
Elang nampak tercengang saat mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Daniel. Ia tak dapat lagi berkata-kata selain menyelami perkataan yang diungkapkan oleh sahabatnya itu tentang keadaan Bian yang sebenarnya.
"Lo nggak asal bicara kan, Lo nggak ngarang cerita buat bikin gue makin peduli dan iba sama keadaan Bian, sahabat kita?" tanyanya pada Daniel untuk meyakinkan dirinya sendiri jika ia memang tidak salah mendengar.
"Seperti yang udah gue bilang, Bian sendiri yang cerita sama gue, Lang. Awalnya gue nggak percaya sama sekali karena Lo tahu sendiri Bian anaknya seperti apa. Jarang banget dia bisa cerita masalah pribadinya sampai ada masalah sebesar ini yang menimpanya." tutur Daniel.
"Gue pikir Linda yang membuat Bian sakit seperti itu. Lo tahu sendiri hubungan mereka seperti apa. Rasanya nggak terima dan marah bercampur satu gue pendam sama cewek itu karena udah buat sahabat kita menderita dan mendapat masalah besar. Tapi tenyata,"
"Kiana. Kiana yang membuat Bian sakit." tutur Daniel.
"Dia ninggalin Bian sampai sakit seperti itu? Tega banget tuh cewek. Seharusnya kalau pun memang Bian melakukan perbuatan seperti itu sama dia, kenapa dia nggak minta tangung jawab aja."
Daniel menggeleng, " Nggak, bukan gitu, Lang. Bian sudah mengakui perbuatannya dan bertanggung jawab sebagaimana mestinya sama Kiana. Kiana memang sengaja pergi dari hidup Bian karena ada campur tangan dari Linda yang membuat mereka seperti itu."
"Maksud Lo?"
"Sejak awal mereka berdua hanya korban dari kejahatan Linda. Linda yang mempunyai ambisi untuk mendapatkan Bian melakukan segala cara untuk mempertahankan hubungan mereka. Lo tahu Linda siapa bukan?"
Elang terkekeh sinis, "Cewek gak bener. Sugar Daddy dari pria kaya raya yang sudah memiliki istri. Sayang banget gue sama Bian harus jatuh sama cewek kayak gituan." Elang bergidig ngeri.
"Maka dari itu, Linda memanfaat Bian untuk mempertahankan posisinya demi hidup berkecukupan. Apalagi Bian laki-laki mapan dan tampan. Akan susah bagi perempuan manapun buat lepasin cowok seperti Bian. Masalah hati, gue nggak bisa banyak berbicara karena cuma mereka berdua yang tahu." ucap Daniel dengan kalimat panjangnya.
"Kalau Bian beneran cinta sama Linda, seharusnya dia bisa memaafkan semua perbuatannya walau seberat apapun."
"Lo salah Lang, justru Bian sangat membenci Linda saat mengetahui kelakuan busuknya."
"Dan jangan bilang Bian mulai cinta sama Kiana?"
Daniel tersenyum, "Seperti yang bisa Lo lihat sendiri bagaimana keadaan Bian yang sakit selama berbulan-bulan lamanya." Daniel memperhatikan air muka Elang yang kini hanya dapat geleng-geleng kepala.
"Mereka menderita karena hati. Bian yang kurang peka pada perasaanya sendiri sampai membuatnya kehilangan arah tujuan hidup."
"Nyokap bokapnya, mereka tahu?"
"No, karena Bian menutupi semuanya dari siapa pun termasuk nyokap bokapnya sendiri."
"Dan sampai pada akhirnya dia cerita sama Lo?" Elang memicingkan matanya, yang mana Daniel menganggukkan kepalanya. "Tega! Lo berdua gue ini anggap apa sih?" tak suka Elang saat masalah sebesar ini para sahabatnya tak sedikitpun melibatkannya.
"Lo jangan salah paham dulu, Lang. Sejak pertama ada gue bilang nggak percaya karena gue pikir Bian cuma sekedar bercandain gue."
