
Secercah mentari pagi terbit indah di bibir kecil Kiana yang tak henti mengulas senyumannya di pagi itu. Sebuah senyuman yang hangat dan juga membuat hatinya berbunga-bunga, kala tanpa ia duga mendapati sesuatu hal yang sangat membuatnya terenyuh.
Tidurnya kali ini sangatlah pulas, berbeda dengan malam-malam sebelumnya yang selalu menampakkan kegelisahan. Entah apa penyebabnya, yang terpenting satu malam yang sudah terlewati nyatanya Kiana merasakan kenyamanan tidur yang sudah lama tidak pernah lagi ia dapatkan.
Bagaimana bisa?
Itu karena, Bian.
Laki-laki itulah yang sudah membuat awal pagi Kiana saat membuka matanya dapat merasakan keterkejutannya, sekaligus membuatnya malu dan merasakan kembali perasaan bahagia dalam satu waktu secara bersamaan.
Disaat Kiana membuka matanya, tertangkap sosok satu makhluk Tuhan yang begitu sempurna terbingkai jelas oleh manik matanya. Sosok itu tengah terpejam, tepat berada di sampingnya berbaring menyamping menghadapnya dengan begitu dekatnya.
Satu tangan Bian menyampir di pinggangnya, sedangkan satu tangannya lagi dijadikannya alasan kepala pengganti bantal.
Kiana memperhatikan garis wajah yang berada tepat di dekat wajahnya itu. Ia tatap setiap lekukan yang menggambarkan betapa sempurna dan indahnya makhluk tersebut.
Sorot matanya mengarah pada hidung mancung Bian, kemudian beralih ke bawah bibir berwarna merah muda yang begitu menggoda. Ujung dagunya yang sempurna memperlihatkan belahan dibagian tengahnya. Beralih ke bagian atas Kiana memperhatikan kedua alis Bian yang terlihat hitam dan tebal, dan juga tidak terlewat kedua kelopak mata yang masih tertutup tersebut tak lepas dari pandangannya.
Kiana tak dapat menampik jika ia amatlah senang dengan kegiatannya itu. Hingga ia mendapati kedua mata itu terbuka sempurna dan...
"Pagi," ucap Bian dengan suara serak khas orang yang baru bangun dari tidur. "Hai..." sapanya dengan seutas senyum tertarik di bibirnya kala menatap Kiana yang tengah menatapnya balik.
Kiana menjengit. Ia memalingkan wajahnya dari tatapan mata Bian yang begitu lembut.
Tidak dapat Kiana bayangkan betapa malunya ia saat ini. Ia sampai berulang kali menutup wajahnya dengan kedua tangan. Menyembunyikan seluruh bagian wajahnya dari Bian yang sedari tadi terus menatapnya.
Bagaimana bisa hal yang sama sekali tidak pernah Kiana bayangkan selama ini justru terjadi padanya. Bagaimana bisa pula Bian masih berada di kamarnya. Dan apa yang sedang ia lakukan sepagi ini berada di kamarnya?
Kiana baru tersadar.
Ia mengingat-mengingat apa yang sudah mereka lakukan hingga dapat tertidur berdua dengan begitu dekatnya. Dalam satu ranjang. Saling berpelukan. Dan merasakan kenyamanan dan kedamaian hati yang tidak dapat Kiana jabarkan dengan kata-kata.
Kiana bangkit, ia mengambil duduk kemudian memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu pada tuan mudanya itu.
"Bapak lagi ngapain di kamar saya?" tanya Kiana penuh selidik pada Bian.
"Hem?" Bian melongo mendapat pertanyaan tersebut dari Kiana.
'Dia lupa atau pura-pura lupa?' batin Bian.
"Tidur. Saya baru bangun tidur, kamu lihat saya nggak ngapa-ngapain juga kan?" jawab Bian santai.
"Kenapa Bapak tidur di kamar saya?" Kiana menggeser posisi badannya sedikit menjauh dari Bian, seraya membenarkan selimut yang menjuntai jatuh ke bawah lantai.
"Kamu yang mau dan kamu juga yang minta. Ingat gak?" tanya balik Bian kembali mengingatkan kejadian malam tadi.
"Saya?" ucap Kiana penuh dengan penekanan.
Bian menganggukkan kepalanya. Ia meringis, menggaruk asal bagian kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Semalam kamu yang bilang. Kamu nangis, dan kamu peluk saya. Saya nggak boleh lepas, kamu semakin menangis kalau saya tinggalin. Kamu tertidur dan masih peluk saya. Ya sudah, saya juga ngantuk. Toh nggak ada terjadi apapun juga diantara kita. Yang ada kamu semakin erat peluk saya semalaman."
Kiana terhenyak. Dia menutup kedua mulutnya saat mengingat semua yang dikatakan oleh Bian memang benar adanya. Tapi, bukannya yang pertama kali memeluknya itu adalah Bian? Laki-laki itulah yang menarik dirinya jatuh ke dalam pelukannya. Kenapa Bian seolah membalikkan keadaan bahwa itu semua adalah kemauannya?
