Secret Love

Secret Love
Kecemasan Seorang Ibu



"Makannya harus dihabisin," peringat Bu Ajeng pada Bian saat mereka tengah makan di meja makan. "Nggak boleh telat apalagi sampai lupa buat makan. Buahnya dimakan juga itu. Bilang kalau mau nambah nanti Mama kupas lagi." ucapnya menasehati anaknya yang baru sembuh dari sakit.


"Iya, Ma." Bian mengangguk mengiyakan perintah ibunya layaknya seorang anak kecil yang menurut saja pada orang tuanya.


"Selesai makan jangan lupa minum obatnya, tadi udah disiapin sama Mbok. Mau Mama bantu lagi buat minumnya?" ucapnya lagi mengingatkan.


Bian menggeleng pelan. Sedikit mencebikkan bibirnya. Apaan sih Mamanya itu, dia kan sudah besar. Masa minum obat harus minta bantuan Mamanya. Apa kata orang nanti. Bian pasti malu lah.


Ya, walau Bian tidak menampik saat masih sakit Mamanya lah yang selalu ada setia menemani dan mengurusinya dengan segenap jiwa. Pengorbanan seorang ibu memang tidak ada bandingannya dan tidak akan pernah terbalas oleh jasa. Ibunya memang sangat luar biasa hebatnya. Dia bangga memiliki seorang ibu seperti Mamanya.


Pokoknya Bian akan selalu sayang Mama sampai sejak dulu maupun nanti, titik.


"Nggak boleh tidur malam-malam, apalagi sampai bergadang ngurusin hal yang nggak penting. Mama bakalan pantau kamu setiap malam, Bi." lanjutnya lagi.


Bian hanya pasrah mengikuti semua perintah ibunya yang ia sadari memang itu semua demi kebaikannya. Ya, walau dalam hati agak sedikit kesal karena ibunya kembali cerewet seperti dulu. Tapi Bian bisa apa. Kemarin-kemarin waktu dia sakit, ibunya banyak sekali menangisi keadaannya. Tapi sekarang, ibunya seolah kembali pada dirinya yang sebenarnya. Sama seperti orang tua lainnya yang akan bersikap protektif pada setiap anaknya. Semua perkataan ibunya itu tak dapat ia bantah sekecil apapun.


Hem... Bian menghela napas mendengar nasihat demi nasihat yang keluar dari mulut ibunya. Lumayan kenyang makan malamnya kali ini yang sekaligus diasupi nutrisi nasihat ibunya. Apalagi akhir-akhir ini nafsu makannya kembali membaik.


"Mama gak mau lihat kamu sakit kayak kemarin lagi, Mama nggak kuat lihat kamu seperti itu." ungkapnya.


"Pokoknya mulai sekarang kamu harus nurut sama apa yang Mama Papa bilang. Awas aja kalau masih keras kepala kayak dulu-dulu!" peringat Bu Ajeng pada Bian.


"Iya..." jawabnya tak ingin lagi membantah ibunya.


"Apa yang dikatakan Mama itu benar, Bi. Itu semua demi kebaikan kamu. Bukan berarti kami selaku orang tua membatasi apa yang dilakukan oleh anak-anaknya. Papa rasa kamu paham mengapa sejak dulu kami bersikap keras terhadapmu."


"Maafin Bian, Pa..." sesalnya pada kejadian kemarin hari yang menimpanya.


"Papa nggak menyalahkan kamu atas apa yang sudah terjadi kemarin. Tapi semua ini harus kita jadikan sebagai sebuah pelajaran berharga terlepas baik buruknya untuk kita kedepannya nanti. Jadikan masa lalu sebagai guru terbaik kamu untuk menghadapi masa depan."


"Bian akan selalu ingat nasihat Papa,"


Pak Hardi menghela napas, sejurus kemudian ia tersenyum melihat satu demi satu wajah-wajah yang ia sangat cintai itu di depan matanya.


"Papa senang kalau kita udah bisa kumpul sama-sama kayak dulu lagi, apalagi Bian sekarang udah sehat dan bisa pulang ke rumah." ungkapnya pada kebahagiaan yang tengah dia rasakan bersama keluarganya.


"Makanya Papa jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan. Apalagi harus meninggalkan anak dan istrinya terus. Untung Bian dan Fira sudah besar, jadi Mama bisa ikut kemana pun Papa pergi." sahut istrinya.


