Aku tahu apa yang kakak coba sembunyiin selama ini." ucap Fira dengan wajah yang berubah serius.


Bian terhenyak. Ia mematung sesaat untuk mencerna apa yang didengar oleh indra pendengarannya.


"Aku tahu semuanya, Kak." ucapnya lagi dengan mimik wajah yang semakin serius. "Kakak kenapa tega ngelakuin semua ini. Kak Bian nggak sadar apa yang udah Kakak lakuin ini udah nyakitin hati Mama Papa?"


"K-kamu ngomong apa sih, Ra." ucap Bian yang mulai cemas dengan arah pembicaraan mereka menjurus ke hal yang selama ini Bian takutkan. Wajah Bian saat ini berubah pucat. Anak keringat mulai timbul di sekitar dahinya akibat keresehan yang tengah dia rasakan.


"Kakak sadar nggak sih udah nyakitin seseorang?"


Bian kembali tersentak saat Fira semakin menuntunnya pada apa yang di khawatirkannya. Ia menelan salivanya yang terasa kering di tenggorokan. Mencoba lebih tenang, mungkin saja adiknya akan membahas tentang hal lain. Semoga saja.


"Kamu udah ngomong ngaco pagi-pagi, Ra. Udah, Kakak harus berangkat sekarang. Ada meeting penting di kantor." kilah Bian.


"Aku nggak ngaco. Dengerin aku dulu Kak. Dia perempuan baik-baik. Dia hidup sebatang kara di dunia ini. Kenapa Kak Bian tega ngelakuin itu semua? Kakak mikir nggak sih! Terus, mau sampai kapan Kakak nyembuiin ini semua dari kita? Kasian Kiana Kak, aku juga perempuan, Mama juga. Aku bisa ngerasain gimana hancur dan putus asanya Kiana mendapatkan semua perlakuan jahat dari Kakak." jelas Fira panjang lebar mengeluarkan semua kebenaran yang dia tahu belum lama ini.


"Ra, k-kamu--" napas Bian serasa tercekat. Dadanya ikut berdetak dua kali lebih cepat dari pada biasanya. Adiknya tahu tentang semua kejahatan yang dia lakukan pada Kiana? Bagaimana bisa? Oh, apa mungkin ini hanya mimpi?


"Iya, aku tahu semuanya. Kakak terkejut aku tahu semuanya? Aku bahkan tahu kakak sering diam-diam nemuin Kiana di malam hari. Itu semakin memancing kecurigaan aku terhadap kalian. Aku paksa Kiana untuk menceritakan semuanya. Semuanya Kak!"


Terus berputar-putar dan semakin terngiang-ngiang dalam benaknya, begitu jelas suara adiknya yang membuat Bian seketika tercengang, bungkam, bahkan tidak dapat mengelak pada apa yang Fira ungkapkan padanya sesaat sebelum ia berangkat bekerja tadi pagi.


Perkataan Fira seolah menusuk ke dalam hatinya yang terdalam. Menyadarkannya kembali pada suatu kesalahan yang telah ia perbuat pada Kiana. Bian mengutuk dirinya sendiri, ia semakin tersadar telah menyakiti hati seorang perempuan yang baik seperti Kiana.


"Bagaimana, Pak?" tanya Dimas setelah selesai menyampaikan hal yang penting pada Bian.


Bian nampak termenung. Pria itu terdiam dengan tatapan mata kosongnya. Masih mengingat jelas perkataan Fira yang membekas di kepalanya.


"Pak?" panggil Dimas lagi pada atasannya. "Pak Bian?"


"Ya?" Bian tersentak dari lamunannya.


Dimas menghela napasnya pelan. Harus banyak memaklumi keadaan Bian yang memang sedang banyak pikiran.


"Secepatnya kita harus membayar sisa uang finalti dari beberapa investor yang hari ini sudah mendesak untuk segera mendapatkan hak mereka." ujarnya lagi menjelaskan untuk yang kesekian kalinya.


"Ya apa boleh buat, Dim. Kita memang harus segera menunaikannya." ucap Bian yang sudah tidak memiliki solusi untuk mempertahankan apa yang tersisa dari miliknya.


"Semangat Pak, saya yakin semua yang sudah terjadi saat ini akan ada hikmah yang begitu besar di balik semuanya untuk kita."


Bian mengesah pelan. Ia mencoba untuk lebih ikhlas dan lapang dada untuk menghadapi semuanya.


"Saya pun berharap begitu. Kadang hidup tidak tahu akan menuntun kita pada seperti apa nanti. Dan saat ini, saya sudah merasakan bagaimana jalan kehidupan tersebut." Ungkap Bian sendu.


Saat ini ia teringat kembali pada sosok Kiana. Sekelebat pemikiran kemungkinan apa yang terjadi pada dirinya dan juga Kiana jika sampai kedua orang tuanya tahu tergambar jelas di kepalanya. Apa yang harus ia lakukan jika sampai semua ini terjadi?


"Ra, Kakak mohon sama kamu jangan sampai Mama Papa tahu tentang hal ini, please..." hiba Bian pada Fira. Memohon agar adiknya itu tak memberitahu kedua orang tuanya lebih awal dari perkiraannya. Ia tidak mau sampai kedua orang tuanya terkejut terhadap permasalahan yang ia buat hingga menyebabkan hal yang tidak ingin dia harapkan akan terjadi.


