Secret Love

Secret Love
Masa Lalu ( 2 ) - Menolak Pergi



Sepuluh tahun yang lalu.


.


.


.


"Nah, semuanya harus saling membantu ya untuk mempersiapkan acara penyambutan yang sebentar lagi akan di mulai. Adik-adiknya semua nurut sama kakak-kakaknya, jangan susah di atur. Kak Indah, Kak Ayu, Kak Nunik, dan Kak Bagas, ayo di bantu adik-adiknya untuk mempersiapkan diri. Buat Kak Rasya, Kak Nana, Kak Dewi, Sahfa dan Kiana, bantu ibu dan penjaga lainnya di sini. Ayo-ayo, jangan sampai tamu istimewa kita datang lebih awal dan kita belum selesai menyiapkan semuanya." Ibu panti memberikan tugas pada setiap anak-anak untuk mempersiapkan acara penyambutan salah satu donatur di panti mereka.


"Kak Nana sama Kak Dewi, tolong di bantu Bu Asri untuk mempersiapkan alat makan." ucap ibu panti pada kedua gadis belia tersebut.


"Iya, Bu." jawab kedua gadis tersebut.


"Kak Rasya bantu Mang Ujang pasang dekorasi. Awas hati-hati, biar Mamang saja yang pasang untuk naiknya."


"Siap laksanakan, Bu." sahut remaja laki-laki tersebut penuh semangat.


"Nah, untuk Kiana dan Sahfa, kalian tolong bantu bersihkan teras depan ya. Cukup di sapu saja. Kalau sudah selesai cepat kembali ke dalam dan bergabung dengan teman-teman yang lain."


"Baik, Bu." jawab kedua gadis kecil itu dengan mengangguk secara bersamaan. Mereka berjalan saling beriringan dengan tangan yang saling menaut satu sama lain.


Sahfa begitu senang dengan adanya acara seperti ini. Gadis tersebut pasti akan lebih bersemangat jika bisa membantu mempersiapkan acara dalam segala hal.


Namun berbanding terbalik dengan Kiana, gadis itu seakan tidak suka dengan perayaan atau penyambutan seperti halnya hari ini. Ia merasa jika dibalik keceriaan acara tersebut, nyatanya akan menyimpan sejuta kesedihan mendalam yang pasti selalu ia rasakan selama ini.


"Aku senang deh bisa ada acara seperti ini lagi. Kia, kamu kenapa diam terus?" tanya Sahfa yang melihat Kiana terdiam tanpa suara.


Kiana menggelengkan kepalanya. Dia terhenti sejenak dari aktifitas menyapu lantai teras di pagi menjelang siang itu.


"Kamu nggak-senang ya?"


"Memang kamu senang sekali?" tanya balik Kiana.


"Semua teman-teman pasti akan senang, aku juga."


"Sahfa, kamu kenapa senang setiap ada acara seperti ini?"


Sahfa nampak berpikir-pikir untuk menjawab pertanyaan Kiana. Untuk apa sih ia bisa merasa senang dengan kehadiran orang lain di rumah mereka. Padahal Kiana selalu mewanti-wanti pada temannya itu jauh-jauh hari. Kewaspadaan meningkat jika hal seperti ini akan kembali terjadi.


"Aku senang karena kita bisa berkumpul sama-sama, Kia. Banyak makanan, minuman, hadiah, dan juga kita bisa memakai baju baru yang bagus-bagus. Hari ini aku mau pakai baju ulang tahun berwarna kuning kesukaanku. Seperti Belle. Kamu mau pakai baju yang mana? Oh iya, bukannya kamu punya baju pesta ulang tahun berwarna biru yang seperti, Cinderella?"


"Aku nggak suka. Aku nggak mau memakainya hari ini."


"Bukannya ibu sudah memberitahu untuk memakai baju yang paling bagus? Kenapa kamu nggak mau?"


"Iya, tapi aku nggak mau memakainya." kukuh Kiana.


"Kenapa? Kamu nggak suka karena bajunya sudah tidak baru lagi, ya?"


Kiana menggelengkan kepalanya. Ia menatap Sahfa dengan raut muka kesedihan dan kecemasan yang kentara di wajah imutnya.


"Fa, kamu nggak akan pergi dari sini kan? Kamu nggak akan pergi ninggalin aku seperti Nisa dan Kak Arya yang pergi ninggalin kita berdua?"


"Kia, kalau nanti kamu yang tinggalin aku, gimana?" ucapnya sendu menatap kedua mata Kiana.


"Aku janji pasti tetap tinggal di sini sama kamu terus."