Pak Hardi terkekeh mendengar penuturan istrinya.


"Iya ya, Ma. Nggak terasa waktu cepat berlalu. Baru saja kemarin rasanya Papa gendong Bian kecil. Papa sangat bersyukur kita selalu bersama dalam suka dan duka. Sama seperti saat ini. Kita berkumpul bersama sebagai sebuah keluarga. Sekarang kita cuma berempat, tapi nanti-nanti bakalan tambah anggota keluarga baru yang bikin rumah semakin ramai." tutur Pak Hardi berharap hari itu akan segera tiba.


"Pa," panggil Bian pada ayahnya.


"Ya?" Pak Hardi menoleh pada putra sulungnya.


"Boleh Bian kembali ke perusahaan?" tanyanya penuh harap.


Pak Hardi terkekeh mendengar kalimat anaknya yang terdengar lucu baginya.


"Harus itu. Dengan alasan apa Papa melarang kamu buat kembali ke perusahaan?" ucapnya menjeda sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. "Perusahaan sudah menjadi tanggung jawab kamu, Bian. Dan memang seharusnya kamu kembali memimpin perusahaan itu. Bukan lagi Papa, tapi kamu yang harus memajukan perusahaan kita." tuturnya.


"Makasih Pa,"


"Tapi nanti, bukan sekarang. Kamu harus sehat dulu, Bi. Jangan terlalu memikirkan pekerjaan berat yang akan membuat kamu jatuh sakit lagi. Kamu tenang saja, di kantor ada Dimas dan karyawan lainnya yang berkompeten membantu pekerjaan kamu." terang Pak Hardi.


"Papa nggak usah khawatir, Bian udah bisa masuk kerja kok."


"Jangan memaksakan diri kamu baru sembuh, Bian..."


"Bian udah sehat, Pa. Bian pasti bisa." Keukeuhnya.


"Bi, dengerin apa kata Papa kamu." timpal Bu Ajeng yang mulai gemas dengan sikap keras kepala anaknya itu.


"Iya, tapi nggak sekarang, kamu harus istirahat dulu." sahut kembali Pak Hardi.


"Tapi Bi..." Bu Ajeng tetap kurang setuju kalau Bian akan cepat kembali bekerja di tengah keadaannya yang baru saja sembuh.


"Ma, please... Bian udah sehat," Bian tetap bersikeras, teguh dengan keinginannya untuk segera kembali bekerja.


"Pa?"


Bian menghiba meminta dukungan pada ayahnya yang saat ini nampak tengah berpikir matang-matang atas keinginan keras kepala anaknya.


Pak Hardi berdeham pelan. Ia menatap wajah istri dan anak-anaknya secara bergantian. Menolak keinginan Bian sama saja seperti menabuh genderang perang dengan anaknya itu. Sudah dipastikan Bian pasti akan kembali membuat jarak diantara mereka seperti yang sudah-sudah.


Pak Hardi berdecak pada diri sendiri. Sifat keras kepalanya itu begitu menurun sempurna pada kedua anaknya. Terutama Bian.


"Ya, kalau kamu merasa sudah mampu," jawab santai Pak Hardi seraya mengalihkan pandangan.


"Pa!" Bu Ajeng berseru tak setuju dengan keputusan suaminya.


Pak Hardi mengendikkan bahunya, "Bian sudah dewasa Ma, dia tahu dengan keadaan dirinya sendiri. Sekeras apa pun kita melarang, anakmu itu lebih keras kepala dari pada kita."


Bu Ajeng mendengus kesal, "Keras kepala sama kayak bapaknya!" sungutnya menatap tajam suaminya.


Pak Hardi pun terkekeh, "Papa sudah tua, nggak kuat kerja lama-lama. Jadi biarkan Bian menikmati masa-masa keemasannya saat ini berada di perusahaan. Sepertinya Bian mulai nyaman menjadi seorang pembisnis. Sudahlah Ma, Bian sudah sehat Papa sangat percaya itu. Iya kan, Bi?" tanyanya menoleh pada Bian.


Bian mengangguk polos membenarkan pernyataan ayahnya.


"Papa sudah tenang kalau begitu. Saat ini pekerjaan yang cocok buat Papa ya cuma ngemong cucu. Gimana Bi?" ujarnya seraya menatap penuh arti pada Bian.


"Apaan sih, Pa... Bian baru juga sembuh! Nggak usah membebani dia dengan hal yang macam-macam." tegurnya, yang mulai tak nyaman dengan arah pembicaraan mereka.


