Secret Love

Secret Love
Penolakan (Lagi)



***


"Ini anak Bian Ma, Pa, cucu kalian," ungkapnya dengan lirih memperlihatkan Al pada mereka, hingga tak terasa matanya pun mulai berembun.


"Cucu?" ucap Bu Ajeng yang kini giliran wanita paruh baya itu yang semakin memperlihatkan keterkejutannya.


"Iya Ma, cucu Mama. Anaknya Bian..." pria itu menghampiri ibunya membawa Al dalam dekapan tangannya untuk dia perlihatkan sosok putra kecilnya kepada kedua orang tuanya.


Bu Ajeng dan Pak Hardi begitu terpaku pada penuturan yang dikatakan oleh putranya itu. Mereka mencoba mencerna setiap kalimat yang keluar dari mulut anaknya yang membuat mereka sungguh terkejut.


Kenapa tiba-tiba anak mereka pulang dan membawa seorang bayi yang diakui oleh putra mereka itu adalah anaknya? Apakah Bian sedang bercanda? Tapi mengapa Bian begitu terlihat sangat serius saat mengatakannya? Ada apa sebenarnya yang terjadi?


"Maksud kamu apa, Bi?" tanya Pak Hardi pada putranya itu. "Papa nggak suka kamu bercanda keterlaluan seperti ini."


Bian menggelengkan kepalanya, "Nggak Pa, Bian serius dengan apa yang baru saja Bian ucapkan." ungkapnya kala ia menatap ibunya yang terdiam seribu bahasa. Bergeming sama sekali yang tak menunjukan reaksi apapun. Bu Ajeng mencoba mencari kebenaran dari sorot mata putranya itu. Tapi ia sama sekali tak melihat raut kebohongan yang nampak dari diri putra sulungnya. Tak terasa lelehan air mata mengalir di wajah senja miliknya. Sosok ibu itu menangis dalam diamnya yang begitu menyayat perasaan.


"Lihat Ma, ini cucu Mama," ucapnya lagi pada ibunya dengan posisi terduduk di bawah kaki kedua orang tuanya memperlihatkan Al yang tengah menggeliat dalam pangkuannya.


Bu Ajeng menatap nanar bayi kecil yang berada dihadapannya. Memperhatikan dengan seksama garis wajah dari makhluk kecil yang dapat dia sadari begitu mirip dengan wajah putranya itu. Wajah Al mengingatkannya pada wajah Bian saat masih bayi. Sangat persis. Bahkan bila dibandingkan, kedua wajah itu bagaikan sebuah pinang yang terbelah menjadi dua. Bayi itu memiliki garis wajah yang menurun dari wajah Bian.


Apa benar jika apa yang dikatakan oleh Bian tentang bayi itu adalah cucunya? Putra Bian si anak sulungnya?


"Pa, ini cucu Papa. Namanya Al, Albio. Namanya mirip dengan Bian, Ma, Pa." katanya dengan cucuran air mata. "Lihat Nak, ini Oma dan Opanya Al. Oma dan Opa rindu sekali dengan Al, mereka senang bertemu dengan kamu, Nak. Apa kamu senang bisa bertemu dengan Oma, Opa?" ucapnya pada putra semata wayangnya yang tengah lekat menatapnya dengan raut wajah kecilnya yang menampilkan kesenduan karena melihat sang ayah yang tengah menangis. Kiana yang mendengar itu semua seketika semakin memperdalam tangisnya dengan kepala yang semakin menunduk pula.


"Bagaimana bisa terjadi, Bi? Apa maksud dari semua ini? Papa mohon jangan membuat kami semakin bingung." ucap Pak Hardi menatap Bian yang juga sesekali melirik pada bayi kecil yang berada dalam dekapan putranya itu.


Bian mendongak untuk melihat ayahnya. Ia menyeka air mata yang berhasil membasahi wajahnya.


