Secret Love

Secret Love
Alarm Tanda Bahaya



Bian tersenyum ramah kala seorang wanita paruh baya menerima bungkusan plastik berisi pakaian hasil laundry Kiana yang mereka antarkan bersama di siang hari yang begitu panas serasa menyengat permukaan kulit mereka.


"Makasih ya, Mbak Kiana. Saya tunggu-tunggu dari pagi akhirnya datang juga."


"Maaf Bu baru bisa mengantarkan, anak kami rewel terus sehabis bangun dari tidurnya." ucap Bian dimana malah pria itu yang menjawab mewakili istrinya. Terlihat Kiana kerepotan menenangkan Al yang mungkin gelisah karena udara panas.


"Walah... kasihan sekali dek Al, sakit?"


"Tidak Bu, mungkin kepanasan karena cuaca. Terlebih dia baru saja bangun tidur, jadinya rewel seperti itu." jawab lagi oleh Bian yang kini ikut memperhatikan putranya.


"Iya-iya, akhir-akhir ini cuaca memang terasa panas. Ngomong-ngomong, Mas ini siapa ya? Kok saya baru lihat?"


Bian tersenyum, "Perkenalkan, saya Bian. Suaminya Kiana, ayahnya Al."


"Oh..." wanita paruh baya tersebut manggut-manggut memperhatikan Bian dari ujung kepala sampai ujung kaki pria itu sembari ber-oh ria. "Suami Kiana?"


"Iya, Bu."


"Baru pulang merantau ya? Soalnya Mbak Kiana selalu bilang kalau suaminya sedang keluar pulau karena merantau."


Bian mencerna kalimat wanita paruh baya yang ada di depannya seraya menoleh pada Kiana yang sedang menggendong Al. "I-iya, saya baru pulang."


"Wah, nggak nyangka saya Mbak Kiana punya suami yang ganteng kayak gini. Udah kayak artis bintang film aja cocoknya. Pantesan Al itu ganteng, ternyata menurun dari bapaknya yang ganteng juga. Buah jatuh memang nggak jauh dari pohonnya, ibu bapaknya cakep otomatis anaknya ikut cakep juga."


Bian hanya melongo mendengar perkataan wanita itu dengan cengiran kudanya yang mana masih terlihat mempesona bagi siapapun.


"Oalah, kok saya jadi ngomong ngelantur gini, maaf ya Mas. Oh iya Mbak, ini upah untuk laundry nya seperti biasa. Makasih lho udah mau bantu terus. Soalnya saya suka sama kerjaan Mbak Kiana. Rapih. Minggu depan tolong ambil lagi ya pakaian saya."


"Makasih, Bu. Insya Allah saya akan ambil nanti." ucap Kiana seraya mengambil upah dengan mengatupkan kedua tangannya di dada tanda terima kasih.


Bian berdeham kecil sejurus kemudian kembali membuka suaranya.


"Maaf Bu, sepertinya istri saya sudah tidak bisa menerima jasa laundry lagi." ucap Bian tetiba membuat Kiana membulatkan matanya seraya menatap tajam pria itu seolah protes dengan pernyataannya.


"Lho, kenapa? Apa upah dari saya kurang ya? Kalau begitu kenapa Mbak Kiana nggak bilang sama saya?"


"B-bukan begitu, Bu. Suami saya--"


"Kami akan pulang kampung,"


"Mendadak sekali?"


"Sebetulnya tidak, kami sudah merencanakan hal ini matang-matang jauh hari. Kami akan tinggal bersama orang tua kami. Terlebih saya khawatir jika meninggalkan anak istri saya sendiri ketika bekerja. Itu membuat saya cemas seperti sejauh ini. Iya kan sayang?" tanya Bian pada Kiana dengan panggilan yang membuat gadis itu semakin membelalakkan matanya.


Tak enak hati dengan pelanggan laundry nya, Kiana pun menganggukkan kepalanya meski terpaksa.


"I-iya, Mas..." ucapnya dengan suara pelan hampir tak terdengar. Tapi tidak dengan Bian yang dengan jelas mendengar Kiana memangilnya dengan embel-embel 'Mas' yang mana membuat hatinya seketika membuncah bahagia tak karuan.


"Wah bagus itu, apalagi Al masih bayi ya. Kalau bersama orang tua setidaknya ada yang ikut menjaga dan melindunginya. Jadi Mas nya bisa tenang kalau sedang bekerja untuk mencari nafkah buat anak istrinya. Hem... sayang sekali padahal saya udah cocok dengan pekerjaan Mbak Kiana. Tapi mau di kata apa, ini sudah menjadi keputusan Mbak sama Masnya bersama. Saya berdoa semoga di tempat orang tuanya nanti bisa lebih sukses dan banyak rezekinya, dan sehat-sehat selalu buat dedek Al nya."


"Amin... Terima kasih, Bu. Kalau begitu kami pamit." ucap Bian seraya menggandeng tangan Kiana yang sejurus kemudian mereka pergi meninggalkan rumah tersebut.


Kiana mencoba melepas genggaman tangan Bian saat mereka mulai menjauh dari tempat itu. Sempat kesusahan karena Bian yang tak mau kalah melepas tautan tangannya, tapi dengan satu sentakan keras akhirnya tautan tangan itu terlepas.


"Maksud Bapak apa berbicara seperti itu?" todong Kiana langsung yang memang merasa kesal dengan Bian yang asal bicara seperti tadi.


Kiana mengesah kasar, kemudian kembali menatap Bian dengan kekesalan di hatinya.


"Melarang saya untuk bekerja, maksud Bapak apa?"


