Secret Love

Secret Love
Tunggu Aku, Kiana!



Kiana berjalan dengan langkah berat beserta dipenuhi dengan beban pikiran yang berkemelut di kepalanya. Menyusuri jalanan ibu kota yang masih nampak ramai, gemerlap lampu kota yang bersinar di setiap penjuru yang ada membuat Kiana tidak merasakan lelah sekalipun meski harus berjalan jauh dari tempat terakhir ia tinggalkan.


Terus melangkah walau tak pasti, keraguan tersirat pada dirinya untuk melangkah lebih jauh meninggalkan keramaian khalayak di sana. Berjalan dengan segala beban pikiran yang ada, Kiana bersusah payah berusaha menemukan jalan pulang meski ia pun tak tahu arah.


Disepanjang perjalanan, dalam benaknya tak henti ia terus bertanya-tanya memikirkan jati diri yang sebenarnya.


Siapakah dirinya? Bagaimana bisa terjadi? Kenapa harus oleh dirinya? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang membuat Kiana semakin terus memikirkannya.


Belum lepas pada masalah yang tengah terjadi padanya, kini Kiana harus kembali berperang melawan dirinya sendiri tentang masa lalunya yang tak memiliki kepastian yang jelas. Selama ini Kiana berusaha untuk berdamai dengan masa lalunya, mengikhlaskan segala apa yang sudah menjadi suratan takdir. Namun dalam kesejap mata segalanya runtuh, semua itu hanya sia-sia belaka.


Perkataan Linda mengenai penilaian buruk tentang dirinya terus saja terngiang-ngiang. Kalimat demi kalimat yang tak berperasaan dilontarkan untuknya begitu sangat menyakiti hati.


"Harus aku akui kamu memang pintar menggoda Bian, Kiana."


"Kamu sudah menjebak Bian dengan cara kotor dan hina, dan itu sangat menjijikan!"


"Kamu rela sudah memberikan tubuhmu pada laki-laki milik wanita lain. Tak ubah layaknya seperti seorang pelacur murahan yang menjual tubuhnya untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan, Kiana!"


"Bian sangat membencimu, dia tidak menyukaimu, bahkan dia sangat jijik dengan melihatmu saja!"


"Bian bersikap baik dan peduli terhadapmu bukan karena dia menyukaimu. Karena Bian merasa bersalah karena apa yang sudah dia lakukan. Dibalik sikap baik dan pedulinya, Bian hanya mengasihinimu, Kiana, tidak lebih!"


Kiana menggelengkan kepalanya untuk menepis semua perkataan Linda yang bersarang di benaknya. Kalimat itu berhasil membuat Kiana menjadi seorang manusia paling rendah di dunia ini.


Wanita penggoda? Wanita picik? Wanita murahan? Bahkan tak ayal ia dibandingkan seperti seorang pelacur hina yang menjajakan tubuhnya pada laki-laki hidung belang di luaran sana.


Bahkan dibalik sikap baik, peduli, dan perhatian Bian selama ini tak ubah hanya sekedar topeng dibalik rasa bersalah dan ketakutan pria itu saja?


Apa semua ini adil untuknya? Apa salah jika ia mendapatkan keadilan dan perlindungan seperti apa yang dia dapatkan saat ini dari Bian? Dia hanyalah korban. Tak adil jika semua orang menghakiminya tanpa tahu apa yang Kiana rasakan saat ini.


Benarkah? Apa benar semua yang di katakan oleh wanita itu?


Tanpa sadar Kiana terus berjalan tanpa henti ketika hanya hati yang menuntunnya untuk melangkah. Tak terasa olehnya deraian air mata mengalir begitu saja di pipi. Kiana menangis dalam diam. Meratapi kisah hidupnya yang penuh dengan kenestapaan.


Sekelebat suara Linda terus berputar di kepalanya. Memenuhi dan terus berputar-putar seolah menghakimi.


