Secret Love

Secret Love
Penyesalan



"Bagaimana keadaan anak kami, Dok?" tanya Pak Hardi saat melihat seorang Dokter yang baru saja selesai memeriksa keadaan Bian di sebuah ruangan rawat inap di salah satu rumah sakit ibu kota.


Dokter muda yang bernama Mirza itu hanya mengulas senyum seraya mendekat pada seorang suster yang siap mencatat hasil pemeriksaan pasien mereka di hari itu.


"Seperti sebelumnya, sesuai dengan pemeriksaan hari ini keadaan Pak Bian semakin membaik. Untuk saat ini tidak ada yang perlu di cemaskan dengan keadaan beliau." ungkap Dokter tersebut.


Pak Hardi dan Bu Ajeng menghela napas lega. Senang mendengar jika putra mereka akan kembali sehat seperti sedia kala.


Bukan karena apa, sudah terlalu lama Bian terbaring di pembaringan rumah sakit sejak terakhir Bian mengalami kecelakaan tabrak lari beberapa bulan yang lalu.


Keadaannya cukup parah dan sangat memprihatinkan. Selama hampir satu bulan lamanya pasca operasi Bian tak sadarkan diri. Membuat semua keluarga besar merasakan kesedihan atas apa yang terjadi pada Bian. Terutama kedua orang tuanya yang sangat terpukul atas musibah yang terjadi pada putra sulungnya secara tiba-tiba.


Bian mengalami luka serius di area perut bagian dalam tubuhnya yang mengharuskan ia untuk menjalani operasi. Bukan hanya itu, Bian juga mengalami patah tulang di tangannya sehingga ia harus menggunakan gips selama penyembuhannya. Serta luka-luka kecil lainnya yang ada di sekitar wajah akibat kecelakaan yang menimpanya.


"Bekas jahitan sudah bagus sekali ya. Untuk bagian tangan yang patah juga sudah lebih baik. Namun di bagian kaki karena sebelumnya Pak Bian pernah mengalami patah dan retak tulang di paha kakinya, sedikit lambat untuk proses penyembuhannya. Karena delapan puluh persen pasien yang mengalami kecelakaan motor dan mobil, mulai dari jatuh hingga tabrakan yang membuat tulang patah atau bergeser." tutur Dokter menjelaskan.


"Jadi kapan anak saya akan kembali sembuh dengan normal, Dok?" tanya Bu Ajeng.


"Faktor lama penyembuhan patah tulang itu pertama, usia pasien. Semakin muda umurnya akan makin cepat sembuh. Kedua itu tergantung tulang bagian mana yang mengalami patah," ucapnya.


"Kalau yang patah tulang paha dan lengan, itu sembuhnya lebih lama dari tulang lainnya. Sebab bagian ini lemaknya banyak, tulangnya satu dan sudah gitu besar ukurannya. Jadi untuk waktu tersambungnya itu sekitar dua setengah bulan bahkan bisa lebih setelah patah terjadi jika penyembuhan berjalan dengan baik. Dan untuk masa recovery cukup membutuhkan waktu lebih lama walau tulang seseorang yang patah cenderung rentan dan tidak bisa kembali normal seperti semula walaupun sudah disembuhkan." jelasnya lagi.


"Untuk luka pasca operasi dan patah tulang saya dapat pastikan Pak Bian sudah sembuh meski masih harus mendapatkan perawatan dalam masa penyembuhannya." tambahnya.


"Syukurlah," sahut Bu Ajeng. Helaan napas terdengar dari sepasang suami istri itu.


"Tapi bagaimana dengan keadaan psikis anak saya, Dok? Apa tidak ada cara lain agar Bian segera sembuh seperti dulu? Jujur, saya sangat mengkhawatirkan keadaan anak kami yang setiap hari tidak memperlihatkan kemajuan yang berarti." ucap Pak Hardi, memperhatikan keadaan anaknya yang masih sama dari hari-hari sebelumnya.


Dokter Mirza mendekat pada Bian yang saat ini tengah duduk di ranjang pasiennya. Terlihat pria itu hanya terdiam duduk tanpa melakukan apapun. Pandangan matanya pun kosong mengarah lurus ke depan. Seolah pikirannya tengah menerawang jauh memikirkan sesuatu yang menjadi penyebab sakit yang tak kunjung sembuh dari dalam dirinya.


Keadaan jiwa Bian lebih mengkhawatirkan dibanding dengan luka tubuh yang ia dapatkan dari kecelakaan lalu yang mempengaruhi pikiran, emosi, persepsi, dan perilakunya secara menetap. 