"Maafin Bian, Pa... Maafin Bian Ma..." sesalnya meminta maaf pada kedua orang tuanya dengan kepala yang tertunduk. "Bian yang salah, Bian yang salah..." tangisnya kembali luruh dengan tak tahu malu sebagai seorang pria dewasa yang menyesal dengan perbuatannya.


"Kamu bicara apa, Bi? Memangnya kamu sudah berbuat apa sampai kamu meminta maaf pada kami? Papa minta tolong jelaskan sejujur-jujurnya sekarang juga, omong kosong apa yang sedang terjadi saat ini!" sentak Pak Hardi yang sudah tak bisa menahan kesabarannya saat melihat putranya itu menangis seperti pria cengeng.


"Maaf, maaf, Bian minta maaf yang sudah membuat Mama dan Papa kecewa,"


"Bicara yang jelas!" sentak lagi Pak Hardi.


"Maafin Bian, maaf... Bian yang salah, Bian sudah membuat Mama dan Papa sedih dan kecewa. Ini salahnya Bian, bukan mereka. Kiana dan Al tidak bersalah. Mereka hanya menjadi korban atas kejahatan yang Bian lakukan pada Kiana." jelasnya.


"K-Kiana?" Bu Ajeng semakin terkejut kala Bian menyebutkan nama Kiana.


"Iya Ma, Bian udah menyakiti Kiana. Bian udah jahat sama Kiana. Bian udah membuat hidup Kiana hancur. Bian yang sudah memaksa Kiana sampai Al bisa terlahir ke dunia ini. Maafin Bian Ma, tolong jangan salahkan Kiana karena dia nggak salah, semua itu terjadi karena Bian. Bian menyesal telah melakukan hal yang menyakiti Kiana, Bian sangat menyesal..." ungkapnya. Bian tertunduk di kaki ibunya dengan penyesalan yang amat luar biasa menyakiti hati seorang wanita yang telah melahirkan dan sudi membesarkannya itu dengan segala kemurahan hati dan kasih sayang yang melimpah.


"Kenapa? Kenapa harus seperti ini, Bi?" akhirnya suara itu keluar dari mulut Bu Ajeng yang berusaha tegar dan menyimpan rasa kekecewaannya dengan diam dalam tangis merasakan kepedihan yang terjadi pada putranya.


"Maafin Bian Ma..." sesalnya lagi memohon pengampunan pada ibunya dengan bersujud di bawah kakinya.


Pak Hardi yang mendengar semua penuturan kalimat dari Bian seketika bergejolak merasakan amarah yang luar biasa di dalam dirinya. Ia tak dapat lagi menahan kekecewaannya yang telah menyakiti hatinya dan juga sang istri selaku kedua orang tua. Terlebih putra sulungnya itu telah mencoreng nama baik keluarga dengan bertindak asusila yang telah melecehkan seorang gadis seperti Kiana.


"Anak kurang ajar..." geramnya menggumam dengan suara berat tertahan, kepalan di tangannya menunjukan jika ia telah habis kesabaran pada putranya itu. "Kamu--" tahan Pak Hardi agar amarahnya tak meluap begitu saja apalagi di depan seorang bayi kecil tak berdosa yang tak tahu apa-apa.


"Papa!" pekik Fira saat melihat ayahnya meringis kesakitan sembari memegang dadanya dengan sebelah tangan. "Pa..." ucap gadis itu cemas menghampiri sang ayah.


"Papa baik-baik aja, Ra," balas Pak Hardi menenangkan putrinya yang saat ini khawatir dengan keadaannya.


Bian yang melihat itu sontak mendongak untuk memastikan keadaan ayahnya baik-baik saja. Ia tahu jika saat ini ayahnya tengah murka padanya. Ia merasa semakin bersalah karena membuat kedua orang tuanya tersakiti oleh perbuatan bodohnya.


Kiana yang menyaksikan itu semua ikut menghampiri Bian dan juga bayinya yang tengah duduk bersimpuh di kaki kedua orang tuanya.


