
Fira tersenyum merekah menatap Daniel yang berada tepat di depannya saat mereka sedang duduk bertiga di salah satu cafe yang cukup ramai di pusat kota.
"Makasih ya Kak atas bantuannya. Kalau nggak ada Kak Daniel, aku bingung nggak tahu harus ngapain." ungkap Fira mengucapkan rasa terima kasihnya atas bantuan Daniel sebagai pahlawan baginya dihari itu.
"Makasih juga traktirannya, makanannya enak-enak, hehe..." kekehnya malu-malu. Entah kenapa sejak dulu saat bertemu muka dengan Daniel, Fira selalu tersipu malu. Tidak ada alasan yang berarti, karena diapun tak tahu kenapa bisa seperti itu. Apa karena sahabat kakaknya itu pria setengah bule yang tampan nan rupawan? Atau karena Fira terpesona dengan senyuman manis dari laki-laki yang tak suka banyak bicara itu. Entahlah, yang terpenting dia senang sekali bisa bertemu kembali dengan Daniel setelah sekian lama.
"Hm, sama-sama. Itu pun kebetulan aku lewat di jalanan tadi. Dan nggak sengaja melihat kalian yang lagi kesusahan." ucap Daniel membalas ucapan terima kasih Fira seraya melirik ke arah Kiana yang sedang menunduk pada makanan miliknya yang belum habis.
"Ya, untung aja ada Kakak," ujar Fira yang tak henti menampakkan deretan giginya yang rapi itu.
"Kalian memangnya mau kemana?" tanya Daniel pada kedua gadis yang ada di hadapannya itu.
Seketika Fira menepuk jidatnya. Bahkan ia sendiri lupa dengan tujuan mereka pergi dari rumah sehingga mereka mengalami kejadian tidak terduga yang pada akhirnya mempertemukannya dengan sosok Daniel yang tidak ia duga-duga.
"Ya ampun Kia, kita harus ke rumah sakit secepatnya." ingat Fira dengan tujuannya membawa Kiana di siang itu.
"Saya udah nggak apa-apa, Mbak."
"Tapi kita harus tetap pergi Kiana,"
"Saya rasa nggak perlu. Lebih baik kita kembali pulang saja, kasihan Mbok sendirian mengerjakan pekerjaan rumah."
"Tapi--"
"Kalian mau ke rumah sakit? Siapa yang sakit? Bian sakit? Atau ada orang rumah lainnya yang sedang sakit? Kenapa kalian nggak bilang dari tadi? Kakak bisa antar kalian kalau bilang sejak tadi. Kalau begitu, ayo kita pergi sekarang juga." kalimat panjang lebar keluar dari mulut Daniel tanpa biasanya. Fira sampai melongo melihat Daniel seperti itu.
Seingat Fira, biasanya laki-laki itu akan berbicara seperlunya saja pada setiap orang. Tapi kali ini Fira melihat sisi yang berbeda dari diri sahabat kakaknya itu. Fira mengulum senyumnya dengan wajah yang tersipu malu.
"Eh, tunggu dulu Kak!" tahan Fira ketika melihat Daniel yang dengan sigap hendak siap bergegas pergi dari tempat itu.
"Apa lagi Fira? Bukannya kamu bilang harus cepat-cepat pergi ke rumah sakit? Tunggu apa lagi, ayo!" ajak Daniel dengan wajah cemasnya.
"Yang sakit ada di sini, Kak."
Daniel mengerutkan dahinya. "Siapa? Kamu? Atau--" Daniel menoleh pada Kiana yang tengah memperhatikan pembicaraan mereka berdua.
"Kiana yang sakit." jelas Fira.
"Saya bener-bener udah nggak apa-apa." elak Kiana.
"Kamu yakin, Kia? Tapi lebih baik kita periksakan dulu ke rumah sakit."
"Nggak perlu, Mbak. Lebih baik saya pulang saja." keukeuh Kiana yang tak mau di bawa ke rumah sakit seperti sebelumnya.