Semenjak ia sadarkan diri, semua perubahan itu nyata adanya dari kepribadian Bian dari sebelumnya. Bian berubah menjadi pria murung, pendiam, bahkan sering sekalipun ia akan terlihat tiba-tiba menangis histeris tanpa penyebab yang pasti.


Ia akan menangisi sesuatu hal yang tidak dapat di mengerti oleh siapapun termasuk orang-orang yang berada di dekatnya. Termasuk kedua orang tuanya. Bian akan menangis sejadi-jadinya seolah telah kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya. Penyesalan kian terpatri dalam dirinya hingga menimbulkan luka hati yang semakin menganga di dalamnya. Begitu sangat sakit ia rasakan seolah hidupnya kini kian hampa.


Setiap orang bisa mengalami masa-masa baik dan buruk dalam kesehatan mentalnya. Salah satunya adalah pengalaman hidup Bian yang tidak terduga membuatnya stres, seolah seperti kehilangan orang yang dicintai, sehingga dapat mengganggu kondisi psikologisnya saat ini.


Hari-harinya ia lewati dengan kesedihan yang mendalam, dengan sejuta penyesalan yang tak dapat lagi ia ubah dari masa lalu. Tidak ada yang dapat ia lakukan selain merenungi penyesalannya. Tidak pernah ia terpuruk dalam kesedihan yang tak kunjung usai selama hidupnya. Bian sungguh menyesali semua apa yang telah terjadi.


"Pak Bian sedang melihat apa?" tanya Dokter Mirza yang ikut duduk di samping pria itu. Bian tak merespon bahkan tak menoleh sama sekali, ia hanya terus terdiam tanpa melakukan sesuatu disepanjang waktunya.


Dokter Mirza menghela napas pelan, ia ikut menatap ke arah pandangan yang Bian lihat sejak tadi.


"Sinar matahari pagi sangat bagus lho untuk kesehatan kita. Apalagi untuk Pak Bian yang sedang dalam tahap penyembuhan." ucapnya lagi.


"Menghirup udara segar akan membuat pikiran kita lebih tenang. Karena pertukaran oksigen di dalam kepala kita akan berjalan dengan baik dibandingkan hanya diam di dalam kamar saja. Nah, Pak Bian sudah bisa jalan sekarang. Boleh sekali setiap pagi Pak Bian bisa berjalan-jalan di area taman rumah sakit agar perasaannya lebih baik lagi. Ada suster yang akan menemani, Pak Bian mau?" lanjutnya.


Bian menoleh pada Dokter Mirza dengan raut wajah datar. Memperhatikan Dokter muda di sampingnya itu seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun kemudian kepalanya menggeleng pelan


"Saya belum sembuh, Dok." balas Bian dengan suara seraknya.


"Pak Bian udah sembuh, lho. Bahkan sudah sehat sekarang." yakin Dokter Mirza memberikan sugesti baik pada Bian.


"Tapi saya lagi nunggu anak istri saya, Dok." ungkap Bian kembali murung dengan wajah sedihnya.


"Saya yakin mereka pasti datang menemui Pak Bian. Maka dari itu, Pak Bian harus lebih semangat lagi. Mereka pasti merasa sedih kalau melihat Bapak dalam keadaan seperti ini."


"Tapi mereka pergi karena kebodohan saya, Dok. Mereka benci saya. Mereka tinggalin saya di sini sendirian sampai Tuhan marah dan menghukum saya seperti ini." ungkap Bian lirih dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Saya sakit, Dok. Hati saya sakit..." Bian memukul-mukul dadanya yang terasa sesak kala mengingat wajah Kiana yang terus membayangi pandangan matanya.


Pak Hardi dan Bu Ajeng yang melihat itu semua merasa sedih dengan keadaan putranya.


Bagaimana bisa Bian menjadi seperti ini? Apa yang sebenarnya sudah terjadi dengan putranya itu sehingga terlihat kacau? Sesakit itukah kehilangan seseorang yang berarti sampai merasakan sakit seperti itu?


"Saya capek, Dok. Saya mau istirahat," katanya seraya membaringkan tubuhnya perlahan di pembaringan yang menjadi saksi bagaimana keterpurukan pria itu selama berbulan-bulan.


Dokter Mirza memperhatikan Bian yang perlahan mulai memejamkan matanya. Seperti inilah kegiatan pria itu setiap hari. Hanya diam tanpa melakukan sesuatu, merenung, dan bahkan melamun memikirkan sesuatu.