"Oh itu, ya karena aku nggak mau melihat kamu kelelahan karena terus bekerja, Ki." selorohnya santai masih dengan wajah tak bersalahnya.


"Saya nggak merasa karena saya sudah terbiasa dengan hal itu. Kalau saya nggak bekerja, bagaimana bisa saya memenuhi kebutuhan hidup saya dan Al nantinya?" sungut Kiana berapi-api saat mengatakannya. Mudah sekali pria itu berucap tanpa memikirkan dirinya dan juga Al. Memangnya dia mau bertanggung jawab apa.


"Kamu tenang dulu dengerin penjelasan aku, oke?" tenang Bian mengusap bahu Kiana yang gadis itu berhasil hindari.


"Saya nggak habis pikir Bapak setega itu sama saya!"


"Ki tenang dulu," ucap Bian berusaha menenangkan Kiana karena saat ini mereka menjadi bahan perhatian orang-orang di sekitarnya. "Kamu tenang, Oke. Malu kita dilihat banyak orang seperti ini. Lebih baik kita pulang sekarang, aku bakalan jelasin nanti biar kamu nggak salah paham."


Kiana melihat pada sekeliling tempat yang ada. Benar apa yang dikatakan oleh pria itu, mereka kini menjadi bahan tontonan warga yang sepertinya tengah asik menonton real drama di kehidupan nyata. Kiana tak peduli pada apa yang dikatakan oleh pria itu lagi. Dia kesal dan marah. Hingga ia pun pergi meninggalkan Bian yang ikut mengekor di belakangnya.


"Ki, tunggu aku Ki," ucap Bian setengah berbisik karena dia malu sampai di dengar oleh para tetangga. "Kiana, tunggu aku." panggilnya lagi mensejajarkan langkah mereka. "Sayang..." ucapnya membuat Kiana terhenti dari langkahnya.


Gadis itu menyipitkan matanya tanda tak setuju jika Bian memanggilnya dengan panggilan seperti itu. Apa katanya, 'sayang?' Kiana bergidik geli saat kata itu keluar dari mulut pria arogan dan keras kepala itu.


"Sayang, tunggu Masmu ini." ucap Bian tanpa rasa malu di tengah banyak orang yang tengah berlalu lalang. Kiana mendelik, kekesalannya semakin menjadi. Apa pria itu tengah menyindirnya?


Kiana memukul dada bidang Bian dengan tenaga yang tak seberapa membuat pria itu bukannya mengaduh kesakitan tetapi yang ada pria itu malah terkekeh melihat kelakuan gadis cantiknya yang terlihat sangat imut dan menggemaskan.


"Masmu sakit dipukul seperti itu, sayang..." goda Bian lagi pada Kiana yang kini wajahnya mulai bersemu merah.


"Cieee... so sweet banget sih, jadi pengen deh." ucap salah seorang warga yang melihat tingkah pasangan muda tersebut.


"Aduh, jadi nggak tahan pengen laki cepat pulang. Masnya ganteng banget..."


Kiana yang mendengar itu semua seketika menghentikan pukulannya pada dada bidang Bian. Wajah gadis itu semakin terlihat bersemu merah saja. Malu sudah pasti. Tapi ya mau gimana lagi. Kiana tetap memasang muka juteknya atas kekesalan pada pria yang tengah bersamanya itu.


"Udah ya, marahnya nanti lagi aja dilanjut di rumah kalau kita udah berduaan. Malu di lihat orang-orang, dikira kita sedang mengumbar kemesraan, sayang." bisik Bian di telinga Kiana. Sontak membuat gadis itu membulatkan matanya.


"Sini Al sama aku aja, kamu pasti kecapean dari tadi gendong Al terus."


"Nggak usah!" tolak Kiana yang semakin cemberut dibuatnya.


"Udah, nggak apa-apa. Sini Al juga kayaknya pengen sama bapaknya ini. Ya kan, Nak?" ucapnya seraya mengambil alih putranya itu dari Kiana ke dalam pangkuannya. "Uh... anak Bapak kok banjir keringat kayak gini? Uluh-uluh sayangnya Bapak, kasihan... gantengnya jadi nggak keliatan. Nggak apa-apa, kalau sama Bapak nanti bakalan ketularan lagi gantengnya." selorohnya.


"Saya mau pulang!" ketus Kiana, yang mulai jengah pada tingkah Bian.


"Ayo-ayo kita pulang. Ibu tersayang kita katanya ingin cepat pulang boy, tapi sebelum pulang kita beli makan dulu di warung Tante itu ya?" ucapnya pada sang buah hati yang mana sama sekali tak mengerti perkataannya.


Kiana menoleh pada telunjuk tangan Bian yang menunjuk pada sebuah warung pecel sayur yang tak jauh dari sana. Kiana semakin melotot saja kala tempat yang akan suaminya itu kunjungi adalah warung yang dimiliki oleh seorang janda cantik dan juga seksi primadona kampung tersebut.


Kiana semakin geram saja dibuatnya, ingin melarang tapi tak sempat karena si suami tampannya itu sudah berlalu bersama sang buah hati tercintanya tanpa mengajaknya sama sekali. Semakin kesal, ingin rasanya Kiana memukul kepala pria keras kepala itu dengan bongkahan kayu agar tak sadar dan berhenti melangkahkan kakinya menuju tempat berbahaya itu.


Alarm tanda pengingat bahayanya mulai berfungsi. Kiana semakin melebarkan langkahnya besar-besar untuk menyusul anak dan suaminya.


"Bahaya," gumamnya seraya mengikuti langkah kaki Bian.


*****