Secret Love

Secret Love
Ingin Membawa Pulang



Bian makan dengan lahap pada siang itu. Hingga tak terasa perut yang sebelumnya kosong kini terisi penuh dengan masakan enak buatan sang istri. Memang apa kata pepatah tak pernah salah, apapun yang di masak oleh istri rasanya selalu nikmat walaupun sederhana karena di buat dengan perasaan dan tentunya juga dengan rasa cinta.


Bian cengar-cengir kala membayangkan itu semua, hingga dehaman kecil dari sang istri membuatnya membuyarkan lamunannya yang tengah ia buai.


"Lagi mikirin apa?" tanya Kiana menyipit penuh selidik pada pria itu.


"Eh, sayang, kamu belum selesai makannya?" tanyanya berbasa-basi karena cukup merasa kaget.


"Belum," jawab Kiana ketus. Sudah tahu belum selesai, kan bisa lihat sendiri kenapa harus bertanya. Kiana semakin curiga kalau pria itu tengah membayangkan janda cantik pemilik warung pecel sayur di depan gang sana. Dasar semua laki-laki memang sama saja. Buaya. Baru melihat ada yang segar dan lebih menggoda saja langsung kepincut. Memang benar sih, dari kejauhan saja janda itu sudah bisa menggaet para pelanggan dengan kecantikannya. Terlihat dari antrian yang cukup banyak sekedar untuk mendapatkan sebungkus pecel sayur ala janda cantik yang terkenal itu. Untung saja Kiana berhasil menarik Bian agar menjauh dan menggagalkan niatan pria itu untuk membeli makanan di sana. Kiana benar-benar geram dibuatnya.


Pria itu kembali menyengir dengan cengiran kudanya yang khas, kemudian terkekeh saat melihat Kiana yang ketus dan cemberut seperti itu. Duh... semakin terlihat imut saja, membuat Bian tak tahan gemas ingin menggigitnya. Kalau boleh itu juga.


"Makasih, Ki, makanannya enak banget. Masakan kamu memang gak pernah gagal sejak dulu selalu yang paling enak. Buat aku ketagihan terus, walaupun sederhana tapi buktinya aja sekarang semuanya aku babad habis. Makasih sayang," ungkapnya dengan senyuman merekah.


"Yakin enak?"


"Iya pasti dong, kan masakan istri pasti juara."


"Pecel sayurnya?"


"Oh... penasaran juga sih sama rasanya. Kelihatannya aja udah seger menggoda gitu, jadi pengen coba. Mau deh kapan-kapan bisa icip, jarang-jarang lho aku bisa nyobain itu. Tapi sayang antriannya cukup banyak." ucapnya ambigu membuat Kiana melotot dan menghentakkan piringnya asal di lantai dengan keras hingga mengeluarkan suara.


"Kamu kenapa, sayang? Kok makannya udahan? Udah kenyang ya?"


"Udah!" ketus Kiana yang semakin kesal saja. Aduh kenapa hatinya semakin panas saja ya mendengar kalimat Bian barusan.


"Udah jangan cemberut kayak gitu, jadi kayak bebek bibirnya itu, buat Masmu ini tambah gemes aja." ujarnya saat melihat Kiana yang bergeming dengan wajah cemberut. Bian tersenyum puas kala menggoda istrinya seperti itu. "Oh... aku tahu pasti gara-gara Mbak Lina kan? Jadi istriku ini ngambek gara-gara itu?"


"Siapa juga yang ngambek gara-gara tukang pecel itu, aneh!" elaknya dengan perasaan was-was. Kok Bian bisa tahu sih namanya Mbak Lina? Dari mana? Sejak kapan? Kiana semakin blingsatan. Panas karena cuaca tak seberapa panas jika dibandingkan dengan panas hatinya saat ini.


"Kemarin waktu bawa Al keluar nggak sengaja nyapa warga sekitar yang penasaran siapa aku. Eh, ketemu lah sama warung pecel itu. Sempet ditawarin buat makan di sana. Ngobrol dikit sama yang punyanya sama pembeli yang lainnya juga. Jadi tahu namanya karena para pembeli sering panggil namanya rebutan buat dapet duluan. Nggak nyangka ya walaupun warung kecil tapi ramai pembelinya."


"Ya iyalah yang jual kan janda cantik. Pasti banyak yang mau makan di sana karena kepincut sama penjualnya." gumam Kiana yang semakin kesal, dongkol hatinya saat ini.