"Ok, tapi aku nggak bisa janji buat menyembunyikan ini semua lebih lama dari apa yang kakak harapkan." ucap Fira. Ia tahu jika kakaknya itu pun tengah tertekan dengan masalah yang sedang di hadapinya. Walau bagaimana pun, dia menginginkan yang terbaik untuk kakaknya. Karena Fira begitu menyayangi kakak satu-satunya itu.


"Tapi Kakak harus pikirin bagaimana perasaan Mama, terutama Kiana."


Bian menganggukkan kepalanya dengan wajah yang masih terlihat sendu.


"Sejak awal kakak masih terus mencari solusi yang terbaik untuk kita berdua, Ra. Terutama untuk kebaikan Kiana kedepannya nanti."


"Aku berharap Kakak segera menemukan solusi terbaik itu. Aku nggak mau melihat dua hati perempuan di rumah ini terluka karena keputusan yang akan kakak pilih."


"Makasih, Ra. Kakak nggak tahu harus ngomong seperti apalagi. Kakak udah melakukan yang terbaik sejauh apa yang kakak bisa lakukan saat ini."


Fira tersenyum miris mendengar kalimat Bian. Ia mengesah kasar, tidak menyangka kepulangannya kali ini akan mengetahui suatu rahasia besar tentang kakaknya yang mana kedua orang tuannya pun belum mengetahuinya.


"Jadi ceritanya aku punya kakak ipar perempuan sekarang?" tanya Fira dengan sedikit menggoda Kakaknya yang terlihat muram setelah pembicaraan empat mata diantara mereka berdua. Dia tidak mau menambah beban pikiran kakaknya semakin bertambah banyak dengan tekanan demi tekanan darinya. Ia cukup mengasihi Bian karena bagaimana pun ia sangat menyayangi kakak laki-lakinya itu.


Bian menoleh pada adiknya yang tersenyum tipis seolah tengah mengejeknya. Ia ikut tersenyum, dengan sedikit kekehan membenarkan apa yang gadis kecilnya itu ucapkan.


"Ya," Bian menganggukkan kepalanya masih dengan senyumannya. Ia tidak menyangka jika Fira dapat menerima Kiana dengan begitu mudahnya. Bahkan ia sempat berpikir jika Fira akan membenci Kiana karena telah mengetahui semuanya. Bian akhirnya bisa mengucapkan syukurnya. Setidaknya satu diantara sekian banyak beban masalah yang ia cemaskan sudah terangkat dari bahunya.


"Aku cukup bersyukur karena yang menjadi kakak perempuanku adalah Kiana. Bukan wanita ular jadi-jadian itu yang aku takutkan selama ini."


Mereka berdua terkekeh mendengar penuturan Fira. Bian mengusak kepala adiknya itu, seraya kemudian memeluk Fira dengan perasaan lega dan bersyukurnya saat ini.


"Oh iya Pak, ini proposal klien yang akan kita temui besok untuk membahas salah satu proyek kerja sama kita yang berada di Bandung." Dimas memberikan dokumen penting tersebut pada Bian yang kembali tersentak dari lamunannya.


"Ventura Exco?" tanya Bian memastikan ingatannya.


"Betul Pak."


Bian mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia memeriksa sekilas proposal tersebut yang berada di tangannya.


"Aaric?" ucapnya memastikan saat membaca nama tersebut. "Bukannya Exco milik Halim Pradana?" tanyanya lagi.


"Ya, memang betul Pak. Pak Halim baru-baru ini sudah lengser dari jabatannya. Dan kini anak laki-lakinya yang menggantikan posisinya. Aaric pewaris tunggal keluarga tersebut. Beliau sebenarnya memiliki dua anak. Tapi karena musibah yang menimpa keluarga mereka, anak perempuan mereka dinyatakan hilang saat masih bayi. Sangat miris sekali."


"Sepertinya kamu sangat hapal sekali Dim dengan biografi para klien kita." Bian terkekeh, memang harus ia akui kelebihan yang Dimas miliki dalam totalitas pekerjaannya. Ya meski banyaknya sering menyebalkan, tapi dia sangat nyaman dan sangat puas dengan kinerja Dimas selama pria itu mendampinginya ketika memulai berkarir dari titik nol.


Larut dalam pembahasan proyek yang akan di lakukan oleh perusahaan Adijaya dan Exco milik Halim Pradana, tetiba suara ketukan pintu di ruangan Bian terdengar hingga memunculkan wajah Puri-sekretarisnya di ambang pintu.


"M-maaf, Pak." ucap wanita itu dengan gemetaran untuk menyampaikan sesuatu pada atasannya itu.


"Ya, ada Puri?" sahut Bian.


"Itu, saya--"


"Ada apa?"


"Maafin saya Pak. Saya udah berusaha keras untuk melarangnya masuk untuk menemui Bapak. Tapi dia nekat berbu--"


"Awas kamu, minggir! Saya udah bilang buat ketemu sama calon suami saya!" nampak seorang wanita mendorong paksa masuk sehingga Puri yang berada di depannya tersentak dan terhuyung akibat dorongan wanita tersebut


"Hey!" pekik Dimas saat melihat kejadian tersebut.


"Bian!" teriak wanita tersebut menggelegar ke seluruh penjuru ruangan. "Berengsek kamu, Bian!" umpatnya dengan napas memburu penuh amarah.


"Pak, sebaiknya--"


"Biarkan Dim, sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk mengakhirinya. Tinggalkan kami berdua, dan cepat hubungi Jo untuk tetap lebih waspada." ucap Bian sembari menatap penuh kebencian dengan tatapan mata elangnya yang langsung menusuk ke dalam kornea mata wanita yang tengah tersenyum sinis padanya.