"Bapak dan Ibu bisa lihat bagaimana keadaan psikis Pak Bian? Sejauh ini, baru kali ini saya bisa mendengar Pak Bian dapat merespon perkataan saya dibanding dari sebelumnya. Menurut saya, Pak Bian mengalami tekanan akibat kehilangan orang terdekatnya, atau mungkin seseorang yang sangat beliau sayangi sehingga membuat keadaanya seperti ini."


"Kita sering melihat Pak Bian merasa sedih, murung tanpa sebab, bahkan sampai meluapkannya dengan menangis histeris atau menyendiri sementara waktu hingga perasaan sedih tersebut hilang dengan sendirinya. Dan hal tersebut berulang setiap saat."


"Lalu apa yang harus kami lakukan, Dok?"


"Sebelumya saya meminta maaf, bukan maksud saya ingin mencampuri masalah keluarga. Saya rasa, alangkah baiknya Pak Bian dapat dipertemukan dengan seseorang yang selama ini beliau harapkan. Mungkin dengan hal itu akan membantu masa penyembuhan psikisnya selama ini."


Kedua suami istri itu saling pandang saat mendengarkan penuturan Dokter Mirza. Bagaimana mungkin mereka melakukan semua itu untuk kesembuhan Bian. Bahkan Bian sendiri belum menikah, lalu dengan cara apa mereka dapat mempertemukan dengan anak dan istrinya yang sering putranya itu katakan. Apa Bian tidak sedang berhalusinasi?


"Karena keadaan Pak Bian sudah semakin membaik, secepatnya saya akan merekomendasikan seorang Dokter psikolog untuk membantu menangani masalah yang sedang Pak Bian hadapi."


"Terima kasih, Dok." ucap Pak Hardi seraya menyalami Dokter Mirza sebelum meninggalkan ruangan yang hanya menyisakan mereka dan Bian yang terbaring memejamkan matanya.


"Pa, apa mungkin apa yang dikatakan Dokter Mirza itu benar?"


"Entahlah Ma, Papa sendiri pun bingung."


Bu Ajeng berpikir keras, "Linda. Apa wanita itu yang Bian maksud, Pa?" tanya Bu Ajeng memastikan. "Tapi apa mungkin Bian diam-diam menikahi wanita itu tanpa sepengetahuan kita? Kalau pun memang benar, Mama nggak rela di sudah buat Bian seperti ini."


"Papa rasa nggak mungkin, Ma. Wanita itu sudah mendapatkan hukuman atas apa yang sudah ia lakukan pada Bian selama ini. Terlebih pada saat Bian mengalami kecelakaan itu, dengan pengakuannya sendiri dia terlibat dengan semua yang terjadi pada Bian."


"Terus kenapa Bian berbicara seperti itu, Pa? Seolah-olah dia menyesali karena sudah ditinggalkan oleh anak dan istrinya. Nggak mungkin Bian mengada-ngada sampai merasakan sakit seperti itu?"


Pak Hardi menghela napas panjang. Tak bisa menjawab pertanyaan istrinya sedang dirinya sendiri pun bingung dengan sakit yang di derita oleh anaknya.


"Apa mungkin--" kalimat Bu Ajeng terputus saat Fira ikut menyela.


"Ma, Pa, aku mau ngomong sesuatu." ucap Fira yang baru saja masuk setelah mendengar semua pembicaraan tentang keadaan kakaknya.


"Ra, kamu mau bicara apa sayang?" tanya Bu Ajeng pada putrinya.


"Ini tentang Kak Bian." ungkap Fira dengan wajah sendu dan rasa bersalahnya. Matanya mulai berkaca-kaca meski ia belum menjelaskan apa yang ingin dia sampaikan mengenai tentang keadaan kakaknya.


"Bian? Ada apa dengan Kakakmu?" Bu Ajeng mengerutkan dahinya.


"I-iya, Ma." jawab Fira takut-takut. "Tapi aku mohon Mama sama Papa jangan marah sama aku," pintanya yang sudah menangis duluan.


"Maksud kamu apa, Ra? Kenapa Mama harus marah sama kamu, sayang?" Bu Ajeng meraih Fira ke dalam pelukannya yang tengah menangis belum dia ketahui apa penyebabnya.


Fira tampak ragu untuk mengatakan semuanya. Ia takut kalau kedua orang tuanya akan benar-benar murka padanya. Ia menangis sesenggukan di dalam pelukan hangat ibunya.


"Ma, s-sebenarnya... Kak Bian--"


*****