Fira nampak pasrah. Iya tidak dapat memaksakan lagi kehendaknya jika orang yang sakitnya pun sudah tidak mau diajak pergi. Ia menghela napas pelan, kemudian memeriksa ponselnya yang sejak tadi berbunyi namun belum sempat dia lihat.
"Kak Bian?" gumamnya pelan.
"Ada apa, Mbak?" tanya Kiana yang melihat perubahan air muka Fira.
"Aku nggak sadar ternyata Kak Bian sejak tadi nelponin aku terus." jelasnya seraya bangkit dari duduknya. "Aku balik hubungi Kak Bian dulu ya," ucapnya meninggalkan Kiana dan Daniel berdua di meja yang mereka tempati.
Daniel nampak kembali mengambil duduk di kursinya. Sepintas ia melihat Fira yang berjalan menjauh dari meja dimana ia dan seorang gadis yang saat ini nampak terdiam sejak kepergian Fira.
"Nama kamu, Kiana?" tanya Daniel memulai pembicaraan yang sedikit canggung bersama Kiana yang baru ia temui hari ini. Namun, nama Kiana seperti halnya tidak asing di telinganya. Ia seperti pernah mendengar nama itu sebelumnya. Tapi dimana dan kapan, itu yang manjadi pertanyaannya. Atau mungkin itu hanya sekedar perasaanya saja. Entahlah.
"I-iya, Mas. Saya Kiana."
"Teman Fira?"
Kiana dengan cepat menggeleng. Ia mendongak melihat wajah Daniel yang ternyata laki-laki itu tengah menatapnya dengan penuh pertanyaan.
"Bukan Mas, saya pekerja di rumah Bu Ajeng."
"Pekerja?" Daniel semakin mengerutkan keningnya tidak percaya. Seorang gadis muda dan juga cantik, yang mengaku hanya sebagai seorang pekerja di rumah Bian. Daniel tidak percaya begitu saja. Apalagi ia belum pernah melihat sama sekali Kiana berada di rumah itu. Ya, walau memang sudah lama sekali ia tak lagi sesering dulu berkunjung ke rumah sahabatnya itu karena kesibukannya.
"Pembantu rumah tangga," jawab Kiana lebih jelas. Ia tak malu mengakui profesinya sebagai pembantu rumah tangga, karena itu memang kenyataannya. Ia cukup bersyukur dengan memiliki pekerjaan yang halal di tengah susahnya mencari pekerjaan.
"Oh, ya?" ucapnya meyakinkan lagi. "Tapi saya sepertinya pernah mendengar nama kamu sebelumnya. Tapi saya pun bingung dimana saya pernah mendengar nama itu." ungkapnya. Diselingi dengan senyuman dan tawa kecil khas Daniel yang membuat siapa saja akan terkesima dengan tingkah laki-laki itu.
Kiana mendengarkan dengan pasti apa yang dikatakan oleh laki-laki tampan di hadapannya itu. Bagaimana bisa laki-laki yang bernama Daniel itu mengaku pernah mendengar namanya. Tapi Kiana tidak terlalu memikirkannya. Justru yang menjadi permasalahannya saat ini, ia begitu canggung dan segan hanya terlihat berdua dengan seorang laki-laki yang baru saja ia kenal.
"Huh, Kak Bian ada-ada aja." ucap Fira saat kembali menghampiri Kiana dan Daniel dengan wajah yang cemberut
"Ada apa, Mbak? Pak Bian marah ya kita keluar rumah?" tanya Kiana yang khawatir jika Bian memang benar-benar marah mengetahui mereka keluar rumah tanpa izin dari tuan mudanya itu.
"Ya begitu lah. Nyebelin banget. Masa ya, aku tuh malah di marahin sama dia." gerutu Fira tak terima saat Kakaknya malah memarahinya karena membawa Kiana keluar rumah tanpa seizin darinya. Yang dia lakukan itu kan hanya semata kepeduliannya pada Kiana. Kenapa pula dia yang kena marah. Fira sebal dengan Kakaknya itu.
"Kalau begitu, apa lebih baik kita pulang saja sekarang, Mbak?" saran Kiana yang tidak mau melihat Fira menjadi sasaran kemarahan Bian karena sudah membawanya keluar rumah.
