Secret Love

Secret Love
My Baby?



"Saya kira pertemuan kali ini cukup sampai di sini. Terima kasih Pak Bian sudah berkenan untuk bertemu dengan saya membahas kerja sama yang sempat tertunda." ucap seorang pria yang tengah duduk bersama dengan Bian dan Dimas.


"Sama-sama Pak Aaric. Saya meminta maaf karena satu hal pribadi membuat kerja sama ini tertunda lama." balas Bian dengan senyum ramahnya.


"Tidak apa-apa, saya paham sekali atas musibah yang terjadi pada Pak Bian." ujar pria tersebut yang bernama Aaric itu. "Kami senang bekerja sama dengan perusahaan Adijaya. Semoga kedepannya kita bisa saling mendukung satu sama lain dengan benefit yang tentunya saling menguntungkan."


"Terima kasih karena sudah mempercayai perusahaan kami sebagai partner bekerja dari perusahan besar Pak Aaric." ucap Bian seraya menyalami Aaric sebagai tanda kerja sama diantara mereka akan segera dimulai. Mereka saling melempar senyum ramah atas berhasilnya bentuk kerja sama diantara kedua perusahaan itu.


Aaric menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi seraya memangku kedua tangannya dengan mata sipit yang memicing.


"Okey, karena pertemuan untuk bisnis ini selesai, gue nggak akan beramah tamah lagi sama Lo, Bi!" ucap Aaric menatap sinis Bian yang berada di depannya.


Bian terkekeh mendengar kalimat Aaric yang memperlihatkan sifat aslinya itu.


"Aaric-Aaric," Bian berdecak seraya menggelengkan kepalanya. "Ternyata Lo nggak berubah sejak dulu," ujarnya santai.


"Lo nggak usah ingetin gue tentang masa lalu, basi!" sewot Aaric yang tak terima jika Bian seolah meremehkannya.


"Santai, Bro Ar... Gue gak ada maksud untuk mengingkatkan Lo tentang masa lalu."


"Banyak bacot Lo, Bi!" sarkas Aaric pada Bian. Nyatanya pria itu masih memendam dendam yang mendalam pada Bian atas kejadian di masa lalu yang tejadi diantara mereka berdua.


"Wow... santai Ar... gue nggak pernah nyangka Aaric yang ramah dan baik hati ternyata sekarang berubah menjadi seseorang yang kasar."


"Dan jangan pernah Lo lupakan gue seperti ini karena Lo! Nggak ada seorang teman baik yang menusuk sahabatnya dari belakang. Lo puas sekarang, Abian Kharis, hah!"


"Gue udah nggak kenal lagi dengan Aaric teman gue yang dulu." sendu Bian cukup terkejut dengan perubahan teman lamanya tersebut saat ini.


"Teman?" Aaric terkekeh sinis. "Lo yakin masih nganggap gue temen?"


"Selalu, Ar. Gue selalu nganggep pertemanan kita itu sangat berarti buat gue. Walau kenyataannya kita sudah nggak sedekat dulu karena Lo yang menjauh bahkan menghindar dari gue." ungkap Bian.


Aaric-pria itu hanya terdiam dengan mimik muka sinis dan malas saat terus berlama-lama dekat dengan Bian.


Dimas yang menyaksikan perdebatan dua pria di dekatnya itu merasa bingung dengan akar permasalahan yang terjadi diantara mereka. Ia cuma bisa diam melongo memperhatikan drama dua pria tampan yang entah sedang membicarakan masalah apa.


Bian menghela napas pelan, sejurus kemudian membuka kembali mulutnya untuk menanggapi Aaric.


"Lo tenang dulu, Ar. Gue bisa jelasin semuanya. Lo salah paham sama gue. Semua itu nggak seperti yang Lo pikir selama ini."


"Halah, bulshit!" elak Aaric yang tak ingin lagi mendengar pembelaan dari sang penghianat.


"Please, dengerin dulu gue, Ar." pinta Bian yang kali ini mencoba untuk bersabar agar tak lagi terpancing emosi oleh Aaric.


Bukan karena apa, pertemuan terakhir mereka saat beberapa tahun yang lalu berakhir dengan adu mulut dan hampir saja terjadi pertikaian karena Aaric yang tak mau mendengarkan penjelasan Bian sama sekali.


Dan kini hal seperti itu pun kembali terjadi. Aaric seolah menutup mata dan telinganya enggan untuk mendengar penjelasan Bian yang ia abaikan bertahun-tahun lamanya.


Sepertinya pria jangkung itu malas meladeni Bian yang entah kenapa selalu saja membuatnya naik pitam. Melihat Bian seujung kuku pun Aaric seolah enggan. Ia masih merasa marah pada apa yang terjadi di masa lalunya.