Elang menghela napas panjang, sejurus kemudian ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Gue nggak bisa berkata-kata lagi, Niel." ucap Elang masih dengan ketidakpercayaannya saat ini. "Gue masih nggak percaya semua ini terjadi sama Bian. Ternyata perjalanan asmara sahabat kita itu sejak dulu sangat terjal. Ada saja masalah mulai dari yang terkecil sampai serius seperti ini."
"Gue juga, Lang" balas Daniel.
"Lalu dimana Kiana?" tanya lagi Elang penasaran.
Daniel menggeleng tanda ia pun tak tahu dimana keberadaan Kiana saat ini. Sempat ia pun membantu untuk mencari keberadaan Kiana namun nihil yang ia dapatkan.
Mereka saling terdiam tanpa suara cukup lama. Hingga beberapa saat kemudian seorang waiters datang menghampiri, yang sejurus kemudian membuyarkan lamunan mereka.
"Selamat menikmati," ucap waiters.
"Makasih, Mas." jawab Elang seraya memperhatikan satu persatu hidangan yang mereka pesan nampak menggugah selera di atas meja.
"Gue laper karena hari ini terlalu banyak sesuatu hal terungkap dengan kebenarannya. Perut gue ikutan kaget karena cacing-cacing rakus di dalam perut gue minta di isi, Niel." selorohnya.
Daniel tersenyum dan tampak menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu.
***
Dibawah terik sinar matahari yang menyelimuti bumi, Kiana dan si kecil Al yang berada dalam gendongannya berjalan diantara hiruk pikuk keramaian pinggiran kota di siang itu.
Membawa karung bekas yang berisikan hasil memulungnya, Kiana terpaksa harus membawa Al pergi kemana pun di sepanjang jalan kaki melangkah, mengumpulkan botol dan gelas plastik untuk ia jual kepada pengepul demi mendapatkan uang untuk kebutuhan hidup mereka berdua.
Beberapa hari tak mendapatkan tawaran untuk mencuci baju tetangga, membuat Kiana harus memutar otak mencari pekerjaan lain untuk menghasilkan uang. Dia tidak dapat berdiam diri saja sampai perutnya akan merasakan lapar. Terlebih keadaan Al yang masih sakit dengan demam yang tak kunjung turun, membuat ia terpaksa membawa Al pergi kemanapun dalam gendongan kain jariknya.
Untung saja hari ini Al anteng dan tidak rewel. Tak seperti hari-hari kemarin yang membuat Kiana bingung setengah mati karena Al yang rewel dan terus menerus menangis. Alhasil, ia tak sedikit pun mendapatkan uang karena harus merawat bayinya seharian di rumah.
"Al yang sabar ya, Nak. Maafin Ibu karena sudah membawa Al berjalan sejauh ini." ucapnya lirih pada sang putra yang tengah menatapnya dengan iris mata jernihnya.
"Ibu janji akan membelikan Al susu yang nggak akan membuat kamu sakit lagi, sayang. Sekarang, Al minum dulu ini ya? Ini sama enaknya dengan yang Al minum kemarin." Kiana memberikan botol susu dengan wajah yang meringis saat bayi kecilnya itu melahap dengan mulut kecilnya. Tak menolak, justru bayi itu seolah asik dengan minuman yang Kiana berikan dengan perasaan cemas dan juga sedih setiap kali memberikannya.
"Maafin ibu, Nak." mata Kiana mulai berkaca-kaca saat menatap bayinya dengan segala perasaan yang bercampur aduk menjadi satu.
"Maafin Ibu karena belum bisa menjadi ibu yang baik buat Al." ucapnya dengan sendu. Tetesan air bening jatuh begitu saja tanpa pamit. Terlihat bayinya begitu anteng menyedot sari-sari minuman dalam botol kecilnya yang Kiana buat sebagai pengganti susu untuk minum bayinya.
"Al yang kuat ya, Ibu sayang kamu, Nak. Al harus bertahan demi Ibu. Ibu akan melakukan apapun untuk membuat Al bahagia."
"Cinta Ibu tak terhingga, sayang, karena Al adalah lentera hidupnya Ibu," ungkapnya seraya mengecup lembut tangan kecil putranya.
