Secret Love

Secret Love
Pacaran. ...



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Qia yang sudah di tunggu oleh Fathan langsung di antar pulang oleh pria itu sampai di kos'annya yang masih saja ramai oleh para penghuni lainnya yang sedang nongkrong. Fathan yang memiliki beberapa teman disana pun langsung menyapa dan sedikit berasa basi lebih dulu.


"Istrahat lah, aku di depan ya," ucap Fathan di depan pintu kamar Qia, mereka sampai di hampir jam 10 malam karna mengisi perut dulu disalah satu kedai makanan pinggir jalan.


"Terima kasih banyak," jawab Qia sambil tersenyum, dah itu tentu membuat hati pria di hadapannya berdebar hebat.


"Sama sama, cepat masuk. Jangan sampai besok bangun kesiangan ya," pesan Fathan lagi yang di iyakan oleh Qia.


Keduanya berpisah saat Qia sudah menutup pintu kamar kosnya. Ia mandi dan langsung merebahkan diri diatas kasur lantai yang tentu hanya muat untuknya saja. Ia yang hidup seorang diri di ibu kota harus memutar otak demi bisa bertahan satu bulan dengan uang sisa gajinya yang akan ia kirim ke kampung untuk Ibu dan bibinya. Dan kesempatan makan bersama dengan Fathan tentu tak akan ia sia-siakan karna cukup menghemat pengeluarannya.


Qia yang masih teramat polos belum peka betul dengan perasaannya sendiri, ia akan ikuti kemana alur hidupnya akan bermuara.


.


.


.


Tiga bulan sudah Qia bekerja, Ia mulai betah karna tak pernah mendapatkan masalah sama sekali, hubungannya pun semakin dekat dengan Fathan karna baru semalam mereka resmi berpacaran. Akhirnya penjaga keamanan Perusahaan Rahardian Group itu berani mengungkap perasaannya pada seorang Office Girl yang bekerja disatu gedung yang sama dengannya.


Dikalangan karyawan bawah, yaitu OB dan Security semua tahun tentang kedekatan Qia dan Fathan. Karna pria itu sudah mulai menyimpan rasa saat Qia masih Training mengunakan baju hitam putih beberapa waktu sebelum akhirnya ia di terima bekerja secara tetap.


"Bisa bantu aku?" pinta Qia saat ia dan Fathan duduk berdua di parkiran sebelum pulang pada sore hari, kebetulan pria itu shift pagi jadi bisa berangkat dan pulang bersama Sang kekasih.


"Tentu, kamu mau apa?" tanya Fathan.


"Aku ingin ambil motor, bisa tolong aku untuk ajukan syaratnya?"


"Motor? untuk apa? aku bisa mengantarkanmu, Qia."


"Yakin? lalu bagaimana dengan pembayarannya? kamu harus kirim uang juga untuk Ibumu," ujar Fathan mengingatkan, ia tahu kondisi ekonomi kekasihnya itu karna sudah beberapa kali mengobrol juga dengan Ibu lewat sambungan telepon.


"Ini sudah ku bicarakan, ibu tak masalah."


"Baiklah, Sabtu ini aku akan mengantarmu ke dealer," jawab Fathan pasrah mau tak mau mengikuti keinginan wanita yang kini resmi menjadi miliknya. Fathan yang bukan dari kalangan orang berada hanya bisa membantu semampunya. Kini ia juga harus lebih memikirkan masa depan untuk menghalalkan Qia secepatnya. Meski sudah dimiliki, nyatanya ada saja yang menggoda pacarnya itu.


"Terima kasih pacarnya Qia," kekehnya menggemaskan yang langsung di peluk oleh Fathan.


"Aku mencintaimu, jangan pergi ya." lirih Fathan sambil berbisik.


"Iya, iya.. aku gak kemana-mana kok," jawab Qia sambil tersenyum.


Fathan yang mencubit pipi gadisnya itu tak sadar jika ada sepasang mata yang melihat mereka.


.


.


.


Itu seperti- - -,???



Jangan macem-macem Tem, ada Mpet yang lagi ngintip 🤣🤣🤣🤣🤣


Yuk pulang yuk sebelum terompet kiamat nya bunyi.