Secret Love

Secret Love
Penolakan



"Al..." lirih Kiana mencari-cari bayinya seraya mencoba untuk melepaskan diri dari Bian. "Dimana kamu, ini ibu, Nak. Ibu ada di sini..." Kiana menggapai-gapai udara kosong dan terus memangil nama bayinya yang terus menangis semakin keras saat mendengar suara ibunya.


"Al?" tanya Bian pada Kiana dengan sorot mata seolah meminta penjelasan.


"Al, ini Bu, jangan nangis, sayang..." Kiana berusaha bangkit dari ranjangnya dan hendak turun untuk menggapai bayinya yang ia sendiri tak tahu di mana.


"Kiana!" pekik Bian saat melihat Kiana nekad untuk beranjak dari ranjangnya dengan keadaan yang masih lemah.


"Bayi saya, saya mau bayi saya!" tak kalah Kiana memekik keras dengan emosional.


Bian mencoba menenangkan Kiana dengan memegang kedua bahunya yang bergetar akibat tangisnya. Namun tetap saja Kiana tak sabaran kala mendengar tangis bayinya yang memenuhi seluruh penjuru ruangan.


"Kamu masih lemah Kiana, tenang dulu, saya akan bawa bayi kita, mengerti?" tahan Bian memegang tangan Kiana yang terus menepis ulurannya.


"Al..." lirih Kiana memanggil bayinya.


Sejenak Bian pergi dari hadapan Kiana untuk melihat makhluk kecil yang tengah menangis berada di dalam sebuah box bayi. Bian meraih bayi mungil itu dalam pangkuan tangannya seraya menenangkan putranya. Menimangnya dengan sabar dan penuh kasih sayang, tak lepas ia bubuhkan kecupan di bibir mungil putranya itu, sejurus kemudian membawanya dengan perasaan membuncah pada hadapan Kiana.


"Bayiku..." ucap Kiana saat melihat bayinya yang tengah berada dalam gendongan Bian.


Kiana mengulurkan tangannya untuk meraih bayinya. Seolah tak sabar untuk segera mendekap raga kecil itu.


"Maafin Ibu ya, sayang. Maafin Ibu, Nak..." lirih Kiana menciumi bayinya yang mulai agak tenang setelah berada dalam pangkuannya.


"Al nangis karena jauh dari, Ibu? Maafin Ibu yang udah buat Al nangis karena sakit." ucapnya lagi pada Al, bayi mungilnya yang kini terlihat tenang dengan menatap sendu mata ibunya.


"Al?" ucap Bian, ia kembali mengambil posisi duduk di samping Kiana sejurus manik matanya tak lepas memperhatikan Kiana yang tengah menimang putranya. "Namanya, Al?"


Kiana tak menghiraukan, ia seolah tengah larut dalam kebersamaan bersama putra tercintanya. Saat ini Kiana merasa bersalah dan menyesal atas apa yang terjadi pada putranya. Pastilah bayinya itu sedang merasakan sakit karena akibat terjatuh bersamaan dengan dirinya. Meski Kiana tak ingat apa yang terjadi setelahnya, dia dapat memastikan jika bayinya itu tengah kesakitan karenanya.


"Nama bayi kita, Al?" tanya lagi Bian yang masih dibuat penasaran oleh Kiana. "Ki?" tak ada respon, Bian menyentuh punggung tangan Kiana yang sedang mendekap bayi mereka.


Kiana menoleh pada Bian sepintas. Kemudian ia membuang wajahnya dari pandangan mata pria yang tengah menatapnya itu penuh dengan arti.


"Jawab saya, Kiana. Al, nama bayi kita?"


"Ya, namanya Al. Al adalah nama bayi saya, bukan bayi Bapak!"


Bian menggeleng kuat.


"No... ini bayi kita, Kiana. Al juga bayiku. Dia milikku. Aku ayahnya. Dan kamu tahu itu!" Bian tak terima jika bayi Al hanya milik Kiana seorang, tapi bayi Al adalah milik mereka berdua. Miliknya juga. Kenapa Kiana berbicara seperti itu? Ada apa dengan gadisnya itu?


"Pak Bian salah. Al adalah anak saya. Dia milik saya. Pak Bian nggak ada hak untuk menyebut Al adalah milik Bapak." ujar Kiana mendekap erat Al.