"Gue nggak butuh penjelasan dari Lo, setelah semua apa yang gue lihat dengan mata kepala gue sendiri cukup meyakinkan, kalau Lo memang bukan teman yang Baik, Bi." ucap Aaric berdecih.


"Sampai kapan Lo akan mengelak dan menghindar dari gue, Ar? Gue nggak mau pertemanan kita hancur karena hanya kesalah pahaman yang Lo sendiri nggak mau menerima penjelasan dari gue,"


Aaric tak menghiraukan kalimat Bian yang hendak akan menjelaskan sesuatu hal yang sangat penting padanya.


"Sorry, gue harus pergi sekarang juga." Aaric hendak bangkit untuk pergi menghindar dari Bian yang tetap keukeuh dan teguh dengan pendiriannya. "Pak Dimas, mari saya pamit duluan, maaf pertemuan ini membuat Pak Dimas merasa tidak nyaman."


"I-iya, Pak Aaric." jawab Dimas dengan kikuk.


"Ar-Aaric!" panggil Bian saat melihat Aaric melenggang pergi menjauh meninggalkannya.


Bian mengesah kasar. Ternyata sulit sekali meyakinkan orang yang benar-benar sudah di gelapkan dengan rasa kebencian yang mendarah daging.


"Pak?" panggil Dimas saat Aaric sudah tak ada di antara mereka.


"Hem," deham Bian membalas panggilan suara Dimas dengan malas.


"Jadi--"


"Iya, kamu nggak usah kepo dengan apa yang sudah kamu lihat dan dengar. Ini urusan para


laki-laki tampan yang kamu sendiri nggak akan pernah paham, Dim." selorohnya tanpa menoleh sedikitpun pada Dimas.


Dimas hanya mampu mencebikkan bibirnya seraya memutar bola matanya malas saat mendengar penuturan atasannya itu.


"Pria tampan memang banyak sekali mempunyai permasalahan yang rumit dalam hidupnya. Untung saya tidak berdaya di antara lingkaran itu." ungkapnya menatap Bian. "Terus ini Bapak mau kemana?" tanyanya melihat Bian yang ikut-ikutan beranjak dari tempat duduknya.


"Pulang,"


"Lah terus saya?" tunjuknya pada diri sendiri.


"Kamu mau menginap di sini?"


"Ya mana ada, Pak. Ada-ada aja!"


"Ya udah, ayo!" ajak Bian.


"Saya harus balik lagi ke kantor." terangnya seraya melihat jam di pergelangan tangannya.


"Ya terus?"


"Bapak mau saya antar pulang dulu atau gimana ini?" Dimas dibuat pusing dengan kelakuan atasannya itu yang mulai menyebalkan.


"Nggak perlu, saya bisa pulang sendiri kok. Kamu bisa kembali lagi ke kantor tanpa harus bersusah payah nganter saya pulang. Saya tahu kamu pasti nggak bakalan ikhlas, iya kan?" ucap Bian dengan santai.


"Dih," Dimas melongo mendengar kalimat Bian yang membuatnya semakin meradang emosi.


"Udah cepet balik sana," perintahnya pada Dimas. "Nih!" Bian mengulurkan uang pecahan seratus ribu pada asistennya itu yang mana membuat Dimas semakin terheran-heran.


"Maksudnya, ini buat apa Pak?" tanya Dimas yang menerima juga uang tersebut dari tangan Bian.


"Buat ongkos. Saya tahu kamu lagi bokek. Makanya saya kasih itu uang buat kamu balik ke kantor. Mobil saya yang bawa, tapi jangan lupa sepulang dari kantor bawa mobil saya pulang ke rumah dengan selamat tanpa ada sedikit pun yang cacat." ujarnya dengan wajah tanpa berdosa.


Dimas semakin membulatkan matanya penuh. Tak ayal mulutnya kini menganga terbuka lebar.


"Nasib-nasib," Dimas menggelengkan kepalanya. "Sabar Dimas... ini ujian hidup kamu yang entah kapan akan segera berakhir." gumamnya sembari melihat punggung kepergian Bian.


***


Cukup lama Kiana berjalan menyusuri jalanan mencari sesuap nasi demi memenuhi kebutuhan perutnya. Dalam bayangan terik panas sinar matahari, Kiana masih tetap bertahan membawa si kecil dalam gendongannya walau keadaan dirinya sendiri begitu sangat menghawatirkan.


Berjalan dengan langkah gontai, Kiana memaksakan diri untuk tetap berjalan melangkah membawa beban berat yang ada dalam pikulannya.