"Mas..." ucap Kiana dengan deraian air mata yang membasahi wajahnya menatap Bian.


"Sayang," Bian menoleh pada Kiana dengan sendu. Ia meraih tangan Kiana yang tengah membelai wajahnya itu.


"Papa nggak habis pikir pada apa yang sudah kamu lakukan selama ini, Bi. Membohongi kami dengan menyembunyikan masalah besar dan seserius ini. Maksud kamu apa, hah? Ingin mencoba membunuh kami dengan secara perlahan begitu?"


"Papa merasa gagal mendidik kamu sebagai seorang ayah. Kamu tahu? Sakit hati ini yang sudah kamu torehkan membuat ibumu lebih merasakan lebih sakit dari apa yang kamu bayangkan. Dan itu membuat Papa merasakan lebih sakit lagi di saat melihat wanita yang Papa cintai seumur hidup Papa disakiti oleh perbuatan tak termaafkan dari anaknya sendirinya."


"Apa yang akan kamu lakukan sekarang dengan masalah yang sudah kamu buat?" tanya Pak Hardi tajam pada putra sulungnya.


"Bian akan bertanggung jawab pada semua yang telah Bian lakukan." katanya bersungguh-sungguh.


"Itu yang seharusnya kamu lakukan jika merasa sebagai seorang laki-laki, dan enggan di cap sebagai laki-laki pengecut yang mengabaikan tanggung jawabnya atas apa yang dia perbuat."


"Bian sangat yakin, Pa,"


"Termasuk untuk menikahinya?"


"Pa..." sela Bu Ajeng dikala permasalahan semakin rumit dengan solusi yang membuatnya harus berpikir dua kali untuk masa depan putranya. Pak Hardi pun menoleh pada istrinya untuk meyakinkannya.


"Apa kamu sanggup untuk menikahi Kiana kembali dengan layak?" tanya lagi Pak Hardi.


"Bian--" ucap pria itu seolah tercekat untung sekedar bersuara. "Bian mau, Pa. Karena Bian sangat menyayangi Kiana dan juga Al. Bian nggak mau kehilangan ataupun sampai jauh dari mereka."


"Pa..." sela Bu Ajeng dengan isak tangis yang mengiringinya.


"Ma, Bian tahu apa yang akan Bian lakukan saat ini akan semakin membuat Mama sedih dan kecewa. Tapi Bian mohon restu dari Mama agar Bian dapat hidup bersama anak dan istri Bian." ucap Bian yang semakin mendekatkan dirinya meminta restu pada ibunya.


"Ma, lihat Bian Ma..." suara bergetar Bian tak mampu membuat Bu Ajeng sedikit pun menoleh padanya. "Lihat Al, Ma, tolong lihat Al... Kalau Mama marah dan benci, Mama bisa meluapkan semua kemarahan itu sama Bian. Bian rela Mama pukul, Bian juga rela kalau Mama mencaci Bian karena semua ini salah Bian, Ma... Tapi Bian mohon jangan abaikan Kiana dan juga Al, karena walau bagaimana pun mereka adalah bagian dari hidup Bian. Jika Mama mengabaikan mereka itu berarti Mama juga mengabaikan Bian, anak Mama sendiri."


Bu Ajeng tetap bergeming semakin tergugu dengan tubuhnya yang bergetar hebat akibat isakan tangisnya.


"Ma, tolong lihat Al, Ma. Cucu Mama, anak Bian... " ucapnya dengan tergugu. "Ma..." ucapnya lagi semakin berderaian air mata. "Bian mohon..." Bian memberikan Al yang saat ini tengah menangis kepada ibunya, yang begitu sakit hatinya Bian rasa saat tak mendapat sambutan hangat dari ibunya sendiri.