"Saya yang mengandungnya, saya yang telah melahirkannya, dan saya juga yang selalu melantunkan doa-doa bersamanya. Al adalah bayi saya, dia hanya milik saya. Nggak ada seorang pun yang bisa membawa dan memiliki Al selain saya, ibunya. Jadi saya mohon Bapak pergi! Pergi Pak! Jangan ganggu saya dan Al lagi!" ungkapnya dengan ketakutan yang mendalam. Dia takut jika Bian akan membawa Al pergi dari hidupnya. Kiana tidak akan biarkan hal itu terjadi. Dia akan mempertahankan miliknya, bayi kecilnya, Albio nya tersayang.


"Kami akan bahagia meski itu tanpa Bapak. Saya bisa membahagiakan Al dengan seluruh jiwa dan raga semampu yang saya bisa. Saya akan berusaha itu."


"Saya mohon tolong Bapak pergi, pergi Pak... saya nggak sanggup kalau harus terus menerus melihat bayangan wajah Bapak. Biarkan kami hidup dengan tenang,"


"Kiana..." Bian menatap sendu istri dan anaknya dengan perasaan mendalam. Sakit hatinya saat mendengar penuturan Kiana seperti itu. Sebenci itu kah Kiana padanya? Kenapa semuanya harus menjadi rumit seperti ini?


Kiana tak menginginkannya, begitu pun dengan putra kecilnya. Bian semakin merasa rendah hati saat ini mendengar penolakan dari Kiana untuknya.


"Pergi... saya bilang pergi!" tekan Kiana lagi menyuruh Bian untuk pergi dari hadapannya. "Maafin Ibu, Nak. Ibu janji akan membuat Al bahagia. Hanya ada kita berdua di dunia ini," ucapnya pada sang bayi.


Dengan berat hati ia melangkah pergi meninggalkan Kiana dan Al. Bian meluruh dengan rasa sakit yang menggores di hatinya. Sebisa mungkin ia menahan rasa sakit yang begitu sangat perih. Napasnya serasa sesak sehingga ia seolah tak dapat lagi untuk bernapas.


Bian menatap sendu Kiana dan Al dari kejauhan dengan perasaan sedihnya. Melihat dua orang yang kini menjadi bagian dari hidupnya itu tak serta merta membuatnya menyerah meski saat ini Kiana menolak keberadaannya. Bian akan bertahan, dia akan selalu menunggu, bahkan akan berusaha menggapai itu semua.


"Aku akan selalu ada di dekatmu..." gumamnya seraya mengusap permukaan kaca bening yang menjadi pembatas diantara mereka.


***


Pak Hardi dan Bu Ajeng mengerungkan dahinya hingga saling pandang saat mendengar kalimat Dimas yang baru saja datang dengan membawa mobil milik Bian ke rumah besar.


"Saya mengantarkan mobil Pak Bian, Pak, Bu," ucap Dimas dengan senyumannya.


"Mobil Bian?" tanya Pak Hardi.


"Iya, Pak. Kebetulan tadi siang setelah bertemu dengan klien saya kembali lagi ke kantor, jadi Pak Bian pulang membawa mobil saya. Maaf saya baru mengantarkan mobil Pak Bian lewat malam seperti ini." terangnya dengan takut-takut.


"Oh, iya, nggak apa-apa, Dim." balas Pak Hardi dengan santainya.


Dimas celingukan ke sana kemari mencari keberadaan mobilnya yang siang tadi di bawa oleh atasannya itu.


"Kamu cari siapa?" tanya Pak Hardi melihat kebingungan asisten anaknya itu.


Dimas nyengir kuda seraya mengusap tengkuknya. "I-itu Pak. Anu--saya pamit pulang," ucapnya tak enak hati.


"Oh... boleh-boleh, silahkan. Harus cepat pulang kamu Dim, seharian bekerja tentunya membutuhkan istirahat yang banyak." tutur Pak Hardi.


"Iya, Pak." Dimas tersenyum menanggapi Pak Hardi. Ia masih diam berdiri belum juga kunjung beranjak dari tempatnya.


"Apa ada yang ingin kamu sampaikan lagi, Dim?"


"Eh, i-iya Pak. Itu--saya--" Dimas menghela napas panjang sebelum melanjutkan lagi kalimatnya. "Maaf, Pak. Pak Bian ada? Saya izin ambil bawa mobil saya."