Al, bayinya itulah yang menjadi kekuatannya untuk menghadapi kerasnya hidup ini. Kiana harus berjuang demi putra kecilnya itu. Tak boleh lemah, karena ia tak akan kalah dengan keadaan meski harus membuatnya bekerja keras sekuat jiwa dan raganya.


Dan semua itu demi, Albio kecilnya.


"Kita pasti bisa, Nak. Kamu yang sabar ya, sayang..."


Kiana sudah tak dapat lagi menahan rasa sakit yang mendera dirinya.


Perutnya terasa begitu sakit melilit, dengan denyutan hebat di kepalanya yang membuat pandangannya sedikit demi sedikit mulai mengabur. Tubuhnya serasa lemas, seperti sudah tak memiliki lagi tenaga untuk sekadar berjalan.


Buliran keringat dingin membasahi seluruh permukaan tubuhnya. Nampak wajah tirus gadis itu semakin memucat kala ia merasakan kembali rasa sakit yang menggerogoti bagian dalam tubuhnya.


"Al..." ucap Kiana tertahan dengan suara parau memegang erat raga kecil itu agar tak terjatuh.


Keadaan Kiana semakin memburuk kala ia tetap memaksakan terus berjalan tanpa memperdulikan lagi keadaannya. Tubuhnya bergetar hebat dengan deru napas yang semakin intens. Sulit sekali rasanya ia untuk sekedar bernapas. Sampai perlahan semua pandangan matanya berubah menjadi kian menggelap.


Hingga pada akhirnya Kiana terjatuh dengan si kecil yang masih berada dalam dekapan tangannya. Kiana tak sadarkan diri. Raganya tergolek lemah diantara manusia yang tengah berlalu lalang.


Al menangis merasakan sakit karena benturan cukup keras di bagian kepalanya. Suara tangis bayi yang cukup keras itu mengundang orang-orang untuk menghampiri Kiana yang tengah tergolek lemah dengan keadaan yang begitu sangat memprihatinkan.


***


Bian tak habis pikir dengan Aaric yang masih bersikap kekanakan setelah bertahun lamanya. Rupanya pria itu masih saja memendam perasaan dendam terhadapnya yang Bian sendiri sudah merasa lelah jika harus terus menerus berjarak dengan teman lamanya itu.


Bian mengesah membuang napas dengan kasar. Sebisa mungkin ia harus bisa menyelesaikan masalah yang sudah terlampau lama antara dirinya dan juga Aaric. Karena walau bagaimana pun, keretakan hubungan pertemanan diantara mereka ada sebab karena dirinya juga.


"Sorry, Ar, gue udah buat Lo kecewa. Tapi gue akan berusaha untuk memperbaiki semuanya agar hubungan pertemanan kita bisa kembali seperti dulu." gumamnya pelan.


Bian menatap lurus jalanan yang ada di depan matanya. Berusaha fokus untuk mengemudikan laju kendaraan, walau pikirannya kini terus bercabang memikirkan banyak hal saat ini.


Salah satunya Kiana. Ya, nama dan bayang-bayang wajah gadis itu terus memenuhi isi kepalanya. Terus membayanginya setiap saat dimana pun Bian berada.


Entah mengapa dadanya selalu saja merasa sesak jika teringat dengan gadisnya itu.


Bian meraih ponsel milikny yang sejurus kemudian ia menghubungi seseorang yang penting di sambungannya saat ini.


"Hallo, Jo." panggil Bian pada Jo di sambungan teleponnya.


"Bagaimana, apa kamu sudah mendapatkan hasilnya?"


Bian nampak kembali menghela napasnya. Setengah putus asa ia rasakan meski dalam hatinya ia yakin cepat atau lambat ia akan segera menemukan Kiana suatu hari nanti.


"Saya minta kamu dan tim bekerja dengan baik, Jo. Saya menggantungkan harapan besar pada kalian." ucapnya berharap besar jika orang-orang kepercayaannya itu bisa diandalkan.


Bian menatap nanar layar ponsel yang menghitam setelah sebelumnya memutuskan sambungan telepon tersebut. Ia mendengus saat jalanan kembali terlihat mulai tersendat yang mengharuskannya untuk bertahan. Hingga ia berniat menepikan kendaraannya itu di bahu jalan, menenangkan pikirannya sejenak yang sejak tadi terus terasa berat ia rasa.


Cukup lama ia berdiam diri duduk di dalam mobilnya melihat keadaan jalanan yang begitu padat merayap dipenuhi oleh banyak kendaraan.