"Aku tahu hidup seorang diri sangat menyulitkamu selama ini. Terlahir sebagai manusia cacat yang tidak diinginkan oleh siapapun di dunia ini. Apa kamu pernah berpikir kenapa kamu terlahir seperti itu, Kiana? Apa kamu tidak pernah berpikir bagaimana jika kedua orang tuamu sengaja membuang kamu begitu saja karena kamu memang tidak di inginkan oleh mereka karena mereka menganggap kamu sebagai anak pembawa sial?"


"Coba kamu bayangkan Kiana, mungkinkah kamu terlahir sebagai anak dari hubungan gelap kedua orang tuamu karena skandal perselingkuhan? Owh, mungkin juga kamu adalah anak dari hasil pemerkosaan yang dialami ibumu? Atau, mungkin saja kamu adalah anak dari seorang pelacur yang tak jelas siapa ayah kandungnya dari para pria hidung belang di luaran sana? Bisa saja kan? Apa kamu pernah memikirkannya, Kiana?"


"Tidak ada yang peduli padamu, Kiana, karena kamu adalah seorang anak haram yang tidak tahu diri!"


"Sama halnya seperti bayi yang ada di dalam kandunganmu, dia anak haram, dia anak yang yang tak sengaja ada dan tidak diinginkan oleh siapapun, termasuk ayahnya sendiri!"


"Kamu dan anak itu, kalian berdua sungguh sangat menyedihkan! Sama-sama tidak diinginkan oleh siapapun!"


"Cukup! Aku bilang cukup!" teriak Kiana saat suara-suara itu terus berputar di kepalanya.


Kiana menutup telinga dengan kedua tangannya. Berharap suara Linda yang memekakan indra pendengarannya hilang tak terdengar lagi. Berbisik lirih seperti suara angin yang berhembus di malam itu.


Titik demi titik buliran air jatuh dari langit menerpa diri dan semua benda yang ada di sekitar. Kiana mendongak ke langit untuk merasai karunia Tuhan yang menyentuh dan membelai seluruh permukaan wajahnya dengan jejak-jejak air yang membasahi.


Kiana termenung dengan sebutan yang menggambarkan dirinya sebagai seorang anak yang terlahir di dunia ini.


Anak pembawa sial? Anak hasil dari perselingkuhan? Anak dari seorang wanita korban pemerkosaan? Atau kemungkinan yang tepat dia adalah seorang anak haram dari seorang pelacur?


Sungguh tragis sekali hidupnya. Sangat menyedihkan dikala orang tuanya sendiri pun begitu tak menginginkan dia hidup di dunia ini. Apa sebegitu hinanya dirinya terlahir sebagai seorang manusia? Tak ada yang menginginkan dia ada. Tak ada yang peduli padanya.


Lalu, untuk apa dia terlahir ke dunia ini? Untuk apa dia hidup jika tak diinginkan dan dibuang begitu saja tanpa ada rasa belas kasih?


Kiana luruh, dia terduduk di pinggir jalanan yang gelap dan sepi. Hanya remang-remang cahaya yang terpendar dari lampu jalanan dari kejauhan sebagai lenteranya. Meratapi nasib yang selalu enggan berpihak padanya. Seolah sulit sekali menjadikannya kawan untuk meniti kebahagiaan.


Kiana memeluk kedua kakinya yang duduk tertekuk, menenggelamkan wajahnya disana, menangis pilu dengan suara yang terendam gemericik di bawah guyuran air hujan yang deras. Hanya menangis yang dapat Kiana lakukan untuk mencurahkan segala sesak di dada. Dan hanya kepada Tuhan sang penciptanya lah dia berserah diri atas apa yang menjadi suratan takdirnya.


***


"Mama udah tenang, kamu jangan terlalu banyak pikiran. Yang terpenting sekarang kamu harus bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik, Bi. Papa nggak mau lihat Mama kamu terus menerus menangis seperti tadi." ucap Pak Hardi saat menghampiri kedua anaknya.