"Lho, Bian kan belum pulang. Kamu nggak tahu, Dim?"


"Belum pulang? Maksudnya belum pulang dari mana ya Pak? Pak Bian keluar rumah ya dan belum pulang?"


"Sejak berangkat ke kantor tadi pagi sampai saat ini Bian belum ada pulang. Saya kira dia masih sama kamu."


"Ya mana saya tahu, Dim. Mungkin dia sedang bertemu dengan teman-temannya. Ya sudah, kamu pulang saja bawa lagi mobil Bian. Ini sudah malam. Lebih baik kamu cepat istirahat. Atau kamu mau menginap sambil menunggu Bian pulang?"


"Makasih banyak, Pak. Saya pulang saja membawa mobil Pak Bian. Kalau begitu saya pamit,"


Pak Hardi dan Bu Ajeng menganggukkan kepalanya saat melihat kepergian Dimas.


"Terus Bian kemana, Pa? Aduh... Mama kok jadi cemas begini."


"Udah Mama tenang aja, Bian udah dewasa, dia pasti baik-baik aja. Dia nggak mungkin melakukan hal-hal yang akan membuatnya menyesal."


"Tapi ini udah malam, Pa. Bian baru aja sembuh. Mama takut dia kenapa-napa lagi. Kita cari Bian sekarang ya Pa? Mama khawatir sekali sama anak kita itu," raut kecemasan tak dapat disembunyikan dari wajah Bu Ajeng.


"Udah Mama tenang dulu, Bian pasti pulang. Papa akan mencoba hubungi Bian sekarang. Kalau Bian belum pulang juga sampai larut malam, Papa akan kerahkan anak buah Papa untuk mencari keberadaan anak kita." tenang Pak Hardi merangkul bahu Bu Ajeng saat melihat raut kecemasan istrinya.


***


Bian menatap nanar wajah Kiana yang terlihat lelah selepas menidurkan Al yang masih berada dalam pangkuannya. Seutas senyum kecil tertarik di wajahnya kala melihat pemandangan damai yang tercipta dari kedua belahan hatinya itu.


Hingga ponsel yang berada dalam saku celananya berdering membuat Bian tersadar sejurus kemudian meraih benda pipih itu untuk melihat siapa pemanggil di layar ponselnya.


"Papa?" tanya Bian saat memandangi layar ponselnya dengan kerutan di dahi. "Ada Papa hubungi aku?" ucapnya seraya melangkah menjauh dari pintu kamar Kiana untuk menjawab panggilan dari ayahnya itu.


"Iya, Pa?" jawab Bian menanggapi sambungan dari Pak Hardi.


Di sisi lain, seorang ibu dan anak tengah berjalan saling berdampingan membahas sesuatu yang agak serius. Nampak mereka berbicara dengan penekanan yang membuat anak laki-lakinya itu memelas pada ibunya.


"Aaric nggak nyangka semua ini berawal karena aku, Ma." sendu Aaric pada sofia-ibunya.


"Semua ini sudah menjadi jalannya, Ar. Kamu jangan menyalahkan diri sendiri atas apa yang sudah terjadi."


"Tapi semua gara-gara Aaric, Ma. Semua karena Aaric! Adek, Mama, dan sekarang Papa, kalian menderita karena aku!"


"Ar... Mama mohon, Nak." Bu Sofia menitikkan air matanya kala melihat anak sulungnya itu terus menyalahkan dirinya sendiri selama ini.


Bian yang tengah menerima telepon dari ayahnya itu sejenak menoleh pada suara yang cukup tak asing baginya itu.


"Iya, Bian bisa jaga diri. Mama, Papa, jangan khawatir. Bian ada di rumah Daniel. Sepertinya malam ini Bian nggak pulang."


"Iya, Ma... Bian inget kok, Ya udah Bian tutup ya? Bye Ma," Bian menutup sambungan teleponnya seraya kembali memperhatikan dua orang yang tak jauh dari tempatnya berada.


Aaric. Ya, pria itu Aaric bersama dengan ibunya.