"Yang benar saja Pak! Saya nggak mungkin meminta sesuatu hal yang diluar batasan antara laki-laki dan perempuan."
"Kamu mau kemana?" tanya Bian lagi saat melihat Kiana turun dari ranjang sembari membawa selimut yang ia balutkan ke tubuhnya yang masih lengkap memakai pakaian yang sama seperti semalam.
"Seharusnya Bapak nggak boleh di sini. Kita bukan muhrim. Saya takut dosa. Saya nggak mau banyak orang di rumah ini akan berpikir tidak baik pada saya. Lebih baik Bapak keluar dan pergi dari kamar saya." usir Kiana pada Bian yang terlihat tengah menghela napas kasar.
Laki-laki itu mengusap wajah dengan kedua tangannya. Turun dari ranjang dan bergegas berjalan keluar kearah pintu dengan menyeret langkahnya yang serasa malas untuk meninggalkan tempat itu. Bibir Bian mengerucut saat melewati Kiana.
***
Hari demi hari berlalu. Setiap malam selepas pulang dari kantor, Bian akan selalu menyempatkan membeli makanan yang menurutnya enak khusus untuk Kiana.
Sepertinya Bian bersungguh-sungguh menepati janjinya yang ia ucap sendiri beberapa hari yang lalu. Ia ingin menebus kesalahan demi kesalahan yang sudah dia lakukan pada Kiana, dengan caranya sendiri. Setidaknya rasa bersalahnya pada Kiana, mungkin akan sedikit mengobati kesedihan yang dirasakan oleh gadis itu selama ini.
Setiap hari, dan hampir setiap malamnya Bian selalu menyambangi kamar Kiana untuk sekedar memberikan makanan, dan berlama-lama di sana untuk sekedar melihat Kiana dengan antusiasnya melahap setiap makanan yang ia bawa.
Dengan wajah yang penuh kebinaran dimatanya, Bian membawa makanan yang sangat spesial dia khususkan untuk Kiana yang dia dapatkan dari salah satu resto atas rekomendasi Elang, yang ia tanyai selepas jam makan siang.
"Ki..." panggil Bian berdiri di depan pintu kamar Kiana yang masih tertutup rapat. "Ini saya."
Bian mengetuk pintu tersebut berulang kali dan menunggu sang empunya kamar untuk membukakan pintu untuknya.
"Kiana, ini saya Bian, ayo buka pintunya." ucap Bian yang sudah sangat tidak sabar untuk segera bertemu dengan Kiana.
Tak lama kemudian, pintu terbuka menampakkan Kiana yang tengah mengikat rambut panjangnya. Raganya masih berada di bibir pintu, menahan langkah Bian agar tak langsung masuk seperti biasanya, dengan sedikit memaksa meski Kiana sudah berulang kali menolak.
"Saya bawa makan lagi. Ini katanya lebih enak dari kemarin. Saya dapat dari salah satu resto baru, cukup lama antrinya. Tapi nggak apa-apa. Kamu harus coba. Ayo-ayo, pasti udah lapar bukan nungguin saya dari tadi?" ajak Bian menerobos masuk begitu saja ke dalam kamar Kiana.
"Nah, kamu duduk dulu. Nanti bisa pegal kalau terlalu lama berdiri." Bian menarik Kiana agar duduk tepat di sampingnya pada pinggiran ranjang kecil di sana.
"Pak," sela Kiana saat melihat Bian sibuk dengan apa yang sedang laki-laki itu lakukan di dekatnya.
"Sebentar, saya bukain dulu biar kamu cepat makan. Udah laper banget ya? Maaf, tadi jalanan cukup macet, jadi agak telat saya sampainya. Mudah-mudahan masih enak rasanya walau udah agak lama diperjalanan. Atau mau saya hangatkan dulu?" tawar Bian.
Kiana menggeleng. Ia menahan lengan Bian yang hendak beranjak dari tempatnya.
"Nggak usah." tahan Kiana, "Saya mau bicara sama Bapak,"
"Nanti aja, sekarang makan dulu. saya tahu kamu pasti udah kelaperan dari tadi kan?" Bian memberikan satu kotak makanan yang sudah ia siapkan untuk Kiana. Namun, gadis itu malah terdiam menatap Bian dengan raut keresahan dan wajah yang serius.
"Pak, mulai besok nggak perlu antar makanan lagi buat saya."
Dahi Bian mengkerung, ia menatap balik Kiana dengan penuh keheranan.
"Kenapa? Makanan yang saya bawa nggak enak ya?"
"Bukan," Kiana menggeleng.
"Apa kamu udah ngerasa bosan buat liat saya?"
Kiana tetap menggeleng, ia memalingkan wajahnya. Ragu untuk mengatakan sesuatu yang menjadi keresahannya selama ini.