"Mungkin, tapi sih aku nggak ya. Punya istri lebih cantik kayak gini kok mau sama yang lain. Mendingan makan masakan istriku aja, itu udah lebih dari cukup buat aku seneng karena istriku itu peduli dan perhatian." jujurnya. Bian lebih mendekat lagi pada Kiana dan meraih tangan itu untuk ia genggam. "Kamu jangan marah ya, aku cuma bercanda, sayang. Mana mungkin aku kayak gitu. Aku tuh cintanya sama kamu aja nggak ada yang lain. Lihat kamu cemberut karena cemburu aja aku udah seneng karena kamu perhatian sama aku."


"Ih... lepas! Siapa juga yang cemburu. Bapak nggak usah ngarang. Saya marah karena Bapak sudah bicara sembarangan soal pekerjaan saya!" ucapnya menahan senyum di saat ia mendengar kalimat Bian barusan.


"Aku serius dengan ucapan aku tadi, Ki."


Kiana menoleh dengan mata menyipit pada pria itu, "Bapak nggak bisa mengatur saya seperti apa yang Bapak mau. Saya butuh pekerjaan itu untuk mencari nafkah demi Al. Dan sekarang semua itu hilang gara-gara Bapak!"


"Ki, dengerin penjelasan aku dulu. Semuanya demi kebaikan kamu dan Al. Aku nggak mau melihat kamu kesusahan sampai kelelahan karena terus bekerja keras."


"Nggak ada pilihan, sejak dulu sampai kapanpun akan tetap sama karena itu yang bisa saya lakukan untuk bertahan hidup." sendu Kiana.


"Sekarang udah ada aku. Aku yang akan mengambil alih semua tanggung jawab untuk memenuhi semua kebutuhan kalian. Aku yang seharusnya bekerja keras untuk kalian berdua, bukan kamu. Karena aku adalah seorang suami dan sekaligus ayah yang ingin memberikan yang tebaik untuk keluarganya." ungkapnya meyakinkan Kiana.


"Aku mohon sama kamu untuk memberi kesempatan buat aku agar dapat membahagiakan kalian. Cukup sudah aku melihat kalian hidup dengan banyak kesusahan selama ini. Aku nggak mau melihat Al tumbuh besar jauh dari kerurangan. Maafin aku, Ki, bukan maksud aku menyepelekan atas apa yang sudah kamu lakukan untuk Al. Kamu sudah melakukan yang terbaik dan Al pasti bangga sama kamu, termasuk aku. Dan sekarang biarkan semua itu menjadi beban tanggunganku karena aku ingin sekali dibutuhkan oleh kalian." lanjutnya lagi dengan kesungguhan hati.


"Tapi saya nggak pernah meminta agar Bapak melakukan hal itu."


"Kamu benar, tapi aku yang menginginkannya."


"Maka dari itu jangan lakukan, saya nggak pantas mendapatkannya."


"Kamu salah, kamu pantas mendapatkan itu semua. Karena kamu adalah wanita yang sangat berharga buatku, Ki. Tolong, jangan tolak aku, itu membuatku sakit."


"Seberharga apa saya di mata Bapak?" akhirnya Kiana menodong Bian dengan pertanyaan yang akan merubah pandangannya pada pria itu.


Bian menggelengkan kepalanya, "Tidak dapat ternilai, karena kamu sangat-sangat berharga bagiku. Rasa-rasanya diri ini mau mati jika kamu nggak ada di sampingku."


"Gombal," ucap Kiana bergumam seraya memalingkan wajahnya untuk menahan senyumnya kala mendengar ungkapan Bian yang menggetarkan hati.


"Jadi mau ya? Demi Al, sayang?"


"Kalau saya tetap nggak mau, Bapak mau apa?" ucap Kiana lagi tanpa melirik ke arah Bian.


"Aku bakalan paksa kamu agar mau menerima aku,"


"Lebih kejam kalau kamu terus menolak permintaanku ini, Ki. Aku lebih baik mati dari pada harus hidup berjauhan sama kamu. Tapi sayangnya aku nggak mau itu cepat terjadi karena aku mau mengabiskan sisa hidupku ini hanya bersama kamu."


Kiana tak langsung mengiyakan permintaan pria itu, ia menghela napas panjang untuk bisa menerima ini semua. Tapi pria itu justru mendekatinya kemudian memeluknya dengan hangat.


"Ya? Kamu mau ya hidup dengan pria ini? Aku janji akan berusaha membahagiakan kamu dan anak-anak kita nanti."


"Anak-anak?" Kiana menautkan keningnya hingga kedua alisnya hampir bertaut.


Bian menganggukkan kepalanya, ia menghirup dalam-dalam wangi rambut istrinya. "Iya, anak-anak kita yang banyak."


"Memang siapa yang mau memiliki anak banyak sama Bapak?"


"Kita sayang. Kamu dan aku, kita akan memiliki anak-anak yang banyak dan tentunya menggemaskan seperti Al."