Hingga manik matanya menangkap sebuah kerumunan khalayak yang tak jauh dari tempat ia berada saat ini. Orang-orang saling berdatangan berkerumun pada satu tempat entah sedang menyaksikan apa yang mana membuat Bian surut memperhatikannya dari kejauhan.


Hingga rasa penasaran membuatnya beranjak untuk melihat keadaan di sana yang menarik perhatiannya itu. Berjalan dengan santai Bian menghampiri kerumunan khalayak tersebut dengan mengedarkan pandangan matanya ke arah orang-orang yang saling berbisik membicarakan sesuatu di depan sana.


Bian semakin penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Suara tangisan bayi seketika memenuhi indra pendengarannya. Begitu lirih dan menyayat hati tangisan dari seorang makhluk kecil itu.


"Pa, Bu, ayo di bantu tolong atuh ini kasian bayi sama ibunya!" teriak seorang wanita paruh baya yang tengah meminta pertolongan.


"Panggil ambulan aja atau nggak bisa minta bawa ibu dan bayinya ke rumah sakit terdekat. Kasian ini bayinya nangis terus dari tadi."


Bian mendengar kalimat demi kalimat dari orang-orang yang saling mengandalkan untuk menolong yang Bian yakini tak ada satupun dari mereka yang menyaksikan itu semua dapat mengulurkan bantuannya.


"Permisi, ini ada apa ya?" tanya Bian yang memaksa merangsek masuk kedalam kerumunan.


"Ada seorang ibu muda yang terjatuh pingsan di tengah jalan sampai bayinya menangis terus sejak tadi, Pak." ucap seseorang yang menjawab pertanyaan Bian.


Semakin penasaran, akhirnya Bian memaksa melongokkan kepalanya melihat apa yang sedang terjadi di depan sana. Sempat kesulitan, tapi akhirnya Bian bisa menempatkan diri di tengah kerumunan itu.


Namun, betapa terkejutnya saat ia melihat seseorang yang tengah tergolek lemah di bawah sana dengan begitu sangat mengkhawatirkan. Seketika tubuh Bian melemas, tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini tepat di depan matanya.


Bian terpatung di tempatnya, matanya membeliak penuh tak percaya, napasnya sesak seolah hendak berhenti untuk bernapas. Seluruh persendiannya seolah tak dapat ia gerakkan untuk mengayunkan langkah kakinya menghampiri seseorang yang ia rindukan dan ia cari-cari selama ini.


"K-Kiana?" ucapnya terbata saat melihat sosok gadis yang selama ini ia cari itu kini ada di depan matanya.


"Kia?" ucapnya lagi lirih dengan suara tercekat.


Semua orang sontak menoleh pada Bian. Pria itu kini ikut menumpukkan kedua lutut kakinya di hadapan Kiana yang tergolek lemah tak berdaya.


"ini beneran kamu, Ki?" sebutnya lagi seolah tak percaya dengan penglihatannya saat ini. Matanya mulai berembun, seluruh tubuhnya bergetar hebat terlebih saat menyentuh tangan lemah Kiana.


"Ki..." ucapnya dengan sendu menatap wajah istrinya itu.


"Bapak kenal dengan wanita ini?" tanya seseorang memastikan.


Bian menganggukkan kepalanya, seraya menyentuh lembut wajah Kiana yang pucat pasi.


"I-istri saya, ini istri saya," ungkapnya dengan lelehan air bening yang tak terasa menetes di pelupuk matanya. "Ini istri saya yang hilang. Tolong saya Pak, tolong istri saya! Tolong bantu bawa istri saya ke dalam mobil saya, Pak!" pintanya sembari menunjuk mobilnya yang tak jauh dari sana.


Dengan sigap orang-orang tersebut membantu Bian mengangkat Kiana untuk dibawa masuk ke dalam mobil yang sebelumnya Bian tunjuk. Tak sedikit orang-orang yang berada di sana pun saling berbisik entah membicarakan apa.


"Pak, ini bayinya." serah seorang wanita paruh baya memberikan bayi kecil yang tengah menangis ke dalam pangkuan tangannya.


Bian terkesima sejenak melihat seorang bayi kecil yang diulurkan kepadanya. Sampai kesadarannya itu mulai kembali, dengan tangan yang bergetar, Bian menerima Bayi kecil itu ke dalam dekapan tangannya. Ia menatap lekat wajah bayi itu dengan perasaan yang bercampur aduk menjadi satu. Tak percaya dengan semua yang ia alami hari ini begitu membuatnya terkejut. Suatu perasaan yang tak dapat ia ungkapkan dengan kata-kata, selain saat ini yang ia bisa lakukan hanyalah mendekap bayi kecil miliknya itu yang begitu membuatnya semakin beruraian air mata.


"B-bayiku..."


*****