"Kalau mereka paksa kamu lagi?"


Kiana tak menyahut, ia kembali terdiam. Mengingat pada masa-masa saat ia terus menolak untuk di bawa pergi oleh orang-orang asing untuk membawanya pergi dari rumah yang telah membesarkannya sejak ia masih bayi.


Pergerakan tangannya membawa ia untuk segera menyelesaikan pekerjaannya. Karena, ibu panti sudah mewanti-wanti agar segera berkumpul di dalam, dengan masing-masing untuk bersiap menyambut tamu istimewa mereka hari ini.


"Semua sudah, siap? Ayo, duduk yang rapi. Sebentar lagi tamu kita akan segera datang." ucap Ibu panti. Ia memperhatikan semua anak-anak yang nampak sudah bersiap dengan pakaian yang rapi. Ia berharap semua acara berjalan dengan baik, dan semoga saja kali ini tidak ada drama air mata seperti sebelum-sebelumnya.


"Lho, Kiana? Kenapa belum ganti baju, sayang?"


Kiana menggeleng, kemudian ia menundukkan kepalanya menyembunyikan raut kesedihannya.


"Kenapa?" tanya Ibu panti lagi. "Kak Indah, tolong dibantu Kiana untuk berganti baju."


"Iya, Bu." jawab gadis itu. "Ayo Dek, kita ke kamar. Kakak temani untuk bersiap. Kiana pasti cantik pakai baju pesta warna biru kesukaan kamu." ajak Indah mengulurkan tangannya.


Kiana tetap menggeleng, kini ia menghampiri Ibu panti yang langsung memeluk erat pinggang wanita paruh baya itu, menolak ajakan Kakak perempuannya.


"Bu... aku nggak mau, Bu..." lirih Kiana dengan mata yang berkaca-kaca hampir saja menumpahkan lelehan air matanya.


"Kenapa, sayang? Ibu cuma menyuruh kamu untuk bersiap mengganti baju agar terlihat rapi dan sopan di depan tamu-tamu kita nanti. Ayo, diantar sama Kak Indah."


"Kia nggak mau Bu, hiks, hiks... Kia nggak mau pergi dari sini. Kia mau sama Ibu aja."


"Sayang... nggak ada yang akan membawa kamu pergi kemana-mana lagi."


"Ibu bohong, pasti orang-orang itu akan membawa aku dan teman-teman yang lain juga, hiks, hiks..."


"Aku nggak mau..."


Ibu panti mendesah pelan. Keadaan Kiana seperti ini pasti karena trauma yang mendalam dari diri gadis kecil itu. Ia paham. Ada andil kesalahan dari dirinya membuat Kiana menjadi anak yang pendiam dan murung.


Seorang gadis kecil yang tak mau terpisahkan dengan rumah dan orang-orang yang berada di dalamnya. Ia menganggap mereka adalah keluarga selamanya. Tak kan pernah terpisah, akan selalu bersama, meski kenyataan tak seindah yang gadis itu impikan.


Perlahan, waktu demi waktu, teman, dan Kakak-kakaknya satu persatu harus terpaksa pergi meninggalkannya bersama keluarga mereka yang baru. Dan itu menjadi luka terdalam bagi Kiana, selain luka yang telah ia miliki selama usia hidupnya.


"Kiana sayang... dengarkan ibu, Nak. Ibu berjanji tidak akan pernah lagi membiarkan kia pergi dari sisi ibu. Siapapun tidak akan bisa pernah ada yang bisa membawa Kiana pergi dari sini. Jadi, sekarang Kiana tidak boleh takut dan merasa sedih lagi. Ibu mau lihat Kiana kembali tersenyum." tuturnya dengan lembut memberi pengertian pada Kiana.


"Sekarang, Kiana ikut Kak Indah ya untuk bersiap. Agar Kiana terlihat cantik, pakai baju yang Kiana paling suka." ucapnya lagi.


Kiana menganggukkan kepalanya. Gadis itu masih menangis sesenggukan tanpa bersuara yang sesekali mengusap aliran air mata di pipinya. Tangannya terulur menerima uluran tangan Indah yang sejurus kemudian membawa raga kecil itu masuk ke dalam kamarnya.


"Aku nggak mau pakai baju Cinderella, Kak. Hiks, hiks..." ucapnya di sela tangis sesenggukannya.


"Iya, nggak apa-apa. Kiana pakai baju apapun pasti akan terlihat cantik dan lucu." ucap Indah ikut menenangkan hati gadis kecil itu. "Ayo,"


*****