"Percaya diri sekali. Memang Bapak sudah yakin kalau saya mau sama Bapak?" tantang Kiana pada pria itu. Ia ingin melihat kesungguhan hati dari seorang Bian.


"Yakin, buktinya istriku yang cantik ini mau di peluk-peluk sama suaminya yang tampan ini." seloroh Bian mulai kembali pada sifat aslinya. Kiana hanya mampu membuat kedua matanya dengan malas mendengar kalimat Bian.


"Terpaksa," balas Kiana pendek.


"Terpaksa tapi kok mau ya, sampai-sampai keenakan kalau lagi di cium waktu kayak kemarin." kekeh pria itu menahan tawa melihat semburat kemerahan di pipi istrinya.


"Apaan sih..." Kiana mencoba melepaskan dirinya dari dekapan sang suami yang semakin aneh saja.


"Nggak apa-apa, tapi kalau malu-malu kayak gini malah jadi tambah cantik. Lihat, Al saja tersenyum melihat kita mesra seperti ini. Iya kan, Nak? Kamu mau kan punya adik banyak yang lucu dan menggemaskan seperti kamu?"


"Bapak nggak usah ngomong macem-macem sama Al, dia masih kecil!" peringat Kiana seraya mencubit salah satu lengan terbuka Bian hingga meninggalkan bekas dipermukaan kulitnya.


"Auch! Sakit sayang..." desis Bian berpura-pura. "Galaknya udah kembali lagi ya ternyata istriku ini?"


"Siapa suruh berani macam-macam!"


"Iya-iya maaf... walaupun galak suka nyubit, tapi Masmu ini tetap cinta sama kamu kok, dek Kiana..."


Kiana berdecak kesal seraya kembali mencubit pinggang Bian yang mana pria itu malah tertawa kegirangan.


"Sayang, Mas ingin mengajak kamu dan Al pulang." ungkap Bian saat ini kembali berbicara serius. Kiana pun tak ayal menoleh pada Bian yang berada di balik tubuhnya.


"Pulang?"


"Iya, pulang ke rumah kita."


"Pulang kemana? Saya dan Al nggak punya rumah lain selain gubug ini."


"Rumah kita, Ki. Rumah milik kamu dan Al. Kamu mau ya? Kita bisa membina rumah tangga kita di rumah masa depan keluarga kita."


"Tapi saya nggak bisa,"


"Kenapa kamu nggak mau tinggal di rumah kita? Ini demi kesembuhan Al, Ki. Dia membutuhkan tempat yang nyaman untuk kesembuhannya."


"Saya nggak mau menjadi beban bagi keluarga Bapak. Saya nggak mau melihat Bu Ajeng dan Pak Hardi kecewa terhadap Bapak karena saya. Terlebih mereka tidak tahu tentang hubungan kita yang rumit ini. Bapak akan berkata apa pada mereka tentang saya dan juga Al?"


Bian memutar tubuhnya hingga ia dapat melihat wajah Kiana dan merangkumnya dengan kedua tangan menatap lekat penuh cinta yang menghunus ke dalam hatinya.


"Dengar, aku akan mengatakan semuanya tentang keadaan kita sejujur-jujurnya sama Mama dan Papa. Nggak akan ada lagi yang akan aku tutupi tentang hubungan kita. Dan soal status pernikahan kita, kamu harus tahu, Ki, jika itu yang membuat kamu risau, aku sudah mendaftarkan ikatan suci kita jauh sebelum peristiwa ini terjadi. Kita sah sebagai suami istri secara agama dan negara."


"Tapi saya nggak mau membuat kecewa ibu dan bapak," lirih Kiana dengan wajah sendunya.


"Aku akan berusaha untuk meyakinkan mereka. Dengan kita bersama, aku yakin Mama dan Papa akan membuka hati dan menerima keadaan kita. Mama pasti nggak akan tega melihat cucunya sendiri hidup menderita seperti ini. Kamu mau ya, sayang?" ucap Bian mengelus pipi Kiana dengan lembut. Memberikan keyakinan yang mendalam agar gadisnya itu mau mengikuti kata hatinya.


Kiana menganggukkan kepalanya pelan, "Asal Mas selalu ada untuk kami, dan jangan pernah untuk meninggalkan aku dan Al."


Bian tersenyum sendu, ia menatap lekat wajah Kiana dengan mata yang berkaca-kaca. Sejurus kemudian ia mengecup lembut bibir ranum itu penuh dengan perasaan dan kehangatan.


"Demi kamu dan Al, sayang..." ucapnya menyatukan kening mereka berdua di tengah Al yang tengah tersenyum melihat kedua orang tuanya.


*****