Bian mengangguk, "Iya, Pa. Bian akan segera menyelesaikan masalah ini secepatnya. Bian janji,"


Pak Hardi menghela napas setelah sebelumnya mengambil duduk di samping putranya, "Papa percaya setelah apa yang kamu jelaskan memang cukup masuk akal. Kamu harus lebih berhati-hati lagi dalam mengambil keputusan. Bukan karena Papa merasa sakit hati sampai tidak mau membantu anak Papa sendiri. Tapi Papa harap kamu bisa mengambil sikap dan menyelesaikan masalah ini dengan bijak. Kamu sudah dewasa Bi, Papa yakin kamu pasti bisa menghadapi ini semua."


"Makasih, Pa. Bian minta maaf sama Papa karena selama ini udah mengabaikan nasihat Papa. Bian menyesal, Bian malu dengan diri sendiri. Kelakuan nakal Bian udah buat sedih Mama, Papa. Tapi Bian mohon, percaya sama Bian, Pa. Mereka menjebak Bian, wanita itu memanfaatkan Bian demi tujuan Sadewa agar dapat membuat perusahaan kita hancur. Maafin Bian, Pa." sesal Bian dengan suara bergetar.


Pak Hardi menepuk-nepuk pundak Bian menenangkan putra sulungnya itu. Ia melihat Bian berubah sedikit semakin lebih dewasa dalam bersikap. Ya walaupun harus dengan adanya masalah pelik seperti ini. Tapi Pak Hardi sangat bangga pada anaknya karena sudah mau mengakui kesalahannya dan ingin memperbaiki diri dengan baik. Yang paling penting, Bian berusaha menyelesaikan masalah yang sudah tanpa sengaja ia buat sendiri dengan kearoganan dan keras kepala anaknya itu.


"Lho, Kakak mau kemana?" tanya Fira melihat Bian yang beranjak dari duduknya hendak akan pergi.


"Pergi, menemui wanita itu. Kakak harus menyelesaikan semuanya malam ini juga sebelum masalah lain akan muncul yang sengaja dibuat-buat oleh mereka." Bian pergi secepat mungkin agar segera bertemu dengan Linda dan menyelesaikannya semuanya. Fira berlari kecil mengusul Bian di belakang pria itu.


"Kakak yakin? Tapi Ki--"


"Ra, please..." mohon Bian pada adiknya. "Jaga Mama sebelum kakak pulang, dan pastikan kamu tidak mengatakan apapun yang akan membuat Mama sedih lagi, oke?" pinta Bian pada adiknya-Fira, yang menganggukkan kepala menurut padanya. "Kiana bersama wanita itu." lanjutnya lagi membuat Fira membulatkan matanya.


"Gimana bisa? Bukannya--"


"Entahlah, kakak juga nggak tahu. Linda mengirim photo Kiana saat dia membawanya pergi. Kakak takut wanita itu akan berbicara macam-macam pada Kiana."


"Ya ampun, Kak. Semoga Kiana baik-baik aja. Aku jadi khawatir sama keadaannya. Wanita itu benar-benar cari masalah, dia belum tahu jika sedang berhadapan depan keluarga Adijaya!" geram Fira tak habis pada Linda yang semakin gencar membuat masalah.


"Kakak harus pergi sekarang, jaga Mama." ucapnya seraya mengusap kepala Fira. Bian pergi dengan perasaan gelisah yang tak menentu. Hatinya tak tenang. Dia begitu khawatir dengan keadaan Kiana yang belum sama sekali Bian lihat sejak kepulangannya. Bian terus merapalkan doa disepanjang perjalanan, meminta pada sang maha pencipta untuk keselamatan istri dan anaknya.


"Ya Tuhan... jagalah mereka (Kiana dan bayinya) dari segala marabahaya." pintanya dalam hati.


Hati Bian sungguh tak tenang, Pikirannya terus tertuju pada Kiana yang dalam batangnya kini tengah menangis.


"Aku datang, Ki... tunggu aku," gumamnya penuh kekhawatiran.


*****