
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Aku percaya, saat aku menyemogakan kamu dalam doa ku, disaat itu jugalah Tuhan pasti sedang membuat rencana indah tentang pertemuan kita kelak," lirih Skala di penghujung Sepertiga malamnya.
Ia tersenyum kecil ketika bayangan gadis itu terlintas di pelupuk matanya. "Sabar ya, cantik aku masih setia merayu Tuhan kita."
Skala bangun dan merapihkan lagi semua atribut perangnya dalam berdoa tadi, masih ada beberapa waktu sebelum akhirnya ia akanmelanjutkan kewajibannya yang lain.
Matanya menatap langit-langit kamar yang tinggi, malam ini ia tidur sendiri tanpa Si Surga atau si Bujang lapuk. Entah kemana dua makhluk ajaib itu sampai mereka sepertinya lupa jika ada satu lagi Pemuda jomblo terhormat yang kesepian.
Skala terus mengulang kenangan terindahnya itu sampai kadang ia tertawa kecil sendiri saat ingat betapa lucunya gadis yang ia tak tahu namanya dan kebodohannya itu sampai detik ini sangat ia sesali.
"Andai waktu bisa ku ulang, akan ku tanya jenis makhluk seperti apa dirimu sampai membuat seorang Skala jatuh cinta begitu dalamnya," kekehnya pelan, karna ia cukup sadar diri jika memang ia termasuk orang yang begitu sulit untuk suka pada seorang wanita bahkan jika dipaksa pun justru akan mundur dan menghilang seperti kejadian pada Nara saat ini.
.
.
.
"Apa perlu Ibu minta Uncle mu untuk mencari gadis itu?" tanya Ibu usai sarapan pagi.
"Buat apa, nanti juga nongol sendiri."
"Kapan? sebentar lagi kamu lulus kuliah, itupun kalau lulus ya," sindir Ibu, wanita itu sebenarnya ragu putranya akan selesai di waktu yang sudah di tentukan.
"Lulus lah, Bu. Skala kan cuma sering bolos bukan gak pinter," protes Si putra tunggal.
"Hem, Aamiin. Kamu akan langsung kerja nanti, Ok," pesan Ibu lagi yang dengan pasrah di iyakan oleh Skala.
"Abis kerja jangan lupa nikah, kalau masih gak nikah juga Ibu jodohin!" ancam Ibu yang langsung membuat Skala tersedak saat minum.
"Udah Ala bilang, Ala tuh bukan Siti Nur baya, Bu."
"Biar Ibu yakin kalau kamu tuh normal, jangan bilang kalo cerita kamu yang suka sama gadis di bawah pohon itu bohong ya," ujar Ibu yang masih khawatir.
"Ya ampun! apa perlu Ala bikin anak sekarang biar Ibu percaya kalo Ala bisa nembak?" balas Skala meyakinkan ibu yang malah shock hingga akhirnya pingsan.
"Buuuuuuuuuu--," teriak Skala dan Ayah berbarengan karna panik.
"Kamu kalau ngomong suka sembarangan!" omel Ayah. .
Skala yang ikut berusaha membangunkan wanita cantik itu terus mengalirkan air mata.
"Ala, gak bohong, Bu. Ala serius lagi jatuh cinta. Ibu kalau gak percaya tanya aja sama Tuhan, Dia aja mungkin bosan karena Ala selalu ngulang doa yang sama setiap malam. Ibu percaya sama Ala ya," mohonnya sambil terisak saat Ibu sudah di baringkan di ranjang kamar.
"Bagaimana Ibu percaya, jika kamu saja tak tahu siapa orangnya, Nak." Ibu mengusap kebasahan di pipi putranya karna air mata.
.
.
.
"Bukan gak tahu, cuma lagi pura pura gak mau tahu aja, Bu."