***
"Bapak yakin?" tanya Dimas pada Bian yang sudah berada di dalam mobil bersama dirinya.
"Memangnya saya nggak pernah seyakin ini sebelumnya?" Bian malah balik bertanya.
"Nanti Bapak sakit kepala lagi kayak tempo hari." ucap Dimas mengingatkan.
"Sok tahu! Lebih baik cepat jalan sekarang juga. Kamu mau klien kita mengamuk karena terlambat sampai di tempat meeting?"
"Bisa saja, Dim. Karena kamu belum tahu klien kita itu seperti apa orangnya." seloroh Bian santai seraya menggulir layar ponselnya.
"Bapak kayak yang kenal aja." kata Dimas tak percaya.
"Makanya saya kasih tahu kamu," balasnya tak mau kalah.
Tak menggubris lagi, Dimas mulai melajukan kendaraannya membelah jalanan ibu kota menuju ke suatu tempat yang agak lumayan jauh dari perusahaan Adijaya untuk bertemu dengan klien.
Baru sampai dari setengah perjalanan, keadaan lalu lintas sudah terlihat padat merayap. Sampai beberapa saat kemudian kendaraan dari segala arah termasuk kendaraan yang membawa mereka itu terjebak macet jalanan ibu kota.
"Mau sampai kapan kota ini akan terbebas dari kemacetan?" kesah Dimas dibalik kemudinya. "Apa semua orang tidak merasa jenuh dengan keadaan seperti ini?"
"Ya mau bagaimana lagi, kita hidup di kota ini berarti harus menerima setiap kekurangan yang ada di dalamnya."
"Tapi kita harus cepat sampai di tempat meeting Pak, kalau macet begini mau sampai kapan kita akan sampai?"
"Kamu harus belajar banyak bersabar, Dim." ucap Bian santai tanpa menoleh pada asistennya itu.
"Bukannya Bapak sendiri yang bilang kita harus cepat sampai?"
"Saya nggak masalah tuh. Terlambat untuk bertemu dengan klien kita hari ini sepertinya akan sangat menyenangkan."
"Maksud Bapak?" tanya Dimas dengan dahi mengkerut. Atasannya itu memang sangat aneh. Ada saja untuk membuatnya berpikir keras karena jawaban ambigu dari Bian.
"Kamu akan tahu nanti kenapa saya bisa berbicara seperti ini."
"Makin nggak jelas," gumamnya pelan. "Semakin telat saja kita, Pak. Aduh... macetnya kok nggak hilang-hilang!"
"Kamu jangan terlalu banyak marah-marah, nanti cepet tua!"
"Siapa yang marah, saya cuman lagi kesal aja."
"Namanya hidup kadang tidak sesuai seperti apa yang kita harapkan, Dimas. Kamu harus tetap bersyukur dengan segala keadaan apapun yang telah ditetapkan. Termasuk jalanan macet ini," sahut Bian dengan kalimat bijaksananya.
'Tapi nggak juga kayak gini, Pak. Siapa juga yang suka sama jalanan macet. Yang ada orang-orang tambah stress sebelum pulang ke rumahnya ' gerutunya dalam hati.
"Iya-iya, dan saat ini Bapak sedang belajar untuk bersyukur terhadap apapun yang terjadi pada hidup Bapak, begitu?"
"Kamu pintar juga, Dim, saya nggak nyangka."
"Kalau nggak pinter mana mungkin saya bisa kerja sama Bapak." decaknya semakin kesal saja dirinya. Belum kesal dengan jalanan yang macet parah di siang itu, ditambah dengan sikap atasannya itu yang membuat Dimas semakin makan hati. Ingin rasanya saat ini juga ia berteriak. Tapi apalah daya, dia masih waras untuk tidak dapat melakukannya.
Jalanan yang tersendat sedikit demi sedikit mulai mengurai hingga kendaraan yang mereka tumpangi dapat melaju meski perlahan.
Bian nampak masih serius dengan ponselnya sejak tadi, entah apa yang sedang pria itu lakukan. Tak menghiraukan lagi Dimas yang saat ini tengah bersenandung mengikuti alunan lagu yang dia putar untuk mengurangi kebosanan saat sedang mengemudi.