"Aaric memang anak yang nggak tahu diuntung. Aaric selalu mengecewakan kalian. Aaric anak yang nggak guna. Selalu menyusahkan kalian berdua. Aaric menyesal Ma... Aaric menyesal... Andai waktu bisa kembali berputar, Aaric akan merelakan untuk bertukar dengan Adek agar demi Asyilla ada bersama kalian,"


"Ar... Mama mohon sayang, berhenti! Kamu anak kebanggaan Mama, Papa, Kamu sudah menjadi Kakak yang terbaik untuk Asyilla. Mama tahu kamu menyayangi Asyilla melebihi dari apapun. Dan Mama, Papa pun seperti itu adanya."


Aaric menggeleng kuat, "Nggak Ma, nggak! Adek hilang karena aku, Ma... Asyilla hilang karena Aaric! Aaric yang nggak becus buat jagain Adek!" teriak Aaric dengan emosional.


"Maafin aku, maafin aku..." sesalnya dengan semua yang telah terjadi.


"Sudah Ar, sudah! Mama, Papa, sayang sama kalian berdua, Kamu, Asyilla juga. Kamu sudah menjadi Kakak yang terbaik untuk adik kamu. Jangan pernah lagi berfikir semua itu salah kamu, Nak. Semua terjadi karena sudah menjadi suratan dari Tuhan. Kita nggak bisa menyalahkannya, tetapi kita harus ikhlas untuk menghadapi semua ini meski Mama sadari sangat sulit dan berat. Tapi Mama dan Papa selalu berusaha berdoa yang terbaik untuk Asyilla."


Aaric menangis tersedu-sedu mengingat peristiwa naas dan sangat menyakitkan baginya terbentang dua puluh tahun yang lalu itu.


"Maafin Aaric, Ma... " sendunya memeluk ibunya. "Aaric belum bisa menjadi anak yang baik untuk Mama, Papa,"


"Kami selalu bangga sama kamu, Ar..." ucap Bu Sofia mengusap punggung putranya.


"Aaric bersungguh-sungguh, Aaric akan buktikan jika aku bisa menemukan Asyilla dan membawa pulang Adek untuk dapat kembali bersama dengan kita."


"Mama percaya sama kamu,"


"Doakan Aaric Ma,"


"Selalu, Nak. Kami selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anak kesayangan kami,"


Bian cukup jelas mendengar apa yang terjadi diantara Aaric dan ibunya. Baru kali ini ia melihat Aaric sesedih seperti itu. Ternyata di balik sifat ramah, pendiam, dan peduli seorang Aaric dulu menyimpan luka yang hanya ia dan keluarganya lah yang tahu.


Bian baru tahu jika Aaric memiliki seorang adik perempuan yang hilang selama ini. Dan tak pernah sekalipun Aaric menyingung bahkan menceritakan perihal tersebut padanya.


Bian semakin bersalah atas apa yang terjadi pada mereka dulu. Andai saja waktu dapat kembali ia putar seperti halnya yang Aaric katakan, ia ingin sekali memperbaiki segalanya karena ia tak ingin kehilangan sahabat baik seperti Aaric.


"Aaric?" ucap Bian saat melihat Aaric dan juga ibunya melintas tepat di depannya. "Tante,"


"Bian?" panggil Bu Sofia padanya. "Ini Bian kan?"


"I-iya, Tante." jawab Bian sembari melirik Aaric dengan ekor matanya.


"Ayo, Ma. Papa nungguin kita." ajak Aaric yang sengaja ingin menghindar dari Bian.


"Ar..." peringat ibunya.


"Ma, please..." melas Aaric memohon pada ibunya.


Bu Sofia menghela napas, anaknya itu kenapa sekarang menjadi keras kepala seperti ini. "Maaf, ya Bi. Kami duluan. Senang bertemu dengan kamu."


"Iya, Tante."


Bian melihat punggung kepergian Aaric dan Bu Sofia menjauh darinya. Bian menghela napas panjang. Teryata Aaric sepertinya semakin membenci dirinya saja. Terlihat dari raut wajah pria itu yang semakin menunjukkan rasa tak suka padanya. Bian sadar akan hal itu, dan ia pantas untuk mendapatkan itu semua dari Aaric.


Ya sudahlah, yang terpenting saat ini dia harus lebih fokus pada masalahnya bersama Kiana. Dia harus mendapatkan perhatian dari istrinya itu. Dia harus berjuang mulai saat ini untuk mempertahankan apa yang sekiranya harus dia pertahankan.