Sebenarnya Kiana resah dengan apa yang Bian lakukam akhir-akhir ini untuknya. Kiana tidak pernah meminta, apalagi sampai mengharapkan sesuatu yang seperti Bian lakukan untuknya saat ini. Tapi, tetap saja. Meski itu adalah janji Bian yang diucapkannya langsung untuknya. Nyatanya sampai detik ini justru Kiana semakin merasakan keresahan dan ketakutannya semakin bertambah saja.
Dia takut jika orang-orang yang berada di rumah ini mengetahui apa yang terjadi padanya dan juga Bian. Jika mereka tahu, Kiana tidak dapat lagi bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya nanti. Terlebih, ia takut dengan murka Tuhannya. Dia takut semakin terdorong pada lembah penuh dosa yang dilakukan Bian selama ini.
"Lalu apa?" tanya Bian dengan lembut. Ia meraih tangan Kiana seraya menggenggamnya erat untuk memberikan ketenangan.
Kiana mencoba melepaskan genggaman tangan Bian. Ia semakin resah saat Bian terus mendekatkan dirinya. Kiana sedikit menggeser letak duduknya yang hampir menempel dengan Bian.
"Saya nggak bisa izinin Bapak untuk masuk lagi ke kamar saya." terang Kiana pada akhirnya.
"Kenapa? Bukannya saya udah biasa masuk ke kamar kamu buat kasih makanan. Lalu apa masalahnya? Lagi pula kita nggak melakukan sesuatu hal yang bisa buat kamu kesakitan dan sedih lagi."
"Saya takut," lirihnya seraya menundukkan kepalanya.
"Takut? Siapa yang sudah berani membuat kamu takut sampai kamu ngelarang saya buat nemuin kamu di sini? Arif, Mbok, Joko, atau si tukang supir itu? Siapa, hem? Bilang sama saya!" sungutnya.
"Semuanya." jawab Kiana lugas. "Saya takut kalau semua orang tahu apa yang Bapak lakukan selama ini, terlebih masuk ke kamar saya setiap malam. Apa Bapak nggak takut kalau mereka akan berpikir buruk tentang Bapak? Mereka akan berpikir yang tidak-tidak karena melihat Bapak masuk ke dalam kamar seorang pembantu? Bapak tidak khawatir mereka akan berbicara kejelakan tentang Bapak?"
"Saya nggak peduli mereka mau ngomong apa tentang saya. Saya udah nggak peduli lagi. Yang terpenting, saya nggak mau lihat kamu merasa sedih dan kesusahan lagi karena saya. Saya sudah bilang, kamu cukup terima dan percaya sama saya. Untuk saat ini saya hanya bisa berbuat seperti ini untuk kamu. Saya belum bisa menjanjikan apapun selain nemenin kamu makan biar nggak ngerasa kelaparan lagi setiap malam." jelas Bian pada Kiana yang terlihat gamang malam itu.
"Justru itu, saya nggak bisa. Bapak bisa berpikir seperti itu karena Bapak nggak peduli dengan orang-orang disekitar. Tapi bagaimana dengan saya? Saya udah nggak sama lagi kayak dulu. Mulai saat ini dan seterusnya sampai nanti waktunya. Saya bingung harus berbuat apa nantinya. Terlebih saya lebih takut pada Tuhan, saya nggak mau menambah dosa-dosa saya dengan terus dekat dengan Bapak yang bukan muhrim saya. Saya harus apa, Pak? Saya bingung. Saya nggak tahu harus berbuat apa nantinya, saya bingung..." lirih Kiana dengan suara serak menahan tangis yang sudah berada di ujung pangkal tenggorokannya.
Bian nampak berpikir keras dan dalam-dalam. Dalam hati ia membenarkan apa yang dikatakan oleh Kiana tentang kemungkinan yang terjadi di kemudian hari. Dia hanya memikirkan perasaannya saja agar segera terbebas dari jerat rasa bersalahnya. Sedangkan untuk Kiana, ia bahkan sama sekali tidak memikirkan dampak yang terjadi jika suatu hari nanti orang-orang bahkan kedua orang tuanya sekaligus akan mengetahui rahasia besar yang ia coba sembunyikan selama ini.
Bian pun sama bingung dibuatnya. Dia terdiam memikirkan jalan terbaik untuk mereka. Dia harus memberikan solusi yang dapat membuat Kiana merasa aman dan tenang, dan tidak membuat lagi gadis itu terisak sedih oleh karenanya. Bian tidak bisa lagi melihat Kiana menangis karena itu akan membuatnya merasa sakit dan pedih.
Bian menatap Kiana. Dia melihat gadis itu menggigiti bibir bawahnya. Bian meringis, pasti sakit. Sejurus kemudian ia meraih bibir Kiana menyentuh permukaan benda lembut itu agar untuk tidak lagi menyakiti dirinya sendiri.
"Kasih saya waktu," ucap Bian pelan meyakinkan.
*****