"Saya suka kasian kalau lihat yang kayak gitu," ucap Dimas tiba-tiba yang mana membuat Bian menoleh padanya.
"Hem? Kamu bilang apa?" tanya Bian yang kurang jelas mendengar suara Dimas karena teredam oleh suara musik yang mengalun.
"Itu Pak, saya suka prihatin sama orang yang seperti itu." tunjuknya pada arah keluar jendela. Bian pun menoleh mengikuti arah jari telunjuk Dimas yang menunjuk pada sesuatu di luar sana.
"Apa wanita itu tidak kasihan dengan anaknya? Bekerja di siang hari yang panas sambil membawa anaknya. Itu masih bayi loh. Nggak baik di bawa keluar untuk bekerja. Apalagi di jalanan itu udaranya kotor, banyak debunya, Kasian saya lihatnya."
Bian mengamati seseorang yang berada di luar sana tengah berdiri sambil menggendong anaknya. Sangat miris sekali, apalagi wanita itu kesusahan dengan satu tangannya membawa sebuah karung yang lumayan cukup besar.
Tetiba hatinya merasakan perih saat melihat itu semua. Ia tidak dapat membayangkan jika anak dan istrinya mengalami hal tersebut di luaran sana.
Manik matanya masih dengan lekat memperhatikan wanita tersebut. Sejurus kemudian mobil yang dikemudikan oleh asistennya itu kembali melaju perlahan meninggalkan pandangan yang tengah ia amati.
"Kiana," gumamnya tetiba. Entah kenapa saat melihat wanita itu ia seperti melihat sosok Kiana yang sangat ia rindukan selama ini.
"Dunia ini memang sangat kejam, semoga saja suatu hari nanti anak itu akan bisa membuat ibunya bahagia dan hidup berkecukupan." ungkap Dimas memberikan doa yang terbaik untuk orang-orang yang kurang beruntung di bandingkan dirinya.
"Berhenti Dim," ujar Bian meminta agar Dimas menghentikan laju mobilnya.
"Ya Pak?" tanya Dimas tak mengerti.
"Saya bilang berhenti!" ucapnya mengulang.
"Tapi Pak, jalanan sudah lenggang dan kita bisa--"
"Saya bilang berhenti atau saya lompat sekarang juga!" desak Bian yang pada akhirnya membuka pintu mobil dan segera beranjak keluar walau mobil masih melaju pelan.
"Pak, Pak Bian! Bahaya Pak! Aduh..." cemas Dimas saat mendapati Bian yang benar-benar melompat dari dalam mobil. Benar-benar nekad Bian. Ada apa sih dengan atasannya itu? Dimas pun menepikan mobilnya dan berlari hendak menyusul Bian di belakang sana.
Bian berhasil keluar meski harus menantang bahaya yang dapat mencelakai dirinya sendiri. Tapi ia tak peduli. Yang terpenting saat ini ia harus memastikan sesuatu yang menggangu hati dan pikirannya saat ini.
Bian berlari dengan cepat untuk menghampiri wanita yang tengah berdiri tadi yang lumayan berjarak jauh dengannya saat ini. Tak mau menyesal, dengan segera ia ingin memastikan jika perkiraannya itu tidak salah.
"Ki, Kiana!" panggil Bian saat sampai di tempat wanita dan anaknya itu berdiri. Namun sayang, wanita yang ingin Bian pastikan itu adalah Kiana sudah tak ada lagi berada di tempatnya.
"Kiana!" panggil Bian seraya memperhatikan keadaan sekitar untuk mencari sosok Kiana. Tapi ia tidak mendapati sosok yang mirip dengan istrinya itu.
"Kamu di mana, Ki?" lirih Bian menangkup kedua telapak tangan di pangkal hidungnya. "Saya yakin itu kamu,"
"Kenapa kamu pergi ninggalin saya, Ki?" ucapnya lagi berharap jika sosok itu benar-benar Kiana. Bian menghela napas seraya terus memperhatikan sekitar berharap jika ia dapat menemukan sosok Kiana.
*****