"Iya, Papa tahu. Nggak sekarang, tapi nanti kalau hari itu akan tiba." Pak Hardi masih tetap menatap Bian dengan lekat. Sejurus itu ia menepuk bahu anaknya untuk memberikannya semangat.


***


Kiana panik saat melihat bayinya yang terus menangis sepanjang hari tanpa henti. Tangisnya akan terhenti hanya saat jika bayi tersebut tertidur dan itu pun sebentar dan akan kembali menangis lagi jika merasakan sesuatu yang tak nyaman dirasakan oleh tubuhnya.


Bayi kecil itu terus rewel dengan tangisannya. Kiana menjadi serba salah dibuatnya. Diberi minum tidak mau, sampai Kiana mengayun raga mungil itu pun bayinya tetap menangis seolah bukan itu yang diinginkannya.


Semalaman Kiana tidak tidur sama sekali karena harus merawat bayinya. Wajah lelahnya kentara dengan kantung mata gelap karena kurang tidur terlihat jelas pada garis wajahnya.


Tangisan si kecil sempat menggangu tetangga yang tengah terlelap dari tidurnya. Tidak enak hati tentu itu yang Kiana rasakan. Tapi apa boleh buat, dia pun bingung harus berbuat apa saat bayinya tantrum seperti itu disepanjang malam berlalu. Terlebih mereka hanya tinggal berdua di rumah tanpa sanak keluarga yang dapat membantunya.


"Nak... sudah ya nangisnya, nanti kamu capek sayang karena menangis terus." ucap Kiana lirih saat sudah tak tahu harus melakukan apa lagi untuk menenangkan putranya.


Bayi kecil itu tetap menangis meski beberapa saat terhenti mendengar suara Kiana, dan akan kembali menangis sama seperti sebelumnya.


"Al minum ya? Al pasti haus karena nangis terus. Ayo Nak minum dulu." ucapnya lagi seraya memberikan botol susu ke mulut bayinya.


"Al... ayo dong Nak, nanti kamu sakit," Kiana memelas dengan wajah sendu melihat bayinya yang terus menolak untuk di beri minum.


"Al kenapa nggak mau minum, sayang? Al juga kenapa nggak mau tidur? Ibu harus apa supaya kamu berhenti menangis?" tanyanya menatap si kecil dengan mata yang sudah berkaca-kaca penuh dengan genangan air bening di sudut matanya.


"Ibu lelah Nak, Al tidur ya sayang."


Kiana mengusap seluruh wajah bayinya yang basah penuh dengan anak keringat. Wajahnya memerah karena terus menerus menangis tanpa henti. Memang Kiana rasakan suhu badan bayinya itu kembali panas sejak beberapa hari terakhir ini. Kiana hanya bisa meredakan sakit panas bayinya itu dengan memberikan kompres handuk basah di tubuhnya yang terasa panas.


"Al..." lirih Kiana saat melihat bayinya berhenti menangis. Terdiam dengan kedua sudut bibirnya yang melengkung menatap Kiana dengan mengerjapkan matanya berulang kali seolah memberi tahu sesuatu tentang keadaannya pada ibunya.


"Al kamu kenapa, sayang?" ucap Kiana panik saat bayinya terdiam dengan tatapan kosong tanpa menggerakkan tubuhnya sedikitpun. Hingga napas Al terdengar pendek-pendek dan cepat, dengan bunyi yang sering muncul, hingga kulitnya yang berubah membiru dari sebelumnya.


"Al," Kiana memeriksa keadaan bayinya itu yang tak pernah sekalipun ia alami sebelumnya. Manik matanya mulai basah, tangannya bergetar saat mengusap seluruh permukaan tubuh bayinya.


Semakin panik Kiana rasakan saat Al bernapas dengan begitu cepat, dengan pendek-pendek dan tidak teratur. Seluruh permukaan kulitnya terasa dingin dan terlihat membiru. Terlebih Kiana semakin cemas dan khawatir kala napas bayinya itu mengeluarkan suara yang membuatnya takut akan keadaan bayinya.


"Al!" pekik Kiana dengan perasaan yang sudah tak karuan mendapati Al yang semakin memburuk. Dengan cepat ia mendekap putranya itu, kemudian membawanya pergi secepat mungkin untuk mendapatkan pertolongan bagi si kecil.