"Pa..." Bu Ajeng malah beralih pada suaminya, memeluknya dengan erat seolah meminta kekuatan untuk menghadapi itu semua. Dirinya bimbang dan ragu untuk menyambut uluran tangan putranya. Bu Ajeng memilih pergi yang di ikuti oleh Fira yang mengekornya di belakang untuk menenangkan hatinya agar dapat menerima semua keadaan yang membuatnya terkejut dalam sekejap waktu.


"Sepertinya saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk memaksakan kehendakmu itu. Kamu harus memikirkan perasaan Mamamu juga. Lebih baik kamu bawa pulang istri dan anakmu. Biarkan Mamamu tenang. Kembalilah besok untuk meyakinkannya lagi." nasihat Pak Hardi untuk anaknya.


"Dia sangat mirip sekali denganmu, Bi. Jaga dan kasihi dia dengan penuh cinta kasih sayang seperti yang kamu ucapkan pada Papa untuk mereka." Pak Hardi ikut beranjak pergi hendak menyusul istrinya setelah mengusap lembut wajah tampan cucunya itu.


Bian menoleh pada Kiana yang terdiam dalam tangisnya. Dapat Bian lihat tubuh Kiana yang bergetar hebat di saat ibunya sendiri seolah menolak kehadiran istri dan anaknya di tengah-tengah keluarganya. Dan itu membuat Bian sakit, sakit tak sesakit hatinya yang tak pernah ia rasakan sebelumnya mendapati penolakan dari sang ibu.


"Sayang,"


"Aku sudah katakan sebelumnya kalau ini tak akan berhasil. Aku sangat tahu diri siapa aku, Mas. Aku begitu tak pantas untuk berada di samping kamu. Ini semua percuma. Lebih baik kamu kembali pada keluargamu sekarang juga sebelum semuanya terlambat. Aku nggak apa-apa. Aku dan Al akan baik-baik saja meski itu harus tanpa kamu. Aku ikhlas jika memang takdir tak pernah membersamaiku. Aku sudah terbiasa dengan penolakan dari orang-orang di sekelilingku yang tak pernah menginginkanku." tutur Kiana sembari menyeka air mata yang semakin deras mengalir di pipinya.


Bian menggeleng kuat, "Nggak, aku bilang nggak, Ki! Aku akan tetap selalu ada di samping kamu apapun yang terjadi."


"Dan kamu pasti akan menyesal,"


"Itu nggak akan pernah terjadi karena aku nggak mau kehilangan kamu lagi."


"Tapi aku takut semuanya akan semakin rumit,"


"Kamu harus percaya jika kita akan mampu melewati ini semua. Dengan bersama-sama saling memberikan kekuatan dengan rasa kasih sayang dan cinta diantara kita. Aku akan berusaha untuk dapat meyakinkan dan meluluhkan hati Mama. Percaya sama aku, Ki, kamu mau tetap bersabar kan demi, Al?"


Kiana menganggukkan kepalanya dan itu membuat Bian tersenyum simpul seraya menggenggam tangan Kiana dengan erat.


"Kita pulang ya, besok kita akan kembali menemui Mama untuk meyakinkannya." ajak Bian menuntun Kiana untuk pergi meninggalkan rumah besar yang menjadi tempat tumbuh kembangnya selama ini.


Di sepanjang kaki melangkah, dapat Kiana lihat sosok Mbok Sarmi yang berdiri dari kejauhan tengah menatapnya dengan wajah sendu penuh dengan air mata kesedihan.


"Maafin aku, Mbok." ucap Kiana tanpa mengeluarkan suara sedikitpun pada Mbok Sarmi dengan penuh penyesalan yang mendalam, yang mana wanita tua itu menganggukkan kepala seolah meridhoinya seraya menyeka air matanya.


"Pak," panggil Dimas saat melihat atasannya itu kembali lebih cepat dari dugaannya dengan keadaan kacau dari sebelumnya.


"Tolong antar kami pulang sekarang juga!" perintah Bian pada Dimas yang membuat pria itu seketika gelagapan.


"B-baik, Pak." balasnya dengan perasaan yang sudah tak enak.


*****