"Nggak perlu, Ki. Kak Bian bakalan kesini nyamperin kita. Itu yang dia bilang sebelum matiin telponnya. Kesel banget deh, masalah kirim photo doang malah aku yang kena marah. Yang jadi masalahnya apa coba, aku kan cuma ngasih lihat aja kalau di sini kita nggak cuma berdua. Ada Kak Daniel juga yang nemenin Kita." celoteh Fira mengungkapkan kekesalannya.
"Memangnya kamu kirim photo apa sampai-sampai Bian marah-marah nggak jelas seperti itu?" tanya Daniel yang jadi penasaran.
Fira menyodorkan ponselnya, memperlihatkan sebuah jepretan gambar yang dia ambil begitu saja tanpa ada maksud tertentu.
"Nih kak, aku cuma ambil gambar kalian berdua aja. Salahnya dimana coba? Aneh aku tuh sama Kak Bian, kayak orang cemburu lihat pacarnya deket sama laki-laki lain aja." cerocosnya lagi.
Daniel menghela napas kasar setelah melihat potret dirinya yang terlihat memang sedang bersama Kiana tengah berbicara seperti sebelumnya. Pantas saja Bian marah-marah nggak jelas. Ternyata ini alasannya. Sekilas melirik pada Kiana yang ikut memperhatikan layar ponsel milik Fira yang menampilkan gambar dirinya dan juga gadis itu.
Tak lama kemudian, datanglah sosok yang sedang mereka bicarakan dengan langkah lebar-lebar menghampiri mereka dengan raut wajah yang sudah dapat Daniel tebak saat melihatnya.
"Kalian berdua pulang. Jangan banyak bertanya dan jangan banyak protes, ayo!" titah Bian dengan wajah yang menekuk terlihat jelas jika ia sedang menahan kesal.
"Apaan sih kak, datang-datang malah nyuruh pulang aja. Nggak asik ih!" protes adiknya yang ikut mencebikkan bibirnya. Kenapa pula harus cepat pulang kalau di sini masih ada Daniel. Dia kan masih kangen dengan sahabat kakaknya itu yang lama tak dia jumpai.
"Kakak bilang pulang, ya pulang Fira!" ucap Bian tidak mau ada bantahan. Ia menoleh pada Kiana yang terlihat menundukkan kepalanya tak berani menatap wajahnya sama sekali. Bian tersenyum sinis, hingga ia kembali mengalihkan perhatiannya pada Daniel.
"Thanks, Bro. Lo udah bantuin mereka." ucap Bian dengan wajah datar tanpa ada kehangatan dan keakraban seperti biasanya.
"Ya, sama-sama, Bi. Kalau gitu, gue pamit. Karena sekarang mereka lebih aman bersama Lo." balas Daniel yang mulai mengerti dengan keadaannya. Ia sepintas tersenyum ke arah Fira dan juga Kiana dengan senyuman tipis sebelum pergi.
"Ya," jawab Bian singkat. Dia melihat punggung kepergian Daniel yang mulai menjauh dari tempat dimana mereka berada.
"Jadi perempuan itu nggak boleh kegenitan. Lihat laki-laki bertampang sedikit saja langsung berpindah haluan." ucap Bian serasa seperti menyindir kedua gadis di sana. Terutama untuk seseorang yang membuatnya kesal bukan main.
"Dih, apaan sih nggak jelas gitu. Udah deh, nggak usah bawa-bawa aku kalau lagi kesel sama orang lain. Malesin tahu nggak." ucap Fira yang tak kalah kesal pada Bian. "Ayo Kia, kita pulang aja. Makin emosi kalau masih tetap di sini. Ada yang lagi cemburu kebakaran jenggot." ujarnya menggandeng tangan Kiana membawanya pergi dari hadapan Bian.
"Ck," Bian berdecak. Memutar matanya malas. Ia mengumpat pada dirinya sendiri. Ia sedang kesal. Tapi bingung harus melampiaskannya pada siapa.
Sepertinya, perasaan hadir karena terbiasa. Dan itu yang Bian rasakan saat ini.