
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Sejak ia tahu Si gadis bawah pohon berkerja sebagai OG di perusahaannya, kini Sang Direktur Utama ada saja alasan untuk sebentar melipir ke lantai Qia bekerja meski hanya numpang lewat. Dan itu, tentu membuat karyawan di lantai 15 aneh, tapi tak sedikit juga yang senang karna kedatangan Skala di pagi hari bagai moodbooster bagi para wanita disana.
"Udah mau papasan, tapi lo malah belok? Fix lo GILA!" cetus Chiko.
Jika saja ia berani, ingin rasanya Chiko menarik tangan Skala ke hadapan Qia lalu mengatakan pada gadis tersebut kalau bos besarnya itu selama ini tengah memendam cinta. Tapi sayang, Chiko masih butuh pekerjaannya meski ia yakin surat pemecatan tak mungkin juga di lempar ke depan wajahnya.
"Haha, Gila jatuh cinta gak serem kok," jawab Skala.
Ya, keduannya memang hampir berpapasan tapi Sang Direktur Utama malah memilih memutar arah saat menuju lift dan itu membuat Chiko yang berjalan satu langkah di belakangnya sampai mengeluarkan tanduk.
Chiko menggeleng kan kepalanya sambil mendengkus kesal, tingkah Skala sungguh sangat menyebalkan.
"Ntar keduluan sama laki laen, awas aja lo nangis!" cetus Chiko mengingatkan
Skala hanya tersenyum, ia yakin itu tak mungkin terjadi padanya. Meski terlihat tak melakukan apapun bukan berarti ia mengabaikan Qia.
.
.
"Kan sudah ku bilang jangan motor!" Fathan yang sudah meminta gadisnya itu untuk menunggu di Kos'an nampaknya tak di indahkan.
Qia tetap berangkat kerja menggunakan sepeda motor barunya yang sudah dua minggu datang. Plat nomer yang sudah di pasang oleh Fathan membuat ia leluasa pergi kemanapun yang ia mau.
"Kenapa? kan kemarin juga aku bawa gak apa-apa," sahut Qia sambil membuka helm di kepalanya.
"Kan aku masuk pagi, kita bisa berangkat dan pulang bareng, Sayang."
Uhuk....
"Kamu harus berangkat lebih pagi, dan pulang lebih malam kalau harus jemput dan antar aku pulang," balas Qia, ia yang sedang mendapatkan tamu bulanan ingin rasanya menelan Sang kekasih hidup-hidup karna sudah berisik di hari sepagi ini.
"Dari dulu juga 'kan gitu, kamu punya motor sendiri bukan berarti aku gak bisa anter jemput kamu! kamu bisa lakuin itu kalau aku shift siang atau malam, selebihnya berangkat dan pulang tetap sama aku," tegas Fathan. Ia hanya takut dan khawatir karna jalan raya cukup ramai lancar jika pagi hari seperti ini. Sedangkan Qia masih belum terlalu lancar untuk membawanya. Fathan tak akan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu pada gadis kesayangannya tersebut.
"Aku buru-buru, udah siang," ketus Qia yang tak ingin berdebat. Ia yang ingin pergi dari hadapan cinta pertamanya itupun langsung di cekal.
"Sayang, aku belum selesai bicara," ujar pria berkulit hitam manis tersebut yang masih memakai jaketnya, begitu pun dengan Qia, ia yang belum memakai seragam OG benar-benar terlihat sangat cantik dan menggemaskan.
"Kita harus kerja, Si bos sekarang selalu datang pagi dan ada di lantai tempat ku bekerja," sahur Qia memberi alasan dan Fathan memang tahu akan hal tersebut, sudah banyak juga yang mengeluh kan hal yang sama jika Direktur Utama dan Asistennya itu sering datang lebih awal dari sebelumnya.
Qia yang sudah berjalan lebih dulu sampai di depan lobby, lagi dan lagi ditarik oleh Fathan saat mobil mewah Bos besar mereka lewat.
Qia yang berjalan buru-buru justru beranggapan Fathan tetap akan melanjutkan omelan nya padahal pria itu hanya ingin menolongnya. Sedangkan Skala yang juga melihat Qia barusan, meminta Chiko menghentikan laju mobilnya. Ia memperhatikan Qia yang berdiri di depan Fathan dengan raut wajah kesal.
"Ada apa?" tanya Chiko.
"Liat aja," sahut Skala sambil tersenyum penuh arti.
.
.
.
Yang semangat ya Cantik, berantemnya...